Istri Sambung

Istri Sambung
IS280. Jalur keluarga


__ADS_3

"Yuk pulang?" Aku mengajak Aca yang tengah sibuk di dapur dengan mamah.


"Malam, Far. Di sini aja lah, anak-anak kau pun udah pulas di Givan," usul mamah, yang tengah menyusun beberapa bumbu-bumbuan di wadahnya.


Menurutku, Aca lebih royal ke mertuanya ketimbang Kin. Jika Novi, dia cenderung perhitungan.


"Jangan, Far. Tak bebas nanti." Papah muncul, menaruh gelas dan mencucinya.


Kami semua melirik ke arah papah yang tengah sibuk di depan wastafel cuci piring tersebut. Beliau masih mengucek gelas di sana, lalu mencuci tangannya.


"Papah kau yang tak bebas," sindir mamah dengan melirik suaminya.


Papah mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu melirik ke arah mamah. Senyum malunya terukir, kemudian beliau menyamarkannya dengan kekehan.


"Capek abis penerbangan ya, Far? Mamah kau ini, suka udzon aja." Papah melangkah meninggalkan dapur.


"Tapi sama mamahnya dikasih teh rasa jahe," celetukku yang membuat papah terbahak-bahak meski tidak di area dapur, mungkin beliau masih mendengar suaraku.


"Kan biar tak capek badan." Mamah menjawab dengan menyibukkan dirinya kembali.


Aku tahu, mereka sama-sama rindu setelah beberapa hari menumpang tidur di rumah saudara. Mereka tidak bisa campur suami istri, itu masih kebutuhan mereka untuk menekan stress di usia mereka sekarang.


Aku tak ingin mengganggu waktu mereka. Apalagi, mamah sudah menyiapkan papah dengan memberi suaminya teh dengan ramuan tradisional obat kuat tersebut. Itu seperti kode alam, agar papah terbangkitkan sendiri.


"Ayo pulang, besok lagi mainnya." Aku kembali mengajak Aca, dengan melambaikan tanganku ke arahnya.


"Yuk…." Aca berjalan menghampiriku.

__ADS_1


"Istirahat, Far. Aca butuh bedrest total beberapa hari itu." Mamah berjalan ke arah dispenser air minum.


"Iya, Mah. Kami pulang dulu," pamitku dengan merangkul Aca.


Aku pun meninggalkan mobilku di sini, agar tidak repot membuka tutup garasi rumah. Jelas aman juga, meski hanya di halaman rumah mamah. Pagarnya tinggi, juga terkode rapi. Lagi pun, Riyana Studio selalu ramai. Pasti pencuri pun tidak berani mengambil mobil yang terparkir di depan tempat yang ramai.


Ngomong-ngomong, Riyana Studio pernah digrebek lantaran ada yang mengadukan tidak baik. Untung saja, hal itu tidak terbukti. Riyana Studio tidak dijadikan tempat maksiat, tapi benar-benar tempat bekerja masa kini. Banyak crew Ghava yang lembur, lantaran membuat nada lagu atau tengah mengurus proyek sebuah film lokal. Ya hanya film yang tayang di YouTube dan siaran televisi lokal saja.


"Pa…. Kalau udah nyaman, boleh kan hubungan badan lagi?"


Kenapa ini lagi yang dibahas?


"Iya boleh, Ma. Tapi setelah kita cek up ya?" Empat hari setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit ini. Kami harus datang kembali ke rumah sakit untuk cek kandungan Aca.


"Oke siap. Jadi, malam ini kita cuma tidur ya? Tapi pelukan ya?"


Oh, ternyata ada mengertinya juga. Ia sedikit melek, setelah mendengar penjelasan dan cerita dari bang Givan. Aku kira, ia masih bebal saja. Apa benar ucapan papah, tentang menasehati seseorang dengan lawan yang lebih tua? Ya aku pikir, itu ada benarnya juga karena Aca langsung bisa berpikir ulang. Dinasehati padaku, malah mengajak berdebat tiada habisnya.


Ada dua permasalahan yang mengganjal di benakku, yaitu Novi dan Farida. Belum lagi jalan pengesahan pernikahan kami dan persalinan Aca, itu cukup membuat kepalaku berdenyut.


Kembali lagi, pemandangan Novi yang mendapat tamu seorang laki-laki di lobby kantor menjadi pemandanganku. Lelakinya seperti tidak bekerja, lelakinya seperti memiliki mulut yang pandai beralasan.


Bukan tidak berani menegur, tapi aku adalah mantan suami Novi. Aku memiliki jarak karena itu, aku dan Novi bukan hanya antar sepupu seperti dulu. Aku berani berbicara dengan Novi, tidak dengan ikut campur ketika Novi tengah kedatangan lelakinya seperti ini.


Aku paham, Novi butuh arahan, saran dan masukan. Jika memang pun Novi telah banyak dibohongi lelakinya, aku tak berniat menenangkannya lebih jauh. Aku takut Aca salah paham, seperti saat dulu Ku melihatku memeluk Novi, lalu ia langsung gelap mata dan menelan semua pil yang berbahaya.


"Pak, mereka udah dari jam makan siang," adu resepsionis kantor, saat aku tengah mengambil jadwalku hari ini.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Novi dan lelakinya. Mereka pun melihat ke arahku, kemudian mereka berbicara kembali. Aku masih memperhatikan mereka, mencoba memberi peringatan ringan dengan sorot mataku.


Ternyata mereka peka juga, lelaki Novi langsung pamit pergi. Dengan Novi yang kini berjalan ke arahku, dengan iringan seperti hak untuk mengikuti setiap langkahnya.


"Bang, baru datang?"


Aku hanya memberi anggukan saja.


"Eummm…. Vicki tadi, dia resign dari kerjaannya dan aku sarankan dia buat masuk ke PT ini."


Ohh, begitu ya? Kenapa aku berpikir bahwa sebelumnya Vicki itu adalah pengangguran?


"Ya minta dia buat CV pada umumnya, berikut dengan paklaring juga. Biar bisa kita tempatkan dia, sesuai pengalaman kerjanya." Dengan begini, akan ketahuan tentang sepak terjangnya sebelum bekerja padaku.


"Maksudnya…. Lewat jalur keluarga aja."


Aku terkekeh kecil mendengar penuturan Novi. Mentang-mentang dirinya selalu masuk jalur keluarga, tanpa CV yang penting berangkat bekerja saja. Eh, ia mengusulkan kekasihnya untuk mendapatkan hak yang sama.


"Bisa jalur keluarga, kalau udah jadi keluarga besar. Kalau besok dia aku dapati kerja, dengan belum menyerahkan CV dan paklaring, aku tak akan gaji dia dan hitung dia dalam karyawan di sini." Sejujurnya, aku hanya kurang percaya saja dengan lelakinya.


Orang yang memiliki jabatan penting dalam suatu perusahaan, seperti yang dikatakan Vicki pada mamah dan papah. Tidak mungkin rasanya begitu mudah, untuk keluar dari sebuah perusahaan. Ia pun, harusnya tidak sampai minta pekerjaan pada Novi. Karena dirinya memiliki nama dan pengalaman yang cukup, sudah pasti akan ditawari pekerjaan di perusahaan yang mengetahui pengunduran dirinya.


"Kok begitu sih, Bang? Memang betul tak bisa?" Novi sampai menggoyangkan lenganku.


Aku menghela napas, kemudian memperhatikan wajah Turkinya. "Tak bisa, harus jalur umum aja. Abis ngajuin CV, terus tunggu panggilan, barulah dia bisa masuk kerja setelah diterima. Kan nanti kau yang seleksi dan bolehkah lelaki kau kerja di sini atau tak." Aku melepaskan cekalan tangannya yang masih lengket pada lenganku.


"Kalau kek gitu, aku ngomong aja langsung ke pak cek. Abang tuh kek tak pengen aku senang, kek tak pengen aku cepat dinikahi orang." Ia menginjak lantai beberapa kali, sebelum akhirnya melangkah pergi.

__ADS_1


Hmm, Novia. Kekanak-kanakan.


...****************...


__ADS_2