
"Apalagi sih, Nov?!" aku memutar tubuhku malas.
"Ada beberapa berkas yang mesti kau tandatangani. Aku langsung rapat besok pagi, sedangkan kau kan berangkat siang melulu."
"Tinggal ke rumah aja lah. Kal sendirian di rumah." aku melanjutkan langkah setelah memakai sendalku.
"Ya udah, nanti bentar lagi aku ke rumah ya?" Novi sedikit berseru.
"Ya." aku sudah berjalan di pekarangan rumah yang luas ini.
"Nanti aku main sama nenek lagi ya, Pa? Papa jangan lama-lama nanti besok kerjanya. Kak Kal itu tak nurut, mesti aja dicambuk pakai ranting pohon dulu sama kakek." aku terkekeh geli, mendengar cerita dari Kaf.
Dulu aku yang dicambuk sebilah ranting oleh papah, sekarang giliran anakku. Pasti papah begitu kaku, menghadapi anak cucunya yang susah menurut ini.
"Kek biasa, kan siang juga Papa pulang. Nanti berangkat lagi, terus jam empat sore pulang deh." kini aku sudah sampai di rumahku.
"Papa temenin pipis, terus bikin susu." Kaf merengek manja.
Anak laki-laki, tapi begitu manja. Kal yang perempuan, malah begitu mandiri. Padahal umur mereka tidak beda jauh.
"Udah selesai belum PR-nya, Kal?" tanyaku, saat melewati Kal yang tengah mengisi tugasnya di ruang keluarga ini.
"Dua lagi, Pa. Nanti dicek dulu ya, Pa? Takut ada yang salah." anak itu masih sibuk dengan LKS-nya.
"Ok, siap." aku langsung mengurus Kaf lebih dulu, sembari menunggu Kal selesai dengan tugasnya.
Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah pulas. Dengan buku-buku milik Kal, yang belum sempat dibereskan. Esok pagi, Kal pasti terburu-buru berangkat sekolah.
Aku membereskan buku milik Kal lebih dulu, lalu berniat untuk mengunci rumah dan jendela. Karena terkadang, aku lupa menutup jendela kembali.
Namun, jantungku langsung bergemuruh hebat. Benarkah apa yang aku lihat ini?
Aku masih diam berdiri di tangga, dengan memperhatikan rambut panjang pirang itu di ruang tamu.
Eh, masa iya arwahnya Kin berambut pirang? Kin kan berambut hitam lebat. Apa di alamnya, bisa mewarnai rambut?
Tapi, masa iya arwah istriku muncul di rumah? Kan dia sudah didoakan agar tenang di sana. Bahkan, selepas sholat aku selalu menyempatkan untuk mengiriminya doa.
"Duh, lama betul sih si Ghifar ini."
__ADS_1
Eh, sialan! Ternyata si Novi.
Aku mengusap-usap dadaku, dengan senyum yang mengembang. Aku melanjutkan langkah kakiku, untuk menuruni tangga.
Ya iyalah, tidak mungkin ada arwah gentayangan. Apalagi setan yang menyerupai istriku. Aku enam bulan mengurung diri di rumah, bahkan Kin pun tidak pernah sama sekali menemuiku di alam mimpi.
"Udah lama, Nov?" sapaku kemudian.
"Lama. Tadi aku ke atas, kau lagi puk-puk yang kecil." ia melirikku dengan sorot kesal.
Aku cengengesan, "Maklum, tak dikeloni tuh lama tidurnya." aku duduk di sampingnya.
Hijab Novi melorot di bahunya. Pashmina panjang jaman sekarang. Bagi yang tidak biasa memakainya, akan merasa repot menggunakan hijab jenis ini.
"Gimana?" aku melirik pada map yang berada di atas pahanya.
"Coba dibaca dulu. Menurut aku sih, tandatangani aja. Ini bakal bikin perusahaan kau stabil." Novi menyodorkan bolpoin padaku.
"Biar aku baca dulu." aku sudah mengambil alih map yang tadi berada di atas pahanya.
"Far…. Nikahin aku cepat sih, Far." Novi bersandar pada lenganku, "Setelah itu, kau jandakan aku juga tak apa. Yang penting, aku udah tak perawan dan status aku udah jadi janda, bukan perawan tua. Tapi lebih bagus, kalau aku dibuat hamil dulu." tangannya mengitari perutku.
Pasti Novi mendapat cibiran, karena usianya. Sepertinya, aku bukanlah orang yang pantas untuk membantunya. Aku tidak bisa menghamilinya.
Kepalanya yang berada di lenganku mengangguk samar, "Kalau untuk hubungan badan, aku belum pernah."
Apa ia sejenis suhu seperti Kin dulu?
Ya maksudku, mereka begitu paham tentang titik sensitif laki-laki dan juga mengerti caranya untuk memberi kepu*san laki-laki. Tanpa melakukan hubungan se*s.
"Aku tak bisa bikin kau hamil." aku melepaskan tangannya yang berada di perutku.
Aku menundukkan punggungku, kemudian membubuhkan tandatangan di map yang beralaskan meja ini. Setelahnya, aku menutup map tersebut. Kemudian menaruh bolpoin hitam ini di atasnya.
"Aku tak mungkin sia-siakan keperawanan aku buat pacar-pacar aku, Far. Setidaknya, kasarnya ditukar mahar gitu lah. Aku capek di-bully perawan tua terus. Apalagi sama keluarga dari ibu aku. Makanya lebaran kemarin aku tak silaturahmi ke mereka, karena males ditanya kapan nikah." Novi menggoyangkan lenganku.
Bagaimana ini? Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku tidak bisa bereaksi. Bukan aku juga, aku sih tetap memiliki minat. Hanya saja, pusaka turunanku ini.
Jika dilihat dari genetik, keluargaku tidak ada yang demikian. Tetapi sampai di aku, aku malah direpotkan sendiri.
__ADS_1
"Lebih baik telat menikah, daripada gagal berumah tangga." aku tidak tahu ingin berkata apalagi.
Jika tujuannya untuk memiliki keturunan, rasanya aku tidak bisa menurutinya.
"Far…. Aku sampai tak punya teman, karena teman aku udah bersuami semua. Mereka udah pada sibuk sama keluarganya. Nah aku? Aku masih aja cari-cari laki-laki yang mau nikah cepat. Aku sampai pernah bertahan tiga tahun, eh tak taunya tak dinikahin juga. Ke sana ke mari, laki-laki banyak yang pada segan sama aku. Ditambah lagi sekarang, bapak kau nuntut harus sekian mayam, harus sekian juta. Di mana laki-lakinya coba, Far?" Novi berbicara cepat tanpa jeda.
"Nanti aku coba ngomong ke papah lagi ya?" aku tersenyum padanya.
"Kau udah ada ngomong, Far. Aku udah berharap cepat sama kau, malah kau begini. Aku tak apa masih disuruh kerja juga, aku sanggup. Yang penting, aku dapat status jadi istri orang. Syukur-syukur, kita bisa ada anak. Meski kita menikah tak lama."
Aku geleng-geleng kepala, mendengar pengertiannya yang salah kaprah.
"Kalau tujuan kau menikah sama aku, biar dapat status janda dan biar bisa punya anak. Aku bukan orang yang tepat, Nov." aku menggeser posisi dudukku, agar tidak terlalu dekat.
"Kenapa?" Novi mencekal tanganku lagi.
"Aku tak bisa punya anak lagi. Aku juga butuh ibu sambung yang urus anak-anak aku, yang didik anak-anak aku, yang jaga anak-anak aku, yang atur waktu anak-anak aku. Aku butuh perempuan, yang tulus sama anak-anak aku." aku memperhatikan wajahnya dengan lekat.
"Aku pikir, aku mampu untuk itu. Aku hanya butuh penyesuaian, Far. Apalagi, aku berstatus sebagai ibu mereka. Anak-anak bang Givan, yang hanya keponakan aku aja, aku sanggup urus kok. Contoh kecilnya itu aja, bukan aku mau kau percaya." Novi berani menatap mataku.
Ya memang sih, Ceysa anteng bersama Novi meski memiliki pengasuh sendiri. Chandra dan saudaranya yang lain pun, sering mengekori Novi.
Hanya anak-anak dari bang Givan saja yang dekat. Karena sebelumnya, Novi tinggal bersama bang Givan. Membuat anak-anak itu kenal Novi dengan dekat dan akrab.
Novi benar, hanya butuh penyesuaian.
"Apa kau vasektomi, Far?" tanya Novi, membuatku kembali memandang wajahnya.
"Apa itu?" meski istriku dokter, aku tidak tertarik dengan hal-hal medis. Aku tidak pernah bertanya tentang apapun mengenai hal yang berbau medis.
Jika diminta untuk membeli resep pun. Aku langsung pergi dan membelinya, tanpa menanyakan fungsi obat yang ia resepkan itu.
"KB laki-laki, saluran benih kau dipotong."
Aku langsung bergidikan, pasti itu akan terasa linu sekali.
"Tak ada, aku tak ada KB." jawabku cepat.
"Terus kenapa? Apa karena Kaf masih kecil? Kaf punya adik juga, dia bakal ngerti caranya jadi kakak. Dia tak bakal terlalu manja lagi, Far. Anak-anak juga punya pola pikir masing-masing. Tinggal kita kasih penjelasan aja, tentang status aku dan adik mereka kelak." Novi berkata, seolah itu begitu mudah.
__ADS_1
"Tolong jawab ya, Nov? Jujur. Kau tertarik kah sama aku? Kau ada rasa kah sama aku? Aku bukan laki-laki bujang, aku bukan perjaka. Kasarnya, aku ini bekas orang loh. Kau perawan, kau belum pernah melakukan hubungan se*s, apa kau tak sayang sama selaput darah kau? Apa kau tak berpikir, bahwa ini bukan timbal balik yang seimbang? Ditambah lagi, aku ada anak yang mungkin akan ngeganggu waktu-waktu kita." aku menunggu reaksi dan jawabannya.
...****************...