
Pemandangan yang tidak mengenakkan mata, ketika memasuki kamar pribadi orang tua adalah sofa lucknut itu. Aku pun memilikinya, tetapi aku menyimpannya di gudang sejak Kin tiada.
Masalahnya, sering dipakai anak-anakku sebagai tempat perosotan. Sedangkan, malamnya itu digunakan untuk kegiatan basah. Sungguh aku geli sendiri, karena bayangkan nakalku sudah berkelana.
Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana posisi mamah dan papah. Memang terlihat tidak pantas, tapi sepertinya mereka masih membutuhkan kegiatan itu.
Aku melirik ke arah Novi, yang duduk di tepian ranjang. Sedangkan mamah, ada di hadapan Novi. Mamah duduk di bangku kecil, yang sepertinya itu adalah bangku untuk meja rias beliau. Aku memilih untuk duduk di sebelah Novi saja, karena bisa melihat mamah dan Novi dengan jelas dari sini.
"Kau ingat, Far. Kau pernah ambil opsi ini, terus kau malah berlaku khilaf. Seberat apapun masalahnya, usahakan jangan sampai dipulangkan sementara begini. Masalahnya, kau ini laki-laki. Kau tak tahan, kalau nahan masalah biologis kau. Belajar dari pengalaman kemarin." Mamah menginginkanku tentang kejadian Canda kembali.
Apa mamah tidak tahu, bahwa permasalahanku dengan Novi ini tentang Canda? Kenapa beliau menambah panas saja problem Canda ini.
"Kan aku ada anak-anak juga, tak sendirian di rumah." Menurutku, ini beda kondisinya.
"Ya udah kalau itu mau kau!" ujar mamah dengan raut kesalnya.
Namun, Novi malah langsung sesenggukan. Aku paham, ia tidak ingin pulang ke mamah. Tapi, ia malah pergi lebih dulu. Aku tidak mengerti wanita seperti ini, aku dipaksa peka sedangkan dirinya seolah-olah ingin dicegah.
"Sebelum aku balik nih, aku tanya kau sekali lagi. Mau kau gimana, Nov? Aku udah ceritakan kejadiannya, aku udah minta maaf juga. Sekarang mau kau gimana?" Aku menggenggam tangannya, mencoba menyalurkan perasaan bingung yang aku rasakan.
Novi seolah memaksaku untuk peka akan dirinya. Tapi, ia seolah menepis semua usahaku untuk membuatnya mengerti.
"Cerai." Novi menangis sambil berbicara, dengan menarik kembali tangannya.
"Kau serius minta hal itu? Cuma gara-gara masalah ini? Jangan sampai aku kabulkan, terus kau bombardir aku dengan kesalahan." Aku tidak benar-benar akan menceraikannya, aku hanya memberi gambaran saja padanya.
"Far, dia cuma lagi emosi aja. Kau pahami lah." Mamah menepuk lenganku.
Aku menoleh sekilas pada mamah, lalu memperhatikan Novi kembali.
__ADS_1
"Terus aku mesti gimana, Mah? Diungkit-ungkitnya semua kesalahan aku, minta maaf juga udah." Aku memandang mamah kembali.
"Ya kau janji tak ulangi lagi kek. Kau berusaha memperbaiki hubungan kau, biar tak terulang lagi yang begini-begininya. Dicegah gitu, atau diapakan." Mamah menepuk-nepuk pundak Novi, karena tangis Novi semakin lepas.
"Masa iya aku mau janji tak nolong Canda lagi? Canda kesetrum penanak nasi, dia minta tolong antar aku ke rumah sakit buat cek keadaan bayinya. Karena Canda ngerasanya, bayinya tak ada gerakan. Posisinya itu, aku punya janji antar Novi ke pasar. Tapi, aku ngeduluin Canda karena urgent. Aku tak bisa janji, buat tak nolong saudara aku lagi. Apalagi, bang Givan ini pergi buat ngurus keuangan perusahaan aku di Bank. Masa aku tak ada timbal baliknya, Mah?" Aku menceritakan hal yang menurutku sepele ini.
Tapi Novi membuat masalah sepele itu, seolah masalah besar. Ditambah lagi, ia mencari-cari kesalahanku di masa lalu.
Aku melongo saja, ketika mamah langsung pergi dengan tergesa-gesa.
"BANG…. KE CANDA SANA!!! DIA KESETRUM, BANG." teriakan mamah begitu menggelegar.
"Tuh, Nov. Coba ngerti, bahwa Canda lebih butuh didahulukan. Mamah aja panik, karena ini kan menyangkut dua nyawa." Aku memberi Novi pengertian kembali, dengan menyeka air matanya.
"Terus kenapa-kenapa tak, Far?" Mamah muncul kembali dengan berjalan ke arah kami. Mamah duduk kembali di bangkunya.
"Tak apa-apa, bayinya kaget aja. Tapi lepas itu tuh, di mobil ada kaku perut. Apa tuh namanya?" Aku mengingat kejadian di mobil tadi.
Oh, paham-paham. Aku mengerti.
"Ngapain mesum di mobil? Aku niat, aku bawa Canda sekalian ke Oyo. Iman Canda tak seberapa, aku bisa jamin dia mau kalau aku ada niat sungguh-sungguh. Kau ungkit-ungkit semuanya, cuma gara-gara videocall kau nampak aku ada di belakangnya itu? Hey, Canda juga ada bilang bahwa dia kaku perut." Aku bergulir memandang mamah, "Apa itu kaku perut, Mah?" tanyaku kemudian.
"Kram perut," jawab mamah dengan memperhatikan kami.
"Tapi Abang tak ngomong apa-apa, tak ada niat buat jelasin apa-apa." Novi tertunduk menyedihkan.
Bolehkah mencekik istri sendiri? Apa hukumnya, meski tidak sampai meninggal?
"Kau cuma cemburu, Nov. Kau hamil pun, Ghifar bakal begitu juga. Lagian sama Canda ini, kek sama orang lain aja. Atau sama Ria begitu, agak wajar cemburu." Mamah pun sama seperti papah, yang mengatakan bahwa Novi cemburu.
__ADS_1
"Mah, Canda loh ini. Sebelumnya kan, Canda sama Ghifar ada hubungan," tukas Novi dengan melirik ke arah mamah.
Karena persepsi keluarga adalah, Canda seperti putri di keluarga ini. Ia seolah anak kandung dari mamah dan papah, tidak seperti saudara ipar yang lain. Kin yang anak angkat mereka pun, tidak diperlakukan sama seperti Canda. Canda cukup spesial, karena kehadirannya dulu selalu mengundang iba kami semua. Iba yang berubah menjadi sayang yang berlebihan. Meski ia hanya menantu di rumah ini, bahkan ia bukanlah menantu terbaik atau idaman.
"Memang kenapa? Selagi mereka biasa aja dan tak menyimpan rahasia di belakang, ya mereka tetap ipar. Toh Canda pun ke suaminya ngebakti dan jujur, nurut lagi. Ghifar pun jadi suami yang baik juga kan? Mereka tak ada hubungan lagi di belakang sekarang, jadi kau tak perlu berlebihan. Cemburu pada porsinya aja." Mamah sampai tersenyum manis untuk meyakinkan Novi.
"Ghifar jadi suami yang baik, Mah?" tanya Novi dengan bibir yang bergetar.
Mamah mengerutkan keningnya, kemudian beliau melirikku.
"Memang bagaimana?" Mamah menatap wajahku dengan heran.
"Tanyakan aja ke anak Mamah." Novi semakin menyudutkanku.
"Far, kau bukan bujang lagi yang mesti diarahkan terus. Bukan membandingkan. Abang kau setelah menduda, nikah lagi itu minim keributan. Padahal kau menduda bukan karena perceraian, tapi masalah menjadi suami yang baik aja tak bisa. Jadi Mamah curiga sendiri, jangan-jangan yang buat Kin mengidap sindrom itu tuh karena perlakuan kau. Bukan karena sifat Kin yang berkembang negatif, tapi kau yang buat dia punya pemikiran negatif tentang suaminya." Mamah mengatakan dengan intonasi yang lembut.
"Apa betul aku demikian, Mah?" Apa aku belum siap mengemban tugas sebagai suami?
"Mamah tak tau, karena kau tak terbuka kek Abang kau. Cuma kau, anak yang lebih suka mendam apa-apa sendiri. Abang kau waktunya meledak, ya Mamah sama papah pun mengerti titik permasalahannya. Kau sekarang udah tak sendiri lagi, kau pun ada anak. Memang sih, laki-laki itu tak akan sadar kalau dirinya memang tidak memperlakukan dengan baik, meski aja ada pihak yang harus nyadarin. Tapi ketika kau dapat penilaian dan masukan dari pihak lain, kek istri kau gini. Lebih baik kau introspeksi diri, daripada ngamuk dan berlanjut ke permasalahan serius. Daripada cerai, udah lebih baik kek gini aja. Novi biar di sini sementara, sama anak-anak kau juga. Kau di sana sendirian, tapi sering ke rumah Mamah ya meski kau belum mantap buat jemput Novi. Silahkan komunikasi dan semacamnya, yang terpenting diri kau punya kesadaran dulu. Tukar pikiran pada orang yang bisa jaga rahasia, minta saran dan pendapatnya. Karena menilai diri sendiri itu hal yang susah, kau pasti tak akan merasanya." Mamah menepuk-nepuk bahuku.
"Mah, apa aku ini belum siap rumah tangga kah? Kenapa Mamah sampai berpikir, kalau aku ini benar seperti yang kek Novi bilang. Aku kurang bisa memperlakukan istri." Aku tidak mengerti tentang diriku sendiri.
Apa aku ini belum dewasa, di usia yang sudah lebih dari tiga puluh satu tahun ini?
Karena dulu menikah dengan Kin pun, itu karena kehendak orang tua yang paham bahwa aku sudah tidak bisa menahan syahwatku. Aku tidak memungkiri hal ini, karena keadaanku saat itu pun memang sudah tidak bisa menunggu lebih lama untuk menyicipi Kin.
Dulu aku memang memiliki niat untuk menikahi Kin, tapi tidak secepat itu. Bahkan kami belum mengenal sifat kami masing-masing, tetapi sudah menyatu menjadi suami istri yang sah.
Atau, ada hal lain yang membuatku seperti ini? Aku tidak dominan mengurus rumah tangga, aku tidak bisa memperlakukan istri dengan baik.
__ADS_1
...****************...