Istri Sambung

Istri Sambung
IS115. Mantan pacar istri


__ADS_3

Nando tersenyum sinis saat melihatku. Begitu sombongnya, untuk pekerjaan saja ia harus memohon pada saudaraku.


"Papa tuh, Dib. Sama Papa aja, dato kerja keknya." Ghavi menunjukku.


"Papa, papa…. Kek yang layak jadi papa aja!" maki Nando lirih.


"Layak, anaknya dua. Umur kau berapa coba? Anak kau berapa?" Itu adalah perkataan Ghavi.


Aku berkacak pinggang di ambang pintu ini. Aku ingin mendengarnya mengoceh, agar aku tahu seberapa jauh Novi bercerita pada mantan pacar sialannya itu.


"Aku malah ragu, dua anak itu cucunya teungku haji. Novi aja masih perawan sampai sekarang."


Novi ini, benar-benar!


"Kocak kau!" Ghavi tertawa sumbang.


Pastilah Ghavi tidak percaya akan hal itu. Kabar aku berbuat mesum dengan Kin sebelum aku menikahinya itu, didengar seluruh anggota keluarga. Berarti jelas, aku memiliki lib*do dan juga pusaka yang normal.


Aku masih diam, sengaja ingin mendengar lagi ucapannya yang informasinya ia dapatkan langsung dari Novi itu.


"Mungkin memang betul. Rasa-rasanya, dia nikahi Novi buat dapat pengasuh gratis aja. Masalah tentang hal ranjang itu, mungkin anunya udah layu karena rohnya dibawa pergi istrinya yang sudah almarhum." Nando mentertawakanku begitu puas.


"Ketimbang kau yang tak kawin-kawin." Ghava Masih mencoba membelaku.


"Novi yang nyatanya lebih milih dia karena uang. Masalah keseriusan, aku kan udah ngomong juga ke teungku haji."


Apa Novi pun mengatakan mau menikah denganku karena uang?


"Mantan pacar tetap kalah sama suami sah, Bro." Ghava menepuk pundak Nando.


"Terus Novi bilang apa lagi?" ucapku setelah memahami sedikit demi sedikit.


Ghava bangkit, lalu menggendong anaknya. "Udahlah, Bang! Jangan diladeni. Itu sih akal-akalan Nando aja," lontar Ghava kemudian.


Benarkah?


Atau Novi yang memang menginformasikan pada Nando?


"Pelit, perhitungan!" seru Nando, dengan wajah sombongnya.

__ADS_1


Jadi begitu Novi padaku? Padahal ia tahu, bagaimana keadaan keuanganku kemarin.


Apa ia pantas dipertahankan?


Ghava sudah berada di hadapanku. "Udah, Bang! Dia cuma ngarang, kau tak perlu terlalu terpengaruh." Ghava merangkulku dan membawaku keluar dari Riyana Studio.


"Kau tak tau titik permasalahannya, Va!" Aku menoleh sekilas pada Ghava.


Kemudian aku mendengus kesal dan mengacak-acak rambutku.


"Nando pun udah mau nikah, Bang. Tak usah dipermasalahkan, kau fokus ke keluarga kecil kau aja. Nando ke sini pun, dia mau booking buat foto prewedding gitu."


Hah?


Secepat itu ia menikahi perempuan lain, tapi tahun depan ia menjanjikan Novi untuk menikah saat dulu. Aku pun belum setengah tahun berumah tangga dengan Novi, berarti Novi pun belum lama juga berpisah dengan Nando. Tapi Nando sudah akan menikah lagi? Kenapa aku curiga Nando mempermainkan Novi kemarin?


Tapi sayangnya Novi begitu bodoh. Ia malah cerita terlalu lancang menceritakan aib suaminya sendiri.


"Nikah sama siapa?" Aku cukup penasaran untuk ini.


"Sama janda dari RT sebelah. Tak tau siapa namanya, tapi katanya janda anak dua gitu," terang Ghava dengan merapikan rambut anak sulungnya itu.


Jika kejadian tidur bersama sebelum menikah, memang ada. Bahkan, saudaraku sendiri melakukannya. Aku bahkan hampir melakukannya, jika saja tega dengan tangisan Kin pagi saat joging itu.


"Udah main di tempat lain aja kau, Bang. Jangan dipikirkan ucapan Nando tadi, benahi aja rumah tangga kau sendiri," tutur kata Ghava terdengar begitu bijak.


Aku hanya mengangguk, dengan kakiku membawaku pulang ke rumah.


Apa aku perlu membahasnya kembali dengan Novi?


Tapi, percikan kerenggangan pasti tercipta lagi. Sedangkan, begini saja sudah membuatku amat dongkol.


Beginilah raguku, untuk membelikannya ponsel. Aku khawatir, ia melakukan hal itu berulang. Dengan ia tidak punya ponsel, ia selalu ingin dekat denganku. Bahkan, bertambah keromantisan kami karena menonton video lucu berdua dalam satu ponsel.


Tapi cukup kesulitan juga, jika aku ingin menghubunginya. Aku harus menelpon mamah, atau ipar terdekat seperti Winda untuk menyampaikan sesuatu pada Novi yang berada di rumah kala aku berada di luar rumah.


Namun, hatiku terasa begitu sesak memendam kekesalanku tanpa konfirmasi seperti ini. Khawatirnya, Nando menambah-nambahkan ucapannya. Kemudian, aku percaya tanpa tahu kebenarannya.


Aku takut sikapku berubah dengan sendirinya, meski itu tidak sesuai tindakan sadarku.

__ADS_1


"Bang…. Aku habis beres-beres barang-barang lamanya, Kin. Aku nemuin ini." Novi tersenyum lebar dengan menunjukkan kertas kecil.


Apa itu?


"Ditaruh di mana semua pakaian Kin?" tanyaku dengan mengambil alih kertas tersebut.


Aku melihat foto USG lama. Ini memang milik Kin, tapi entah saat mengandung siapa. Tapi dilihat dari tahunnya, sudah cukup lama sekali. Sekitar sembilan tahun yang lalu, berarti saat mengandung Kal.


"Dibantu mamah, dipindahkan ke ruangan paling ujung itu. Katanya itu tempat kerja Abang? Lemari sama beberapa perlengkapan Kin, aku kumpulkan di walk in closet ruangan itu." Novi langsung menggelayuti lenganku.


Aku bahkan tidak pernah masuk ke ruangan itu. Karena, beberapa sofa lucknut berbagai ukuran pun ada di situ. Meski yang paling mirip dengan milik mamah, aku simpan di gudang karena tak pernah memakainya lagi sejak dulu. Kenanganku dan Kin banyak tersimpan di ruangan itu, maka dari itu aku lebih memilih untuk meninggalkan ruangan itu.


Untuk pekerjaan pun, aku lebih memilih memeriksa dokumen di ruang keluarga. Di ruangan ujung itu, banyak tersimpan data dan dokumen perusahaan. Aku tak ingin mengacak-acak, karena jika aku lupa menyimpannya, tidak ada intel seperti Kin yang akan mencarikannya.


"Bang…." Novi menarikku untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Hmm? Apa?" Aku mengikuti arah tarikannya.


"Aku pengen punya foto USG juga, terus kita punya foto maternity gitu." Novi mengusap perutnya sendiri.


Percayalah, aku sudah berobat. Percayalah, aku juga meminta Novi untuk mandi parfum. Tapi tetap saja, Black Mamba hibernasi kembali. Aku hanya mampu menjebol perawannya, tapi belum bisa menghamilinya.


Eh tunggu dulu, aku ingin sedikit mengetesnya.


"Memang mau punya anak dari aku?" Aku tersenyum manis dengan menyatukan anak rambutnya, kemudian aku tarik ke belakang telinganya.


Novi di rumah sering berpakaian seksi dan tidak pernah menggunakan hijab. Jika di luar, ia sudah terbiasa berhijab. Namun, istri sebegitu sudah seksinya. Tetap saja, aku tidak rakus memakannya.


Latihan pun sering, bahkan beberapa hari sekali kami pasti berc*mbu meski hanya bisa membuat keluar satu pihak saja. Tentunya itu pasti Novi, bukan aku.


"Kok ngomongnya gitu sih, Bang? Ya jelas mau lah, apalagi anak laki-laki." Novi langsung memelukku dan bermanja-manja di dadaku.


Anak laki-laki ya? Kenapa aku memiliki kecurigaan lain?


"Biar warisannya besar ya?" Aku bertanya dengan nada bercanda.


Coba, Novi menjawabnya bagaimana. Aku teringat ucapan Nando, akan Novi yang lebih memilihku karena uang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2