
"Ah iya, betul. Novi ada skandal kah sama bang Ken? Kan dulu itu, dia itu pernah jalan sama bang Ken."
Canda tahu ini, tapi ia tidak bercerita padaku.
"Kenapa kau tak pernah bilang?" tanyaku cepat.
"Aku lupa lah, Far. Kenangan aku kan cuma kita, kita, kita. Mana ada aku ingat laki-laki lain, apalagi merhatiin bang Ken yang cuma sekali antar ke car free day aja." Seenteng itu mulutnya, saat mengatakannya di telinga ibuku.
Aku tidak mengerti lagi, dengan konsep kebenaran otak menantu satu ini. Absurd dan random.
Mamah geleng-geleng kepala, kemudian melirikku sekilas. Canda yang mengatakan, tapi aku yang mendapat lirikan tidak ramah.
Rengekan anak perempuan terdengar manja, itu pasti Cani. Anak bungsu mereka, yang berjenis kelamin perempuan kembali.
"Nenek nih, Nak. Video call, Mah." Beberapa saat, begitu jelas rupa Canda yang tengah memangku anak perempuan.
Warna daster dan hijab pashmina itu, terlihat pas di wajah kalemnya. Cantiknya anak yang berada di pangkuannya, ia benar-benar mirip seperti Canda. Dengan hijab yang begitu imut, di tubuh bayi itu. Entah berusia berapa bulan, anak perempuan yang Canda dekap itu.
"Cani mau ikut yayah kerja ya?" Mamah tersenyum bahagia, melihat cucunya yang nampak paling alim itu.
"Iya dong, Nek. Biyung disuruh nyetrika sama yayah, yayah ewel. Biasanya laundry juga, tapi katanya sekarang bau parfumnya tak sesuai hidungnya." Canda menggerak-gerakkan tangan Cani.
"Ya kerjaan kau masa cuma nyuci daleman aja, pakaian kerja suami, mesti aja laundry. Sekali-kali lah, pakai obat semprot yang warna ungu tuh, Cendol. Yang udah aku tunjukkan." Suara itu mendekat, hingga hinggap laki-laki panutan enam anak itu di sebelah Canda.
"Eit, cie…. Yang mau jadi duda lagi," ledek bang Givan, dengan menaik turunkan alisnya.
Pasti bang Ken sudah cerita banyak pada bang Givan.
"Kau tau, Van?" tanya mamah kemudian.
"Semalam aku nelpon lama sama bang Ken. Sampai akhirnya, ditinggal tidur Canda." Wajahnya langsung berubah murung dan sendu.
Canda tertawa geli, kemudian ia mencubit perut suaminya. Bisa-bisanya mereka romantis seperti itu, ketika tengah video call dengan mamah? Aku jadi iri.
"Tanya Mamah tuh, gimana caranya setrika uap. Aku udah ajarkan, airnya jangan sampai salah tuang." Bang Givan mengambil alih anak yang berada di pangkuan Canda.
"Yaiya, Yaya, yaiya, yayayyaya…." Celotehan anak perempuan itu sungguh bahagia.
__ADS_1
Pasti ia dominan ayahnya lagi seperti Ra.
"Iya, ini Yayah. Anak Yayah, sholehah ya Nak?" Bang Givan menciumi wajah anaknya.
Berkemeja rapi, tetapi menggendong anak. Langka pemandangan seperti itu, pasti hanya di novel author kita saja.
"Berangkat kerja dulu, Canda. Kunci pintunya! Ingatkan jam duaan spam chat, spam panggilan ya?"
Adegan di layar ponsel adalah Canda yang mencium tangan bang Givan. Kemudian, bang Givan menciumi seluruh wajah Canda.
Setahuku, jarak perumahan mereka dengan kantor pusat pertambangan bang Givan cukup dekat. Tapi, pamitnya bagaikan akan keluar kota.
"Masnya tuh, kalau udah waktunya pulang, ya udah sih pulang aja. Masa, mesti aku spam dulu?" Canda merapikan kerah kemeja suaminya.
"Tak enak sama klien. Nanti kan, aku bisa alasan kalau kau spam terus."
Pemandangan kini, adalah Canda yang menciumi wajah anak perempuan yang berada di dekapan ayahnya itu.
Keluarga bahagia.
Hilang sejenak wujud Canda, mungkin ia tengah mengunci pintu rumah. Sampai muncul lagi senyum sumringah itu, yang membuat mamah geleng-geleng kepala.
"Kau ngerepotin anak Mamah aja, Canda. Awas aja kau, kalau doakan yang jelek-jelek."
Jika menantunya waras, pasti akan menangis. Bukannya terbahak-bahak seperti ini.
"Doa menyesuaikan, Mah," sahut Canda kemudian.
"Ya udah cepat cerita lagi." Mamah mengembalikan topik pembicaraan kami.
"Cerita apa, Mah? Orang aku cuma tau itu aja kok, car free day itu kenalan di parkiran. Malamnya aku minta ikut bang Ken, katanya mau beli jajanan aja. Pas baliknya aku tanya mana jajannya, orang katanya abis ngedate sama cewek. Ya udah lah, aku bete kan. Udah nungguin pulangnya, kirain betul mau beli jajanan pas keluar itu. Eh gak taunya, ngedate sama cewek yang di parkiran itu."
Aku jadi bingung. Masa pulang dari Bali itu, memang Novi tinggal di mana? Setahuku, tante Bena dan om Edi tinggal di rumah bersama omah.
"Memang bener ceweknya Novi?" Aku bertanya pada kakak ipar polos itu.
Canda mengangguk. "Iya, Far. Tapi namanya bukan Novi deh, kalau tak salah. Pas Novi datang di nikahan kau sama Kin juga, aku samar kalau itu Novi yang di parkiran. Intinya, ya lupa lah. Orang cuma sepintas aja."
__ADS_1
Benar, Canda hanya tahu sepintas.
"Suami kau sibuk ya, Canda?" tukas mamah dengan raut pusing.
"Ya, Mah. Nanti jam dua janji pulang. Kita mau liburan dekat-dekat sini."
"Oh, ya udah. Ati-ati ya? Pegangan Givan terus nanti pas liburan."
Kasih sayang mamah itu besar untuk Canda. Cuma kadang tidak terlihat, karena ucapannya berbanding terbalik.
"Ya, Mah. Aku sering kesandung, kalau pegangan mas Givan kan aman aja." Dengan polosnya ia menjawab lurus.
Mamah terkekeh. "Gih aktivitas, nyetrikanya sesuai yang Givan minta. Nurut aja, disuruh pakai pewangi warna ungu tuh. Biar kau tak dimarahin lagi nantinya. Setiap kali kau nelpon, ngadu karena dimarahin suami terus. Mamah tanyain anak Mamahnya, ternyata kaunya yang bikin dia emosi terus." Padahal mereka jauh, tapi tetap saja terkontrol oleh mamah.
Aku yang dekat, malah kecolongan terus.
"Mas Givan tuh rewel betul, Mah. Kadang tuh, aku pikir lebih mudah pakai cara aku. Tapi salah menurutnya." Canda cemberut di seberang sana.
Kulihat dedek gemas. Rasanya, ahhhh.
"Ikuti aja alurnya. Payahnya kita itu, harus nampak di matanya. Biar dia kasian, kalau terus nuntut kau kek yang dia mau. Kau yang percaya aja, kalau Givan tak mungkin setega itu pakai tenaga kau. Mungkin dia pengen manja-manja, biar kesannya diurus istri. Mungkin dia ada iri juga, karena istrinya itu tak kek istri temannya yang bisa urus anak dan suaminya sekaligus. Cuma pasti, dia bakal nyadarin juga. Gimana kemampuan manusia yang jadi istrinya, dengan perempuan lain yang jadi istri temannya. Oke? Yang nurut ya?"
Canda mengangguk-angguk, bagaikan boneka dasbor.
"Udah dulu ya? Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah ponsel diletakan di meja, aku dan mamah malah beradu pandang.
"Mamah ngerasa, Ken tak bohong. Tapi, Mamah pun ngerasa Novi tak segatal itu. Keknya, cuma salah paham aja deh," ujar mamah dengan membenahi hijabnya.
"Entahlah, Mah. Novi bungkam aja. Entah-entah, dia ngerasa bersalah. Atau, entah juga dia ngerasa takut. Aku tak tau pasti letak masalahnya." Aku memilih untuk merebahkan kepalaku di atas pangkuan mamah.
"Ayo kita ke rumah kau aja. Kita tanya Novi." Mamah menepuk pipiku pelan.
...****************...
__ADS_1