Istri Sambung

Istri Sambung
IS102. Kepanikan mendadak


__ADS_3

Aku memejamkan mata, mencoba meresapi rasa masakan buatan istriku ini. Rasanya di luar ekspektasiku. Sungguh, ini begitu enak. Tidak pahit, dengan cita rasa aslinya yang masih terasa.


"Enak betul loh, Nov. Kau pandai ya masak tumis kembang pepaya ini, sering-sering buat ya?" Aku memujinya dengan memberinya senyum andalanku.


"Aku pindah aja ah, takut ngiri nih. Terus buru-buru nikah lagi."


Aku mengalihkan pandanganku pada seseorang yang pergi dengan membawa sepiring makanan dan segelas air putih. Kak Aca kabur dan membuat Novi cekikikan.


"Kau makanlah dulu, Novia." Aku melanjutkan menyantap sarapanku.


"Iya, Bang." Novi duduk di dekat Kaf. Karena hanya itu bangku yang paling dekat.


"Ca…. Kau tak perlu packing deh, jaga Nahda sama Ra aja. Mak cek mau ke rumah sakit, Canda pecah ketuban." Seruan itu membuatku tersedak.


Aku terbatuk-batuk dengan berlari ke arah depan.


Ya Allah, bagaimana keadaan Canda? Pantas saja, papah berteriak mengajak mamah tadi pagi.


"Uhuk, uhuk…. Canda…. Gimana, Mah?" Aku masih merasa pedas di tenggorokanku.


"Di mobil Rush, sama abang kau. Cuma itu Ra ngamuk, jadi tak bisa langsung pergi." Mamah tengah membenahi hijabnya sambil berjalan ke bawah tangga.


"Novi suruh belikan peralatan bayi, Far! Kalau Canda tuh ada aja dramanya, segala belum punya peralatan bayi. Di rumah anteng tuh, belanja online kek ngapain. Istirahat tuh, bener-bener hibernasi dia sih." Mamah memberantakan gudang kecil yang berada di situ.


Tepok jidat.


"Ya udah aku bujuk Ra. Nanti aku ke sana antar peralatan bayi sama Novi, Mah. Mamah duluan aja sama Canda sana." Aku keluar lebih dulu dari rumah.


Tangis Ra begitu menggema. Aku segera berlari, untuk melihat adegan di luar pagar. Ada lucu-lucunya.


"Yayah…. Ya apun, Yayah…." Ra menarik-narik kaos ayahnya.


"Ya ampun! Ya ampun! Mak kau udah mewek-mewek aja, kau Yayah-Yayah terus! Tuh Papa tuh!" Bang Givan langsung menunjukku.


Bang Givan ada di sisi kiri kemudi. Aku bisa melihat Canda yang menangis, dengan bang Givan yang menambahkan kain di bagian bawah paha Canda. Setidaknya, bang Givan sigap untuk Canda. Jika aku, aku akan memilih menangis dan memeluknya lebih dulu. Saat seperti Kin berlaku ceroboh, yang membuat nyawanya melayang.


"Ra sini sama Papa." Aku langsung berjalan mendekat.


Ra menoleh sekilas padaku, kemudian ia menggeleng berulang.


"Yayah, Yayah engeng La. La ma yapa? Entut, Yah." Anak gemoy itu kembali merengek pada ayahnya.


Drama betul Ra ini, sudah seperti ibunya.


"Jagain Ra, Far. Abang buru-buru." Bang Givan berlari memutar ke depan mobil, dengan aku yang langsung menangkap tubuh Ra.


"Yayah Ipan…. Yayah Ipan…." Tangis Ra begitu memekakkan telinga.


Aku menyangga tubuhnya sekuat tenaga, kemudian membawanya ke tempat yang aman. Karena, mobil milik mamah keluar dari rumah. Aku khawatir Ra terlepas, lalu menghadang mobil milik neneknya tersebut. Kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan, amit-amit.


Tin…..


Mobil itu membunyikan klakson, saat melewatiku dan Ra yang mencari tempat aman di parkiran Riyana Studio ini.

__ADS_1


"Sama tante yuk? Sama Kaf dan Kal." Meskipun Ra kecil dan lebih muda. Tapi ia adalah anak kakakku, mereka tetap lebih tua dan dituakan dalam penyebutannya.


Namun, dasarnya anak-anakku saja yang susah diajarkan. Mereka tetap memanggil anak bang Givan dengan namanya saja, tanpa imbuhan kak atau bang. Tetapi anak bang Givan yang kecil pun, tetap diajarkan memanggil namanya saja pada anak-anakku.


"Far…. Ayo antar Ibu ke toko perlengkapan bayi." Ibu Ummu berseru dengan dengan mengempit tasnya.


Ibu Ummu adalah ibu kandung Canda. Cerita pertemuannya panjang, kalian bisa cek pada novel Canda Pagi Dinanti.


"Iya, Bu. Tunggu di teras toko aja. Aku lagi nenangin Ra dulu, terus ngeluarin mobil." Aku kewalahan menghadapi amukan anak ini.


"Ya, Far. Ibu tunggu."


Aku hanya mengangguk. Aku memilih untuk membawa Ra masuk ke dalam rumah. Beberapa kali aku dipukul dan digigitnya. Aku akan membiarkannya, untuk menuntaskan emosinya dulu.


Namun, air mata Novi membuatku bertambah pusing. Ia malah menangis, di depan anak-anakku.


Apa aku salah lagi?


"Nov, ayo kita siap-siap." Aku menggunakan suara lembutku.


Novi tak menjawab. Namun, ia memberi anggukan kecil.


Prang……


"Papa ahat! Yayah La kabung."


Lengkap sudah.


"Ra, ya ampun. Meja kakek itu mahal loh. Bisa-bisa Papa dipenjara, karena Ra pecahin meja kakek." Aku berakting menangis meraung.


Tertawa di atas penderitaan orang lain. Ra malah tertawa renyah, saat aku tengah bersimpuh dengan menangis palsu ini.


Aku khawatir anak ini tumbuh menjadi psikopat.


"Papa ucu." Ra malah mencolek daguku.


Bagaimana aku tidak tertawa, melihat tingkah bocah satu ini. Aku langsung menariknya, kemudian memeluknya begitu erat. Aku menciumi Ra dengan daguku, yang baru ditumbuhi beberapa bulu setelah seminggu yang lalu dicukur.


"Kal sama Kaf di sini aja ya? Ada mak wa Aca tuh ya? Apa mau main ke pondok biyung? Papa anterin." Aku sudah berhasil menjinakkan Ra.


Aduh, pecahan beling itu.


"Assalamualaikum…. Mah."


Wah, kebetulan sekali.


"Sini, Vi!" Aku berseru dengan meninggalkan area ruang keluarga ini.


Belum juga aku selesai berbicara dengan Kal dan Kaf.


"Loh? Pecah?" Ghavi menatap nanar meja ruang keluarga tersebut.


"Ah iya, entah diapakan sama Ra. Minta tolong bersihkan ya? Aku mau keluar, beli peralatan bayi. Canda dirujuk, pecah ketuban," ungkapku langsung.

__ADS_1


"Entut, Pa." Ra menepuk-nepuk mulutku.


Aku memperhatikan wajah alim ini begitu dekat. Duplikat Canda, sayangnya psikopat.


"Ra sama Bapa tuh ya?" Aku menunjuk Ghavi.


Bang Givan pasti tengah repot. Sedangkan, Ra pasti akan terus mengekorinya. Biar Ra di sini saja bersama saudara yang lain.


"Vi….?" Aku memperhatikan Ghavi yang malah melamun.


"Aku ke sini mau pinjam beras ke mamah. Eh kau malah nyuruh aku bersihkan kaca dan jaga Ra. Kewalahan lagu aku jajanin anak itu. Anak istri aku di rumah kelaparan, nungguin beras yang aku pinjam dari mamah." Suaranya amat pelan.


Sungguh, aku langsung menelan ludahku dan menahan rasa cengeng di hati. Sampai seperti ini keadaan Ghavi? Ia melebihi keadaan bang Givan dulu. Padahal, Ghavi adalah juragan gabah dulunya.


"Aku ada. Kau pegang dulu Ra ini. Biar aku ambil dulu di kamar." Aku memberikan Ra pada Ghavi.


"Papa au nana?" Canda kecil mengedipkan matanya begitu polos.


"Mau ambil cicis. Ra mau jajan kan?" Aku tersenyum lebar padanya.


Ra mengangguk. Kemudian ia kegirangan sendiri, dengan bertepuk tangan.


Aku tidak pernah sampai kehabisan beras dan begitu sulitnya untuk makan. Namun, aku merasakan kemarin keadaan di mana tidak stabil. Aku bahkan bingung untuk membagi uang bulanan yang tidak seberapa, karena uangku memang tidak seberapa.


"Novia…. Cantik…." Aku menyerukan namanya, ketika membuka pintu kamar.


"Ya, Bang?" Novi buru-buru menghapus cairan bening itu.


Ia masih menangis.


Aku melangkah ke arahnya, yang tengah berdiri di depan jendela besar dengan menggenggam cermin kecil. Kemudian merengkuh pinggangnya, lalu tersenyum manis padanya.


"Aku minta maaf ya? Maaf, reflek aku masih terlalu menyakiti. Aku sadar kok, tapi aku janji bakal rubah pelan-pelan." Aku menempatkan satu tanganku untuk di pelipisnya, kemudian menghapus air matanya.


"Aku tau diri kok, Bang." Begitu memilukan. Saat air mata itu lolos kembali, dengan garis senyum yang begitu sempurna.


Aku menyakitinya lagi.


Aku memeluknya, "Jangan ngomong kek gitu. Aku salah, panik aku terlalu berlebihan. Aku minta maaf, aku bakal perbaiki lagi setelah ini. Biar aku bisa kontrol dan tak gini-gini lagi." Aku mengusap-usap punggungnya.


Sialnya, tangisnya malah lepas.


Aduh, kasian Tika dan lima orang anaknya yang belum makan sarapan. Aku teringat wajah memelas Ghavi tadi, pasti tadi pun ia menurunkan harga dirinya.


"Novia, tenang ya? Cepat siap-siap. Aku turun dulu, ada Ghavi di bawah. Dia…. Butuh uang." Aku melepaskan pelukanku, kemudian menempatkan di dua lengannya.


Alisnya naik sebelah, "Ghavi?" tanya Novi kemudian.


Aku mengangguk, "Ya, boleh aku kasih dia uang? Kedatangan dia ke sini, mau pinjam beras ke mamah, karena anak istrinya belum ada yang sarapan. Sedangkan mamah udah berangkat ke rumah sakit." Aku menurunkan tanganku, kemudian memasukkannya ke saku celana samping.


"Kasih? Atau pinjam?"


Aku langsung menyoroti wajahnya dengan ekspresi lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2