Istri Sambung

Istri Sambung
IS276. BESTie Aca


__ADS_3

"Jadi perempuan itu siapa?" tanyanya lirih.


"Relasi bisnis aja, dia pengelola hotel dan resto di Takengon," jawabku jujur.


"Berarti bukan perempuan kau kah?"


Jelas aku menggeleng.


"Besok kalau dia datang lagi, kau kasih ketegasan sama dia. Biar Aca tak salah paham, nanti malah ribut cerai lagi padahal belum resmi." Ia menasehatiku dalam suara lirih.


"Aku tegas bilang aku beristri, tapi dia tak mau paham." Padahal aku tidak merespon perempuan itu.


"Ya kau buat Aca percaya aja berarti. Kalau dia udah percaya, ya ajak ke kantor kau. Barangkali Rida masih seliweran di sana kan, bisa dilabrak istri kau, atau setidaknya dia menyaksikan keromantisan kalian."


Apa mungkin Aca percaya di tengah kondisi sensitifnya seperti ini? Jika Aca dalam keadaan normal, ya aku yakin dia berani menindas balik.


"Aku tak yakin, Bang." Semalam saja, ia salah paham.


"Ya yang penting kau udah jujur aja udah, kau juga harus ada di rumah terus setelah pulang kerja. Biar Aca paham, bahwa kau tak nyolong-nyolong waktu buat perempuan lain."


Aku mengangguk. "Ya, Bang."


Bang Givan malah beranjak dan mendekati Aca. Aku hanya memperhatikannya saja dari jauh, aku masih ingat tentang cerita Aca mengenai momen pertama mereka yang tidak pernah disesali.


"Tinggal di mana memang?"


Obrolan apa ya? Aca sampai bangun dan bersila di brankarnya.

__ADS_1


"Di rumah anak aku sekarang, siang sih dia kerja. Laki-lakinya beneran datang, tapi obrolannya kek tak logis loh. Aku sih tak percaya seratus persen, keknya dia ini cuma menang di tampang aja, tidak dengan karirnya tuh. Ya memang tak masalah, apalagi warisan dari tinggalan orang tuanya menunjang. Meski dia tak ada hak penuh, karena nashab dia dari ibunya, sedangkan warisan kan dari ayahnya. Tapi papah tak nakal, punya om Edi tak dibagi-bagikan ke saudara, masih bulat punya Novi. Tapi aku agak tak srek aja, kalau hasil binaan aku dapatnya laki-laki yang kelasnya di bawah aku gitu." Bang Givan duduk di kursi dan mengipasi wajahnya dengan salah satu map dari dokumenku.


Ternyata Novi yang tengah mereka bahas.


"Gatal betul tapi memang janda satu itu."


Apa Aca tidak merasa dirinya janda gatal juga kah? Bagaimana ya menyadarkan mulutnya ini. Kadang aku ingin mentertawakannya.


"Kenapa memang dia?"


Aku memasang telinga sejak tadi, aku mendengar jelas obrolan mereka. Sekarang aku tengah berjalan untuk mengambil dokumen yang lain, karena dokumen yang tadi sudah kupahami isinya.


"Datangi Ghifar ke kamarnya coba. Mana lelaki aku cuma diam aja lagi, tak nolak atau gimana. Sekalian aja aku telan*ang depan dia, dia langsung kabur lihat aku nyerang Ghifar."


Ternyata, fase pertemanan mereka sudah seperti aku dan Canda. Jadi, rasa tidak nyaman melihat pasangan kita akrab dengan orang di masa lalunya itu seperti ini ya? Apa ini sudah seimbang? Atau, banyak lagi penyesuaian yang harus aku terima dari keakrabannya dengan orang-orang di masa lalunya?


"Tak mau kah dia diajak three****?" Bang Givan terkekeh geli.


"Tak mau dia, langsung kabur aja. Kau pernah coba three****, Van?"


Aku kembali ke sofa, dengan mulai membaca isi dokumen kembali. Ini pun hanya disimak saja, tidak perlu stempel atau tanda tanganku.


"Tak pernah, tak pernah coba yang aneh-aneh begitu. Pernah lewat part belakang pun, sekali masuk aja terus udah. Sakit betul, kek diperjakai lagi."


Bahkan kakakku pun sampai terbuka seperti itu. Apa istriku pun sama seperti bang Givan? Ia akan menceritakan rasanya dan pengalamannya.


"Ish, sama Canda kah? Jaminan neraka kau, Van." Aca terlihat tengah memojokkan bang Givan.

__ADS_1


"Tak lah, ngapain ngerusak istri sendiri? Sama mantan, sebelum nikah sama Canda. Sekalipun hasilnya bersih, pakai pengaman juga. Tapi aku coba ngebauin sendiri, khawatir baunya tertinggal gitu."


Aca sampai terbahak-bahak. Humornya adalah pembahasan mesum. Tapi mengerikan juga pengalaman bang Givan dalam merusak perempuan ini, ia sampai pernah masuk ke bukan tempatnya. Masuk ke tempatnya, jika terpaksa pun meninggalkan trauma juga. Apalagi, jika di tempat yang terlarang. Sudah pasti membuat pasangan akan menghindari kegiatan dewasa, karena takut diajak bermain kotor lagi.


"Aku tak pernah mau yang aneh-aneh begitu, tak mau ngerusak diri sendiri tepatnya. Dengan melakukan sebelum nikah pun, udah resikonya besar selain dosa. Apalagi, kalau yang aneh-aneh begitu," timpal Aca langsung.


"Iya, sakit juga loh kata perempuan aku masa itu juga. Siklus BAB-nya seketika terganggu, ada gitu beberapa hari baru bisa lancar kembali." Bang Givan benar-benar orang yang begitu terbuka, meski dengan istri orang juga. Aku yakin, ia seperti itu sudah sejak Aca belum bersamaku. Mungkin, Aca adalah salah satu teman curhatnya sejak zaman dulu. Hanya saja tidak diketahui, karena hanya lewat ponsel saja, karena mengetahui jarak yang jauh.


"Tak berminat sama sekali, Van. Aku dirawat sekarang aja, gara-gara begituan coba. Mana dari tadi Ghifar nasehatin terus, udah kek ayah aku di rumah. Risih tuh, kek tak merasakan sendiri."


Loh? Aku sampai disamakan dengan pakdhe Arif?


"Canda juga pernah disarankan dokter untuk tidak sering berhubungan. Waktu hamil Ra itu, waktu dia plasenta previa ditambah dengan bobot bayinya yang besar. Ya aku coba tak maksa, daripada resiko kehilangan anak istri. Abis lahiran juga, kau sama Ghifar bisa puas-puasan lagi."


Syukurnya, pendapat bang Givan sama dengan pendapatku.


"Kan keadaan kami abis LDR, lagi kangen-kangennya." Aca ini, bahasanya sampai menggunakan kami. Padahal, itu untuk memenuhi inginnya sendiri.


"Aku sama Canda pun LDR. Tambang aku lagi ada masalah, dibom Putri dua alat berat. Ketemu ya, sebatas bantu aku dapat pelepasan aja. Pernah sebelum itu dia divonis, berhubungan tuh kek dianya meringis gimana gitu, padahal dia yang minta. Kalau kondisi hamil tuh, aku coba kontrol sebaik mungkin. Apalagi yang namanya Canda, hamil itu tangannya bergerak terus. Harus gandengan terus, pegangan tangan aja tiap menit, sampai tidur pun pegangan. Kan otomatis karena terlalu nempel, aku sebagai laki-laki normal kan ingin juga."


Aku benar baru tahu dari mulut bang Givan sendiri, ternyata Canda berani meminta haknya juga. Aku kira untuk masalah ranjang, Canda alim seperti kelihatannya. Rupanya, ia sama juga seperti perempuan yang kupersunting.


"Solusinya gimana, kalau Canda yang minta tuh?"


Aca sampai berani meminta solusi pada bang Givan.


"Nah, asal kau tau juga. Penyebab utamanya kontraksinya itu, adalah….

__ADS_1


...****************...


Seimbang 😆 Canda sama Ghifar bestie ngobrol. Nah, sekarang Aca sama Givan 🤭


__ADS_2