Istri Sambung

Istri Sambung
IS37. Kerugian Ghavi


__ADS_3

Aku bisa melihat kekakuan di wajah Fatma itu. Aku juga bisa melihat kebingungan di wajah Ghavi.


Ghavi kan membawa ponsel di sel. Apa ia tidak bertukar kabar dengan Fatma?


"Ini Abang aku, Dek."


Bahkan, Fatma masih diam. Ia tidak mencium tangan Ghavi, atau reflek memeluk Ghavi.


"Aku udah nikah, Bang. Ada suami aku di dalam."


Sukur!


Hilang rumah dan seperangkat mahar.


Menikahi perempuan diam-diam begini, hanya membuat rugi diri sendiri.


"Kok begitu? Kita belum pisah." kalimat Ghavi terpenggal-penggal.


Katanya mengerti agama. Masalah seperti ini saja, Fatma sudah buru-buru menikah lagi.


Karena sepahamku begini. Seberapa lamanya suami meninggalkan istri tanpa kabar, status pernikahan mereka masih sah. Kecuali, si istri memproses perceraiannya pada pengadilan agama. Salah satu ustad, bahkan pernah mengatakan hal serupa.


Ghavi tidak pernah menurunkan talaknya. Harusnya, Fatma masih tetap menjadi istrinya.


"Oh begitu? Kau tak tau kah, aku setahun di sel? Bukannya, aku pernah ngasih kabar kau. Orang yang pertama aku temuin, setelah keluar dari penjara pun, kau dulu Fatma."


Ya iya, pasti. Karena khawatir Fatma lebih dulu ke rumah Tika. Ah, Ghavi bisa saja mengelabui wanita.


Nanti di novel ini. Kalian akan dibuat mengerti sedikit, bagaimana pola pikir laki-laki dan gerak langkahnya.


Jangan percaya dengan ucapan Ghavi untuk Fatma barusan. Karena logikanya, kita menemui yang kedua lebih dulu. Untuk memastikan bagaimana dia selama ia tiada. Apa ia ada ke rumah istri pertama, apa ia ada mengadu pada ibu suaminya. Jika memang demikian, kita laki-laki akan menyiapkan jawabannya ketika sampai di rumah.


Catat ya ibu-ibu.


Fatma hanya diam tertunduk. Ia tidak menjawab, ataupun berani menatap Ghavi.


"Ya udah. Semoga bahagia, semoga kali ini tak jadi istri simpanan lagi." setelah mengucapkan kalimat yang sepele itu, Ghavi bergegas kembali ke mobilku.


Aku masih berdiri dengan memandang Fatma. Ia meluruskan pandangannya padaku. Namun, detik itu juga ia langsung tertunduk.


"Selamat ya? Seneng dong dapat rumah gedong, dapat mobil, isi rumah, belum lagi emas-emas penyerta lainnya. Ladang juga ada kan?" aku berbicara pelan dengan terkekeh.


"Ati-ati ya? Ghavi ini kaya karena pesugihan loh. Semoga, bukan kau the next tumbalnya." aku menahan tawaku, ketika mengatakan hal itu.


Fatma memandangku cepat, mulutnya sedikit menganga. Namun, langsung ia tutupi dengan telapak tangannya sendiri.


Hah, biarkan Fatma hidup dengan ketakutan. Ya setidaknya, takut menjadi tumbal pesugihannya mantan suaminya.

__ADS_1


Padahal, tidak juga. Buktinya, sekarang Ghavi bangkrut.


Aku berbalik badan, dengan menahan tawaku dengan langkah cepat.


Semoga Ghavi mengambil hikmahnya. Semoga Ghavi kapok bermain perempuan di belakang istrinya lagi.


"Kalau Tika mau dijandakan, kabari Abang ya? Abang lagi cari ibu sambung buat Kal sama Kaf soalnya." aku mulai memutar setir mobilku.


Namun, aku merasakan pukulan berat di lenganku.


"Nikahi ma kau sendiri sana! Iseng betul, segala mau jadikan Tika ibu sambung anak kau." suaranya menurun, "Nanti anak aku sama siapa? Kau mau hidupi mereka berlima?" lanjutnya dengan nada yang tiba-tiba tinggi.


Aku menoleh sekilas padanya, "Ya sama kau lah! Aku ambil Tika aja, tak dengan anak-anaknya. Anak aku dua nih soalnya. Belum lagi nanti nambah keturunan, setelah nikah lagi." aku sengaja mengisengi Ghavi.


"Tak ada! Tak ada!" aku bisa melihatnya, menyandarkan punggungnya kasar.


"Jadi, kapok tak? Mau lagi tak? Kalau mau lagi, ayo kita balapan cari istri lagi." aku terkekeh geli.


"Udah, satu aja. Kesel betul aku. Setelah ini, mau aku santet aja itu perempuan."


Aku tergelak puas, mendengar gerutuan Ghavi.


Alhamdulillah, setidaknya rumah tangganya dengan Tika baik-baik saja sekarang. Aku tak berniat sama sekali, untuk membocorkan kebenaran ini pada siapapun. Karena jelas, Ghavi dan Tika pasti tidak baik-baik saja nanti. Belum lagi, mamah pun pasti akan memaki dan mencincang anaknya sendiri.


Aku tak akan menguak masalah, yang sudah terselesaikan. Biar itu menjadi pelajaran hidup Ghavi, juga pelajaran hidupku. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang salah seperti Ghavi.


"Dapat apa aja itu perempuan?" tanyaku kemudian.


"Rumah dua lantai, Daihatsu Ayla, seperangkat perhiasan tujuh puluh gram waktu mahar. Belum lagi sawah lima puluh meter, kalau tak salah. Butik usaha, modal awal sama sewa tempat, sekitar dua ratus juta. Belum lagi jatah bulanan, sepuluh juta sebulan. Tapi setahun ini, aku tak nafkahi dia."


Aku tertawa lepas, "Sedangkan modal untuk operasi perawan, cuma dua puluh jutaan."


Kinasya pernah melakukannya, satu tahun sebelum dirinya tiada. Aku sampai harus libur berhubungan sampai tiga bulan, melebihi saat nifas setelah melahirkan.


"Yang betul, Bang?" tanyanya dengan menepuk bahuku.


Aku mengangguk, "Kin pernah. Daripada buat nikah lagi, biaya hidup nambah. Mending coba operasi perawan aja itu si Tika, mana tau kasih sensasi beda buat kau."


Karena menurutku, lebih baik memodali istri sendiri. Ketimbang, harus membiayai orang baru.


Ghavi manggut-manggut, "Kita ke mall dulu, Bang. List aja utang aku, nanti aku cicil dua bulan berikutnya." Ghavi cengengesan.


Dasar!


"Terserah kau lah, Vi." aku fokus mengemudi.


~

__ADS_1


Malam harinya, aku bertandang ke rumah mamah. Aku mencoba mengajak Kaf agar mau pulang. Toh, ia pun sudah sembuh.


"Papa colek-colek terus." Kaf membuang tanganku dari wajahnya.


"Papa pengen bujuk Adek Kaf pulang. Papa kesepian." aku menggosok wajahku dengan pelipis Kaf.


"Papa!!!" Kaf merengek lepas, dengan mengusir wajahku dari pelipisnya.


Kaf merasa risih. Itu membuatku bertambah gemas padanya.


"Cium ah, cium lagi ah." aku menciumi seluruh wajahnya.


"Tak mau Papa! Geli." tangis Kaf pecah.


Aku tidak mengerti, kenapa anak-anak begitu cengeng. Padahal, aku menciuminya gemas. Bukan memukuli, atau memarahinya.


"Udah tuh, Far!"


Aku segera menegakkan punggungku, karena bahuku ditepuk oleh seseorang.


Ya Allah, indahnya ciptaanMu.


"Nov, rambut kau kek princess Aurora." celetukku spontan.


"Bagus Cinderella, Far. Kek pakai konde gitu kan? Digelung gitu loh." Novi mengisyaratkan tangannya, seperti tengah menggulung rambutnya sendiri.


Benarkah Cinderella memakai konde?


"Mana ada princess pakai konde, Nov!"


Kami tergelak bersama, di ruang keluarga ini.


"Masuk aja, Ca. Kasian kali, sampai malem gini baru sampai."


Aku dan Novi saling memandang.


"Siapa, Nov?" tanyaku lirih.


Novi mengedikan bahunya, "Tak tau. Tak ada obrolan, kalau ada orang yang mau datang. Tadi pulang kerja, aku ke Giska sama Kaf dan Ceysa."


Ya begitulah, Ceysa dan adiknya sering di sini. Lebih-lebih, Ceysa cenderung dekat dengan Novi. Aku pun, baru mengetahui akhir-akhir ini. Karena aku sering berkunjung, untuk menemui anak bungsuku ini.


Kaf seperti memiliki trauma di rumah sendirian. Ia benar-benar tak ingin pulang, ia khawatir aku tinggalkan di rumah. Jika di rumah mamah, pasti ada saja orang. Ada saja anak cucu yang berkunjung setiap jamnya.


"Far, Nov…. Itu disambut dulu, ada……


...****************...

__ADS_1


Kaf punya trauma mendalam. Memang paling aman rumah nenek Dinda, Kaf.


__ADS_2