Istri Sambung

Istri Sambung
IS224. Menceritakan pada budhe


__ADS_3

"Memang Budhe dengar dari mana, kalau aku ini sering pukul istri?" Aku tidak mengerti dengan tuduhan itu. Meski malah kebalikannya, tapi aku tak pernah bercerita pada orang-orang.


"Pendapat Budhe dan pakdhe sendiri. Maaf, kalau menghakimi kamu lebih dulu. Makanya di sini, Budhe nanya langsung." Cukup bagus caranya untuk berterus-terang.


"Jadi gini, Budhe. Dari sebelum nikah itu, Kin pernah cerita kalau dia ini punya cemburu yang berlebihan. Cemburuannya ini bener-bener parah lah, posesif tuh udah lebihin dari peraturan perusahaan, udah ketat dan banyak aturan." Budhe May malah terkekeh kecil di sini. Dia adalah kakak ipar dari mamah, tapi sipitnya mirip mamah.


"Cemburu itu memang normal, apalagi untuk perempuan. Tapi kalau udah keterlaluan, itu udah termasuk kejiwaan kata dokternya Kin dulu. Aku tak paham tuh sampai akhirnya telat nyadarin. Jadi Kin hidup ini, ya sesuai dengan bayangan dalam pikirannya sendiri dan dia yakin itu. Contoh kecilnya gini, pulang kerja aku capek dan baju aku kusut karena aku banyak kegiatan. Dia malah lebih yakin dan percaya, kalau aku ini abis mesum di tempat kerja. Dah tuh, histeris dia aku balik kerja tuh." Aku menceritakan perlahan tentang sindrom yang jarang orang ketahui. Karena pada dasarnya, sindrom ini banyak diderita orang-orang. Hanya saja, mereka tidak memperdulikan sama sekali karena dianggap wajar sebab begitu cintanya.


"Gila kah maksudnya?" Budhe terlihat menyimak dengan seksama.


"Orang dalam gangguan jiwa, tapi tak gila. Nama penyakit yang diderita Kin, sindrom othello. Nih, Budhe. Coba baca Google ini." Aku memberikan ponselku, yang tengah membuka sebuah artikel tentang pemahaman sindrom tersebut.


Budhe langsung fokus dengan menggulirkan ibu jarinya pada ponselku. "Astaghfirullah…." Ia menutupi mulutnya sendiri.


"Melukai diri sendiri dan melukai pasangan, puncak dari kelakuan fatalnya. Terakhir itu, ya contoh kasus tadi yang aku tarik. Ditambah lagi, ada salah satu kerabat yang kerja sama aku, dia datang dalam kondisi nangis dan peluk aku di rumah. Dengan aku yang tak ngapa-ngapain pun, aku tak dipercaya. Apalagi, nyata di depan matanya aku dipeluk perempuan. Udah tuh, dia langsung bunuh diri di situ." Aku membuka cerita kesuramanku dalam rumah itu meratapi kepergian istriku.


"Nyawanya tak tertolong, pas baru sampai di dalam mobil. Jadi belum sampai rumah sakit, Kin ini udah wafat duluan. Lepas itu, giliran aku yang gila sendiri. Ngurung diri aku berbulan-bulan, bahkan usaha aku pun aku tinggalkan karena saking belum nerima kepergiannya. Rumah tangga tentram, adem ayem, terus tiba-tiba begitu kan, siapa orangnya yang tak shock, Budhe." Aku tidak tengah mencari belas kasihan. Aku hanya ingin bercerita, tentang kisah Kinasya yang mendapat penanganan yang kurang untuk sindromnya itu.


Sebagai pembelajaran, tolong lebih urus pada keluarga kalian yang memiliki sindrom serupa. Karena tindakan nekatnya, benar-benar tidak bisa terbaca.


"Ternyata ada ya, Far?" Budhe mengembalikan ponselku.


Aku mengangguk. "Ya aku pun tak paham, Budhe. Dia normal urus aku, normal urus anak, perempuan normal. Tapi kalau udah menyangkut tentang kecemburuannya, ya aku ini udah habis gitu karenanya. Bukannya aku pengen ceraikan dia karena cemburunya, malah aku merasa beruntung karena istri aku begitu cintanya sama aku. Nah, ini pun persepsi yang salah. Bikin Kin kurang cepat ditangani tentang sindromnya itu."


"Iyalah, Far." Budhe menatap kosong. "Kin pun, pasti capek banget jadi dia. Budhe percaya kok dengan cerita kamu, di mana kan gitu orangnya yang mau pasangan kita luka? Pasti kamu usahakan sekali, biar Kin tetap percaya sama kamu."

__ADS_1


Meski pada akhirnya Kin kembali percaya padaku, tapi hal itu terulang kembali. Siklus seperti itu, terulang selama pernikahan kami.


"Ya mungkin ada istri yang gila, karena tangan suaminya pernah jatuh ke badannya. Tapi kasus Kin ini, ya karena sindrom othello itu." Aku jadi teringat dengan penyembuh DE yang aku idap dulu.


Ya Allah, Kin. Semudah itu takdir memisahkan kami.


"Terus istri kedua kamu gimana, Far?"


Bagaimana aku menjelaskannya? Aku tidak tega mengumbar aib Novi. Ia begitu pun, mungkin karena haus akan belaianku. Macam-macam alasan, yang tidak kumengerti juga. Hanya Novi yang tau, yang lebih ingin ia timbun sendiri alasannya.


"Aku sebelum nikah itu punya permasalahan tentang trauma aku, Budhe. Budhe pasti ingat, masa bang Givan mendadak nikah sama orang Solo itu?" Beliau langsung mengangguk. "Nah, bang Givan itu nikah sama pacar aku," terangku kemudian.


"Oh, iya-iya. Budhe juga dengar pokok perkara dulu itu. Terus gimana?" Budhe sampai berpangku dagu menyimak ceritaku.


"Aku mengidap DE." Aku langsung mengetikkan kembali pada mesin pencarian google.


Aku langsung mengklik sebuah artikel tersebut, kemudian memberikan ponselku pada budhe May. Aku canggung untuk menyebutnya bunda.


"Ya Allah, Far…." Suaranya menggantung.


"Aku kambuh lagi, setelah ditinggal Kin. Udah berobat ke tabib, tapi mungkin aku belum bisa menuhin kebutuhan istri kedua aku itu. Jadi, pas ada mantannya dia hampir khilaf di situ." Sudah, aku tidak ingin menceritakan tentang kelanjutannya.


Aku memijat-mijat pelipisku sendiri. Mirisnya menjadi seorang aku.


"Terus sekarang kamu gimana? Duh, ngeri ngeladenin Aca tuh. Suami yang dulunya aja kalau nginap di sini, malam-malam tuh kedengaran suara ampun-ampunan dari suaminya. Pagi-pagi kelihatan kurang tidur, leher ada merah-merahnya. Udah kaya korban zombie." Budhe May sampai bergidikan.

__ADS_1


Uhh, aku jadi menginginkan sifat buas istriku. Sejauh ini, ia tidak menampakannya keterlaluan.


"Udah sembuh sekarang sih, Budhe. Udah berobat rutin, udah bisa mengatur pikiran juga." Bahkan obatku ada di anakmu, budhe. Seketika blokade di pembuluh darah lancar semua, gara-gara kemesuman dan daya pikat anak budhe.


Sayangnya, aku tidak mampu mengatakan itu. Ada hal-hal, yang sebaiknya aku rahasiakan.


"Yang bener sembuh tuh, Far?"


"Ya gimana ya, Budhe? Memastikannya kan nikah dulu, biar tau pasti." Aku harap ia tidak meminta bukti di depan matanya.


Budhe May manggut-manggut. "Kalau kambuh lagi gimana?" tanyanya lirih.


Ini adalah hal yang sensitif, ditambah lagi ia tahu tabiat anaknya yang lumayan gencar untuk memperdaya laki-lakinya di ranjang.


"Istri yang kemarin, dia perawan. Mungkin tak ada pengalaman betul, jadi bisa sampai sulit sembuh. Mungkin kan, kak Aca sih beda, Budhe."


Ia manggut-manggut kembali.


"Kamu ini udah mantap sama Aca? Anaknya pemaksa, ilmunya ilmu harus. Kamu tau sendiri, gak diturutin tuh berani diemin ayahnya. Ngambeknya gitu, ngehindar terus."


Aku bahkan sudah tahu, sebelum diberitahukan ini.


"Iya, Budhe. Udah cocok sama kak Aca. Anak-anak aku pun, udah klop sama dia. Nahda pun, udah dekat juga sama aku." Aku paham, bukan hanya tentang aku dan Aca. Ada anak-anak yang harus kami pikirkan juga.


"Gimana ya, Far????"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2