
"Nah, terus…. Aku bilang begini, kau pacaran lama sama Novi tuh sering cekcok tak. Dia langsung ngangguk-ngangguk tuh. Katanya kalau Novi bukan saudaranya bang Givan, udah dia tinggalkan dari awal. Cuma tak enaknya, kalau ada cekcok sama Novi, bang Givan negur katanya. Jadi, Nandonya tak enak hati sendiri sama bang Givan. Udah ngaduan, ungkit-ungkit, terus kalau sendirinya salah itu, tiba-tiba nomornya tak aktif, dia pun susah ditemui. Aku tanya kan, memang kalau susah ditemui itu ke mana, kan Novi tinggal sama mamahku di sini. Aku tanya begitu, Nando jawab ya Novi balik ke adiknya ibunya. Kalau Nando tanya ke bang Givan gitu, bang Givan tanya balik ke Novi tuh katanya lagi liburan lah, atau alasan nengokin tantenya. Kalau pas lagi marahan begitu, ya nomor Nando diblokir Novi. Awalnya Nando mikirnya, ah paling bener liburan. Tapi, kurang lebih pacaran dua tahun tuh begitu terus ceritanya katanya. Berantem, dia yang salah, ya dia yang ngilang. Kalau Nando yang salah, ya Nando yang diungkit-ungkit terus. Dari tak mau nikahin lah, ngatain pengangguran lah. Si Nando ini kan pesuruhnya bang Givan, kalau bang Givan nyuruh ya dia repot, tak nyuruh ya dia tak ada kerjaan. Mau kerja di mana lagi katanya, yang repotnya sekali, tapi bayarannya cukup untuk kebutuhan hidup setahun katanya. Makanya bertahan jadi pesuruhnya bang Givan aja." Ghava pun sampai penasaran dengan Novi.
Ternyata, seperti itu ya perempuan yang kupersunting?
"Makanya pas diputuskan Novi, Nando langsung olah gerak cari istri. Kesempatan, mumpung Novi yang mutusin katanya. Dia ada jalan sama kau, dia ada jalan sama temen-temen kerjanya, Novi disalahkan dan ditegur Nando lewat telpon itu tak mau. Udah tuh, langsung blokir nomor Nando, dia hilang kabar beberapa hari," lanjut Ghava kemudian.
Ternyata, Nando tahu aku beberapa kali sempat berboncengan motor atau berkendara bersama Novi. Pantas saja, sorot matanya agak lain melihatku. Ternyata, aku salah satu permasalahan asmaranya dengan Novi.
"Udah watak dan kebiasaan ya?" Responku dengan manggut-manggut.
"Tapi, harusnya tak begitu sama suami lah. Winda kan ada minusnya juga, selingkuh dan jalan sama mantan. Tapi sejak aku nikahi, tak begitu dia. Aku cek HP-nya juga, tak ada dia jejak hubungi mantan-mantannya. Kalau WA kan, bisa dicek itu nomor yang sering dihubungi atau lepas chat bareng. Isinya ya cuma chat dari aku, Anisa, ipar-ipar yang lain, sama ibu mertuanya yang nyuruh dia ke rumah sambil bawa rantang." Ghava bisa saja, aku jadi tertawa kecil.
"Dah ah, capek. Istirahat dulu." Tiga gadis kecil itu, duduk di tangga teras dengan napas kelelahannya.
"Ma, minta minum," seruku dengan menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Ya, Far. Ma ambilkan dulu." Ma Nilam menyahuti, kemudian muncul dengan segelas penuh air putih yang langsung disambut tiga anak tersebut.
Ma Nilam adalah istri mangge Yusuf, yang menikah di bulan yang sama dengan kepergian bang Lendra. Mangge Yusuf menikahi ma Nilam, untuk kepentingan akte kelahiran Jasmine. Baca ceritanya dalam novel Canda Pagi Dinanti.
"Ya karena mungkin kau udah nyukupin Winda kali." Aku baru menyahuti ucapan Ghava.
"Tak juga. Di awal aku wisuda, malah bareng-bareng kita jadi tukang foto uang rokok aja. Coba tanyakan ke Winda sendiri aja, aku tak pernah nanya-nanya soalnya takut emosi. Yang aku jalani hari ini, ya jadi bahan komunikasiku sama Winda. Aku tak pernah bahas yang lalu-lalu, bahas mantan apalagi, anti betul kami ini, Bang." Berarti bukan hanya Ghava saja, Winda pun ternyata sama dengan Ghava.
"Kok bisa tak bahas mantan? Memang kenapa kalau ungkit mantan?" Aku penasaran tentang ini menurut orang lain. Aku pun tak pernah membahas, Kin pun sama. Hanya entah mengapa, aku jadi ingin tahu alasan Novi sering mengungkit mantan. Yang mungkin alasannya bisa dijawab oleh orang lain.
"Aku kadang kebawa emosi gitu. Misal ada Giska, Zuhdi, terus Ahya datang dengan mata yang tidak ramah ke Zuhdi. Begitu aja tuh, aku udah emosi, Bang. Aku kepikiran, gimana gitu perasaan Giska. Kita pernah bahas mantan, akhirnya tuh berantem. Udah punya rumah sendiri, aku tak balik, aku tidur semalaman di studio. Kepikiran terus ucapan Winda, hawanya pengen baku hantam aja udah aku nih. Besoknya aku lemparin panci-panci Winda, aku marahin Winda, dengan emosi yang aku luapin ke barang-barang. Aku tak mungkin tiba-tiba mukulin istri sendiri, padahal aku yang nanya sendiri tentang mantannya yang paling bikin aku cemburu waktu dulu. Aku loh yang nyari gara-gara sendiri, masa aku pukuli Winda? Kan aku yang minta Winda buat jujur, yang ternyata jawabannya di luar ekspektasi aku. Abis lempar-lempar alat dapur, Winda balik marah ke aku. Dia kan pintar kan kalau ngomong? Dibalik-balikin lah itu ucapan aku semuanya. Katanya, lagian kita hidup itu di masa sekarang, harusnya kita bahas masa depan. Ngapain bahas masa lalu, yang jelas udah kelewat. Kalau ternyata mantan aku lebih bagus dari abang, kenapa abang marah, kan abang sendiri yang minta dibandingkan. Udah tuh, mulai saat itu aku tak pernah nanya-nanya lagi. Nanti aku sakit hati sendiri, nanti aku yang emosi sendiri. Yang terpenting kan, Winda tak ada komunikasi lagi dan kepo lagi tentang mantannya. Dia pun setia dan jadi istri yang baik. Ributin baju di lemari habis aja udah cukup heboh, tanpa perlu bahas mantan untuk gali keributan." Aku tertawa kembali, mendengar akhir cerita Ghava.
Aku ingat sekali, saat Winda rutin mengenakan kaos futsal suaminya. Yang pernah aku tanyakan langsung pada Winda, lalu Winda pun menjawabnya jujur jika pakaian di lemari habis.
Dari cerita kami semua, tentu kalian pasti memahami bahwa setiap istri itu punya titik kemalasan masing-masing. Tapi jujur, aku tidak paham Novi malas dalam bidang pekerjaan apa. Karena rumah selalu kinclong, perabotan dapur yang bersih, tidak ada piring kotor dan pakaian yang tersusun rapi.
__ADS_1
Ya mungkin, Novi malas meladeni suaminya. Ia menikah denganku, hanya untuk menghilangkan selaput daranya secara baik-baik.
"Jadi masih aja drama pakaian habis?" Aku mencoba melipurkan laraku dengan cerita-cerita drama rumah tangga adikku.
"Sering lah, Bang." Ghava sampai menjawab cepat.
"Sering betul anak-anak aku dipakaikan diapers aja, karena pakaian habis. Pernah juga aku hampir cekik Winda, karena seragam Adib dari Senin lalu sampai dipakai ke Senin depan karena belum dicuci. Entah-entah aku sih, bisa balik ke rumah mamah, pinjam baju papah lah gitu kasarnya. Nah ini, seragam sekolah anak-anak. Rasanya aku pengen maki-maki mesin cuci di rumah, yang tak mau ambil baju kotor sendiri dan masukin deterjen sendiri. Nah udah kering nih tumpukan pakaian, Bang. Itu tak langsung dilipat dan masuk lemari, mesti aja itu aku kalau mau salin ngacak-ngacak jemuran kering dulu. Kalau mau pakai kemeja, aku dadakan setrika sendiri. Kadang heran aja aku sama Winda, mesin cuci otomatis aja malas, apalagi cuci manual. Tak pernah dia cuci baju, kalau di lemari masih ada stok." Ghava bercerita dengan urat kesalnya.
Sontak saja, aku terus terbahak-bahak mendengar dirinya bercerita cepat tersebut. Aku tidak mengerti juga, kenapa para istri suka sekali menguji kesabaran suaminya?
Mamah yang harus dibantu suaminya saja, ketika melakukan pekerjaan rumah. Canda yang harus diberi perintah saja, aku sampai hafal ketika masih hidup bersama keluarga besar di rumah mamah. Lalu Tika yang rajin dan cekatan mengurus anak, tapi suaminya terbengkalai. Giska yang tidak jauh berbeda dengan mamah, Zuhdi pun harus selalu turun tangan membantu kesibukan Giska. Sedangkan Winda, yang dramanya dengan isi lemari yang habis terus.
Bisa dibayangkan, jika semua sifat minum perempuan itu dikumpulkan di dalam satu perempuan. Ah, semoga bukan tulang rusukku.
...****************...
__ADS_1