Istri Sambung

Istri Sambung
IS218. Menantu pilihanku


__ADS_3

Aku paling tidak suka kebetulan seperti ini. Aku mengharapkan kak Aca yang datang, tapi malah Canda yang muncul.


"Mamah mana, Far?" Canda menaruh sebuah mangkuk di atas meja ruang keluarga yang tengah aku pakai ini.


"Ke Pintu Rime, Cendol." Aku menjawab perlahan dengan menghembusnya napasku.


"Huuuu…." Ia duduk di sofa ruang keluarga ini.


"Aku nanya baik-baik juga, jawabnya udah gitu kali." Canda mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Ya udah kau balik lah, tak ada orang-orang di sini."


Lebih cepat ia pergi, itu lebih baik.


"Eh, iya. Aku kan disuruh minta sayur sama mas Givan, kenapa aku duduk?" Canda bangkit, membawa kembali mangkuknya dan pergi begitu saja tanpa salam.


Dasar, pelupa. Suaminya bisa ngoceh-ngoceh, jika Canda malah bertahan di sini denganku.


Senang sekali aku. Tak lama kemudian, kak Aca datang dengan dua bocil. Nahda dan Ra langsung kuajak bermain di halaman belakang, sebelum Ra merengek ingin ke ayahnya.


Di sinilah aku, berdua di teras belakang rumah mamah. Kami mengobrol, sesekali mencuri kegiatan dewasa di sela waktu menjaga anak-anak ini.


Hingga entah mengapa, tangan kiriku malah semakin mengusap naik ke pahanya di dalam rok.


"Jam berapa loh ini, Pa. Bentar lagi Kaf pulang loh." Ia menahan tanganku untuk bertindak lebih jauh.


Kaf sudah bisa pulang pergi sekolah sendiri, karena banyak temannya. Teman-temannya dari lingkungan luar pun, sudah aku peringatkan untuk tidak mengajak Kaf main di waktu pulang sekolah. Jadi, saat mereka pulang sekolah ya hanya pulang bersama saja. Tidak ada uang belok ke kebun mangga, atau meluncur ke sungai dulu.


"Nakal betul ini laki-laki alim!" Ia menahan tanganku, yang jarinya sudah mendesak ke tempat yang lembab.


Sepertinya segar, jika merujuk rasa bersama di siang ini.


"Ke dalam dulu, bentar aja. Ke kamar mandi, atau di sofa ruang keluarga gitu." Aku masih mengorek yang entah apa yang aku cari.


Kak Aca menggeleng, ia tetap memegangi lenganku saja.


"Sebentar aja tuh, Ma." Ia pun sudah basah, tapi jual mahal sekali.


"Tak lucu kalau ketahuan anak sendiri lagi hubungan tuh, Pa! Nanti kita mau jelaskan apa?" Tatapannya begitu dalam, ia benar-benar ingin juga. Namun, sesuatu dalam hatinya seperti tidak ingin melakukannya di siang hari ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum…."


"Ada sandal mama sih?"


Kami langsung panik berbenah, dengan aku yang mengelap asal saja jariku yang basah ini.


"Abang…." Dua bocil itu berlari ke arah pintu akses ke halaman belakang.


"Tuh, kan? Bener ada Mama di sini." Kaf muncul dari sana dengan setelan pakaian seragam batik, dengan celana panjang berwarna merah. Ia tersenyum, dengan menunjuk kami yang duduk paling sudut dari teras ini.


Memang dasarnya niat mesum, sialnya belum beruntung.


"Aduh, Ma." Aku mengacak-acak rambutku sendiri, karena rasa yang tidak kesampaian ini hampir meledak di kepalaku.


"Yang duda aja begini, apalagi yang bujang." Kak Aca bangkit, kemudian menggiring anak-anak untuk masuk ke dalam rumah.


Eh, aku lupa memaksakan sayur bening pesanan Kaf. Padahal pagi tadi ia sudah berpesan, ingin malam dengan sayur bayam. Aku bisa membuatnya, itu mudah saja. Sayangnya, pikiranku kebanyakan mesum. Malah melupakan pesanan sederhana dari anakku.


Aku bangkit dan masuk ke dalam rumah. Kaf di ruang keluarga tengah dibantu untuk berganti pakaian. Ia masih belum memiliki malu, ketika disalinkan oleh orang tuanya.


Ia hanya mengenakan celana boxer saja, lalu berlari ke kamar mandi di dekat pintu belakang. Sedangkan kak Aca naik ke lantai atas, dengan membawa tas sekolah Kaf dan seragam Kaf. Sedangkan para bocil, sudah memencet-mencet remote televisi dengan tampilan kartun di layar televisi.


"Kaf, Papa lupa buat sayur beningnya," seruku dengan menghempaskan tubuhku di sofa ruang keluarga.


"Tuh, Papa. Aku udah lapar." Kaf merengek hampir menangis.


"Kesel aku." Ia memukul-mukul sandaran sofa.


Hufttt…. Maaf, Nak. Papamu sedang mode mabuk istri rahasia.


"Buat telor aja ya?" Aku mengusap wajah anakku dengan tisu kering yang berada di atas meja.


"Tak mau, pengen sayur." Air matanya sudah tak terbendung di pelupuk matanya.


"Eh, ada apa sih?" Kak Aca menuruni tangga dengan satu stel pakaian milik Kaf.


"Papa tak buatkan sayur, aku udah bilang pas sarapan." Kaf mengadu dengan rengekan manjanya itu.


Apa aku pantas menyebut Kaf manja? Sayangnya tidak. Aku yang lebih pantas disebut pelupa, dengan permintaan kecil anakku.

__ADS_1


"Papa buat sekarang deh. Abang Kaf jangan nangis dong." Aku berjongkok di depan Kaf ya tengah dipakaikan pakaian sehari-hari oleh mama tirinya itu.


"Udah, biar Mama aja. Papa jagain anak-anak aja. Sini Bang Kaf ikut Mama ke dapur, Bang Kaf minum dulu."


Aku kembali duduk di sofa, dengan Kaf ya digiring masuk ke dalam dapur.


Ada tidak ya stok bayamnya?


"Ada tak bayamnya, Ma?" seruku dari tempatku.


"Ya, ada." Kak Aca pun berseru lagi dari sana.


Kaf muncul, dengan segelas air putih. Ia menyuruh dua anak perempuan tersebut untuk minum, kemudian ia kembali ke dapur. Sepertinya, Kaf disuruh mamanya untuk memberi adik-adiknya minum.


Meski awalnya sering bentrok. Namun, lama kelamaan Nahda dan Ra terlihat kompak. Mereka tertawa bersama dan duduk berdampingan, melihat kartun kotak kuning tersebut.


Waktu belum masuk Dzuhur, sekitar baru jam sebelas. Kaf baru naik ke kelas dua SD, baru belajar sekitar sepuluh hari di kelas duanya. Kelas satu dan kelas dua, di sini belum pulang sampai Dzuhur. Sedangkan kelas tiga sampai enam, mereka pulang di waktu Dzuhur.


Masakan sederhana sudah matang. Kurang lebih setengah jam, sayur bayam, tempe tahu goreng sudah siap. Mumpung masih hangat, kami langsung menyerbunya.


"Sayur Mama dikasih tomat, kek mama Kin aku kalau masak sayur." Kaf melahap potongan tomat dalam sendoknya.


"Iya dong. Sayur hijau, kek bayam, kangkung, sawi gitu. Kalau disayur harus pakai tomat, biar warna kuahnya tak hijau." Kak Aca mengambil semangkuk sayur dalam mangkuk terpisah.


"Buat siapa itu?" tanyaku dengan menunjuk mangkuk tersebut.


"Buat Kal. Dia pulang sayurnya habis kan tak lucu nanti."


Wow, dia menyimpan untuk anakku ternyata.


Kalian tahu kan, bayam jika disayur akan menjadi begitu sedikit. Ditambah lagi, aku dan Kaf yang terus menambah kuah entah isinya ke dalam piring kami.


Kak Aca baru duduk, setelah menutupi semangkuk sayur bayam untuk Kal. Ia makan, dengan sesekali menyuapi dua anak perempuan tersebut yang duduk di atas kursi dengan memainkan ponselku. Mereka sangat sulit untuk diam. Mau tidak mau, aku harus menjadikan ponselku santapan YouTube untuk mereka agar mau anteng.


Saat kami baru selesai makan, benar saja Kal langsung datang dan menanyakan bagiannya.


"Bayamnya tuh tak ada lagi, Pa. Cuma ada dua ikat tadi di penyimpanan sayuran dingin. Tukang sayur jam segini, ya udah pada tutup," ucap kak Aca yang tengah menyajikan makanan untuk Kal. Sedangkan Kal, diminta untuk berganti pakaian dan cuci tangan terlebih dahulu.


Mungkin kak Aca berpikir, aku akan bertanya kenapa ia masak sayurnya sedikit. Makanya, ia sampai mengatakan hal itu.

__ADS_1


Lihatlah mah, pah. Ini loh, menantu yang aku pilihkan. Cekatannya dia mengurus anak-anak dan bergerak lincah ke sana ke mari. Tidak ada yang lalai dari pengawasannya, meski ia tengah sibuk juga. Bahkan, anak-anakku tidak sampai menangis karena bentakan tegas seperti yang Novi berikan. Ketika anak-anakku baru pulang dari sekolah. Perut kami pun, terkendali dengan masakan sederhana yang ia buatkan dalam waktu singkat.


...****************...


__ADS_2