Istri Sambung

Istri Sambung
IS66. Sholat maghrib


__ADS_3

"Assalamualaikum…." saat adzan maghrib berkumandang, aku baru sampai di rumahku.


Tidak ada yang menjawab. Sepertinya anak-anak dan Novi berada di lantai dua. Aku menutup kembali pintu rumah ini, kemudian bergegas menuju lantai dua.


"Kal, Kaf…. Novia…." aku menyerukan nama-nama tersebut.


Namun, tetap terlihat sunyi dan tidak ada jawaban.


Apa mereka semua di rumah mamah?


Setelah aku memasuki kamar pun, tidak ada orang-orang di sini. Sepertinya, mereka benar-benar tengah berada di rumah mamah.


Ya sudah, biar nanti aku menyusul setelah membersihkan diri. Aku menyimpan beberapa dokumen yang aku bawa pulang, kemudian aku menuju ke kamar mandi. Aku akan mandi dan sholat lebih dulu, sebelum menjemput mereka di rumah mamah.


Ceklek…..


Aku segera menutup mataku.


"Kok mandi maghrib sih, Nov?" aku berniat menarik kembali daun pintu ini.


"Eh iya, Bang. Tadi ketiduran sama anak-anak." jawabannya terdengar terpenggal-penggal.

__ADS_1


Aku menutup kembali daun pintu ini. Aku mencari aman saja, daripada aku drop kembali. Aku tengah bisa menguasai keadaan di lapangan, aku tidak boleh sakit sehingga tidak menghambat pekerjaanku.


Katanya, Novi ketiduran bersama anak-anak? Lalu ke mana anak-anakku? Maghrib-maghrib begini, apa mereka ada di luar rumah.


"Anak-anak ke mana, Nov?" seruku dari depan pintu.


"Tadi aku cari, mereka ada di Canda. Mereka mau ikut ngaji ke masjid katanya."


Dengan kalimat tersebut, berarti Novi tidak tahu perginya anak-anakku dari rumah. Ia tahu, setelah merasa kehilangan dan mencari mereka.


Aduh, teledor sekali Novi ini.


"Kak Ifa…. Anak-anak mana?" aku berjalan ke teras rumah Key, di mana pintunya sedikit terbuka dengan kak Ifa yang tengah menyapu lantai.


Kak Ifa melihat keberadaanku, "Eh, Far. Kal sama Kaf di dalam rumah Ghifar. Anak-anak yang lain juga, lagi pada sholat jama'ah."


Malah Canda yang mengajarkan untuk sholat berjama'ah, bukan ibu sambungnya. Novi ini, setidaknya mengurung anak-anak ketika waktu maghrib.


Aku mengangguk, kemudian berjalan menuju ke rumah yang berukuran cukup besar ini. Pintunya tidak dikunci, sehingga aku bisa langsung masuk.


Suara anak-anak yang tengah menyerukan amin, terdengar dari ruangan samping. Tepat sekali, mereka berbaris rapi di shaf-nya.

__ADS_1


Sedangkan di paling belakang, ada anak kecil yang hanya memakai atasan mukena berwarna abu-abu. Ia tengah mengikuti gerakan sholat, dengan mata yang melirik ke mana-mana. Setidaknya, Ra anteng di sana.


Aku mundur beberapa langkah, agar Ra tidak menyadari keberadaanku. Bisa-bisa, ia nanti minta ikut denganku.


Satu orang imam, yang berbaris paling depan. Dengan menggunakan mukena dan berperut besar, menandakan bahwa itu adalah Canda. Canda menggunakan mukena langsungan, sehingga terlihat jelas bahwa perutnya besar.


Lalu di shaf pertama, ada tiga anak laki-laki. Di shaf selanjutnya, adalah tiga anak perempuan. Ra tidak masuk hitungan, karena ia melakukan gerakan sholat secara acak. Setidaknya, anak itu mengenal tiang agama sejak dini.


Aku jadi ingin memiliki istri seperti Canda. Eh tapi, tidak jadi deh. Aku teringat bagaimana lemotnya dirinya, lengketnya dirinya dan manjanya dirinya. Memang itu sifat perempuan, tapi Canda kadang tidak tahu tempat.


Ah, sudahlah. Jangan membahas istri orang lagi. Apalagi, suaminya galak.


Mereka semua tengah bersalam-salaman, kemudian berebut untuk mencium tangan panutannya. Aku memilih untuk bergegas keluar, karena takut tertangkap mata Canda. Bahwa aku mengintai kegiatan mereka.


Aku kembali ke rumah, dengan langsung dihadapkan Novi yang tengah bersolek di depan kaca rias milik Kin. Ya ampun, bukannya segera sholat.


"Nov, sholat. Maghrib waktunya pendek." aku berjalan ke arah kamar mandi.


Namun,


...****************...

__ADS_1


__ADS_2