Istri Sambung

Istri Sambung
IS173. Apa tujuan menikah?


__ADS_3

"Boleh, yuk ke kolam renang? Jalan-jalan sama anak-anak, aku lama tak berenang."


Aku paling malas berenang, aku pernah tenggelam. Membuatku takut untuk berenang, meski aku bisa berenang.


"Di bathtub aja kah?" Aku berniat memindahkan persneling, tapi aku malah menggenggam tangannya.


Dasar, laki-laki.


"Ish, kau ini ya, Far? Kalau aku balas, baru kau tau rasa nanti." Kak Aca melepaskan tangannya, kemudian menunjukku dengan menyipitkan matanya.


"Balas gimana memang? Orang tak sengaja kok." Aku malah teringat kak Aca yang hanya tertutup handuk saja waktu dulu.


Ia adalah perempuan, yang merasa minim malu pada saudaranya sendiri. Meski dulu kami sama-sama sudah baligh, tapi kak Aca tidak malu saat tubuhnya terbalut handuk saja. Padahal diam-diam begini, aku pun laki-laki juga yang pasti bisa menghamilinya.


"Udahlah tak usah dibahas, kau belum resmi, nanti aku makin salah aja." Kak Aca mengambil barang di bangku belakang.


Posisinya salah.


Aku ingin menangis saja melihat posisinya saat ini. Indah sekali, aku ingin melahap tapi takut dosa. Aku sudah sholat taubat untuk segala hal di masa laluku, entah itu zina kecil atau khilaf-khilaf sadar.


Tidak besar, tetapi ranum dan terlihat padat. Tanganku gatal sendiri rasanya, buat kurap dadakan saja ini perempuan.


"iPhone itu berapa ya, Far?" Ternyata kak Aca mengambil ponselnya.


"Tergantung tipenya, Kak. Masih pakai android kah?" Aku melirik barang yang berada di genggamannya.


"Ya, aku dilema sih. Mau buat beli iPhone, atau mau buat beli rumah sederhana."


Ada lagi saja, rumah dibandingkan dengan iPhone.


"Kalau uangnya cuma sepuluh juta sih, ya paling dapat iPhone. Kalah uangnya ada seratus juta sih, bisa dapat rumah sederhana dan iPhone juga." Aku tak menanyakan jumlah tabungannya, karena uang adalah hal yang sensitif.


Kak Aca melirikku sekilas, lalu ia fokus pada layar ponselnya lagi. "Ada tujuh puluh sih, dikasih upah sama mak cek dan Canda aja. Ya udah, kau mau genapin tak, Far? Nanti, aku nyicil ke kau. Aku capek naik turun tangga, tanggannya hampir sembilan puluh derajat soalnya."

__ADS_1


Berani juga ini perempuan sudah meminta dana di awal.


"Bisa, mau beli apa?"


Sayangnya, aku tidak tahu kalau akad untuk hutang di mobil itu. Kini membuat Novi datang dengan menuduhku segala macam rupa, ia datang dengan bukti transaksiku ke rekening kak Aca sebesar seratus dua puluh juta.


Ia begitu marah, dengan kuasa hukumnya yang menemaninya.


"Nov, Nov. Dikasih kuasa hukum, dengan Mamah yang bayar itu, biar kau cerai tak rugi badan aja. Bukan untuk nuntut balik anak Mamah, Novi!" Mamah berbicara datar, dengan mengganti-ganti channel TV.


Novi datang di waktu bersantai kami.


Mamah menunjuk perempuan berusia empat puluh tahun, yang mamah bayar sejak perceraianku dimulai itu. "Mau lanjut tanpa upah, atau stop kasusnya sampai di sini? Bisa aja loh, hak-hak untuk Novi itu hilang kalau aku mau." Mamah memberi ancaman dengan nada santai.


"Bukan begitu, Bu. Saya…."


Gara-gara persoalan ini, kasus perceraianku menjadi lebih panjang lagi. Aku tidak mengerti, kenapa Novi sampai berani mengacak-acak mutasi rekeningku. Aku kira, ia hanya menggunakan uang dari kartu debit yang aku beri padanya. Ternyata, Novi sudah selancang itu.


Aku khawatir, malah sertifikat tanahku digadaikan olehnya. Aku tidak menuduh, hanya khawatir saja.


Kami berada di kamar mamah, karena papah tengah kambuh darah tingginya. Tidak heran, jika Canda menjadi garda terdepan untuk mengurus papah selain mamah. Karena Canda pun begitu diurus oleh orang tuaku, ketika dirinya sakit.


"Siapa yang urus, Dek?" tanyaku dengan memperhatikan Canda dari samping.


"Kakak Ipar, Far!" Suara tegas mamah membuatkan tersadar.


"Eh iya, lupa." Aku cekikikan sendiri.


"Itu tuh, orangnya bang Daeng. Lupa siapa namanya, nanti aku tanya mangge. Tapi waktu cerai sama bang Daeng sih, aku khulu lewat mamah."


Aku tidak berpengalaman bercerai, aku hanya menurut sesuai proses.


"Lagian cepet-cepet mau ke mana? Udah ngebet kah si Acanya?"

__ADS_1


Sungguh, aku kaget mendengar ucapan papah. Aku hanya diam, dengan memperhatikan wajah papah yang menghadap pada Cani. Cani di rebahkan di tengah ranjang. Ia tengah memainkan jemari kakeknya, yang kulitnya sangat kontras dengan warna kulitnya.


"Abang tau?" Mamah malah tertawa kecil.


"Tak, cuma sorotnya udah beda dua orang ini. Beli rumah jadi alasan, Abang malah berpikir rumah buat tempat mereka mojok berdua itu." Papah tengah menyindirku.


"Mana rumahnya tembusan ke perusahaannya Ghifar ya, Pah? Kan bisa tuh lewat rumah itu, kalau mau ke pabrik." Canda menunjuk ke arah rumah baru kak Aca.


Tentunya, Ra juga ikut ke sana. Jaraknya tidak begitu jauh, mungkin hanya sepuluh menit berjalan. Rumah itu ada di ujung jalan, dengan sampai jalannya adalah full lahan kopi. Sebelah kiri jalan adalah lahan kopi, sebelah kanan jalan adalah perkampungan dan salah satu rumahnya milik kak Aca.


"Iya, ke situ-situnya kan kita tak tau. Namanya orang berangkat kerja tiap hari, mana tau pulangnya singgah, atau cuma sekedar singgah makan siang," tambah papah kemudian.


Apa papah memiliki mata-mata? Apa karena setiap pulang kerja, entah Ra atau Nahda, ataupun dua-duanya ikut pulang bersamaku juga?


"Tapi biasanya kalau Ghifar itu ninggalin jejak merah, Pah. Cek aja kak Acanya."


Bisa-bisanya Canda membuka kartuku? Inilah tidak enaknya curhat ataupun melakukan sesuatu dengan Canda, ia akan membocorkannya karena mulutnya ember.


Papah sampai bisa tertawa lepas. Canda sudah seperti hiburan untuk papah, padahal Canda tidak berniat untuk melawak.


"Aku tak sampai gitu-gitu lah, kak Aca mahal, susah dirayu." Bahkan emas pun sudah kuberikan, nyatanya tidak dapat satu kecupan manis sedikitpun.


Sampai mana hubunganku? Masih sampai sebatas aku membuat baper dirinya, tapi hal itu tidak mempan. Yang ada, aku yang semakin tidak sabar sendiri. Salahku juga, malah nyaman bertukar pikiran dengannya. Membuatku semakin dalam terjatuh pada keisenganku sendiri.


"Udah pernah nikah karena mesum, udah pernah nikah karena buru-buru anak tak ada yang urus. Papah harap, kau tak ulangi kebodohan kau. Pilihlah yang terbaik, bukan cuma untuk mesum, bukan hanya untuk menjadi partner orang tua yang baik, bukan hanya sekedar cocok menjadi teman ngobrol juga."


Aku malah berpikir, jadi untuk apa pernikahan itu?


"Aku pernah ditawari mas Givan, untuk hanya jadi partner orang tua yang baik, karena aku tak mau ngeresponnya di malam pertama setelah kita rujuk. Jadi nikah itu, ya untuk mesum juga lah, Pah." Tumben Canda berpikir juga.


"Papah juga nikahin Mamah, karena kepergok mesum juga. Keknya pernikahan itu, memang untuk mesum deh." Mamah melirikku dan Canda bergantian.


Aku tahu, mamah ingin tahu jawabanku mengenai tujuan pernikahan. Mamah hanya pura-pura tidak tahu saja, agar aku menimpali. Karena sepertinya, mamah meragukan tujuanku untuk menikah karena pernah merasakan kegagalan ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2