Istri Sambung

Istri Sambung
IS89. Diprioritaskan


__ADS_3

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, saat Novi melakukan hal yang sama pada pintu penghubung antara kamar dan walk in closet itu. Apa ia tidak tahu, bahwa suaminya sedang memejamkan mata?


"Mana, Ma?" Kaf berseru dari luar kamar.


Novi kembali dengan membawa dompetnya. Ia menghindari berkontak pandang denganku. Novi terlihat sombong dan tengah menahan sesuatu.


Huft, masa iya jurus membujuk Kin harus aku keluarkan untuk Novi?


Aku bangkit dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamar juga. Aku mencari keberadaan Kaf dan Novi, yang ternyata mereka ada di teras rumah.


"Ada tak kawannya, Kaf?" Novi berseru, dengan memperhatikan Kaf yang sudah masuk ke pintu besi.


"Ada." Lamat-lamat terdengar suara Kaf.


Aku masih berdiri di ambang pintu, sengaja menunggu Novi masuk. Namun, ia langsung menunduk saat mengetahui ada aku di sini.


"Minggir!" pintanya dengan mendorong dadaku.


Aku masih diam tanpa pergerakan. Dengan memandang wajahnya begitu intens.


"Awas, Bang! Aku mau masuk." Novi masih mencoba mendorong tubuhku.


Hingga akhirnya, aku memeluk pinggangnya dan menggendongnya di bahu bagai karung beras. Semoga ia bisa tertawa dan moodnya berubah bagus. Karena ini adalah cara paling sederhana, untuk membujuk Kin dulu.


"Bajunya aja sampai bau Canda. Turunin aku!!!" Novi berusaha merosotkan tubuhnya.


Sekarang, kini aku yang malah bertambah tidak enak hati.


"Nov, kau tau dia kakak ipar aku." Aku menahan tangannya dan menariknya ke sofa ruang tamu, saat Novi berhasil turun dari bahuku.


"Aku tau, gimana kisah kalian dan itu tak akan pernah usai." Nafasnya begitu memburu dengan mata merah yang berair.

__ADS_1


Sejak tadi, pasti Novi menahan rasa cengengnya ini.


"Kau tak bisa pahami suami kau sendiri, Nov." Aku geleng-geleng kepala melihatnya yang lebih menyeramkan dari Kin ketika marah.


"Tak pahami di sebelah mana lagi? Berapa banyak lagi aku harus pahami semuanya?" Nada suaranya naik satu oktaf dan terdengar begitu bergetar.


"Ayo kita ke pasar, biar anak-anak nanti dijaga mamah dulu. Awalnya cuma gagal ke pasar, tapi permasalahan yang bawa ke mana-mana." Aku bangkit dan menarik tangannya.


Namun, Novi menghempaskan tanganku. Aku memutar tubuhku untuk melihatnya.


"Ini bukan tentang pasar aja. Aku mer……" ucapannya segera aku pangkas.


"Kau tau, hal itu bakal buat kau sakit. Tapi kenapa kau cari penyakit sendiri, Nov? Semakin kau tau, akan semakin buat kau sakit. Terus apa faedahnya untuk diri kau? Tak usah cari tau, kalau memang tak sanggup dengarnya." Ternyasta Novi tidak seperti Kin yang mudah diberi kalimat penenang.


"AKU PENGEN DICINTAI, BANG. DIUTAMAKAN, DIPRIORITASKAN, DIPENTINGKAN DAN DIUSAHAKAN!" Novi berteriak, dengan menarik bajuku.


Aku menahan tubuhku, dengan memegang sandaran sofa yang berada di belakang Novi. Untuk mencari aman, aku memilih untuk duduk di sampingnya.


"Bukan melulu Canda! Dari Canda jadi janda, hamil Ra, dia sering bolak-balik ke rumah sakit sama Abang. Di situ aku prihatin sama Kin, tapi sekarang aku yang merasakan di posisi Kin. Aku paham senyum Kin palsu, aku paham izin dari Kin itu bentuk kekesalannya. Tapi herannya lagi, sampai sekarang Abang tak pernah berubah dan tak pernah pahami." Novi berani memarahiku, hingga ia membawa-bawa nyawa yang sudah tiada.


"Apa aku harus minta izin, cuma untuk berbuat baik ke ipar aku? Apa aku harus minta izin, untuk menolong orang-orang terdekat aku? Kau terlalu berlebihan, Nov. Rasa maklum kau pun itu, bahkan lebih buruk dari Kin. Baru sekali, cuma gara-gara gagal ke pasar aja, kau tarik ibu kandungnya anak-anak yang udah tiada. Jangan jadikan Kin, sebagai bahan ketahanan kau. Masalahnya apa, merembet ke mana-mana!" Sungguh aku tidak suka perdebatan.


Namun, kali ini aku sering berdebat dengan Novi.


"Bukan persoalan ke pasarnya, Bang. Tapi sikap Abang yang menggampangkan istri Abang. Terlalu menyepelekan dan mengutamakan orang lain. Masalahnya sih satu, karena memang Canda masih jadi yang utama buat Abang. Dia masih prioritas, dia masih menjadi acuan kebahagiaan Abang. Dia masih jadi hal yang terpenting untuk kehidupan Abang." Novi memutar posisinya, dengan duduk menghadapku.


Kadang aku tidak mengerti, kenapa rasa cemburu pada wanita seperti tidak mengerti menolong sesama. Tidak manusiawi dan seolah paling tersakiti.


"Ya udah, aku minta maaf. Udah debatnya, aku malas ribut." Biasanya jika aku sudah meminta maaf, persoalan dengan Kin langsung selesai dan berakhir dengan berpelukan.


"Maaf aja gampang, Bang. Lepas itu Abang pasti ulangi lagi." Satu air bening lolos dari matanya.

__ADS_1


Aku terus melafalkan istighfar terus dalam hati. Ternyata, lebih sulit menenangkan Novi.


"Udah kau bilang aja, aku mesti gimana? Masalah diulangi atau tak, ini persoalannya karena aku antar Canda kan? Semisal ada hal yang tak diinginkan lagi, atau bagaimana kejadiannya. Terus dia lagi butuh bantuan, atau suaminya lagi tak di rumah. Aku tak mungkin biarkan dia sekarat di rumah, aku tak mungkin keponakanku jadi taruhannya." Sudah tidak ada kelembutan dari nada suaraku.


"Karena Abang memang tak mau Canda kenapa-kenapa kan?" Penampilan Novi sudah sangat kacau.


Aku tidak mengerti isi pikirannya.


Aku memejamkan mataku sejenak. Lalu menghembuskan nafas perlahan. Aku benar-benar akan meledak setelah ini.


"Di mana orangnya, yang mau anggota keluarganya kenapa-kenapa? Karena rasa cemburu kau, kau macam tak punya hati. Masalah diprioritaskan, udah pasti aku akan ngusahainya. Pagi pun aku mau bilang Canda, kalau aku tak bisa antar dia atau minta dia pesan kendaraan online aja. Tapi faktanya, Canda juga butuh uluran tangan bukan untuk mengantar aja. Kau harus pahami kondisinya, Nov. Bukan tentang siapa yang aku utamakan." Aku lelah sekali membuatnya mengerti.


Tetapi, Novi malah melepaskan tangisnya.


"Pernah tak sih bayangkan jadi aku? Aku ditinggal dua orang tua, aku tak punya tempat mengadu. Pulang pun ke mana, rumah yang di Jakarta udah dijual dan dibagi waris. Ditambah, dapat suami yang kek gini. Abang tak persis kek di awal, makin ke sini makin banyak pengorbanan aku untuk maklumi. Udah nyata memang Abang tak mau Canda kenapa-kenapa, tapi alasannya seolah aku tak manusiawi." Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Nov, jangan bawa-bawa nasib kau yang kek gini-gitu. Masalah awalnya ini, memang dasarnya kau cemburu. Aku ngomong apa juga percuma, karena memang bakal salah di mata kau. Kalau memang kau lebih percaya, bahwa aku tak mau Canda kenapa-kenapa. Ya udah, aku terima tuduhan kau itu." Aku menarik tangannya dan aku menggenggamnya, "Sekarang aku minta maaf, karena udah bikin harapan kau kecewa kali ini. Aku tak janji, kalau aku tak mungkin ngilanginnya lagi. Tapi, aku harap kau bisa mengerti." Novi masih menunduk saja, dengan tangis yang terdengar samar.


Sampai akhirnya ia meluruskan pandangannya ke arahku, dengan penampilan wajahnya yang begitu kacau. Belum lagi pewarna di wajahnya yang luntur. Aku jadi teringat film dewasa, karena ada beberapa peran di dalamnya yang penampilannya begitu kacau karena rasa nikmat.


"Apa aku harus ngerti juga, kalau memang Abang belum selesai dengan Canda?" Suaranya begitu getir.


"Kami udah selesai, Novi! Kami udah punya kehidupan masing-masing. Sekalipun aku dekat dengan Canda, hanya sebatas hubungan ipar aja. Canda pun dekat dengan ipar yang lain, entah itu perempuan atau laki-laki. Bahkan dia pernah tidur di lengan Ghava, meski udah rujuk sama bang Givan. Canda pun pernah juga beberapa kali dikirim makanan dari Ghavi, Ghavinya langsung, bukan dari tangan Tika. Jadi kau harus paham itu, kau harus mengerti kalau memang Canda sama aku ini cuma ipar aja." Aku berbicara fakta, meski sedikit kebenaran aku sembunyikan.


"Aku bisa lihat dari mata Abang. Abang beda ke Canda, tak kek ke ipar yang lain. Padahal dulu Abang serumah kan sama Tika? Tapi sorot matanya tak kek ke Canda." Novi geleng-geleng kepala, dengan tertunduk lemah.


Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya? Apa jika aku berterus-terang, akan membuat hatinya puas dari menuduhku?


"Ya……


...****************...

__ADS_1


__ADS_2