
Saat Brian pulang, sandra menyambutnya dengan pelukan. Mengungkap rasa terimakasihnya pada sang suami yang tanpa sengaja membantunya bermaafan dengan ibunya.
"Terimakasih mas." ucap Sandra.
"Untuk?!"
"Karena mas yang memberitahu kalau aku menginginkan sup, akhirnya aku bisa jujur sama ibu tentang siapa diriku sebenarnya dan aku juga sudah memaafkan ibu." jelas Sandra. Brian hanya tersenyum dan mengusap pipi istrinya, ikut senang.
Sandra segera membantu Brian berganti pakaian, namun Sandra mendapati noda darah di lengan di kemeja Brian.
"Mas ini apa?" tanya Sandra dan segera memperhatikan lengan suaminya terdapat luka sayatan yang sudah di perban.
"Ini kenapa mas? Apa yang terjadi, kenapa mas bisa sampai terluka? mas gak berkelahi kan?" cecar Sandra memastikan.
"Aku gak papa, ini hanya luka kecil saja. Tadi aku habis berkelahi dengan Raka." Jawab Brian dengan santainya.
"Raka? maksud mas Raka-"
"Iya, kekasih Sabrina. Dia tidak percaya kalau kamu bukan Sabrina dan dia bersikeras kalau kamu adalah Sabrina dan dia mengancam ku akan merebut mu dari ku. Makanya langsung aku hajar. Dia pikir dia siapa, mau mengambil istriku untuk kedua kalinya. Jangan harap bisa mendapatkan kamu." jelas Brian membuat hati Sandra semakin tersentuh dengan cinta yang di berikan Brian untuknya. Sandra seakan menjadi wanita paling beruntung bisa di cintai dengan setulus hati dan mau menerima segala kekurangan dirinya. Sandra pun kembali memeluk suaminya yang masih te*lanjang dada.
"Terimakasih untuk cintamu mas, Aku bersyukur sekali bisa mas nikahi, walaupun aku tak tau rasanya menjalani pernikahan gimana rasanya."
"Eemmm, apa kamu penasaran? Apa kamu mau kita nikah lagi?" tanya Brian seraya melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya yang tersipu malu.
Brian memutar tubuh Sandra hingga tubuhnya menghadap ke cermin yang ada di depannya. Brian kembali memeluk tubuh istrinya dan mengusap perutnya yang sudah besar.
__ADS_1
"Tidak hanya kamu saja yang beruntung, tapi aku yang jauh lebih beruntung, aku kira sifat mu akan sama dengan saudarimu tapi tebakanku ternyata salah, sikapmu dan caramu menghargai aku sebagai suami berbanding terbalik, kamu tau bagaimana memperlakukan aku sebagai seorang suami dan bisa menempatkan posisimu sebagai istriku. Oleh sebab itu tak akan ku biarkan siapapun mendekatimu karena hanya aku yang bisa memiliki kamu." bisik Brian penuh penekanan.
"Ternyata mas bisa cemburu juga? aku kira orang yang super sibuk seperti mas, sampai tak bisa menyempatkan waktu membelikan keinginan istrinya tak akan pernah bisa merasa cemburu, aku kira yang lebih penting itu waktu daripada istri " Sindir Sandra.
"Mulai ya." Brian pun menggelitik Sandra sambil terkekeh, begitu juga dengan Sandra yang tak mau kalah dengan membalas baik menggelitik Brian. Melupakan sejenak semua masalah dengan berbagi canda berdua.
Di ambang pintu, gadis kecil tengah berdiri menyaksikan kedua orangtuanya sedang tertawa bersama. Wajah sedih sekalipun takut tersirat di wajah Yolan yang hendak menghampiri Sandra.
"Ma..." Panggil Yolan. Seketika Sandra dan Brian menoleh ke arah putrinya.
"Yolan." Sandra segera bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, "Kemarilah nak." panggil Sandra dan Yolan pun segera berlari menghampiri Sandra dan memeluknya sambil membawa selembar kertas di tangannya.
"Ada apa Yolan? kenapa wajahmu murung. Katakan pada mama apa Masalah apa di sekolah tadi?" tanya Sandra lagi sambil menangkup ke dua pipi Yolan.
"Kalian ngobrol saja dulu, aku mau mandi dulu." Sela Brian dan segera pergi ke kamar mandi.
"Mama, mau kan ikut, Yolan pengen di temani mama seperti teman-teman Yolan yang lain. Yolan gak mau sama papa. Papa selalu melarang terus, gak boleh ini dan itu, mau ya ma. Kali ini saja." ucap Yolan memohon.
'Apakah Kak Sabrina tak pernah menemani putrinya. Terlihat jelas di wajah Yolan, kalau dia sangat menginginkannya.' Gumam Sandra lalu ia tersenyum pada Yolan.
"Tentu saja, mama akan menemani Yolan besok. Dan mulai sekarang, kalau ada kegiatan apapun yang mengharuskan orang tuanya ikut, mama akan selalu menemani Yolan. Dan mulai sekarang, apapun yang Yolan inginkan dari mama, katakan saja. Mama aku melakukan apapun buat Yolan." ucap Sandra.
"Benarkah? Hore... Akhirnya mama mau menemani Yolan." Yolan pun kegirangan dan kembali memeluk Sandra.
Sandra pun meminta Yolan untuk kembali ke kamarnya dan belajar bersama Weni. Yolan pun mengangguk dan segera berlari keluar.
__ADS_1
Brian yang selesai mandi segera keluar dan mendapati putrinya sudah tidak ada di kamar.
"Mana Yolan?" tanya Brian seraya menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"Sudah keluar, dia cuma bilang kalau besok ada study tour dan memintaku untuk menemaninya." jelas Sandra.
"Kemana?"
"Museum. Katanya maunya denganku, kalau dengan papanya terlalu banyak aturan, tidak boleh ini dan itu, kata Yolan tadi. " jelas Sandra sambil mengulang kata-kata Yolan.
"Astaga, ternyata dia menggerutu di belakangku. Kalau tau dia gak mau papanya ikut lebih baik, sebelum-sebelumnya aku gak mau menemaninya." Saut Brian kesal.
"Gak boleh begitu, mas dia kan-" Ucapan Sandra terhenti saat ingat jika sebenarnya Yolan bukanlah anak kandung Brian.
"Ah, mulai sekarang biarkan aku yang menemani setiap kegiatan Yolan. mas fokus saja bekerja mengembangkan bisnis mas saja." Sandra pun langsung mengalihkan pembicaraannya, agar tidak menyinggung perasaan suaminya.
Sandra pun segera menemani Brian untuk makan malam bersama ibunya juga.
"Tadi bukannya ibu mau buat sup. Tapi mana sup nya kok gak ada dihidangkan di atas meja?" tanya Brian membuat Wulan dan Sandra saling menatap, lalu tersenyum.
"Sudah masuk sini semua. Aku pikir mas gak mau. Jadi aku habiskan sendiri." Jelas Sandra.
" Biar ibu buatkan sebenar kalau nak Brian mau." Wulan hendak beranjak berdiri namun dihentikan Brian untuk tetap duduk.
"Gak usah Bu, makan yang ada ini saja sudah cukup. Aku bertanya saja. Syukurlah kalau keinginan bumil ini udah keturutan. Ayo makan, aku sudah sangat lapar, di kantor tadi tidak sempat makan siang."
__ADS_1
Wulan pun nampak begitu bahagia, melihat putrinya dan menantunya yang terlihat bahagia, saat ini Wulan yang bisa berdoa semua putrinya tetap bahagia dan bisa melahirkan dengan lancar. Namun ada satu pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran Wulan, tujuan suaminya membuang Sandra dan siapa laki-laki yang sudah membesarkan putrinya hingga akhirnya Putrinya kembali dalam pelukannya. Wulan pun harus bersabar menunggu waktunya dan berharap semuanya segera terbongkar dan tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan dalam keluarganya.
...To Be Continued ☺️☺️☺️...