Istri Sambung

Istri Sambung
IS157. Perlengkapan sekolah


__ADS_3

"Sini, kita bahas start dulu. Kalau ada mendiang Lendra sih, dia pasti ajarin fast step jalur siasat." Baru seperti itu saja ia berucap, tapi membuat kami tertawa.


"Kau tak bisa kah, kalau main siasat? Dulu pun, aku cepat kaya pas ikut fast step dari arahan dia." Saat Ghavi bertanya, aku malah memikirkan tentang kehalalan hasilnya.


"Uang haram kah?" Aku bertanya pelan.


"Tergantung kau dalam bidang apa, Bang. Kau mau usaha halal, bisa juga. Jalur haram, lebih miliaran hasilnya." Penjelasan Ghavi, tidak memuaskan keinginan tahunku.


"Contohnya gimana?" Aku adalah otak papah.


"Peti mati contohnya. Segala orang dianggap saudara, yang bergelut di bidang ini. Sering kumpul bareng sama orang-orang yang lebih dulu udah terjun di bidang itu, bisa akrab sama kita juga nih, otomatis produk bawaan kita itu dikenal pasar tuh. Ibarat kata sederhananya gini. Peti mati produk dari Lendra nih, saudaranya produk A, jadi kualitas satu dua tuh. Contoh sederhananya begitu, meski banyak lagi hal-hal yang bersifat rahasia." Bang Givan membuat tanda kutip dengan jarinya.


"Hasilnya?" Jujur, aku masih tidak mengerti tentang kehalalannya.


"Halal, Far!" Bang Givan sampai memperjelas artikulasinya.


"Start awal buat aku gimana, Bang?" Ghavi mengecohkan konsentrasiku untuk memahami hal yang bang Givan umpamakan.


"Minta modal yang besar ke papah, minta arahan dari mamah. Meski tak cocok sama keahlian kau, yang penting manut aja udah. Nah terus perjuangan kau dimulai tuh. Merintis usaha dari bawah, jangan berandai-andai dengan hasilnya dulu, yang penting mampu nyukupin kebutuhan kau saat itu. Sambil kembangkan pasar kau sendiri, otomatis ekonomi ngikutin, dengan syarat pemodal kuat. Makanya dulu Abang sampai narik Putri, karena modal papah tak kuat. Tambang ini bukan satu atau dua triliun, makanya utang Abang pas awal itu udah tak masuk akal. Tapi tak lama pun bisa diganti, perusahaan kian stabil, penghasilan bukan main lagi udah." Sahamku kemarin dimainkan oleh keluarga saja, aku sudah mencari nafas buatan.


"Saran sih, jangan pakai bantuan orang luar. Nyekik, tak mampu muter nantinya," tambahnya, dengan mencolek pipi anaknya.


Cani gampangan betul pada ayahnya, dicolek saja ia tergelak lepas.


"Mas…. Anterin dulu!"


Aku yang belum diberitahu tentang start, malah bang Givan dipanggil oleh istrinya.


"Ya ampun, Cendol." Bang Givan memakai sendalnya. "Cani sama Papa dulu ya? Yayah antar Biyung dulu ke pasar."


Tanpa persetujuan Cani, ayahnya melarikan diri lagi. Langsung saja, Cani menangis lepas karena ditinggalkan ayah dan biyungnya.


"Kasian anak Papa, tak diajak ya?" Aku menciuminya dan membawanya berjalan-jalan ke sekitaran rumah Ghavi.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Cani diambil alih oleh ibu Ummu. Sedangkan aku, kembali ke rumah mamah. Para cucu pun sudah datang, mereka tengah memakan jajanannya di teras rumah mamah. Mereka saling berbagi, juga menyimpan untuk kesayangan mereka.


Seperti Chandra yang menyisihkan makanan untuk Ra. Ceysa yang menyimpan makanan untuk Hadi. Key dan Jasmine yang selalu membaginya dengan neneknya. Dengan Kal dan Kaf yang memberiku jajanan yang sama dengan mereka.


Suasana bertambah ramai saja, karena anak-anak Giska datang dengan membawa banyak makanan juga. Bertambah heboh saja, karena Ra muncul dengan Nahda dan kak Aca yang mengekorinya.


Taman kanak-kanak, kalah ramainya. Posyandu, kalah berisiknya. Tapi, itu semua mengundang kebahagiaan mamah dan papah. Mereka bisa tertawa lepas, bersenda gurau dengan cucu-cucu mereka. Belum lagi cucu-cucunya berebut untuk duduk di pangkuan mereka. Hingga tangis dan tawa pun ikut serta mewarnai hari Minggu ini.


"Far…. Aku diminta mak cek suruh belanja perlengkapan sekolah Kal dan Kaf. Bisa minta tolong antar? Kata mak cek, anak-anak tak usah ikut katanya." Permintaan tolong yang terdengar sopan.


"Bisa, Kak. Ra gimana?" Aku langsung menghabiskan setengah tusuk dadar gulung ini.


"Ra di sini, tak ikut. Aku bawa Nahda aja, karena dia tak bisa lepas dari aku."


Aku langsung mengangguk. "Tunggu aja di depan rumah mangge, kalau di sini nanti anak-anak kalap."


"Eummm…. Kata mak cek, kau suruh bawa uang." Ia tertunduk saat mengatakan hal itu.


Oh, iya. Aku mengerti. Maksudnya, kak Aca diminta pergi untuk memilihkan barangnya. Sedangkan, aku tetap diminta untuk membayar.


Hal-hal seperti ini, yang membahagiakan orang tuaku. Terlihat sederhana, tetapi waktu untuk bersama seperti ini jarang sekali.


Aku membawa janda ditinggal mati ini ke suatu toko besar, yang menjual perlengkapan alat-alat sekolah. Konsepnya seperti minimarket, aku memilih dan kemudian membayar ke kasir.


"Sini Nahda sama Papa." Aku mencoba mengambil alih anak perempuan yang tidak pernah lepas dari hijabnya itu.


Menurutku, kak Aca dan mamah itu memiliki kemiripan di bagian wajah. Mereka sama-sama judes, tetapi bedanya mamah berbicara ketus dan kak Aca berbicara lembut.


Postur tubuhnya pun sedikit berbeda. Kak Aca tinggi dengan body pir, sedangkan mamah sependek Canda dengan body ala gitar spanyol.


"Kok Papa?" Kak Aca mengerutkan keningnya.


Nahda sudah berada di gendonganku. "Iya, semua anak-anak di sana manggil aku Papa," terangku kemudian.

__ADS_1


"Papa?" Mata Nahda begitu polos dan lucu seperti Cani.


"Iya, Papa. Panggil Papa ya?" Aku mulai berjalan menyusuri jejeran rak buku di toko ini.


"Papa di Allah." Hatiku tiba-tiba terenyuh. Anak seumuran Ra ini, dipaksa harus mengerti tentang ayahnya yang sudah berpulang ke Rahmatullah.


"Iya, doain ya papanya di sana? Nahda mau beli apa?" Aku mencoba mengalihkan perhatian anak ini.


"HP."


Aku menahan tawaku sendiri di sini. Sudah seperti Novi, Nahda meminta HP padaku.


"Jangan HP dong." Nahda tidak cedal, pengucapannya jelas. Tidak seperti Ra, yang berbicara ujungnya saja tapi begitu percaya diri.


"Itu aja tuh ya?" Aku menunjuk pada alat yang Kal punya waktu kecil.


Seperti buku, tapi konsepnya pintar. Entah apa namanya, aku lupa dengan sebutannya. Dahulu harganya kisaran delapan ratus ribu, sekarang sudah satu juta dua ratus ternyata.


"Papa belikan ini ya? Nahda mau tak?" Anak itu hanya mengangguk saja.


"Duh, tak usah deh Far. Uangku buat keperluan lain, kek diapers dan pakaian Nahda. Aku tak enak, kalau hal kecil gitu aja dipenuhi mak cek." Kak Aca menaruh kembali alat yang sudah berada di tanganku tadi.


"Papa kasih, Ma," rengek Nahda ya berada di gendongan tangan kiriku.


"Udah yuk? Ikut Mama cari lain." Kak Aca langsung mengambil alih Nahda. Kemudian, Nahda diminta berjalan sendiri dengan gamis yang berkibar di setiap langkahnya itu.


Jika Ra, rasanya tak apa diminta jalan sendiri. Ra berbadan besar, pasti ia kuat. Tapi Nahda, rasanya tidak tega aku melihat langkahnya terseret-seret oleh ibunya.


Badannya kecil, seperti Ceysa. Ditambah lagi urat wajahnya yang malu-malu kucing, membuatku semakin tidak tega saja.


Aku menahan bahu kak Aca, sebelum ia berjalan menjauh.


"Kak, biar aku bantu penuhi kebutuhan Nahda. Boleh kan?" Aku tersenyum manis.

__ADS_1


Alis kak Aca naik sebelah, ia memicingkan matanya padaku.


...****************...


__ADS_2