Istri Sambung

Istri Sambung
IS50. Uang siapa?


__ADS_3

"Usaha aku, kau yang handle kah?" aku memperhatikan suaminya Canda ini dengan serius.


Ini adalah tawaran besar. Karena pasti, bang Givan bisa membuat perusahaanku stabil.


"Iyaaaaaaa!" bang Givan menjawab, sembari mengeluarkan khodamnya.


"Yayah…. Ee."


Astaghfirullah.


"Udah keluar?" bang Givan menghela nafasnya.


Aku yakin, ini sulit untuknya. Berbeda denganku, yang sudah biasa menghandle anak sejak masih bujang. Bang Givan memiliki pola pikir, tugas suami adalah kerja. Istri yang harus menjaga dan mengurus anak. Namun, saat bayi raksasa itu lahir. Ia merasakan tugas seorang istri.


Ra mengangguk, "Di pepes." Ra menepuk-nepuk diapersnya.


Aku tertawa tertahan, khawatir bang Givan malah tersinggung.


"Ya udah ayo cebok. Terus pulang dulu, Yayah lupa bawa diapers. Bawanya susu kotak aja." bang Givan menggendong anaknya layaknya pesawat terbang.


Terlanjur juga sih, karena menurutku pasti bentuknya sudah benyek. Pantas saja, sejak tadi anak itu diam saja.


Aku membiarkan bang Givan masuk ke kamar mandi ruanganku membawa anaknya. Aku hanya meliriknya sekilas, dengan pikiran yang mulai berkelana.


Ini kesempatan emas. Karena kapanlagi pekerjaanku stabil dalam waktu beberapa hari saja. Namun, aku harus memikirkan bagaimana tentang aku dan Novi di tempat liburan nanti.


Mungkin aku akan memperbanyak komunikasi dengan Novi, saat kami di liburan nanti. Dengan begitu, mungkin kami minim aktivitas fisik.


"Papa…. Dah ebok." si Tuyul itu keluar dari kamar mandi, dengan tidak memakai bawahan.


Untungnya, aku bukan pedofil yang beringas melihat mangsa te*bem itu.


"Celana Ra mana?" aku melambaikan tanganku padanya.


"Ma yayah." Ra menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka.


Tak lama, bang Givan keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku balik dulu, Far. Celana Ra kena ee, aku buang di tempat sampah kamar mandi." bang Givan menutup pintu kamar mandi kembali.


Bukannya dikucek, tapi malah membuangnya.


Aku mengangguk, "Jadi, kapan aku liburan?" tanyaku kemudian.


"Besok tak apa. Kalau jadi, malam nanti serahkan berkasnya ke aku. Kau pun bilang ke Canda, suruh handle anak-anak kau dulu."

__ADS_1


Nah, ini. Aku tidak tega. Canda selemah itu.


"Biar sama mamah aja, Bang." mamah adalah jalan keluar segala hal.


"Jangan ngerepotin mamah, biar sama Canda. Canda pun tak mungkin handle sendiri juga, pasti nyuruh pengasuhnya anak-anak lagi. Yang penting kau ada ngomong ke Canda, biar dia ngerasa bertanggung jawab juga dengan anak kau." bang Givan menggendong anaknya itu.


"Dadah Papa." Caera memberiku ciuman jarak jauh.


"Dadah." aku melakukan hal yang sama.


Tepat sekali, Novi begitu girang dengan kabar liburan yang aku bawa bersama kaos kaki baru untuk anak-anak ini.


"Shtttttt…. Anak-anak jangan sampai tau. Aku bakal bingung jawab pertanyaan mereka." aku menempatkan jari telunjukku di depan mulutku.


Novi menutup mulutnya, dengan mengangguk cepat.


"Ke sekitar Aceh aja ya?"


Novi pun mengangguk kembali.


Aku berniat liburan di dekat-dekat sini saja, di tempat yang tidak memiliki kenanganku bersama Kinasya. Karena pasti, itu akan mengganggu pikiranku.


Aku beralih memperhatikan anak-anak yang tengah belajar di meja belajar ini. Kaf tengah mengerjakan perhitungan dasar. Dengan Kal yang tengah mengisi pelajaran bahasa Indonesia itu.


Resleting paling depan menjadi sasaran pertamaku, karena barangkali sudah rusak. Bukannya penghapus dan pensil yang aku dapat, melainkan uang yang cukup banyak. Bahkan, ada lembaran seratus ribu juga.


"Kak Kal…. Ini uang dari mana?" tanyaku cepat.


Kal menoleh ke arahku, dengan mata besar seperti Kinasya itu terlihat bulat sempurna. Kenapa reaksi anakku begitu terkejut? Aku jadi semakin curiga.


Pikiran burukku satu. Apa mungkin ada orang dewasa yang memperalatnya, agar tubuhnya boleh dipegang oleh orang tersebut?


Jemariku sampai begitu dingin, hanya karena membayangkannya saja. Ya Allah, semoga ini tidak menimpa anakku.


"Itu, Pa. Dikasih nenek." jawabnya dengan terbata-bata.


Benarkah?


Tapi kenapa aku meragu?


Aku dan mamah sepakat, untuk tidak memberi anak-anak uang besar. Maksudku, nilainya cukup besar begitu. Aku dan mamah pun sepakat, untuk memberi uang paling besar dengan nilai dua puluh ribu. Bukan untuk jatah satu hari, tapi jatah untuk sekali dirinya meminta uang.


Jika umumnya anak-anak diberi dua ribu rupiah, saat mereka meminta jajan. Jika aku sengaja melebih-lebihkan nilainya, agar anak-anak mengerti jumlah uang mereka sendiri.


Pikirku juga, sepuluh ribu atau dua puluh ribu sekali meminta jajan itu besar. Dibandingkan saat aku kecil, seribu rupiah, atau dua ribu rupiah. Dulu uang sakuku bersekolah saja, hanya tiga ribu rupiah. Ya memang beda jaman, tapi berapa sih jajanan anak-anak? Jajanan di sekolah, tidak ada yang seharga lebih dari dua ribu.

__ADS_1


"Yang bener, Kal?" aku mengeluarkan semua uang tersebut.


Pantas saja Rauzha pernah mengatakan, bahwa mereka yang malah dijajani oleh Kal.


"Ya, Papa." aku bisa menangkap ekspresi ketakutan di wajah anakku.


Pasti ada yang tidak beres. Aku harus lebih jeli, dalam memperhatikan mereka.


Aku telah menghitung semua uangnya, yang kebanyakan bernilai dua ribu rupiah. Totalnya, ada seratus tujuh puluh lima ribu rupiah.


Memang mungkin saja ini lebihan uang jajan Kal di sekolah. Mungkin juga Kal selalu menyisihkan uang yang ia dapat dari neneknya, setelah ia pulang sekolah. Mungkin juga, ia tidak menjajankan yang yang aku beri saat makan siang.


"Kal jajan apa aja di sekolah." aku merapihkan uang ini per lembar.


"Aku…." tetap saja, ekspresi ketakutan itu tidak bisa disamarkan.


"Iya, apa aja?" tanyaku kemudian.


"Tadi sekolah beli sosis tinggal lep dua, sama permen karet seribu. Terus, jajan otak-otak dua ribu. Udah, Pah." bola matanya berputar, seperti tengah mengingat sesuatu.


Jika dijumlahkan, hanya sekitar lima ribu rupiah. Berarti uang saku sepuluh ribu, Kal masih memiliki kembalian lima ribu.


"Terus, pulang sekolah makan apa? Dikasih nenek berapa? Dikasih Tante Cantik berapa?" aku menoleh sekilas pada Novi.


Ia tengah menggosok kuku tangannya yang berukuran panjang itu. Sungguh, aku risih dan takut melihat kuku panjang itu. Aku jadi membayangkan, bagaimana caranya ia cebok.


"Darmi, sama Tante Cantik." Kal memandang Novi, "Terus ke nenek, dikasih lima ribu. Main karet sama Jasmine, sama Key juga. Aku tak dikasih uang sama Tante Cantik."


Kini aku yang memandang Novi.


Aduh, aku harus bagaimana menjelaskan padanya. Ditambah lagi, mendengar menu makan siang instan itu. Masalahnya, pagi tadi anak-anak baru makan mie. Kenapa siangnya, Novi memberikan mie lagi?


Malam ini, kami bahkan baru selesai makan sate ayam. Novi pun mendadak membelinya sendiri, saat aku menanyakan menu makan malam ini. Itu artinya, Novi tidak masak hari ini?


Kenapa ia memulai hari pertama kami dengan seperti ini?


Aku kecewa.


"Kal tak bilang sama Tante, kalau paginya abis makan mie?" aku kini fokus memikirkan menu makanan anak-anak.


"Ihh, aku udah bilang Pa." Kal seperti akan menangis, karena aku memberi penegasan dalam suaraku.


Kini aku yang memandang Novi, yang anteng menggosok ujung kukunya itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2