
"NgOyo juga mau ngapain? Nahda melek begini, masa mau kuat live show kita?" Kak Aca memanyunkan bibirnya.
Kami baru selesai makan bakso bersama, kami tengah mengobrolkan ke mana kami pergi karena di daerahku masih banyak pepohonan yang menutupi jalan. Salah kami sebagai warga juga, karena tidak pernah menebang pohon tua yang meneduhkan jalanan di rumah kami. Karena kami pikir, agar mereka yang lalu lalang tidak kepanasan. Kami tidak pernah berpikir bahwa pepohonan tersebut sudah keropos dan akarnya sudah tidak kokoh lagi.
"Tak ngajakin ngOyo juga, dengkul aku lemas." Aku memijat lututku sendiri.
Kak Aca menyuapi Nahda kembali, anak yang sering lapar itu belum menghabiskan beberapa gelintir bakso berukuran kecil. Ia masih mengunyah dengan santai, sembari memainkan ponselku.
"Papa kenapa sih begitu? Bikin panik tau tak?" Kak Aca menautkan alisnya.
Papa katanya, cihuy.
"Traumatis kompleks dulu divonisnya. Dulu malah ada gangguan tidur juga, jadi aku tak bisa lelap tanpa minum obat dokter. Tapi setelah ikut gaya hidup tanpa aturan, jadi tidurpun cukup juga, karena capek kan gitu aktivitas bagaikan robot. Siang malam keluyuran terus, apalagi kalau lagi kumat tak ngantuk-ngantuk. Jadi pas nemu kasur, ya lelap sampai beberapa jam juga." Sekarang entah apa vonis dokter.
"Tapi kan kita tak ada pembicaraan tentang Canda tadi. Apa punya trauma tentang angin ribut juga kah?" Tepat sekali pertanyaannya.
"Kemarin aku pun drop juga, pas tau Novi berdarah-darah itu. Tak taunya, dia sengaja. Tapi ya udah terekam di otak juga, tetap shock parah dengar Novi sendirian dengan genteng pada terbang. Ingat aja gitu, waktu pelipisnya berdarah-darah."
Alhamdulillahnya, mamah sudah menelpon lagi dan mengatakan bahwa keadaan Novi baik-baik saja. Novi mengatakan pada mamah, bahwa ia bersembunyi di bawah tempat tidur. Salah satu keluarga Zuhdi sebelumnya datang, untuk mengajak Novi bersembunyi di bawah rumah. Seperti pada kejadian angin ribut, dalam cerita Upin dan Ipin. Namun, Novi menolaknya lantaran hujan pun tengah deras.
__ADS_1
"Khawatir? Takut? Tak mau dia terluka, atau bagaimana?" Kak Aca sampai bertopang dagu, dengan memperhatikanku begitu serius.
Aku menggeleng. "Bahkan belum terlintas pikiran khawatir, takut dan sebagainya. Aku udah terbayang-bayang aja tuh, di mana Novi yang berdarah-darah." Paranoid mungkin masuknya. Entah bagaimana juga.
"Jadi, hanya pemikiran reflek aja kah karena traumatis itu?" Ia masih mengulik hal ini.
Sepertinya, pasti ada rasa cemburunya pada Novi. Karena, aku sampai lepas mengontrol diriku sendiri.
"Karena mamah ada bilang Novi sendirian, khawatir terjadi sesuatu, soalnya atap rumah berterbangan. Shock aja mungkin gitu. Kalau ke Canda, hampir segala sesuatu yang aku lihat di depan aku sendiri, meski itu orang lain, bukan Canda sendiri. Kadang bisa tiba-tiba kumat gitu loh." Yang membuat traumatisku kompleks, karena segala hal yang Canda alami, lalu aku lihat terjadi pada orang lain, aku akan mulai bereaksi tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Gejala pengembangnya adalah sulit tidur, kecemasan dan berkeringat dingin.
"Terus nyembuhinnya gimana?"
"Tak apa, asal dalam hati kau ada aku. Aku tak minta Kin hilang dari hati kau, atau ngusir Canda dari sejarah hidup kau. Itu hal yang udah terjadi dan tak bisa dirubah. Yang penting, kau anggap itu adalah masa lalu dan pembelajaran untuk kau, aku masa depan kau dan harus kau tata lebih baik dari kejadian sebelumnya. Bagaimana caranya gitu kan, biar kejadian di masa lalu itu tak terulang di masa depan. Aku ngerti, karena tak cuma kau di hati aku. Ada laki-laki keras kepala yang berakhlak baik, yang sebelumnya jadi kiblat aku. Kebiasaannya, berubah jadi kebiasaanku. Gaya hidupku, aku tinggalkan untuk bisa beradaptasi dengan gaya hidupnya. Cuma kan, kita udah beda tempat. Aku pun, tak mungkin juga harus diam di tempat dengan meratapi kepergiannya. Aku malah bersyukur, karena sempat merasakan kasih sayangnya. Bahkan, aku perempuan satu-satunya selain ibunya yang pernah dia cintai."
Kenapa mengharukan sekali? Sampai-sampai, bulu mataku basah sekarang.
Dalam artian, dia menerima masa laluku, karena ia pun memiliki masa lalu yang harus kuterima. Ia mengertikan diriku, karena ia pun memaklumi juga bahwa ada laki-laki selain aku yang abadi di hatinya.
"Yang penting kan, kau ada pikiran untuk kita kedepannya. Gimana nih, masa depan kita dan anak-anak? Gimana nih, biar masalah di masa lalu tidak terjadi di masa depan? Terus, ya udah dikasih pengertian dan kepercayaan tuh ya. Jangan pernah memikirkan lagi masa lalu, meski memang tak bisa lupakan. Kalau memang khawatir dan ada kecemasan tentang dia di masa lalu, ya tolong bagi dengan aku. Biar aku paham bahwa kau memang cuma mau bantu dia, cuma mau tau kabar dia atau cuma mau memastikan biar kau tak gelisah lagi. Aku tak keberatan dan tak bakal marah, kalau kau pun terbuka dan terus terang, meski kau berpikir bahwa aku bakal tersakiti dengan hal itu. Karena kalau aku tau dari orang, atau tau sendiri, kan aku jadi merasa bahwa kau berharap dengan dia di masa lalu atau bahkan pengen melanjutkan sejarah masa lalu di masa depan kau. Kan jangan sampai begitu kan? Transparan lebih enak kan?"
__ADS_1
Dewasa sekali istriku. Baru kali ini, aku menemukan dia yang mau mengerti tentang isi pikiranku. Beginilah yang aku maksud akan Canda, aku tak pernah berpikir aneh-aneh. Aku hanya ingin memastikan keadaannya dan kebahagiaannya.
"Makasih ya?" Aku menggenggam satu tangannya yang terbebas. Karena tangan kanannya ia gunakan untuk menyuapi Nahda.
Kak Aca mengangguk dan melirikku. "Bagi dengan aku, tentang kegelisahan kau. Jangan dipendam sendiri, atau melangkah sendiri, bahkan bertindak sendiri. Selain aku tak suka, itu juga beresiko. Namanya laki-laki sama perempuan berduaan, aku paham bakal ada minat yang tercipta di situ, meski sebelumnya kau tak pernah mau itu terjadi dan tak berkehendak untuk itu terjadi. Aku paham kau laki-laki normal, di mana perempuan adalah mangsa kau."
Hanya dia yang mengatakan aku normal.
Aku sedikit memajukan kepalaku. "Aku punya DE, aku pernah bilang kan?" Aku berkata lirih, agar pelanggan di tempat bakso ini tidak mendengarnya.
Kak Aca mengangguk. "Insha Allah sama aku sembuh. Buktinya, dua kali main kemarin. Aku tak butuh waktu lama, untuk bangkitin minat kau kan?"
"Minat sih minat, tanpa disentuh juga sering minat. Cuma kadang sulit untuk dibangunkan gitu. Jujur aja nih ya? Dari sama Kin juga gitu. Ada aja beberapa kali, aku sulit untuk bangun. Apalagi kalau keadaan lagi capek, tapi diminta untuk penuhi gitu. Sampai akhirnya kesel sendiri, karena udah dipaksa dan berusaha tapi masih sulit untuk bangun aja." Aku menjelaskan dengan suara yang amat pelan. Nahda yang berada di sampingku saja, tidak terusik dengan obrolan kami. Ia masih mengunyah, dengan sesekali mengganti tayangan video dalam YouTube tersebut.
"Coba pas nanti sama aku, aku kerahkan semua kemampuan aku." Ia mengedipkan matanya genit.
Masalahnya, aku yang sudah merinding duluan. Caranya yaitu kemarin-kemarin saja, membuatku sampai bermandikan keringat dingin karena menahan sensasinya.
...****************...
__ADS_1