
"Papa, aku mau duduk sama Papa." Mobilku mulai berisik, meski tanpa pemutar musik yang berjalan.
"Sini sama Tante Novi." Novi menepuk pangkuannya.
Key muncul di tengah-tengah bangku depan, ia pun langsung berpindah dan meminta Novi untuk bergeser.
"Duduk dipangku aja, Key." Aku kembali fokus pada jalanan gang yang muat satu mobil saja ini.
"Tak, aku mau berdiri nanti. Duduk juga tak apa, meski sedikit." Ditambah lagi dengan dialog tidak pentingnya yang membuat wajah Novi bertambah kecut saja.
Ia memasang wajah masam, dengan senyum palsu seolah ramah ketika mengetahui dengan sengaja aku membawa Key dalam perjalanan kami. Entah apa niat dan tujuannya, sampai terlihat tidak suka ketika aku pergi dengan membawa orang ketiga seperti ini. Padahal anak kecil, tapi Novi terlihat tidak suka. Apalagi, jika aku dengan sengaja mengajak Aca.
"Pa, kita ini mau ke mana?" Key sudah menanyakan tujuan kami tiga kali sekarang.
"Mau ke kota, anter Tante Novi cari kantor cabang." Aku pun tidak lelah memberitahunya kembali.
"Ohh, untuk kerja ya?" Key mengambil hiasan boneka yang berada di dasbor mobil.
"Ya, bisa jadi untuk kerja. Key besar nanti mau kerja jadi apa?" Aku membiarkannya mengacak-acak susunan boneka yang tidak sedikit tersebut.
Jika boneka itu kotor, aku membawanya ke tempat laundry untuk dicuci bersih. Aku tak berniat membasmi boneka-boneka tersebut, karena yang dulunya menempatkan pertama kali adalah Kin dan Kal kecil. Kal penyuka boneka, dengan ibunya yang begitu mendukung.
"Lanjutin usaha mamah katanya, Pa. Aku dikasih makan sama ayah, tapi kata mamah tuh nanti kerjaan aku dari mamah." Pasti ini perihal karena Key anak di luar pernikahan.
"Terus apalagi kata mamah?" Aku mulai bermain dengan spionku, karena kendaraanku sudah naik ke jalan besar.
"Mamah punya kerjasama kerja sama ayah, itu untuk bekal beli HP aku katanya."
Aduh, Key. Ponsel tidak seberapa, tidak harus kerjasama kerja pun mamah dan ayah kau mampu membelinya.
"Terus?" Aku hanya suka berdialog dengan anak-anak. Apalagi jika anaknya suka mengobrol seperti ini.
"Terus buat bantu-bantu ayah besarin aku. Aku makan banyak biaya rupanya ya, Pa?" Cucu tertua ini, membuatku tertawa geli.
"Iya, tapi udah kewajiban orang tua mengusahakan biaya hidup anaknya. Makanya, Key belajar yang bener, ngaji yang pintar." Aku mengusap kepala anak perempuan pernah aku adzani ini.
__ADS_1
"Iyalah, pasti. Ayah aku galak, biyung juga tak bisa diajak kerjasama, pasti ngaduin ke ayah." Key memencet-mencet pemutar musik.
Ada saja yang membuatku geli sendiri. Segala ia mengomentari tentang orang tuanya.
"Jadi, Key mau tinggal sama Papa aja kah?" Aku mengatur nyala AC mobil agar tidak terlalu mengarah ke wajah Key.
"Boleh aja sih, tapi pasti tak boleh sama ayah."
Aku melirik ke arah Novi. Ia terlihat sangat bad mood, dengan bertopang dagu. Ia melihat jalanan dari jendela mobil, tanpa terlihat hendak mengajak Key mengobrol.
"Di mana tempatnya, Nov?" tanyaku, ketika aku mobilku mulai berhenti di lampu merah yang dekat dengan kampus.
"Di depan GraPARI Telkomsel." Novi menjawab pun, tidak menoleh sama sekali padaku.
"Papa, Papa…. Aku pernah jalan-jalan dibawa Papa ya waktu kecil?" Key menyusun kembali boneka-boneka tersebut.
"Iya, masih ingat kah?" Aku mengambil kotoran, yang berada di hijab enak ini.
"Tak, kata ayah sama mamah. Aku kecil itu jadi anaknya Papa, tapi sekarang jadi anak ayah. Kadang aku tuh mikirin, sebenarnya aku itu anaknya siapa? Apa aku kek Aniq itu, temennya Kal?"
"Memang Aniq gimana?" Aku menyodorkan air mineral milikku pada Key.
Key menggeleng, dengan aku menaruh kembali ke tempat semula. "Mau minum tak, Nov?" Aku menoleh ke arah Novi, ternyata Novi menggeleng juga.
"Kau kenapa sih, Nov?" Aku menyadari sejak tadi jika wajah Novi tidak bersahabat sejak tadi.
Ia menggeleng dan malah bermain ponsel.
"Aniq kan ibunya meninggal, terus ibunya ganti jadi masyik Shasha." Key duduk di dekat perseneling.
Oh, maksudnya ibu sambung begitu?
"Ibu Key tak meninggal, ibu Key itu ya mamah Fira. Ayahnya, ya ayah Givan. Ayah pernah bilang kan ke Key?"
Anak itu langsung mengangguk. "Tetap aja aku bingung, Pa. Soalnya ada Papa juga, katanya kan aku kecil itu sama Papa terus."
__ADS_1
Memang aku yang mengurusmu sejak masih merah, Key.
"Papa kek mama Aca, kan Ra sama mama Aca aja. Tuh begitu contohnya, jadi Key tak perlu pusing-pusing Papa ini siapa." Aku pernah menjelaskan bahwa aku ini adik ayahnya, tapi malah lebih banyak pertanyaan baru yang muncul.
"Mama Aca, mama Aca. Huh…."
Loh? Kok Novi seperti itu?
"Memang kenapa, Nov? Memang dia dipanggil mama kok sama anak-anak." Aku mengendarai kendaraan ini dalam kecepatan sedang.
"Iya, kan dia juga yang bakal jadi mamanya anak-anak Abang. Pantas kok dipanggil mama juga." Nadanya seperti menyindir.
"Aku tak pernah ajarkan anak-anak untuk panggil dia mama, mereka sendiri yang panggil kak Aca mama." Aku bukan membela diri, aku berbicara sesuai fakta di lapangan.
"Dulu, aku berjuang sendiri biar mereka manggil aku mama. Sekarang, dukungan penuh dari berbagai pihak biar dia dipanggil mama." Dia hanya dimaksudkan adalah Aca.
"Keknya sih, berpikir bahwa kelakuan aku itu ya wajibnya dibalas dengan hal yang sama. Makanya, cerai belum lama juga udah dapat gandengan baru. Siapa yang menikah lebih cepat kan, dia yang merusak rumah tangganya sendiri waktu dulu. Terbukti, dari pernikahan yang lebih cepat setelah perpisahan ini."
Mengungkit kembali.
"Aku tak pernah berpikir untuk membalas. Bahkan, aku tak pernah berpikir untuk cepat cari pengganti kau. Aku tak pernah berniat untuk serius ke Aca waktu kemarin, tapi nyatanya naluri dan kecocokan itu lebih kuat. Anak-anak bahkan udah lengket sama dia, udah mampu manggil mama tanpa aku perintahkan. Aku pun nyaman ngobrol sama dia, jadi kenapa tidak disegerakan? Bukan maksud hati untuk membalas kau, atau kau berpikir bahwa akulah penyebab perceraian kita dulu." Inilah yang aku takutkan, ketika aku lebih cepat mendapatkan pasangan ketimbang dirinya. Aku sudah menyangka, bahwa Novi memiliki pemikiran demikian.
Mungkin, alasan saja memintaku mengantarkannya ke kantor cabang pendaftaran untuk menjadi seller. Padahal sebenarnya, ia ingin mengajakku ribut tanpa wasit.
"Bilang aja, memang dari awal udah minat ke janda itu. Cuma sayang, masa kita mau nikah itu dia masih dalam masa iddah. Iya kan? Pasti begitu kan? Makanya begitu kita renggang, Abang langsung cari celah untuk dekati si dia."
Dia-dia saja, istriku memiliki nama.
"Kau lebih cantik dari dia, Nov. Aku yakin, kau sadar itu. Kau perawan dan dia janda, aku yakin kau pun bahkan merasa lebih unggul dengan status itu. Tapi kenapa kau tak bisa menjaga status menjadi istriku? Atau, dasarnya memang ingin dijandakan setelah menikah? Setelah kau jadi jandaku, kau malah bahas-bahas janda lain yang dulunya tak pernah campuri urusan rumah tangga kita." Aku menepikan kendaraanku.
Aku paling tidak bisa, jika berdebat dengan mengemudi.
"Papa? Mau ke mana? Apa aku mau dibuang ke tengah sawah itu?"
Aduh, aku lupa membawa anak orang.
__ADS_1
...****************...