
"Kalau aku lihat kalian peluk-pelukan lagi tanpa malu, aku harus ngapain? Aku malu, punya suami yang begitu akrab sama sepupu perempuan. Aku ini istri kau, Pa. Wajarnya, kau dekat dengan aku, mesra dengan aku, romantis dan bergurau dengan aku." Kak Aca masih menahan daun pintu tersebut.
Ia benar-benar marah.
"Iya, maaf ya? Janji, setelah ini aku lebih jaga diri dan jaga perasaan Mama lagi." Aku terbiasa dengan sebutan itu, karena anak-anak di sini sudah rata memanggilnya mama, seperti yang ia ajarkan pada Nahda.
"Tak cuma untuk Ahya. Tapi Papa harus jaga diri, jangan terlalu akrab dengan perempuan." Sorot tajamnya mengalahkan silet.
"Oke siap, Ma." Aku tersenyum lebar.
Akhirnya, pintu dibukakan dengan pemandangan boneka capit yang berceceran di mana-mana. Entah, siapa yang berhasil mengambil boneka capit sebanyak ini.
Klik….
Aku menoleh ke arah pintu, di sana kak Aca baru saja memutar kunci rumah ini.
"Jangan keluar rumah ya? Mama mau mandi dulu. Ra, bareng-bareng ya? Nahda jangan nangis ya? Kasih pinjam Kak Kal sama Abang Kafnya," pesan kak Aca, dengan berjalan menuju ke kamar mandi.
Anak-anak mulai berlarian, mereka mulai asik dengan dunianya sendiri. Kal pun, terlihat langsung bertenaga dan ceria saat bermain bersama dua anak perempuan yang begitu gembira tersebut. Kaf pun, bisa berbaur dengan para perempuan tersebut.
Apa aku ke kamar mandi saja? Aku tidak menginginkan yang kilat-kilat lagi, tapi rasanya aku kebelet dan tak bisa bermain lama juga karena anak-anak takut menyadari bahwa aku menghilang sekejap.
Tok, tok…. Aku mengetuk pintu kamar mandi pelan, dengan menggunakan ujung jariku.
"Ma, masuk dong." Bisa dibayangkan bagaimana nada suaraku. Merengek penuh harap, dengan bawaan suara yang halus.
"Mau apa?" Kak Aca malah berteriak dari dalam kamar mandi.
"Papa mau ke mana?" Nahda malah menyadari, dengan menarik-narik ujung bajuku.
Hufttt….
"Mau ee nih." Aku tidak sadar, aku malah beralasan seperti ini.
Nahda manggut-manggut. "Jangan lama-lama ya? Aku ikut jalan-jalannya." Ia mengembangkan gamis lebar yang ia kenakan tersebut.
Aku mengangguk mantap, dengan menunjukkan ibu jariku. Nahda terlihat percaya, ia pun kembali berbaur dengan memunguti boneka kecil yang biasa ada di mesin capit.
"Ma…." Aku mengetuk pelan pintu kamar mandi lagi.
__ADS_1
"Hmm, lagi mandi."
Kenapa sih harus berseru? Kan anak-anak nanti curiga lagi.
"Buka dulu pintunya." Aku menekan suaraku, tapi nyatanya malah membuatku harus mengulang ucapanku karena ia tidak mendengarnya.
"Apa, Pa?" Pintu terbuka, dengan dirinya yang bersembunyi di belakang pintu kamar mandi.
Kesempatan, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa? Mau apa? Mau pipis kah?" Kak Aca malah menutupi tubuhnya dengan tangannya.
Aku memamerkan senyum yang kata Canda itu paling manis. Lalu menarik tangannya, semoga ia paham kodeku.
"Heh! Jangan gila! Anak-anak lagi pada main."
Hey, sebelumnya pun aku tidak pernah segila ini dan semenggebu-gebu ini. Ketika bersama Kin, aku malah sabar menunggu anak-anak tertidur lebih dulu.
"Bentar aja, nanti yang lamanya malam lagi." Aku langsung mengeluarkan pertanian yang baru peremajaan ini. Baru tumbuh tunasnya saja, pasti ada sensasi menusuk geli.
"Kok udah turn on aja?" Ia masih menutupi tubuhnya dengan tangannya.
"Ayolah, Ma." Sedihnya aku, karena ia masih diam tanpa pergerakan.
"Masa standing?" Kak Aca maju satu langkah.
"Ya tak apa." Aku sudah meloloskan celana chinoku.
"Tapi mau o*** dulu. Aku belum pengen." Bagus juga caranya berterus terang. Dengan ia mengatakan kan, aku jadi tahu akan kebutuhan dan keinginannya.
"Oke, tunggu sebentar." Aku melepaskan kaos juga, agar tidak basah karena tubuh kak Aca yang belum kering.
Kami sudah sama-sama seperti akan mandi.
"Memang bisa sambil berdiri?" Kak Aca langsung mendekatiku.
"Bisa." Aku langsung menopang berjongkok.
Oke, mari kita bekerja dalam diam. Entah berapa lama, kami baru menyelesaikan kegiatan kami. Tapi untungnya, tidak ada anak-anak yang merengek atau mencari kami.
__ADS_1
Setelah selesai, aku hanya mencuci dan berwudhu saja. Jika harus mandi wajib dulu, pasti akan membutuhkan waktu. Sedangkan, kak Aca malah lanjut mandi setelah selesai denganku.
Antengnya anak-anak itu mencurigakan. Kagetnya aku, ketika baru keluar kamar mandi menyaksikan anak-anak tengah melukis di tembok.
"Aduh, Nak. Ini bukan tembok biyung." Karena di sana menggunakan cat minyak, di mana noda coretan gampang dihilangkan dengan air.
Sedangkan di sini menggunakan cat tembok biasa, bisa dikatakan cat tembok kapur. Ya seperti kapur yang dicairkan, lalu dioleskan ke tembok. Berwarna putih dan tidak menutup sempurna tembok yang sudah disemen ini.
Kal yang besar saja, malah ikutan. Bukannya membimbing adik-adiknya yang kecil, tapi malah ikut serta.
"Ya tak apa, Pa. Kan bisa panggil panda." Zuhdi si panda itu.
"Suka-suka kalian lah." Aku menghela napasku dan duduk di kursi tamu.
Aduh, lelahnya lututku. Jika dalam posisi berdiri, tenagaku benar-benar terkuras. Apalagi, di dalam kamar mandi yang begitu ngap.
Ya kamar mandi biasa, seperti dalam WC sekolah. Tapi tidak bau, licin atau pun jorok. Terpelihara dan memiliki parfum kamar mandi khusus. Namanya juga rumah subsidi type 36, harus banyak perbaikan lagi agar nyaman ditempati.
Sudah dikeluarkan, tapi rasanya belum plong juga. Aku tetap ingin lagi dan lagi, aku masih ingin mengulanginya meski sudah cukup lelah di pagi ini.
Kapan ya memiliki waktu yang pas? Aku jadi berandai-andai, jika kami cek in di hotel yang tempat tidurnya sudah ditaburi kelopak bunga mawar.
Beginilah duda dan janda yang menikah. Ada anak di antara kami, yang membuat aktivitas dewasa kami menjadi sangat sulit untuk dilakukan.
Aku jadi memikirkan rencanaku untuk ke Cirebon bersama kak Aca, aku akan membahasnya ketika ia keluar kamar mandi. Agar saat sudah di rumah mamah, kak Aca bisa membuka obrolan tentang rencana kami ke Cirebon.
Dalam perjalanan kan, kami bisa singgah juga di sebuah hotel. Tapi kembali lagi, kami harus menunggu Nahda tertidur lebih dulu.
Cukup lama juga ini perempuan mandi. Setelah ia mandi, bersiapnya tidak begitu lama seperti saat mandi. Mandinya melakukan apa saja ya? Kenapa para perempuan bisa lama saat mandi?
"Sini dulu, duduk." Aku menepuk tempat di sebelahnya.
Kak Aca mengangguk, kemudian ia lanjut mentap-tap wajahnya dengan sebuah kapas. Skincarean lah, bahasanya.
Aku langsung bercerita padanya, tentang aku yang sudah mengatakan pada mamah bahwa kami akan ke Cirebon untuk meminta restu ayahnya. Kak Aca pun mengangguk setuju, ketika aku berkata padanya untuk meyakinkan mamah saat ia kubawa ke rumah mamah sekarang.
Hingga kini, kami bertiga berada di halaman belakang rumah mamah. Dengan anak-anak yang kembali bermain, di hangatnya matahari jam sembilan pagi ini.
"Ca….
__ADS_1
...****************...