Istri Sambung

Istri Sambung
IS81. Belajar menstimulasi


__ADS_3

Ternyata, anakku yang memang memerlukan ketegasan ekstra.


Apa aku yang selalu memanjakannya? Apa aku kurang memperhatikan akan kebutuhannya juga? Sampai ia berani mencuri uang orang lain. Atau, aku kurang tegas di sini?


"Untuk Kaf, dia kan bergantung ke kakaknya. Kakaknya di rumah tuh, ya dia di rumah aja. Maaf kalau Abang tersinggung. Aku lagi berusaha untuk didik anak kita, biar tak minim akhlak begini. Mungkin semua orang tak percaya, kalau Kal begini. Mamah pun sampai kaget, beliau tak percaya keturunannya ada yang begitu. Katanya, Key yang bukan anak dalam pernikahan aja tak begitu. Key brandal, telinganya tebal, tak pernah mau dengar nasehat kalau belum kena getahnya, tapi tak panjang tangan." Novi menurunkan suaranya.


"Asal Abang tau aja, aku ini sampai stress sendiri. Aku tak punya pengalaman, aku tak ada tempat tukar pikiran dan cerita, aku merasa tak mampu menghadapi sendiri, aku merasa ini adalah hal fatal yang sulit untuk dimaklumi juga. Andai kata Kal itu barang, rasanya pengen aku buang aja begitu. Tapi dia ini anak manusia, tak ditilik dari status aku sekarang pun, aku ini bibi dalam susunan keluarganya. Aku bingung, Bang. Ditambah, anak ini selalu bangkang. Dia berpikir aku jahat, padahal nyatanya aku tak mau dia begini. Aku sayang dia dan masa depannya, pengen dia lebih baik kedepannya." Berakhir Novi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Jika Novi merasa seperti ditusuk satu belati di punggungnya, aku merasa lebih dari sepuluh belati menusuk punggungku. Aku sulit untuk menyikapi ini juga, setelah tahu cerita yang sebenarnya.


"Maaf, Nov." Aku merangkul dan memeluknya.


Aku memejamkan mataku, merasakan sedikit rasa yang menggetarkan hati ini. Aku tersentuh, karena ia memiliki rasa peduli untuk masa depan anakku. Ia ingin anakku menjadi pribadi yang baik dan tidak minim akhlak.


"Tolong jangan salahkan aku lagi. Aku ingin Kal ada perubahan untuk dirinya sendiri. Aku bakal bebasin dia main, kalau dia pulang tanpa uang misterius lagi. Aku tekankan, bukan soal jumlahnya, sedikit atau banyak itu tetap namanya mencuri. Tapi tindakannya ini, tak dilakukan dan bahkan buat Kal segan," ungkapnya lirih dalam pelukanku.


Salahku apa, Ya Allah? Kenapa keturunanku bisa seperti ini?


"Kita sama-sama, kau tak sendiri. Kita bakal pikirin ini sama-sama, kita bakal buat perubahan untuk Kal." Aku menciumi pucuk kepalanya.


"Perubahan untuk aku dan Abang gimana?" Novi mendongak menatapku.


Benar.


Aku masih belum ada usaha, untuk memberinya nafkah batin. Aku tidak memperlakukannya, sebagai mana mestinya seorang istri.


"Bulan depan kita mulai ke dokter. Aku tak yakin, tapi aku punya pemikiran bahwa bulan depan aku sedikit stabil. Ini kalau dilihat dari travel aja, kalau perusahaan aku tak tau pasti. Kita berdoa aja, semoga usaha kita lancar. Biar aku pengen berobat pun gampang, kau pengen lebih cantik pun bisa." Aku membingkai wajahnya dan mengusap pipinya yang diberi pewarna pias itu dengan ibu jariku.


"Aku pengen tidur bareng, diapa-apakan Abang." Novi menyembunyikan wajahnya di dadaku.


Aku kenapa?


Kenapa aku tidak ingin mengapa-apakan dirinya? Apa keterbatasanku ini semakin parah? Tapi, aku sempat meremang tadi karena melihat Canda.


Kenapa rumput tetangga lebih hijau, ketimbang asrinya taman sendiri?

__ADS_1


"Kan sebulan kemarin pun kita selalu tidur bareng, pelukan." Ini adalah kenyataan, di luar aku bolak-balik ke kamar Kal beberapa kali setiap malam.


Aku akui tidurku terganggu, tak jarang aku malah pulas di ranjang anakku. Tapi aku segera kembali ke kamar kita, setelah sadar dan ingat bahwa Novi membutuhkan teman tidur.


"Aku pengen lebih dari itu." Novi melepaskan pelukanku, kemudian ia memandang wajahku dengan wajah cemberut.


Apa ini adalah waktu yang pas, untuk mengajari Novi?


Maksudku, mengajarinya memberikan stimulasi padaku seperti saran dokter yang masih aku ingat. Meski pastinya tidak akan sama dengan Kin, tapi setidaknya aku berusaha untuk menstimulasi dengan wanitaku sekarang.


"Aku sanggupi, aku usahain juga kasih kau rasa yang belum pernah kau rasakan. Tapi aku tak janji dan tak berani jamin. Yang jelas, aku garansi deh. Kalau tak sesuai harapan ya, bisa diulang kembali. Asalkan, kau pun nurut dengan sedikit cara yang aku usulkan untuk kita." Aku menahan tawaku saat mengatakan ini.


Novi pun terkekeh geli, kemudian memeluk tubuhku kembali. Part depannya amat terasa terjepit, sepertinya ia pun sudah tidak menggunakan busa pembungkusnya.


"Oke, aku harus gimana?" Novi mencium jakunku, kemudian menegakkan punggungnya kembali.


"Mau e*ut ya?" sahutku lirih.


Aku malu jika berbicara frontal, apalagi vulgar.


"Tapi…. Cuci dulu ya, Bang?" Sepertinya, hal itu berat untuknya.


Baiklah, aku tak boleh berkecil hati apalagi tersinggung.


"Tunggu di sini ya? Aku cuci dulu." Aku beranjak pergi, ke kamar mandi terdekat.


Sebenarnya, aku ragu Novi bisa. Aku khawatir terkena gigi, seperti yang bang Givan ceritakan tentang pengalamannya mendapat hal itu dari istri polosnya itu.


Pasti itu melinukan.


Aku sampai bergidikan, membayangkan linunya saja.


"Novia…." Aku berjalan kembali ke arahnya dengan senyum.


Semoga ada jalannya, agar emosiku tidak meletup-letup saja. Setidaknya, aku ingin mendapat pelepasan juga.

__ADS_1


"Di sini, Bang?" Aku melihat bias malu di wajahnya.


"Iya. Anak-anak tak mungkin ngintip seingat aku, karena mereka pasti ngerengek dulu kalau kebangun. Jadi ada waktu buat kita, untuk berpakaian dulu." Aku duduk kembali di sampingnya.


"Di mana aja dulu biasa mainnya?" Novi menaruh satu bantal di atas pangkuannya.


Kenapa harus membahas masa lalu, ketika mood sudah bagus?


"Banyak, Nov. Ini rumah kita, kita bebas." Aku menyingkirkan bantal itu dari pangkuannya.


Jujur, aku pun sedikit grogi. Aku tidak yakin, dengan kemampuan dan kemahiranku.


"Aku harus gimana?" Novi meringis kaku.


Sulit sudah, jika ia bertanya. Ini ilmu naluri, bisa bergerak sendiri.


"Aku tak bisa kek Kin, tapi apa aku bisa sedikit kek Canda?" Novi menggenggam tanganku.


Sorot matanya terlihat getir, tapi senyumnya begitu mengembang.


Jika memang tak ingin tahu bagaimana masa laluku, harusnya ia tidak perlu memancing pertanyaan.


"Nov, kalau kau tak ingin sakit hati. Kau tak perlu bahas dan tak perlu mancing dengan pertanyaan begitu. Aku mungkin belum bisa memperlakukan kau sebagaimana mestinya, tapi aku usahakan itu. Kau tenang aja, aku tak mungkin nikah lagi tanpa sepengetahuan kau." Aku mencium punggung tangannya dengan bibir yang basah.


"Memang bisa nikah lagi dan menuhin biologis istrinya?" tanya Novi, yang membuatku tertawa geli.


Aku menggeleng dengan tawaku, "Tak bisa." jawabku malu-malu dengan menyembunyikan wajahku di kedua punggung tangannya itu.


"Abang bimbing aku, aku harus gimana?" Novi mendekatkan tubuhnya dan sedikit condong ke arahku.


Aku memiliki feeling, sepertinya Novi mendapat pencerahan dan saran dari seseorang. Sehingga ia mau, saat aku memintanya untuk menstimulasi intiku itu.


"Ayo, Bang. Jangan diam aja, aku udah tak sabar." Novi merengek seperti anak kecil, yang membuat moodku langsung berubah baik seketika.


...****************...

__ADS_1


Laki-laki, sama saja 🙄


__ADS_2