Istri Sambung

Istri Sambung
IS162. Teras bercerita


__ADS_3

Malam ini aku tak bisa tidur, karena terus terngiang-ngiang dengan ucapan mamah. Aku merasa lemah, jika menghadapi wanita. Tapi aku selalu tidak tega, jika memberikan keputusan yang terdengar kurang adil untuk wanita.


Yang Kuasa saja maha pengampun, masa aku hamba-Nya tidak bisa mengampuni sesama umat. Pikirku begitu.


Tapi secara tidak langsung, selalu memaafkan itu adalah ciri kelemahan seseorang menghadapi pasangan. Bukanlah kebaikan, yang patut dicontoh oleh pasangan. Karena saat dua kali aku memaafkan pasangan, maka pasangan kita lebih sering melukai kita. Dari hal itu mereka tahu, begitu mudahnya meminta maaf pada kita.


Aku tidak ingin mengungkit permasalahan dulu. Tapi jika dihitung, sudah dua kali ini Novi mengkhianati dan tidak bisa menjaga marwahnya. Yang pertama, ia membuka aibku dan selalu curhat pada Nando. Yang kedua, kejadian dengan bang Ken ini.


Kalau bukan pengkhianatan, memang apalagi aku harus menyebutnya?


Pilihanku hanya satu menurut mamah, yaitu meninggalkannya. Tapi, apa aku bisa memutuskan hubungan dengan perempuan yang cukup berarti di hati?


Jika cinta, aku ragu akan rasa itu. Tapi aku merasakan sendiri, bahwa Novi memiliki tempat tersendiri di hatiku.


Saat problem awal, orang tua berusaha tetap menyatukan kami. Saat problem yang sekarang, orang tua membebaniku dengan keputusanku sendiri. Hanya saran itu yang keluar dari mamah, perpisahan. Hanya saran, bukan perintah. Papah pun menjabarkan jika dirinya menghadapi pasangan yang berselingkuh, lalu caranya menanganinya. Papah pun tidak memaksaku untuk bertahan, atau memberikan perintah untuk meninggalkan Novi.


Tapi, aku sudah terlanjur memberikan keputusan pada Novi. Jika dibayangkan saja, pasti begitu menyakitkan jika kami memilih untuk bersama kembali. Aku segan menyentuhnya, aku tidak bisa membayangkan aktivitas fisik yang ia lakukan bersama laki-laki lain. Tentu aku tidak akan sejijik ini, jika kasusnya pemerkosaan. Karena pasanganku juga, tidak menghendaki kejadian tersebut.


Bagaimana komunikasi kami setiap hari, jika aku berpisah kamar saat hidup bersama? Bagaimana caranya kami berinteraksi, jika keharmonisan akan aku tinggalkan? Bagaimana kami akan bisa memperbaiki hubungan, jika menyentuhnya saja aku sudah tak berminat?


Pasti, kita hanya mampu saling menyakiti saja.


Melewati kamar orang tua di jam malam seperti ini, malah membuatku tidak enak hati sendiri. Rasanya, aku masih pantas memiliki adik jika hubungan orang tuaku masih sehebat itu.


Tidak sengaja mendengar saja, rasanya amat tidak sopan begini. Tapi bagaimana dengan yang memiliki badan, apa mereka tidak berpikir akan anaknya yang tengah berpisah sementara dengan istrinya ini?


Hufttt…. Hormonku normal, meski fungsiku kurang normal.


Aku memilih untuk keluar dari pintu samping, lalu keluar dari rumah di pukul sebelas malam ini. Kabut putih terkesan seram, tapi hawa dinginnya ini yang lebih membuat merinding.

__ADS_1


"Far…. Mau ke mana?" seru kakak ipar satu-satunya itu, yang duduk di teras ruko ibu Ummu.


Bisa-bisanya Canda masih melek di jam segini. Aku ragu itu Canda, apalagi ia hanya seorang diri di teras.


"Cendol???" Aku berpikir jika menyebut nama ledekan itu, jin yang menyerupai Canda tidak akan tahu bahwa itu adalah nama si pemilik badan.


"Apa?! Mau ke mana kau?!" tanyanya ulang.


Eh, betulkah ini Canda?


"Ngapain di luar?" Bukannya menjawab, aku malah bertanya kembali.


Aku melangkah ke ruko galon tersebut, yang ternyata salah satu pintunya masih terbuka.


"Nemenin mas Givan beli bakso. Tuh orangnya." Canda menunjuk arah selatan.


"MAS…. SATU LAGI!" seru Canda nyaring, yang membuatku tersentak.


Ternyata ia bisa juga meninggikan suaranya seperti itu.


Jari telunjuknya terangkat. Dengan di ujung sana, bang Givan mengangguk dan menoleh ke arah kami. Sepertinya, ia pun melihat kehadiranku di dekat istrinya ini.


Aku memilih untuk duduk di samping Canda, dengan diberi jarak agar suami Canda tidak salah paham. "Lagi nginep di ibu?" tanyaku berbasa-basi.


Canda mengangguk. "Mas Givan disuruh jemput Gavin sama Gibran, bentar lagi mau berangkat sama bang Dendi. Bang Dendi lagi tidur dulu sebentar katanya, soalnya dia yang bakal nyetir. Papah udah tak sanggup nyetir jauh malam hari, pandangannya udah berkurang katanya," terang Canda begitu komplit.


Tumben apa papah tidak menyuruhku?


"Memang kau tak berani di rumah sendirian?" Rumahnya juga kan, dikelilingi rumah anak-anaknya. Belum lagi pagar tinggi yang membuat rumah itu terasa safety.

__ADS_1


"Berani, tapi aku suka tak dengar kalau Cani nangis minta ASI malam." Bisa-bisanya ia cengengesan saat menjawab.


Mungkin memang tidak bisa dirubah, jika memang tukang tidur bawaan lahir. Canda adalah putri tidur, apalagi ketika tengah mengandung. Ia mampu beraktivitas tiga jam sehari, lalu dua puluh satu jamnya ia gunakan untuk tidur.


"Terus kenapa kau tunggu di luar?" Hawa dingin pasti membuat ASInya berubah menjadi es lilin rasa vanila.


"Mas Givan tak berani, dia ragu itu tukang bakso keliling. Mana tak ada orang katanya, jadi aku suruh liatin dia di teras."


Alasan musiman. Bang Givan dulu rutin pulang dini hari juga, bahkan tidur di pos ronda, ketika beristrikan Nadya. Sepertinya bos tambang itu habis melihat penampakan, atau merasa hawa lain saja. Bukan benar-benar takut, karena tidak ada orang di luar rumah.


"Terus kalau suami kau dikejar setan, kau mau apa? Orang kau cuma nunggu di teras, bukan nemenin dia jalan ke tukang bakso sana."


"Larilah aku," jawabannya membuatku tertawa.


"Mama…," rengekan itu terdengar samar.


Sepertinya, itu adalah suara Nahda. Karena kak Aca dan Ra tinggal di rumah ibu Ummu ini. Sedangkan Ria, ia ternyata memiliki basecamp di perusahaanku. Maksudku, di ruangannya sekarang ada tempat tidur dan lemari pakaian juga. Ria sering tidak pulang, dengan alasan ingin bebas merokok. Tentu alasan itu, tidak ia ungkapkan pada ibunya.


Padahal kesannya horor, karena pabrik tersebut membelah ladang kopi. Letaknya di tengah-tengah kebun kopi, yang dibelah sampai jalan besar, agar memiliki akses untuk perusahaanku. Bisa dibayangkan saja, bagaimana sepinya di sana.


Memang security pasti standby, tapi produksi di pabrikku hanya ada dua shift. Shift satu, jam enam pagi sampai jam dua siang. Lalu shift sore, jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Ini untuk buruh pekerjanya, bukan untuk pegawai kantor. Sedangkan Ria berada di kantornya, bisa dibayangkan gelapnya ruangan-ruangan di sana.


"Nahda lagi meler, merengek aja, kasian. Sebenarnya tak tega aku Ra dipegang kak Aca, dia punya anak kecil juga soalnya. Bukan aku berpikir, takut Ra terabaikan. Tapi khawatirnya malah anaknya sendiri yang terabaikan." Canda menekan suaranya agar pelan, mungkin agar tidak terdengar oleh kak Aca.


"Tadi jam delapanan, kak Aca sampai ketiduran. Nahda merengek pun, dia kek mati suri. Udah kek aku kalau udah molor. Mungkin kak Aca saking lelahnya pegang dua anak. Aku mau bilang, udah aja gitu jangan handle Ra lagi. Tapi, aku belum punya penggantinya. Ibu juga kewalahan handle Ra. Ra kadang tak terkontrol tuh, tapi aku liat interaksinya sama kak Aca tuh, Ra ada patuh-patuhnya. Buat dilema untuk diri aku sendiri, karena aku pun merasa tak mampu urus banyak anak yang masih kecil-kecil begini. Jangankan untuk ngurus, ngeladenin obrolan mereka kalau ngumpul aja, aku langsung minum panadol. Pusing, puyeng, pening pokoknya. Yang ini, biyung gini-gini. Yang ono, biyung dengerin aku dulu. Belum lagi si Ceysa yang muterin aku aja, meski dia tak ngomong apa-apa, tapi aku pusing sendiri dikitari berkali-kali. Kalau ngajarin ngaji, gerakan sholat, sampai habis suara aku besoknya. Satu anak itu, ngulang lima belas kali pun tak tentu mereka paham. Tapi seneng juga sih, tak sia-siakan aku ngajarin mereka doa-doa, ngaji, sholat, kesopanan dan dongengin tentang kisah hidup para nabi. Mereka jadi anak-anak yang beradab dan tau sopan santun. Ramah tegur sapa mulutnya, meski urat wajahnya masam-masam kek ayahnya. Belum lagi kan aduan mereka, biyung aku tadi……" Aku sampai bertopang pipi dan menoleh memperhatikan Canda yang tengah bercerita ini. Kalimat itu masih panjang lagi, dengan aku yang mendengarkan dan memberi tawa kecil dan pendapat ringanku.


Ia masih seberisik ini, ketika bercerita. Ia masih seasyik ini, ketika menjadi teman ngobrol. Lalu bagaimana caranya, untuk membuangnya dan menggantikannya dengan penghuni baru di hatiku?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2