Istri Sambung

Istri Sambung
IS159. Mengulas kenangan


__ADS_3

"Ya naik motor." Aku mengisyaratkan tanganku seperti menarik gas.


Kak Aca tertawa lepas, dengan menepuk pundakku. Begitu renyah tawanya, sampai matanya tinggal garis saja.


"Aduh, Far…." Kak Aca mereda tawanya dengan mengecek isi trolinya. "Keknya udah semua deh. Yuk kita langsung ke kasir aja," ajaknya kemudian.


"Ayo." Aku mempersilahkannya untuk berjalan lebih dulu.


Kak Aca melirikku beberapa kali, saat kasir tengah menghitung jumlah barang yang kami beli. Sampai akhirnya, ia meminta struk pembayaran setelah sampai di parkiran.


"Hitunganku, dua anak itu satu juta lima ratus tujuh puluh. Kenapa pas sampai kasir, jadinya dua juta tujuh ratus tujuh puluh ribu?" Ia tengah melihat daftar barang yang berada di struk pembayaran.


Aku tidak menyangka, ternyata ia menghitung juga. Padahal dilihat mata, ia hanya memasukkan ke troli tanpa terlihat menimbang-nimbang harganya. Jika begitu, encer juga perhitungan dalam otaknya.


"Ada smart book untuk Nahda, aku tadi titipkan ke kasir," ucapku sembari mengenakan helm.


"Tuh kan? Aku bilang kan tak usah, Far." Ia memberikan struk belanja tadi padaku, kemudian ia mengambil helm lain dari atas jok motorku.


"Tak apa, aku belikan. Bisa tak?" Aku melihatnya kesulitan untuk mengunci pengait helm di bawah dagunya.


"Tadi susah dibuka, sekarang ngunci susah."


Dengan reflek, aku membantunya yang kesulitan tersebut. Setelahnya, kami kembali berkendara dengan Nahda yang tertidur di antara kami.


Cukup repot untuk masuk ke swalayan, karena aku harus menitipkan barang bawaanku dulu. Jika ditinggal di parkiran, takutnya bisa hilang.


Setelahnya, aku seperti mengulas kembali kenangan bersama Canda. Jika berada di rumah, mungkin aku akan menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Terasa begitu miris, ketika penyesalan datang dengan kenangan manis secara berbarengan.


"Sendu betul sih muka kau, Far." Kak Aca tengah memilihkan garam dapur.


Padahal tangannya dan pandangannya fokus ke jejeran rak berisi macam-macam garam dapur berbagai merek, tetapi ia bisa berkata bahwa wajahku sendu.


"Ingat Novi kah?" tanyanya kembali.


Tentu aku menggeleng. "Tak, Kak. Mah beli apa? Tinggal ambil aja, Kak." Secara tiba-tiba, aku langsung menarik sudut bibirku.


"Tak ah, kau aja. Kau butuh apalagi? Biar aku belanjakan." Wajah orang lain yang aku pandang, tapi seolah aku melihat klise mamah dalam dirinya.


"Eummm…. Aku butuh penyedap rasa sapi dan jamur, micin, lada bubuk dan gula pasir, teh, pengharum ruangan, detergen, pewangi. Sama apalagi ya???" Aku melirik dengan mengingat barang-barang habis pakai yang berada di rumah.


"Pembersih toilet? Lantai? Kopi, beras, sufor anak-anak gimana?"

__ADS_1


Pandangan kami bertemu. Sampai akhirnya aku memilih membuang pandanganku ke arah lain, karena aku malu sendiri. Sedangkan kak Aca, ia seperti mencari sesuatu dalam bola mataku.


"Ah iya, beras sama kopi tak usah. Beras beli di ma Nilam, kopi produksi sendiri. Yang tadi kau sebutan aja, Kak. Beli beberapa, untuk dikasih ke mamah juga." Kak Aca langsung mengangguk, kemudian berjalan mendahului.


Sedangkan aku, kembali mengusap-usap punggung anak yatim yang pulas ini. Satu dua seperti Cani, aku jadi ingin menyimpannya di rumah untuk ketenangan mataku sendiri.


"Terus kau butuh apalagi?"


Aku lekas menggeleng, kemudian menitipkan barang belanjaan kami lagi. Hingga kini, aku tengah memilih beberapa pakaian.


Sedari tadi, aku terus memilihkan pakaian untuk anak-anak. Tepatnya, untuk Cani, Nahda dan anak-anakku.


"Far…. Dari tadi kemeja ini ganggu mata aku. Keknya, seukuran badan kau. Kau mau tak? Aku belikan ya? Tapi satu ini aja." Kak Aca muncul, dengan kemeja putih berlengan panjang.


Aku menggulirkan pandanganku pada kemeja tersebut, kemudian melirik wajah kak Aca. Senyumnya semenarik bunga matahari yang tengah mekar.


"Buat apa?" Aku terkekeh tertahan, dengan menyentuh bahan yang digunakan untuk membuat kemeja ini.


Cukup sejuk dan nyaman.


"Buat kau kerja. Aku liat, kau kerja pakai kemeja gelap terus. Ungu tua, hitam, marun, coklat tua, navy, dark grey, keknya gitu-gitu terus. Barangkali ada rapat resmi gitu kan, kau pantas nih pakai ini." Seperti itu ya bujuk rayunya.


Aku mengangguk dengan tertawa geli. "Boleh, boleh. Makasih ya?" Aku kembali teringat pada Canda.


Bisa jadi kan? Bukan aku besar kepala, atau aku kegeeran.


"Oke." Ia menaruh kemeja tersebut di lengannya dan kembali berlalu pergi.


Kami berpencar, kak Aca yang entah ke mana. Sedangkan aku, kini tengah memilih sepatu untuk anak-anak. Kembali, aku memilihkan empat pasang untuk kedua anakku dan juga Cani dan Nahda.


"Ma…." Anak yang berada di dekapanku merengek dengan menggosok matanya.


"Kenapa, Sayang?" Aku mengusap-usap pipi anak perempuan yang baru bangun ini.


"Mama…." Tangisnya lepas.


Aduh, aku teringat ucapan kak Aca. Ia mengatakan bahwa Nahda tak bisa lepas dari dirinya.


"Yuk, cari mama ya? Kita bayar dulu. Nih, Papa belikan sepatu untuk Nahda. Suka tak?" Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, pada sepatu berwarna biru muda dengan karet yang empuk.


Nahda mengusap air matanya, kemudian ia menurunkan pandangannya pada sepatu yang aku tunjukkan. Kedua tangannya menangkap salah satu sepatu yang belum aku bayar ini, senyumnya terukir dengan menoleh ke arahku.

__ADS_1


Nahda terlihat senang.


"Mau." Matanya tersorot gembira.


"Oke, kita bayar dulu ya?" Aku bisa mengalihkan perhatiannya ternyata.


Sesampainya di kasir, ternyata kak Aca sudah mengantri di barisan depan.


"Itu mama." Aku memberitahu Nahda, tentang ibunya yang berada di paling depan.


"Ma…," serunya lepas.


Kak Aca celingukan, kemudian ia menemukan keberadaan kami. Tangannya berdada ria, kemudian ia melipir ke sisi lain karena sudah melakukan pembayaran.


"Yuk, sama Mama?" Kak Aca mengambil anaknya dari dekapanku, sedangkan aku masih mengantri di depan kasir.


Ia banyak bercerita, ketika kami kembali berada di atas motor yang melaju. Tawaku selalu lepas, ketika mendengar gurauannya yang begitu menarik.


"Aku jadi ingat kau, pas aku ajak ke angkringan yang di jalan R.A Kartini. Aku masih ingat ekspresi melongo kau, pas liat aku main rokok. Aku masih ingat kau bahas bintang film dewasa favorit kau. Geli betul aku, Far." Tawanya lepas kembali dengan tawaku yang meredup.


Aku teringat kehadiran bang Ken di dalam club, saat aku membawa kak Aca dan teman-temannya. Jangan-jangan, kak Aca sudah pernah disentuh atau diberi harapan oleh bang Ken lagi.


"Kak, kau pernah jalan sama bang Ken?" tanyaku ragu.


"Jalan juga ramai-ramai terus. Kenapa memang, Far?"


Sangat tidak sopan pertanyaanku itu. Jika diberi pertanyaan balik seperti ini, memangnya aku ada keperluan apa sih? Sampai-sampai, aku ingin tahu apa dirinya memiliki skandal dengan bang Ken.


"Oh, tak. Aku ada ingat aja, masa teman kau bilang, kalau di antara kalian tak ada yang virgin."


Namun, aku mendapat cubitan kecil di pinggangku. Tiba-tiba, tawa lepas kak Aca menambah kebingunganku.


"Kau berpikir, aku perempuan gampangan yang dirayu-rayu bang Ken?" Terdengar santai, karena pertanyaan itu tercipta dengan bauran tawa.


"Tak juga, tapi tiba-tiba ingat aja." Aku menyambungi tawa sekedarnya.


"Hmm, aku bukan kek gitu. Trauma aku, mungkin tak beda jauh sama Canda. Tapi, berbeda jauh dengan cerita Canda."


Ambigu.


Bagaimana maksudnya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2