Istri Sambung

Istri Sambung
IS124. Sharing dengan orang tua


__ADS_3

"Nyaman, meski sering dimarahin." Anakku tersenyum lebar padaku.


Mamah sampai terkekeh, mendengar pengakuan cucunya. Sering dimarahin katanya? Tapi anehnya nyaman. Namun, urat wajahnya terlihat tertekan.


"Memang tak enak tinggal sama mama Cantik?" Aku membelai kepalanya yang belum terbiasa berhijab ini.


"Enak juga. Tapi di sini aja, Pa. Kata Nenek, aku nemenin Nenek di sini. Karena Key, tak boleh sama ayah."


Apa mamah merasa kesepian?


Aku memandang lurus mamah yang tengah menyuapi lima orang anak Tika secara bergantian. Tidak mungkin kesepian, jika banyak cucu seperti ini. Beliau pasti merasa pusing, karena suara anak-anak yang cukup berisik.


"A lagi, Kal." Mamah menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Kal.


"Kenapa sih, Mah?" tanyaku yang tidak menjurus langsung.


Mamah menghela nafasnya. "Biar ada kesibukan, Kal aja. Biar Kaf nanti ikut kau lagi, biar Kal di sini. Bukan pilih kasih, Mamah pengen ada temen ngobrol. Kalau Kaf tau sendiri, dia anak laki-laki. Ngobrol tentang hal wanita, tabu untuknya. Meski Kal masih kecil, tapi kan dia perempuan. Besar nanti juga, ia paham tentang obrolan perempuan," jelas mamah kemudian.


"Kan ada papah, Mah." Papah adalah teman untuk mamah, menurutku.


"Terkadang, kalau kepercayaan udah dikhianati itu. Yaaa…. Gimana ya? Kalau ingat, kadang bad mood. Pengen jauhi, tapi gimana? Kembali pun, pilihan Mamah. Masalah komunikasi sih tetap baik, hubungan dan kewajiban juga normal. Tapi ada masanya, kadang ingat gitu. Kalau udah lagi di posisi itu kan, merasa benci betul. Kalau ada Kal kan, setidaknya ada kesibukan Mamah di masa bad mood karena ingat kejadian itu."


Apa ini tentang kejadian beberapa tahun silam? Ya, papahku pernah khilaf di masa tuanya. Katakan, disebutnya puber kedua.


"Mamah tak cinta sama papah?" Hanya ini pertanyaan yang muncul di otakku.


"Cinta, apalagi bersama terus tiap hari begini. Perasaan itu nyata, setelah hambar-hambar beberapa bulan di awal setelah akad siri itu. Cuma kalau ingat aja gitu, kadang yaaaaaa…. Entahlah. Mamah tak paham jelasinnya, intinya masih ingat, meski udah memaafkan dan membenahi perasaan. Gitu, Far. Kal di sini, karena memang niat dari hati aja. Kalau Mamah udah tak ada, bolehlah kau boyong lagi."


Sungguh aku langsung bersedih, jika membahas tentang kematian seperti ini. Hal itu kepastian, tapi aku takut akan kedatangannya padaku atau pada orang terdekatku.

__ADS_1


"Mamah bosan jadi nenek-nenek, Far. Pengen jadi mamah-mamah lagi, tapi terhalang usia. Bahaya, kalau harus melahirkan lagi," timpal papah, yang tiba-tiba muncul.


Aku terkekeh geli, mendengar celotehan papah itu. Papah tidak menghendaki, ingin punya banyak anak. Tapi, mamah yang terlampau subur hingga KB pun jebol karena benih-benih papah.


"Nah, mungkin begitu konsepnya. Biarkan Ra yang sekarang ngerecokin bu Ummu. Mamah pun tak minat, buat urus Ra. Pusing betul, dengar suaranya anak itu lebih-lebih berisik dari burung kicaunya Papah," tambah mamah, yang membuatku mengerti bahwa mamah ingin mengurus anak perempuan yang mudah diatur dan tidak ribut saja seperti Ra.


"Padahal cantik loh Ra itu, Dek. Rambut panjang sedikit, kan lucu gitu rambutnya diikat," ujar papah, yang duduk di sampingku.


"Halah, buktinya meja pecah aja minta ganti ke Givan. Lucu-lucu apanya?! Abang pun kewalahan urus dia."


Gelak tawa papah begitu puas.


Jadi seperti itu, ending meja keca yang Ra pecahkan?


"Udah kenyang, Nek." Kal minum air putih, yang berada di meja ini.


Mamah pun kembali menyuapi anak-anak Ghavi. Aku teringat, akan masa kecilku. Aku makan pun ramai-ramai seperti itu. Sehari tiga kali, kadang empat kali, kami mayoran makanan dalam satu wadah.


"Pah, tabibnya di mana?" Aku bertanya dengan berbisik-bisik.


"Eh, iya. Jamunya di belakang itu, Far. Mamah kau udah buatkan." Dasar, bapak-bapak hipertensi dan membuat hipertensi saja. Aku berbicara pelan, malah papah berbicara dengan sedikit keras.


Masalahnya, aku malu.


"Novi diajarkan, Far. Kau kasih tau dia, jangan dia bereksperimen sendiri. Dia mana bisa, Far. Dia tak punya pengalaman." Tuh kan? Jadi mamah menimbrungi.


Sepertinya, papah menceritakan lebih rinci pada mamah.


"Iya, Mah." Aku menjawab dengan malu.

__ADS_1


"Tapi pernah berhasil kan, Far?" tanya papah tiba-tiba.


"Berhasil bagaimana, Pah?" Aku malah balik bertanya.


"Ya pernah berhubungan gitu. Betul tak perawan tuh gitu."


Sepertinya, ada seleksi kejujuran yang orang tuaku pertanyaan pada Novi di belakangku. Ya seperti perawan atau tidaknya dia. Ya mungkin hanya bertanya saja, sebatas ingin tahu kejujurannya.


"Perawan, pernah Pah. Cuma ya, kek yang pernah aku bilang. Susah bangun, mesti sabar dulu." Aku harus benar-benar rileks dan tidak memikirkan tentang apapun.


"Ohh, ya masih ada harapan lah. Tinggal kau ajarkan aja. Kek Lendra dulu ke Canda, banyak belajar Canda dari Lendra. Pas balik ke Givan, ya minim keluhan tentang hubungan suami istri. Pas awal sih, Givan sampai pernah bilang bolehkah nikah lagi atau bagaimana itu. Lupa Papah pertanyaannya, tapi ada di Belenggu Delapan Saudara." Dari ucapan papah, berarti bang Givan pun sering sharing pada papah.


"Memang sekarang Givan pernah ngeluh soal itu lagi, Bang?" tanya mamah kemudian.


"Tak juga. Cuma pas baru rujuk itu, Abang iseng aja, Abang tanyakan gimana nih janda dua anak. Kan masa itu, Canda baru punya Chandra sama Ceysa aja. Di situ dia bilang lah, tau gitu nunggu Canda jadi janda aja katanya, aku sampai kelabakan sendiri katanya." Papah menceritakan, dengan nada sedikit rendah. Mungkin karena ada anak-anak Ghavi, yang bolak-balik untuk mengisi mulutnya.


"Pandai apa gimana gitu, Pah?" Karena aku hanya tahu, Canda yang pasif saat di kamar Oyo bersamaku.


Entah saat itu, karena dia memang tidak ingin. Membuatnya tidak mau aktif padaku. Ya dosa juga sih, apalagi jika dilihat jejak pesantrennya. Harusnya aku segan padanya, tapi egoku sangat besar masa itu.


"Ya tau trik dan mau gerak mungkin. Canda dulu kan, tak bisa apa-apa. Makanya Abang kau kadang ngamuk aja, karena kl*maks yang belum puas. Tapi nampak beda menurut Papah, kalau laki-laki biologisnya terpenuhi itu. Kek Givan gitu kan, nurut aja Canda minta apa aja juga. Ya mungkin, karena ada faktor ekonomi yang menunjang juga. Tapi nampak di mata tuh, kek lebih tunduk aja ke Canda. Ghava gitu, kasar kan dia galak. Tapi ke istri tak pernah mukul, meski di awal ada cerita kecewanya tentang keperawanan itu. Aman aja mereka, romantis juga Ghavanya bertanggung jawab. Ya mungkin, karena faktor biologis yang terpenuhi juga. Memang biologis bukan hal yang utama, tapi menyeimbangkan kehidupan dan emosi kita gitu. Kau pun sama kan waktu dulu? Sekarang aja, baru tau Papah kalau kau sering ngamuk dan ngambek. Novi cerita begitu, kirain cuma perasaan Novi aja. Tapi kalau dilihat dari titik permasalahan awalnya kan mungkin, karena kau yang belum bisa dapat posisi untuk biologis kau itu. Papah baru paham ini pun, masa kau ceritakan tentang pengobatan kau kemarin. Ghavi gitu, ke Fatma kan cuma untuk hal ranjang aja. Dia ingin bagaimana-bagaimana, tapi mungkin terkendala banyak anak, jadi waktu berdua dengan istri berkurang. Papah ulangi lagi, itu bukan hal yang utama. Tapi, untuk menyeimbangkan kehidupan kau. Ngefek gitu, ke keseharian dan emosi kita." Dari membahas bang Givan, sampai akhirnya menjurus padaku.


"Jadi aku mesti gimana, Pah? Jalan keluarnya gimana? Aku udah coba rutin, meski kadang buat Novi aja. Ya malah aku yang masalah sedikit, hawanya pengen meledak aja." Aku baru mengerti, aku cepat marah mungkin karena faktor ini.


Seperti yang papah jelaskan. Itu bukan hal utama, tapi berpengaruh pada kehidupan dan emosi kita.


Aku menunggu pendapat dari papah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2