Istri Sambung

Istri Sambung
IS53. Hantu menangis


__ADS_3

Novi tertidur dengan gaun malam berwarna merah. Dadanya sampai tumpah, karena posisinya miring ke arah kanan. Belum lagi pemandangan paha indah itu, dengan kulit semulus salju. Aroma yang menggiurkan, tetapi malah menjadikan bumerang untuk diriku sendiri.


Aku tak mungkin membiarkannya tidur di sini dengan pakaian seperti itu, tapi aku tak mungkin membuatnya terbangun untuk pindah ke kamar. Itu bukan pilihan yang bagus.


Aku akan menaruh selimut di dekatnya saja. Karena, aku takut ia terbangun jika aku menyelimutinya.


Hingga pagi datang, aku langsung mengurus anak-anakku lagi. Mulai dari membantu mereka mandi dan berpakaian, kemudian kami keluar kamar bersama.


Pemandangan Novi masih tertidur dengan berselimut, membuat moodku langsung berubah. Aku kira, Novi mengurus sarapan kami.


Ya sudahlah. Aku tak mau berharap banyak padanya.


"Tante Cantik tak pulang, Pa?" tanya Kal dengan mendongak menatapku.


Duh, bagaimana aku menjelaskan.


"Udah ayo sarapan dulu." aku menggiring mereka ke dapur.


Dengan terburu-buru, aku membuatkan mereka sayur bayam dan wortel. Hanya ini masakan andalanku. Toh, mereka tidak pernah komplain juga.


"Papa mau ada kerjaan di luar kota. Kak Kal sama Adek Kaf ikut dan bobo di biyung ya? Nanti baju sama buku pelajarannya, Papa bawa ke rumah biyung." aku mengatakan hal itu, saat mereka mulai makan.


Kal dan Kaf saling memandang.


"Ya, Papa. Jangan lama-lama ya, Pa?" jawab Kal kemudian.


"Pa, apa nanti aku sendirian?" Kaf terlihat panik.


"Tak, kan banyak saudara Kaf di rumah biyung. Ada bang Chandra, bang Zio, kak Key, ada kak Jasmine juga. Bisa main sama adek Ceysa juga, adek Ra juga ada di sana." aku tersenyum dengan mengusap kepala Kaf.


Kaf hanya mengangguk, kemudian ia melanjutkan sarapannya.


Beberapa waktu kemudian, aku sudah mengantarkan pakaian anak-anak dan buku mereka ke rumah bang Givan. Aku pun, sudah menitipkan anak-anak pada mereka.


Kini, aku tengah menahan keminatanku saat membangunkan Novi. Entah kenapa, sampai pukul sembilan ia belum juga terbangun.


"Kau sakit kah, Nov?" aku merapihkan anak rambutnya.


Matanya langsung terbuka lebar. Namun, bengkak pada kelopak dan kantung matanya tidak bisa disembunyikan. Apa Novi menangis semalaman?


"Tak." matanya tertutup kembali.


"Bangunlah! Siap-siap, aku udah lagi manasin mobil. Ayo kita berangkat liburan." ucapku kemudian.


Senyumnya tiba-tiba terukir, "Kita jadi liburan?" ia langsung duduk dari posisinya.


Selimut itu merosot ke perutnya. Kekenyalan itu terlihat jelas, meski tertutupi dress malam itu. Itu terlihat lebih indah dan besar, ketimbang milik mamanya anak-anakku. Mungkin, karena barang itu masih gress. Belum pernah dipakai untuk meny*sui anak

__ADS_1


Aku memejamkan mataku, kemudian memijat pangkal hidungku. Aku harus rileks, agar aku tidak mimisan.


"Jadi?" satu kata itu terdengar menggantung.


"Sana prepare, aku mau ngunciin jendela dan lepas tabung gas." aku bangkit, kemudian meninggalkannya.


Ujian sekali, Ya Allah.


Memang halal untukku. Hanya saja, ini tak aman untuk kondisiku.


Cukup lama, aku menunggu Novi bersiap. Aku sampai mematikan mesin mobil yang aku panasi tadi, karena sudah terlalu lama.


Aku teringat kemarin saat Novi berhias. Ia membutuhkan waktu untuk itu. Apa ia tidak merasa cantik kah, jika hanya memberi polesan pada bibirnya saja? Aku dulu sampai request pada Kinasya, ia aku izinkan berhias dengan hanya memoles bibir dan mengatur bulu matanya agar lebih lentik saja.


Novi malah bulu matanya sudah lentik dan tebal, tetapi segala ia mewarnai wajahnya. Bukan aku tidak suka, tapi aku tidak sabar menunggunya berhias terlalu lama.


Akhirnya, si cantik itu keluar dengan koper yang sebagian ada beberapa bajuku. Aku sudah meletakkan beberapa pakaianku di dalam koper, yang aku taruh di atas tempat tidur. Novi ternyata paham, bahwa koper kecil itu yang digunakan untuk kami bepergian


"Ayo, Bang." Novi memamerkan keindahan senyumnya.


Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil alih koper tersebut. Setelahnya, aku langsung tancap gas dengan Novi di sampingku.


"Kita ke mana, Bang?" tanya Novi kemudian.


"Ke pantai Ulee Lheue, di sana banyak villa bagus."


"Bukannya, itu pantai pusat tsunami dulu ya?" aku bisa menangkap suara terbata-bata itu.


"Jika satu daerah pernah mengalami bencana, biasanya malah aman dari bencana serupa." sahutku santai.


Novi hanya mengangguk. Ia terdiam, dengan memandang sekitar.


Aku pun tidak bisa membuka obrolan, ketika tengah berkendara. Fokusku terbagi, aku khawatir tidak konsentrasi mengemudi.


Sekitar tujuh jam perjalanan, akhirnya kami sampai di salah satu villa yang sudah aku booking secara online.


Novi langsung bersantap, dengan aku yang memilih untuk tidur sejenak. Aku lelah mengemudi tanpa istirahat.


Ah, tiba-tiba aku teringat pada Novi yang belum sempat sarapan pagi tadi. Pantas saja, ia langsung pesan makanan.


Aku memilih untuk tidur beberapa menit saja, daripada melihat pemandangan Novi bersantap itu. Karena gerakan bibirnya, seolah tengah menarikku untuk ikut menikmati bibirnya. Bukan makanannya.


Tidurku terganggu, dengan suara isakan yang membuatku merinding. Apa villa ini berhantu?


Aku mengedarkan pandanganku, untuk melihat sekeliling. Ini sudah petang. Saat melihat jam dinding, ternyata sudah pukul tujuh malam. Masa iya masih sore, setan sudah muncul saja?


Eh, tapi Novi ke mana?

__ADS_1


"Nov?" aku memanggilnya, untuk memastikan keberadaannya.


"Novi…." aku mengedarkan pandanganku, dengan menelusuri ruangan ini.


Aku mendengar gemericik air di kamar mandi. Jangan-jangan, itu adalah Novi.


"Novi…." aku menyerukan namanya lagi.


"Ya, Bang. Aku lagi mandi." sahut Novi dari dalam kamar mandi.


Lalu, suara menangis itu dari mana?


Aduh, benarkah ada setan?


"Cepat, gantian." aku berbicara di depan kamar mandi.


"Tinggal masuk aja, tak dikunci kok."


Heh?


Ide macam apa itu?


"Aku mau BAB." tentu saja aku berbohong.


"Ya, Bang. Aku lagi bilas, sebentar."


Aku meninggalkan kamar mandi, kemudian kembali ke ranjang. Untungnya, suara orang menangis itu sudah hilang.


Jika masih ada, mungkin aku akan meninggalkan kamar ini secepatnya.


Tak lama kemudian, Novi keluar dari kamar mandi dengan mata yang merah dan bengkak. Apa ia habis berenang di dalam sana? Apa ia terkena ciptakan sabun? Atau, ia habis menangis?


Tapi menangis karena apa?


Aku merasa, aku tidak jahat padanya.


"Sholat duluan aja, aku mau mandi dulu." aku berjalan ke arah kamar mandi.


Aku melihat dari ekor mataku, bahwa Novi tengah mengusap ujung matanya.


Kenapa aku merasa ada kekeliruan dengan sikapku, sehingga membuatnya menangis?


Ya, aku rasa suara tangisan tadi bukanlah hantu. Melainkan, Novi yang menangis di kamar mandi. Membuat, suara tangisan itu menggema.


Adakah yang bisa menjawabnya?


Karena bahkan aku tidak memintanya untuk mengurus anak-anak saat pagi tadi. Aku pun tak memintanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan aku menyempatkan mencuci perabotan rumah tangga yang kotor, setelah membuatkan sarapan untuk anak-anak.

__ADS_1


Adakah yang bisa membuatku mengerti, dengan hal yang membuat Novi menangis tidak jelas?


...****************...


__ADS_2