Istri Sambung

Istri Sambung
IS156. Berpetualang bersama Cani


__ADS_3

"Mau ke mana, Far?" sapa bang Ken, yang di sampingnya ada seorang wanita yang aku kenal.


Kemarin istriku terpikat olehnya. Sekarang, tinggal mantan pacarku dulu.


"Main aja ke Ahya." Sejak saat itu, aku sering mengobrol kembali dengan Ahya. Ahya pun, sering membawa anaknya untuk bermain bersama para cucu mamah di rumah.


Hanya sebatas mengobrol dan berbincang sebagai seorang saudara. Karena ia memiliki suami, statusnya memberi kami jarak menjadi sahabat lama.


"Hallo, Cantik. Anak siapa ini, Far? Teduh betul wajahnya, Nak." Rauzha menyentuh pipi Cani.


Aku jadi teringat Chandra kecil. Ya, Chandra seperti ini. Lihatlah, Cani mendongak melihatku dengan mulut yang menahan tangis. Tidak lama kemudian, tangis Cani terdengar setelah aku dekap. Ia cengeng sekali, disapa orang saja menangis.


Ya, di Minggu pagi ini ternyata calon dokter spesialis dan dokter spesialis tengah joging bersama rupanya. Terlihat dari sepatu olahraga dan celana training itu.


"Anak bungsunya Canda sama bang Givan." jawabku dengan mencoba menenangkan Cani.


"Eh, yang betul nih? Kok cantik betul sih, Nak? Masya Allah." Bang Ken sampai berjalan memutariku, untuk melihat wajah Cani.


Cani malah menyembunyikan wajahnya di leherku. Ia tidak ingin wajahnya dilihat orang sepertinya.


"Yuk, yuk. Jalan-jalan lagi yuk?" Aku mencoba menenangkan Cani. "Duluan semuanya." Aku permisi untuk mendahului mereka.


Tangis Cani berhenti, ketika ia tengah menikmati pemandangan lahan di sekeliling jalanan ini. Hingga akhirnya, aku sampai juga di rumah Ahya. Namun, Cani malah kalap mendengar suara orang-orang tua yang pendengarannya sudah jauh. Tante Sukma dan om Safar, sudah tidak mendengar ketika berbicara pelan.


"Padahal ayah kau suka bentak-bentak loh, Dek. Bisa-bisanya takut sama suara keras?" Ahya menarik pelan pipi Cani.


"Mungkin udah biasa kali, kalau suara ayahnya sih," sahutku kemudian.


"Iya kah, Dek? Udah biasa kah suara ayah sih? Ayahnya mana, Dek?" Ahya mengajak Cani berbicara.


"Yayayayaya…." celotehan Cani terdengar. Ia bisa merespon obrolan juga ternyata.


"Iya mana yayahnya?" Ahya meladeni Cani.


Cani tergelak, suaranya begitu menggemaskan.


"Eh, Ya. Abang kau jogging bareng Roza loh." Aku mulai berghibah.


Ahya melirik ke arahku. "Iya." Ia terkekeh geli. "Dia tau tak ya? Kalau perempuannya itu pernah kau peluk cium." Ia lalu tertawa lepas.


"Ehh, memang Roza perempuannya?" Aku kira mereka hanya dekat, belum memiliki hubungan.


"Ya keknya sih. Pernah dibawa ke kamar juga, terus aku diminta abi suruh nimbrung biar mereka tak nganu."


Jaringan bang Ken langsung nganu saja. Mengerikan. Sepertinya jika Novi tidak kabur, ia pun sudah dipakai bang Ken.

__ADS_1


"Terus mereka mesra-mesraan tak, pas kau masuk itu?" Cani sudah berpindah tangan pada ibu hamil itu.


Kami adalah teman berghibah yang pas. Aib keluarga, pasti dijebol semua oleh Ahya.


"Tak, bang Ken nunjukin dokumen pelatihan apa gitu di komputernya. Laptopnya diservis katanya, jadi komputer punya almarhum abusyik itu diambil alih. Keknya klop betul gitu, Far. Obrolan mereka nyambung, karena sama-sama petugas medis. Aku yang dengerin malah tak paham mereka ngobrolin apa." Sepertinya, mereka akan menjadi pasangan yang serasi jika ditilik dari profesinya.


"Ohh, terus hubungan mereka?" tanyaku kembali.


"Tak tau pasti, Far. Entah masih temenan, atau udah pacaran." Aku pun tak percaya jika mereka berpacaran, karena setelah kejadian di rumahku itu baru sekitar seminggu lebih saja.


Hingga akhirnya Rauzha datang dengan bang Ken. Aku segera pamit, karena Cani tidak nyaman dikelilingi banyak orang asing.


"Hei, dari mana sholehah Yayah?" ucap bang Givan, yang tengah mengusap-usap keringatnya dengan kaosnya.


"Dari main ke Alma, Yah." Padahal Cani bermain dengan ibunya Alma. Sedangkan Alma, dibawa ayahnya ke car free day.


"Oh ya? Jauhnya main." Bang Givan menciumi wajah anaknya.


Lihatlah, bersama ayahnya langsung tergelak lepas.


"Ini tak apa kah dikerudungungin terus?" tanyaku dengan menyentuh hijab yang menutupi kepala Cani.


"Tak apa dong, ini kan sholehah Yayah ya?" Kembali, tawa Cani terdengar begitu renyah.


"Apa, Ra?" Bang Givan kini memperhatikan anak perempuan yang berdiapers saja itu.


Apa konsepnya, yang satu sholehah dan satu lagi sholehot?


"Madi ma Yayah." Ra menghentakkan kakinya beberapa kali.


"Ya ampun." Bang Givan menggiring Ra masuk.


"Yayayayaya…." Bisa-bisanya Cani langsung menangis melihat ayahnya menjauh?


Aku jadi membayangkan, bagaimana jika diriku sendiri banyak anak.


"Yuk, kita ke bapa." Dari sini aku melihat Ghavi tengah membersihkan pekarangan rumahnya.


Saat didekati, ternyata pasukan pembersihan itu banyak. Semua anak-anak Ghavi, ikut serta mencabuti rumput dan ada juga yang masuk ke kolam ikan yang tidak dalam.


Rumah megah, tapi tidak ada konsep orang kaya. Ya begitulah kehidupan keluarga Adi's Bird.


"Hallo sholehahnya yayah. Tuh sana, berenang sama ikan mas." Ghavi menunjuk salah satu anak kembarnya yang berada di kolam ikan.


Tangan dan kaki Cani langsung bergerak cepat, sepertinya ia merasa girang melihat ikan besar dan kembar yang memercikkan air tersebut.

__ADS_1


Jadi ini judulnya, pagi hari berpetualang bersama Cani. Sedangkan anak-anakku car free day bersama kakeknya dan para penghuni pondok biyung. Rombongan ceritanya, untuk memborong para pedagang di car free day.


"Girang dia," ujarku dengan menahan tenaga bayi ini.


"Dia suka kalau lingkungannya banyak anak-anak begini," timpal Ghavi, dengan membantu anak-anaknya cuci tangan.


"Istri kau mana?" Aku memilih untuk duduk di teras rumahnya.


"Tidur, Bang. Muntah-muntahnya parah, kasian betul."


Oh, pantaslah. Anak-anaknya dilepasliarkan seperti ini.


"Usaha kau gimana?" tanyaku kemudian.


"Alhamdulillah, lancar Bang untuk makan-makan bisa lah. Tadi pagi, Cendol ke rumah katanya suruh ambil stok pakaian. Udah jadi rukonya, Bang. Cuma sekarang, malah Tika yang tak siap." Oh begitu keadaannya.


"Ikut di perusahaan Abang aja kah? Nanti Abang carikan posisi yang pas untuk kau. Tapi sistemnya gaji, masalah itu kan ketetapan perusahaan." Karena nanti masuknya adalah pekerja pabrik.


"Aku tak mau, Bang. Delapan jam aku kerja, capek nanti. Kalau yang punya kerjaan sendiri kan, jam kerja aku bebas."


Aku manggut-manggut. "Iya betul. Tapi kan kadang kalau lagi sibuk, ya sampai berhari-hari tak pulang." Aku teringat akan pekerjaannya dulu.


"Iya sih, Bang. Aku sabarin ini dulu aja deh, mana tau ada kemajuan. Nanti juga aku bakal turun tangan di ruko, biar jalan. Karena Tika mabok parah, sedangkan listrik sebulan ini hampir sejuta. Anak-anak, biar aku arahkan untuk bisa main sendiri. Pelan-pelan, aku lepaskan mereka ke dunia luar. Biar kek kita dulu, kesasar di ladang, bisa balik sendiri. Sesama saudara, dari kecil udah bisa saling melindungi. Apalagi kalau dinakalin orang, kita sampai datang ramai-ramai udah kek demo hari buruh."


Aku tertawa lepas, sampai-sampai Cani melongo saja dengan memperhatikanku. Lucu sekali jika mata polos itu kebingungan. Anak campur tangan aliran pendek listrik penanak nasi ya seperti ini.


"Apa?" Aku masih tergelek dengan memperhatikan mata Cani.


Ia menarik sudut bibirnya. Masih kecil saja, ia terlihat amat cantik. Uhh, aku ingin anak perempuan lagi.


"Pah….," celotehannya amat pelan.


"Iya Papa. Aduh senengnya Papa, Cani bisa manggil Papa." Aku menciuminya bertubi-tubi.


Gemasnya. Ia seperti boneka Susan yang matanya besar. Tapi mata Cani tidak besar, hanya saja polos dan teduh.


"Hei, Dek…. Tak mau sama Yayah kah? Nih, Yayah udah mandi nih abis beres-beres tadi."


Ah, waktuku dengan Cani dirampas oleh ayahnya.


"Brodi…. Spill kiat bertahan di gempuran krisis ekonomi dong," tukas Ghavi.


Berakhir dengan bang Givan menepuk teras rumah Ghavi, ia meminta Ghavi duduk di dekatnya. Setelah itu, obrolan mulia dan absurd pun dimulai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2