Istri Sambung

Istri Sambung
IS264. Cucu tiri


__ADS_3

"Aku jadi ibu asuhnya, Bunda. Bukan lagi disebut baby sitter lagi, karena nanti Ra jadi anak aku meski dalam KK dia tetap anak Givan. Masa dia besar, biar Ra tetap balik ke orang tuanya. Aku cuma bantu asuh dia aja, kalau didikan pasti Canda dan Givan pun turun tangan." Aca menjelaskan secara halus.


"Loh? Apa untungnya buat kamu?" Budhe terlihat tidak suka mendengarnya.


"Kok Bunda ngomongnya gitu? Anak aku juga sering sama Canda, kita sama-sama besarkan anak-anak di sana. Anak aku, ya anak dia juga. Tak akan dibandingkan, tak akan pilih kasih. Dapat satu, dapat semua, tak dapat satu, tak dapat semua." Alis Aca sampai menyatu.


"Di sana itu, Budhe. Anak-anak ini dibiarkan main bareng. Serentak, lepas Maghrib mereka pasti ke rumah Canda untuk ngaji. Hafalan sholat, hafalan surat, belajar agama. Pagi, mereka ini sekolah. Dzuhur pulang, makan, istirahat mereka di rumah orang tua masing-masing. Lepas itu, setengah dua siang mereka berangkat sekolah madrasah mereka bareng-bareng. Pulangnya, jam empatan. Lepas pulang ini, mereka mandi, terus bareng-bareng ngaji sore di masjid. Nah pulangnya, langsung pada pergi ke rumah Canda. Jam delapan malam ini, mereka baru pulang ke rumah orang tua mereka masing-masing. Ada juga yang minta nginep di sana, anak aku pun lama di sana. Sesekali sama Canda, sesekali sama mamah. Ya gimana lagi, aku mesti kerja. Aku bisa urus mereka, tapi aku tak bisa kerja. Jadi mau tak mau, ya beginilah anak-anak." Aku mengusap punggung anakku Kaf, yang tengah menikmati makanannya.


"Kan itu sih cuma nitip sebentar aja, Far."


Bagaimana ya menjelaskannya?


"Bunda nanti ke sana aja masa aku lahiran, biar tau sendiri. Anak Ghavi aja yang agak jauh, tapi sekarang sih udah berbaur. Anak Ghava juga sama kek Kal dan Kaf, cuma Adib punya riwayat kejang mendadak, jadi diikuti Winda terus. Asya malah biasa main sendiri, meski baru dua tahunan lebih. Tapi ya gitu, semua paman atau bibinya yang lihat ya pasti jaga dia. Kadang ke mak cek sendiri, kadang ke studio sendiri, ke Canda sendiri."


Kurang lebihnya seperti itu. Soalnya ketika sore aku pulang, Asya sudah digiring ke rumah diminta untuk mandi oleh Winda. Padahal Adib kakaknya Asya, tapi ia lebih perlu pengawasan ketimbang Asya. Dia tidak memiliki epilepsi juga, tidak ada masalah dengan otaknya. Tapi sering kali kejang tanpa sebab, tidak demam pun dia bisa kejang. Pernah juga jatuh, dia langsung kejang. Benar-benar mengkhawatirkan, memiliki anak yang punya riwayat kejang. Hal tersebut, dimulai sejak Adib berusia satu tahun setengah. Sejak bayi dan sebelum satu tahun setengah, ia tidak pernah mengalami kejang.


Asal mulanya, ia demam tinggi dan diguyur saat cebok BAB. Adib langsung kejang, lalu berkelanjutan sampai besar meski tidak dalam keadaan yang sama. Ada saja hal yang sama tidak terduga, yang membuat anak itu kejang.


"Entahlah, Ca. Bunda keberatan kalau kamu ikut ngasuh Ra, anaknya nakal begitu. Sama Givan aja, dia harus gendong terus. Manjanya kelewatan, doyan nangis dan ngamuk. Kamu pasti kewalahan, kalau harus urus dia. Mana nanti kamu hamil, melahirkan, punya anak bayi, kami gak mungkin bisa gendong-gendong Ra. Nahda aja, jarang kamu gendong kan sejak kamu hamil?" Nada suaranya naik satu oktaf.


Aca hanya tertunduk dan terdiam.


"Iya, Budhe." Aku hanya mengiyakan saja dulu.


Budhe tidak tahu saja, jika Ra bisa langsung patuh hanya satu kali perintah dari anaknya ini. Ra terlihat ceria dan tidak rewel, ia pun akur dengan Nahda. Tidak sering ribut, seperti saat baru pindah tangan ke Aca.


"Kamu jangan iyanya aja, Far! Masa istri kamu disuruh ngasuh anak kakak kamu, kamu bolehin aja!"

__ADS_1


Yang penting iya saja dulu. Bagaimana nanti? Ya apa kata nanti saja. Ra datang, ya kami urus. Ra tidak datang, ya pintu rumah kami tetap terbuka untuknya.


Masa, mau menyuruh Ra pulang lagi? Masa, kami mendadak bersembunyi ketika Ra datang? Ya rasanya tidak mungkin seperti itu juga.


Toh, Aca pun terlihat tidak keberatan. Ia malah terlihat sedih, ketika budhe minta agar dirinya tidak ikut mengurus Ra.


"Waktu Ra di sini aja, sekali dia lihat Aca, udah gak mau pulang. Bukan apa-apa, tapi rasanya gimana gitu ada anak orang lain."


Aku jadi tersinggung, karena dari semalam Kal dan Kaf ada di sini.


"Maaf ya, Budhe? Malah aku bawa cucu tiri buat kalian. Pasti jadi risih." Aku sudah baper sendiri.


Aca menepuk pundakku. Aku menoleh padanya dan mendapati matanya tengah memperhatikanku.


"Loh, kok ngomongnya gitu? Kan beda, anak kamu kan anak Aca juga. Kalau Ra kan, bukan anak kamu, Far."


Aku harus mencari alasan yang lebih relevan, agar lebih masuk akal dan diizinkan untuk pergi dari sini dengan baik-baik. Tapi rasanya aku tak mungkin mengadu pada mamah, aku akan terlihat terlalu kekanak-kanakan. Aku akan membuat alasan, tanpa melibatkan orang tua.


Mertua baik saja, kadang nyelekit seperti ini. Apalagi mertua yang jahat, recok, ikut campur dan ingin tahu saja. Namun, tidak memiliki mertua saat dengan Novi. Rasanya tidak enak juga, karena tidak ada yang membantu untuk meluruskan anaknya.


Ah, iya. Pekerjaan. Aku akan beralasan, aku repot dalam pekerjaanku.


"Aku mau cek email dulu." Aku pamit ke kamar.


Ini lagi, dua anak perempuanku belum juga bangun.


Ria sudah mengirim sembilan belas email saja. Aku pusing, karena isi dokumennya mirip-mirip. Andai saja, mencari uang tidak sepusing ini. Tapi, jika tidak pusing pasti akan lelah karena menggunakan tenaga.

__ADS_1


Ada yang bisa untuk dijadikan alasan juga, karena ada dokumen yang harus menggunakan materai tempel. Aku bergegas, untuk memberitahu pada Aca.


"Ma, sini lihat." Aku muncul dari pintu kamar, dengan melambaikan tanganku.


"Apa?" Ia meninggalkan Kaf dengan nenek barunya itu.


"Aku ada kerjaan penting. Keknya, kita harus cepat pulang ke Aceh."


Bohong, aku bisa mencetaknya dan mengirimkan dokumen bermaterai yang sudah ditandatangani olehku ke salah satu ekspedisi kilat.


"Eummm…. Baru juga dibahas kan tadi? Katanya nanti aja, pas tanggal lima. Gimana dong? Apa tak ada opsi lain?"


Ada sih, meski sedikit repot.


"Dipercepat aja, bilang ke bunda kalau aku ada kerjaan penting. Ya, Ma? Balik ya ke Aceh?"


Menantu sepertiku bukanlah idaman. Aku tidak nyaman berada di rumah mertua, rasanya benar-benar serba salah dan canggung.


"Eummm…. Gimana ya?" Aca menggaruk kepalanya dengan satu jarinya.


"Coba bilang dulu ke bunda." Aku memintanya untuk izin pada ibunya secara tidak langsung.


"Hmmm, ya udah deh. Aku coba bujuk bunda dulu ya? Biar dikasih izin." Ia kembali keluar dari dalam kamar.


Iya, semoga berhasil. Aku doakan dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2