
"Papa, papa Ipar." Si Tuyul ini sudah menciumiku saja.
"Ra, Caera Nazua." Aku mencubit pipinya pelan.
"Ikut Papa." Ra langsung menyelinap di antara aku dan Aca.
Untungnya, kami sudah berpakaian.
"Sini." Aku mendekap tubuh yang memiliki gen Canda ini.
Eh tidak tahunya, Ra malah terlelap kembali. Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih lima belas pagi. Ra bangun, ternyata untuk membangunkanku saja dan ia tidur lagi.
"Maaa…." Aku menyentuh wajah istriku.
Aku terkekeh geli, ketika mendapati banjir dari area mulutnya. Ia tertidur seperti Canda, yang tentunya dengan mulut terbuka.
Aca lekas mengusap mulutnya, lalu menggeliat tubuhnya. Pikirku, ia akan bersiap bangun. Namun, nyatanya ia malah pulas kembali.
"Ayo yuk bangun? Subuhan dulu." Aku membenahi guling dan bergeser untuk turun.
Masih tidak ada sahutan dari Aca. Rupanya, ia benar-benar kelelahan.
"Ma…." Aku mengusap-usap betisnya.
"Hmm." Gumamannya terdengar.
"Bangun, Ma. Mandi, sholat yuk?" Aku berjalan dan duduk di tepian ranjang. Aku kembali mengusap-usap wajahnya, yang membuat tidurnya terusik.
"Iya, iya. Sok mandi duluan." Aca menyentuh tanganku.
"Betul ya? Tak tidur lagi ya?"
Ia hanya mengangguk, dengan mengucek matanya.
Aku beranjak untuk mandi lebih dulu. Pemandangan yang berbeda, ketika aku baru keluar dari kamar mandi. Aca sudah berada di depan wastafel, dengan pintu kamar yang terbuka lebar.
"Mandi aja dulu, Ma." Aku mengeringkan telapak kakiku pada keset kamar mandi ini.
"He'em. Tanggung, lagi cuci beras. Biar pas udah selesai mandi sholat, nasinya udah matang juga."
Oh begitu ya? Sudah teratur dengan sistematis rupanya.
"Oke, aku sholat duluan aja ya?" Aku melangkah ke kamar.
"Ya," sahutan ringan, karena ia masih berkutat dengan beras tersebut.
__ADS_1
Saat aku keluar kamar kembali, pintu kamar mandi tertutup dengan suara guyuran orang mandi, mesin cuci sudah berputar, penanak nasi sudah bekerja, dengan teko tiup yang nangkring di atas kompor yang menyala. Aku menyebutnya terbiasa dan handal.
Tak lama kemudian, anak-anak terbangun dan langsung di arahkan ke kamar mandi. Aku hanya mengamati, jujur aku ingin tahu saja bagaimana aktivitas paginya.
Setelah sholat tadi, ia langsung menyalakan kompor lainnya dan menempatkan penggorengan di atasnya. Kalau tidak salah lihat, aku melihat tempe dan tahu meluncur ke dalam wajan. Lalu anak-anak terbangun, Aca mengecilkan nyala api, kemudian memandikan anak-anak.
Setelahnya, anak-anak digiring ke kamar untuk berganti pakaian. Namun, Aca malah keluar lagi dan melihat kompornya. Lalu, ia membuang air mesin cuci yang sudah berhenti berputar. Kemudian, ia kembali masuk ke dalam kamar.
Anak-anak sudah rapi. Mereka datang padaku, yang tengah menyimak sebuah map untuk rapat jam sembilan nanti. Teko siul berbunyi cukup keras, istriku sudah sibuk kembali di dapur. Tak lama kemudian Aca datang, dengan memberikan dua gelas susu dan segelas teh yang asapnya mengepul.
"Teh Papa panas ya? Jangan pegang-pegang ya, Nahda? Ra?" Seorang ibu tersebut menunjukkan asap yang mengepul dari gelas teh tersebut.
"Ya, Mama." Anak-anak ini sudah siap mencicipi gelas susunya.
Mereka anteng dengan gelas susu mereka. Bahkan, Nahda dan Ra membagi gelasnya. Apa gelas tersebut memiliki rasa yang berbeda? Aku jadi penasaran dengan minuman bocil ini.
Aku mengambil gelas susu yang sudah kosong tersebut, kemudian membawanya ke dapur. Terlihat air tengah mengalir ke dalam mesin cuci, sedangkan Aca sibuk di depan kompor.
Aku menaruh gelas susu ini di wastafel cuci piring, kemudian melongok ke arah wajan yang menjadi kesibukan istriku. "Masak apa itu?" Karena aku hanya melihat bumbu saja yang ditumis.
Aca melirik padaku. "Masak tumis jamur, sama tempe tahu goreng. Cuma buat sarapan aja, yang cepet aja. Tunggu di depan aja, awas anak-anak barangkali nyenggol teh panas di meja."
Aku mengangguk, kemudian kembali ke ruang tamu. Mereka tengah menonton televisi, dengan memakan biskuit yang dicelupkan ke teh manis milikku.
"Wah, nih. Tak ajak-ajak, enak betul ngemil biskuit dicelup teh," ujarku dengan kembali duduk di tempat yang aku tempati tadi.
Mereka hanya cengengesan saja, dengan melakukan hal berulang dengan biskuit mereka. Setahuku, biskuit itu memiliki cita rasa asin. Sejenis biskuit rasa keju yang begitu tipis, tapi tidak ada krim rasa di dalamnya. Namanya juga anak-anak, suka-suka mereka sendiri.
"Kalau pagi memang ngemil, Pa. Pada tak tahan lapar, makanya buru-buru masak," seru Aca dari belakang. Rupanya, mereka mendengar penuturanku.
Padahal mereka sudah meminum segelas susu, tapi langsung hajar teh celup dan biskuit. "Nanti doyan tak ini makannya, Ma? Udah keduluan ngemil begini," tanyaku sedikit berseru.
"Doyan, makan barengan nanti mereka." Terdengar juga suara mesin cuci berputar kembali.
Mamak-mamak yang benar-benar sibuk di pagi hari. Aku pastikan, pahala mengalir deras untukmu istriku.
Aku membereskan dokumen yang aku bawa semalam, kemudian aku memasukkan kembali ke dalam tas kerja milikku. Aku pun bersiap dengan pakaian kerja milikku, yang sengaja aku simpan untuk di rumah ini sebelumnya.
Aca memanggilku, kemudian memintaku sarapan bersama. "Kok nasinya udah dingin?" Aku teringat penanak nasi ya tengah bekerja tadi.
"Iya, udah aku ademkan dulu tadi pas nasinya udah matang. Biar suami aku panjang umur, kadar gulanya terjaga."
Begitukah? Aku tak tahu, kalau nasi panas memiliki kadar gula tinggi.
"Oke." Aku menikmati sarapan pagi ini. Dengan pemandangan istriku yang makan, sembari bermain ponsel. Sesekali, ia menyuapi dua anak tersebut yang tengah melihat dua plontos.
__ADS_1
Ia pergi lagi ke belakang, kemudian kembali dengan sebuah majalah barang dan ponsel di genggamannya. Ia makan, mengunyah, lalu fokus pada ponselnya, dengan melihat-lihat juga isi majalah.
"Dikunyah, Nak." Ia melirik anak-anak, kemudian bersiap untuk menyuapi anak-anak kembali.
Kenapa wanita bisa beraktivitas banyak dalam satu waktu?
"Baju Papa yang semalam udah aku cuci, abis dikuras, tinggal dikeringkan."
Oh, jadi ia ke belakang tadi memutar penguras mesin cuci dan mengambil majalah.
"Pa, aku minta uang buat beli Tupperware yang ini." Ia menunjukkan sebuah gambar produk dalam majalah tersebut.
Aku mengangguk. "Nanti aku transfer." Aku melanjutkan sarapanku.
Ia yang beraktivitas banyak sepagi ini, aku yang lelah sendiri melihatnya tak mau diam. Hingga aku menunggu waktu yang pas untuk berangkat kerja, ia sudah santai di teras dengan masih bermain ponsel dan melihat-lihat isi majalah.
Anak-anak sudah selesai makan, pakaian pun sudah dijemur.
"Mau aku cucikan kah piringnya? Mau aku sapukan kah rumahnya?" Aku tahu, dua hal itu belum sempat dilakukannya.
Ia menoleh padaku. "Biar nanti, kalau anak-anak bosan main di luar. Daripada ada drama anak-anak jatuh ke got, apa dikejar sapi kan, aku tak ikut ketawa nanti."
Bisanya? Absurdnya seperti Cendol ini.
"Ya dijagain, masa diketawain?" Aku tertawa lepas.
"Dijagain sih pasti, tapi namanya juga insiden. Mana bisa dihindari?"
Eh, benar juga sih. Seperti anak-anak jatuh, itu bukan kuasa kita.
"Mau pulang ke sini tak, Pa? Mau dimasakin apa?" tawaran yang menggiurkan.
"Nanti lagi ya? Ini hari Jum'at, besok Sabtu. Sorenya kita ada penerbangan ke Jakarta. Malam Minggu itu, kita di perjalanan ke Cirebon. Aku siap-siap dulu gitu kan? Biar nanti rencana di hari Sabtu terealisasikan." Aku pun sudah memesan tiket pesawat untukku, Nahda dan Aca. Ra nanti akan diambil alih sementara oleh bang Givan. Aca sudah mengkonfirmasikan pada bang Givan dan Canda.
Ia mengangguk. "Makasih ya, Pa? Nanti usahakan nginep lagi." Ia tersenyum lebar.
Aku yang harusnya berterima kasih.
Hingga, hari yang ditentukan sudah berada di waktu yang semestinya. Kini, kami sudah sampai di bandara Jakarta.
Sudah begitu larut, setengah dua belas malam. Sebaiknya, kami melanjutkan perjalanan atau beristirahat malam ini? Lalu, bagaimana caranya aku membuka pembicaraan ketika sampai di rumah orang tua Aca nanti?
Aku sudah ketar-ketir duluan.
...****************...
__ADS_1