
Kecuali, Novi.
Kentara sekali dari senyum miringnya. Ia membawa masuk beberapa barang-barangnya, tanpa memperdulikan sorot mata mamah yang terlihat begitu murka tersebut.
"Mah, biar kami rehat dulu." Bang Givan menggendong kedua anakku, karena mereka benar-benar baru bangun dari tidurnya.
"Dek…." Mamah mengusap-usap lengan mamah. Aku paham, papah tengah memperingatkan mamah dalam kelembutannya. Agar istrinya tidak langsung berubah menjadi maung, dengan keadaan kami yang baru sampai dari perjalanan.
"Terserah kalian." Suaranya dingin dan datar.
"Mak Cek…."
Aku menelan ludahku, mendengar suara istriku menyebut nama panggilan ibuku untuknya. Aku berfirasat, istriku mengajak ratu di rumah ini udah berdebat.
"Kau istirahatlah dulu, Ca." Papah yang memerintahkan hal itu.
Nahda diturunkan dari gendongannya. Anak tersebut langsung berlari masuk ke dalam, mengejar saudara-saudaranya yang lain.
__ADS_1
"Gini, Mak Cek." Kalimatnya terjeda.
"Ca!" Papah menekankan ketegasan dalam suaranya.
Aca menoleh ke arah laki-laki yang berada di samping mamah. "Maaf, Pak Cek. Maaf, Mak Cek. Anak kalian, Ghifar. Dia tetap anak laki-laki yang baik kok." Aca menyempatkan diri untuk menarik garis bibirnya ke atas. Cekungan senyum itu, terlihat begitu teduh dan menenangkan.
"Cuma, aku yang minta dia tetap tinggal di kamar aku. Maafin aku ya, Mak Cek? Aku terlalu terobsesi untuk dapatkan anak Mak Cek. Tapi aku pastikan, obsesi aku akan abadi. Tak cuma di awal aja, aku begitu ingin dapatkan anak Mak Cek."
Bagaimana caranya membumbui anak agar menjadi seorang yang berani mengambil alih amarah orang ini?
Ya menurutku Aca tengah memfokuskan amarah mamah pada dirinya saja. Karena aku yakin, mamah bukan marah pada aku saja. Tapi pada Aca, bang Givan dan juga Canda. Kami semua pasti mendapatkan makian yang sesuai porsi kami masing-masing.
"Aku bisa tidur sama dia, aku bisa merasakan dekapannya, kasih sayangnya dan kehangatannya. Untuk masalah kehamilan, Ghifar tak mengharapkan anak dari hubungan yang salah ini. Dia cukup cerdas, Mak Cek. Jadi, Mak Cek tenang aja." Senyumnya begitu merekah.
Untungnya apa ia merendahkan dirinya sendiri?
"Aca…. Ini bukan di kota kita. Kau paham maksudnya?" Tidak ada suara yang meninggi di sini, terdengar seperti obrolan santai.
__ADS_1
"Ya, Mak Cek. Aku paham, kalau keluarga Mak Cek tak mau dipermalukan. Aku usahakan tak ulangi hal itu lagi, Mak Cek. Aku paham, hari sial tak ada di kalender. Makasih ya, Mak Cek udah lahirkan laki-laki sebaik Ghifar? Maafin aku, yang malah merusak akhlak anak Mak Cek. Aku usahakan tak merendahkan diri aku lagi ke Ghifar, aku usahakan untuk tak goda dia lagi." Kak Aca melangkah satu langkah ke depan. "Aku tak bisa sendirian begini, Mak Cek. Aku udah pengen bersuami, apalagi bersuamikan anak Mak Cek. Aku perempuan dewasa yang butuh hal itu, di samping karena anakku butuh figur ayahnya. Aku tak bisa, kalau Mak Cek minta aku ninggalin Ghifar. Hubungan aku dan Ghifar udah jauh, Mak Cek. Mak Cek pasti paham meruginya aku, kalau sampai Ghifar ninggalin aku gitu aja. PSK aja, harus dibayar. Sedangkan aku, Ghifar tak pernah bayar apapun untuk jasa penyaluran itu. Aku tak minta ganti rugi biaya, atau setimpal dengan upah PSK. Aku cuma minta, tolong izinkan aku dihalalkannya dengan cara yang lebih sederhana. Aku tak menuntut pernikahan mewah, Mak Cek. Resmi atau bawah tangan, aku tak peduli, Mak Cek. Yang aku khawatirkan, hal ini bakal terus terjadi sampai sial datang menanti. Aku dan Ghifar udah saling membutuhkan, Mak Cek." Penuturannya begitu dalam, mamah sampai menitikkan air matanya. Dengan papah, yang sampai menekan ujung matanya.
Rasa cengeng kami datang bersamaan.
Mamah merentangkan kedua tangannya, Aca pun langsung datang memenuhi pelukan hangat tersebut.
"Maafin Mak Cek, yang udah buat kalian jadi hina. Mak Cek tak bermaksud melarang, Mak Cek tak bermaksud menyulitkan restu untuk kalian. Mak Cek paham niat baik Ghifar sebaiknya disegerakan, tapi Mak Cek tak tau caranya memaksa kakak sendiri. Percaya, Ca. Bukan sekali aja Mak Cek telepon ayah kau, untuk bahas hal ini. Tapi apa nyatanya? Dia bilang, kau harus mandiri dengan status kau dulu, kau harus jadi orang dengan kesendirian kau, kau harus berhasil punya materi kek Mak Cek dulu. Memang dia udah tak bahas Ghifar cerai karena begini, atau hakimi Ghifar buat Kin gila. Tapi, ayah kau lebih menginginkan kau sendiri. Dia pikir, cerai mati ini sama kek cerai pisah. Itu hal yang berbeda, dengan ayah kau tak paham. Terus Mak Cek harus gimana lagi, Ca? Usahakan untuk kalian, udah. Apa harus ambil jalan itu? Tapi, Mak Cek yakin ayah kau bakal lebih menjadi. Dia pasti berpikir begini, kalau suatu saat nanti dia tau kalau anak perempuannya disirikan. Dia pasti anggap Mak Cek ini tak mau memuliakan kau, mau beli murah, mau meninggalkan tanpa bekas dan menyepelekan posisi kau karena tak punya kekuatan hukum. Mak Cek jamin, ayah kau pasti terpikir ke arah yang salah itu." Mamah melepaskan pelukannya, kemudian beliau mengusap-usap kedua pipi Aca.
"Mak Cek, boleh aku egois? Boleh aku tak pikirkan resiko itu? Boleh aku tak pikirkan hancurnya hati orang tua aku, kalau aku jalani pernikahan tanpa sepengetahuannya? Apa boleh, Mak Cek? Aku memaksa! Harus! Tak ada kata tidak! Aku usahakan dan aku upayakan. Kalau Mak Cek tak mendukung, aku tak masalah. Silahkan Mak Cek tetap berpikir, bahwa kami memang hina dengan zina-zina kami selanjutnya. Mak Cek tak akan pernah kami beritahu, tentang sakralnya pernikahan kami meski hanya tertulis di kertas satu lembar dan tidak memiliki kekuatan hukum. Pernikahan siri itu, urusan aku dan Tuhan. Aku tak berniat seret Mak Cek untuk dijadikan saksi, kalau Mak Cek tak pernah berkenan. Tapi kalau Mak Cek mau jadi saksi dengan restunya, aku janji bakal mengabdi ke Ghifar dan Mak Cek seumur hidup aku. Aku tak bakal pulang untuk alasan apapun, jika tanpa izin dari kalian. Akan aku doakan keselamatan, kesehatan dan keberkahan hidup kalian, sepanjang sholatku. Aku tak tau caranya berterima kasih, tapi aku usahakan aku bisa jadi orang yang mampu membalas budi." Tarikan napas istriku terdengar berat. "Tolong, izinkan kami menikah. Restui kami, berkahi kami, doakan cinta kasih dan sayang kami abadi." Suaranya bergetar dengan kedua telapak tangan yang saling bertemu di depan dadanya.
Istriku, kau luar biasa. Aku harap, perjuangan kau kali ini tidak sia-sia. Terima kasih, telah mau berjuang dengan laki-laki payah yang tidak berani menentang keputusan ibunya ini.
Aku berjanji, akan memperlakukan kau semulia yang aku mampu sepanjang takdir hidup kau.
Aku tak bisa berjanji rasaku padamu tak akan pernah berubah, atau sikapku selalu bisa menyenangkan hati kau. Aku tak bisa janjikan hal itu. Namun, akan aku janjikan bahwa kau tetap akan menjadi rumah untuk hatiku.
Kau wanita terbaik, terhebat dan ternekat yang memperjuangkanku, memperjuangkan kita.
__ADS_1
My wife, is my destiny. Aku yakin, istri yang seperti inilah yang harus hidup bersama takdirku.
...****************...