
"Dituduh gimana?" Aku merengkuhnya untuk lebih dekat denganku.
"Dituduh tak becus urus anak, sampai anak-anak diambil alih mamah tuh. Aku cerita bagaimana Kal yang begitu, aku ceritakan cara aku menanganinya. Aku ajari mereka juga untuk tidur terpisah, aku mengedepankan disiplin pada mereka. Barulah abi diam. Keknya ngerasa tak enak hati sendiri, karena nuduh aku tak becus ngurus cucunya. Andai kata aku ini belum bisa menerima anak-anak Abang, aku pasti tetap urus mereka layaknya keponakan." Novi bercerita, dengan memainkan bulu daguku.
Aku gagal fokus dalam ucapannya yang mengatakan, bahwa ia menceritakan bagaimana Kal.
Apa coba yang abi Haris pikirkan, jika tahu cucunya seperti itu? Pasti beliau beliau berasumsi, bahwa aku tidak bisa memberikan pemahaman yang benar pada Kal. Pasti aku disalahkan, dalam rusaknya masa tumbuh otak Kal. Pasti aku disalahkan, karena tidak mampu mendidik akhlak Kal dengan baik.
"Kenapa ceritakan tentang Kal? Itu kan aib, Nov," tegurku lembut.
"Setidaknya, abi harus tau bagaimana perkembangan cucunya. Mana tau, itu sifat turunan dari sana." Aku mencilak mendengar penuturannya tersebut.
Aku tidak suka, dengan prasangkanya yang seperti itu. Aku tidak suka, saat ada seseorang menjelekkan almarhum istriku.
"Aku tak suka ya kau ngomong kek gitu, Nov! Kin tak pernah mencuri apapun! Rumah mamah utuh, dengan Kin keluar masuk bebas masa kami belum menikah. Kenapa sampai kau ada pikiran kek gitu?" Aku menatapnya tajam.
"Iya paham, Bang. Mana tau, sifat anak-anak kan biasanya turunan dari orang tuanya. Aku percaya Abang tak begitu, tapi mana tau Kin yang begitu."
Detik itu juga, aku langsung melempar selimutku. Kemudian, aku beranjak dari tempat tidur.
"Tidurlah sendiri malam ini, Nov!" Aku tidak bisa mengontrol emosiku.
Padahal, awalnya aku berminat begadang semalaman dengannya. Tapi, ucapannya mengacaukan moodku.
"Kalau marah itu jangan kek gitu, Bang. Kita udah dewasa, Abang terlalu kekanak-kanakan!" tandasnya menyeru.
Aku berbalik badan. "Kalau aku kekanak-kanakan, terus kau apa? Tukang ungkit? Suka membanding-bandingkan?" Aku menunjuk diriku sendiri sendiri dan dirinya secara bergantian.
"Karena Abang tak pernah mau introspeksi diri, harus aja diungkit-ungkit dulu biar sadar diri. Tak pernah mau berpikir bagaimana dirinya sendiri, sampai aku ungkit-ungkit kesalahan Abang. Tak pernah mikir, apa Abang udah benar dan udah baik memperlakukan aku? Abang cuma liat kesalahan aku, tapi tak pernah merasa bersalah." Suaranya naik satu oktaf.
"Turunkan nada ucapan kau, Nov!"
Kepalaku serasa akan pecah, jika emosi meluap seperti ini.
Novi turun dari tempat tidur. "Kenapa? Takut didengar abi, kalau kita berantem? Takut dibilang tidak harmonis? Atau, bahkan menikah karena terpaksa untuk kepentingan anak-anak? Iya? Begitu bukan?" Langkahnya lambat, tidak seiras dengan suaranya yang lantang.
Kenapa ia terus menyudutkanku? Padahal, dari awal pun ia paham alasanku menikah lagi. Memang setelah menikah, aku berpikir untuk kepentingan diriku sendiri juga. Tapi masa awal ia minta untuk dinikahi, ia tahu bahwa aku kerepotan dalam mengurus anak-anak.
"Kalau kau lupa, awalnya ini kau dulu yang minta untuk aku nikahi. Kenapa kau berucap, seolah-olah kau dipekerjakan sebagai baby sitter tanpa bayaran di sini?" Jarak kami cukup, tapi kami malah berbicara dengan menggunakan otot.
__ADS_1
Eh, aku curiga akan abi Haris yang mengatakan alasanku menikahi Novi. Entah kenapa, otakku mengatakan demikian.
"Nyatanya begitu kok! Aku dulu kerja, aku bisa penuhi ego aku. Aku bisa beli ini dan itu, senang-senang dengan uang gaji aku. Sekarang bagaimana? Bahkan, uang pun aku dijatah." Novi menunjuk-nunjuk dadaku.
Rasanya, aku ingin mengarunginya saja. Lalu aku buang dirinya di jalan sepi.
"Kau tinggal bilang, Nov! Kau kode aku setengah mati, aku tak akan bisa paham isi hati kau dengan pasti. Keuangan mau kau yang pegang? Tinggal bilang, Nov! Urus juga biaya lain-lain. Asuransi harta, kesehatan, pendidikan, ladang, upah di ladang, pupuk dan lain-lainnya. Urus semuanya sendiri, aku tau beres." Aku berjalan ke arah nakas, kemudian mengambil dompetku.
Aku mengeluarkan kartu debit, yang selalu aku gunakan untuk segala hal dari dalam dompet. Kemudian aku kembali ke tempat semula, dengan memberikan kartu debit ini.
"Password-nya, tanggal lahir aku. Urus semuanya sendiri, atur sendiri!" Aku menepuk-nepuk kartu debit yang berada di telapak tangannya.
Setelahnya, aku langsung menuju ke arah pintu. Emosiku tidak pernah luntur, jika tidak mengurung diri sendiri.
"Kata siapa Abang keluar dari kamar ini?! Abang tak boleh pergi! Abang tak bisa biarkan aku tidur sendirian!" serunya berbarengan dengan derap langkah yang mendekat.
Hufttt, apalagi ini?
"Aku butuh waktu sendiri." Aku masih menggenggam gagang pintu ini.
"Kenapa harus sendiri? Abang punya istri! Ingat itu, Bang!"
Aku mengatur nafasku. Aku khawatir mati muda karena emosi, jika terus-terusan seperti ini.
"Asal kau tau ya, Nov! Emosiku tak pernah bisa reda, kalau ada orang lain di satu tempat yang sama." Aku memberitahu saja akan bagaimana aku, agar ia mau mengerti.
"Jangan cari alasan! Kemarin Abang ngamuk, kita tetap tidur bersama. Abang pun malah ngorok." Novi memegangi lenganku.
Benarkah?
"Kapan?" Aku bersandar pada daun pintu.
"Kapan?! Kapan?! Yang paginya aku dibobol," ketusnya dengan urat masam.
"Iyakah?"
Kenapa aku bisa seperti itu? Padahal dengan Kin, aku hanya bisa meredam emosiku ketika sendiri.
"Iya!" Nafasnya sampai terasa menerpa wajahku.
__ADS_1
"Ayo tidur." Novi menarikku ke ranjang kembali. Lalu, menjadikanku menjadi bantal gulingnya.
"Aku tuh cinta sama Abang, Abang tuh harus ngertiin aku." Matanya terpejam, dengan tangan yang menepi di atas dadaku.
"Halah!" Aku membuang wajahku ke arah lain.
Diberi kartu debit, langsung bilang cinta. Kentara sekali perempuan ini. Ada uang abang sayang, tak ada uang abang tidur di luar.
"Abang masih tak cinta sama aku ya?" Novi kembali memainkan bulu daguku.
"Udah jangan ngomongin cinta, cuma gara-gara kartu debit pindah tangan. Paling malas aku, kalau mandang harta begini." Aku tetap memilih untuk menatap jendela yang tertutupi gorden.
Namun, Novi malah terkekeh.
Cup, cup, cup.
Pipi dan pelipisku menjadi sasarannya.
"Abang pun mandang fisik." Novi menarik lembut rahangku, agar wajahku menghadap padanya.
"Mana ada!" tegasku cepat.
"Iyalah! Kalau aku jelek, mana mau nikahin aku."
Herannya, aku malah terkekeh. Ke mana perginya emosiku tadi?
"Udah sana lah jauh-jauh." Aku melepaskan pelukannya pada tubuhku dan kakiku.
Aku menjaga gengsiku, karena tadi aku emosi hebat. Namun, tiba-tiba terkekeh hanya karena celotehannya.
"Nih, habis begini pasti pegang-pegang. Kok aku lama-lama paham sepak terjang Abang. Abis begini nih, dengan tidak tahu malunya, malah ngajakin anu." Novi menarik ujung kaosku, dengan wajah meledek.
"Mana pernah! Kau yang gatal." Aku meliriknya sinis.
Novi malah tergelak.
"Iya segatal itu aku sama suami sendiri. Abang jangan mahal-mahal dong, nanti aku kredit loh." Novi mencolek daguku.
Tawaku tiba-tiba lepas bersamaan dengan tawanya. Aku diibaratkan barang yang bernilai jual, sampai ia akan mengkreditku.
__ADS_1
...****************...