Istri Sambung

Istri Sambung
IS198. Siasat baru


__ADS_3

"Aku bantu juga kok, Bang." Aku dan bang Givan tengah membicarakan perihal usaha papah yang butuh banyak bantuan.


Teh manis buatan mamah, menemani obrolan kami.


"Yayah…."


Loh? Si Tuyul yang baru saja digiring pulang, malah kembali lagi.


"Papa, rumah aku tiang depannya roboh, atap belakangnya ilang," adu Nahda dengan menenteng kembali kantong plastik berisi lauk makan dalam tepak makan.


Kak Aca melangkah lunglai dengan bibir yang cemberut. "Rumah baru, roboh." Ia geleng-geleng kepala dengan menggerutu.


Eh, malah bang Givan yang tertawa lepas. "Rumah baru apanya? Kan itu beli bekas. Lagian ada yayang, minta ayang buat cas dana dong." Bang Givan menyikutku.


"Tinggal di rumah aku aja, aku di sini sama mamah." Itu sudah paling benar menurutku.


"Mau ke mak cek dulu lah. Pusing aku." Kak Aca melangkah masuk ke dalam, meninggalkan dua anak perempuan yang berjingkrakan di halaman depan ini.


Kini posisiku dan bang Givan, malah fokus memperhatikan anak-anak. Bukan tanpa sebab, mereka sering sekali terjatuh dan menangis. Bukan berantem, karena Nahda malah terbiasa mengalah dari Ra.


"Kena belum, Far?" Bang Givan menyikutku kembali.


"Apa yang kena?" Aku meliriknya.


"Aca. Kau makan belum dia?" Matanya fokus pada anak-anak yang tengah memetik bunga ashar, bunga yang bermekaran ketika pukul empat sore.


"Coba tanyakan, enak aku atau kau gitu." Tawa renyahnya menandakan seperti ia tengah bergurau.


Tapi aku merasa, ia tengah mencoba membandingkan kami. Aku teringat akan cerita Canda saat dirinya tengah dalam kuasa paksa bang Givan, ia pun diminta untuk membandingkan miliknya dan milikku.


"Tegang gitu sih! Gurau aja kali." Bang Givan menepuk pundakku dan mengusap-usapnya.


"Serius kah gurau?" Karena instingku merasa bahwa ini benar tengah membandingkan.


"Gurau aja, Far." Ia malah turun dari bangku panjang ini, dengan membawa gelas tehnya.


"Teh nih, Ra. Nahda mau tak?" Bang Givan mengajak anak-anak tersebut masuk ke dalam rumah.


Aku langsung gelisah saja. Aku tidak bisa mendengar ucapan seperti itu, meski dengan nada bergurau.


Cepat malam, agar aku bisa mengobrol dengan kak Aca.


Sayangnya, kak Aca malah tidur di rumah mamah. Kak Aca tidak diizinkan untuk menempati rumahku. Padahal kan, aku ingin banyak bercerita dan bertanya padanya.


"Mau ke mana?" Bahkan papah duduk manis mengawasi kamar yang kak Aca tempati bersama anak-anak.

__ADS_1


Papah duduk dengan bermain ponsel dan juga menyeruput kopi. Entah apa yang membuat beliau malah duduk di ruang tamu pukul sembilan malam ini.


"Boleh aku ke kak Aca, Pah? Aku mau ngobrol." Aku sampai meminta izin.


"Udah malam, anak-anak juga keknya lagi dikeloni. Chat aja, Far." Cenderung seperti larangan.


"Pengen ngomong langsung, Pah. Penting." Aku bahkan tadi baru saja bertukar chat, tapi aku tidak puas mengobrol lewat ponsel.


"Sebulan bisa?" Mamah muncul dari belakang tubuhku.


"Apanya, Mah?" Aku memperhatikan beliau yang langsung duduk di sebelah suaminya.


"Perlahan udahinnya, Mamah tak enak sama pakde kau. Dia tak mau intinya, banyak khawatirnya. Mamah tak mungkin cerita detailnya ke kau, nanti kau malah kepikiran lagi."


Langsung mumet. Baru saja menikah, bagaimana harus menyudahinya? Sedangkan, kami tetap ingin bersama sampai nekat menikah diam-diam.


Aku menarik-narik rambutku, lalu melangkah kembali ke kamarku. Ajakan untuk duduk bersama dan mengobrol tersebut, tak aku sanggupi. Pikiranku begitu rumit sekarang.


"Ma." Aku langsung melakukan panggilan suara.


Bukannya sahutan. Namun, aku mendengar suara orang yang menguap. Aku jadi teringat dengan Canda, yang menguap di mana saja tanpa menjaga image.


"Eummm? Kemereman, ngantuk betul." Terdengar suaranya yang malah menguap lagi.


"Pengen banyak cerita." Aku merengek seperti anak kecil.


"Tak boleh sama papah." Aku mengadu layaknya anak kecil.


"Jangan nyerah, jangan sedih gitu. Ini baru awal perjuangan kita. Setelah ini, kita bakal lebih sering ngumpet-ngumpet dari orang rumah. Aku udah bilang mak cek untuk jual rumah yang di situ, terus mau ambil perumahan sebrang jalan, biar Papa tak ketahuan orang rumah kalau ngunjungin aku."


Begitu matang rencananya.


"Perihal hutang, aku pasti cicil kok. Akadnya hutang, aku pasti lunasi," lanjutnya yang membuatku melongo, padahal ia tengah terkena musibah karena rumahnya hampir roboh.


"Aku pengen ngobrol langsung, bukan bahas hutang." Aku malah kesal sendiri di sini.


"Nanti nunggu agak maleman, biar mak cek tidur dulu."


Jadi, aku harus mengendap-endap lagi?


"Nanti buka jendela aja deh. Aku mau keluar dulu, nanti masuk ke kamar lewat jendela, terus keluar dari jendela lagi dan masuk lewat pintu samping. Biar tak ada yang curiga." Aku akan cosplay jadi maling di rumah orang tuaku sendiri. Ditambah lagi, jendela kamar kak Aca berada di belakang garasi rumah. Jadi aku keluar masuk dari jendela itu pasti tidak terlihat dari depan rumah.


"Aku setuju. Tapi mau ke mana?"


Aku laki-laki baik-baik, jauh-jauhnya aku hanya ke kedai kopi.

__ADS_1


"Ke depan sini aja. Riyana Studio kan ramai terus, apal warga lagi banyak perbaikan. Denger aja, suara ketak-ketok palu dan gotong royong masih kedengaran."


Bukan rumah ataupun nyawa, tapi usaha orang tuaku hancur. Usaha terbesar, yang sumbernya berasal dari ladang semua.


"Oke deh, jangan jauh-jauh ya?" Manis sekali suaranya. Aku malah tiba-tiba ingin membuatnya menyebutkan namaku.


"Oke, buka aja kunci jendelanya. Pintu kamarnya aja dikunci, biar orang rumah tak tiba-tiba masuk." Bersamanya, kini aku bermain siasat.


Mamah pun tadi sampai memberikan wejangan, agar aku meninggalkan kak Aca dengan jangka waktu sebulan terakhir. Mungkin ini waktu yang diberikan mamah, karena tidak mungkin pakdhe Arif memberikan kami waktu. Mamah pun sampai tidak menceritakannya dengan detail, pasti karena banyak kejelekan dan penolakan dari pakdhe Arif tentang aku. Sehingga mamah lebih memilih menyimpan sendiri, agar aku tidak stress memikirkan.


"Mau ke mana?"


Aku baru turun tangga dan malah berpapasan dengan papah yang baru mengunci pintu samping.


"Ke depan, Pah. Pengen ngobrol-ngobrol di studio." Aku mencoba untuk santai dan tidak gugup.


"Jangan sampai dini hari. Besok kau cek perusahaan kau sama abang kau." Papah membukakan kembali pintu samping ini.


"Ya, Pah." Aku melangkah ke luar rumah.


Aduh, dinginnya. Daerah kami diguyur hujan sejak pagi sampai jam dua siang. Ketika malam, udara sampai begitu menusuk.


Mana aku hanya mengenakan kaos lengan pendek, dengan dipadukan celana training panjang. Memang di bagian kaki lumayan hangat, karena kainnya cukup tebal. Namun, di bagian badanku serasa menembus ke dalam tulangku.


"Mau ke mana, Bang?" Ria masih keluyuran saja.


"Kau dari mana?" Aku malah berbalik bertanya.


"Minta rokok di bang Dendi, aku kehabisan stok." Ria menunjukkan isi dalam genggaman tangannya.


Tidak banyak, mungkin sekitar tiga batang rokok.


"Kenapa tak beli di warung?" Aku memperhatikannya dari bawah sampai atas. Ia berbeda sekali dengan Canda, perawakannya pun tinggi besar.


"Tutup lah, Bang. Lagian, aku mana pernah beli di warung. Aku malu lah, Bang. Masa bilang disuruh papah beli rokok, kan aneh betul. Orang-orang pada tau kalau papah tak merokok. Aku selalu nyetok berapa slop gitu." Ria sudah celingukan ke arah ruko.


"Pulang ke mana kau? Kantor dan pabrik aman kah?" Aku masih berdiri di depan Riyana Studio.


Benar-benar hilang baja ringan di sini. Entah dibawa ke mana oleh anginnya.


"Ke kak Cendol. Ibu aja di sana, takut katanya. Bangunan rumah kalian kan, atasnya itu beton atapnya. Kek mau dibuat tingkat gitu kan? Tapi dibuat atap aja, jadi tak terbang."


Kami semua memiliki bangunan yang sama dengan beratap beton, karena memiliki rencana untuk meninggikan rumah ketika banyak anak. Agar rumah kami muat ditempati banyak anak-anak.


"Kau ngintilin aja abang ipar kau, kau pernah tak dianu bang Givan?" Aku bertanya lirih.

__ADS_1


Ria memandangku. "Aku…..


...****************...


__ADS_2