Istri Sambung

Istri Sambung
IS297. Menyadarkan


__ADS_3

"KUCEKIK YA KAU!!!"


Aca langsung meloloskan ikat pinggang variasi dari baju tuniknya. Ia berjalan ke arah Farida yang tengah panik. Aku bingung untuk berbuat apa, mengamankan Farida, aku pasti tidak aman dari Aca. Mengamankan Aca, pasti aku yang menjadi sasaran kemarahannya.


"Aku, aku…." Farida melirikku. Aku paham, ia membutuhkan bantuanku. Sayangnya, aku tidak berniat membantunya sama sekali.


"Aku bisa jelaskan," ucap Farida lantang.


"SEKALI LAGI KAU DATANGI SUAMI AKU, AKU DATANGKAN KARANGAN BUNGA BESAR KARENA UDAH BEGITU HEBATNYA MEMIKAT SUAMI ORANG." Aca sudah berada di hadapan Farida, di depan meja Dewi yang terlihat sama bingungnya denganku.


"Kau tak bakal tau alamat rumah aku! Jangan sok ngancam dan berani dengan kekerasan begini. Kau cuma menang badan besar, tidak dengan otak." Farida malah terlihat menantang Aca.


Aku berjalan mendekati mereka, kemudian aku langsung merangkul dan mengusap-usap lengan istriku. "Mah…. Tenang." Aku tidak akan membela diriku sekarang. Karena, tidak ada yang harus aku bela dari diriku sendiri. Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya bekerja seperti biasa. Lalu Farida datang di jam makan siang ini, bertujuan mengajakku makan di luar. Bertepatan sekali dengan Aca datang dengan rantang kedap udara, yang terlihat begitu estetik dari rupanya saja.


"Kau pikir, aku dapatkan suami seorang Ghifar itu cuma dengan badan? Aku pakai otak, aku pakai perasaan dan aku pakai pertimbangan. Terus, kau datangi suaminya aku cuma dengan modal tampang? Kau pikir, kau terlihat cerdas dan berperasaan dengan datangi Ghifar dan goda dia dari istrinya? Perempuan cerdas dan memiliki otak normal, tidak akan pernah tertarik dengan suami orang!!! Perempuan yang punya otak tau, kalau suami orang bukan tempatnya untuk mengharap cinta. Perempuan berperasaan pun pasti bisa memahami menjadi istri yang suaminya kau kejar-kejar. Dengan kau masih mengejar Ghifar dengan status Ghifar yang udah beristri, dia bakal berpikir bahwa perempuan yang tidak berperasaan tidak pantas menjadi ibu dari anak-anaknya. Asal kau perlu tau juga, di awal pun Ghifar yang dekati aku dan anak aku. Bukan aku yang dekati dia dan cari perhatian untuk anak-anaknya. Sebelum menjadi ibu sambung dari anak-anaknya pun, anak-anak Ghifar udah latah manggil aku mama. Kau tak akan bisa memposisikan kau sebagai orang tua dari anak-anak Ghifar, jika fokus kau hanya untuk dapatkan Ghifar. Silahkan, lanjut godain suami orang. Aku yakin, bilamana Ghifar tergoda dengan kau. Aku pastikan saat itu juga, dia bakal bangkrut di tangan yang orang tepat kek kau!" Setelah menunjuk-nunjuk wajah Farida, Aca berbalik badan dan melangkah pergi.


"Ma…. Ma…." Aku menyusul Aca yang berjalan cepat.


"Ma, kan masih sakit. Udah mendingan kah kepalanya?" Aku berhasil merangkul pundaknya.


"Udah sembuh!" ketusnya dalam jawabannya.


"Kok bisa cepat sekali sembuh?" Aku menahannya untuk tidak melangkah cepat.


"Sembuh lah, kan tadi pagi kan Papa janjikan belanja bulanan ulang. Soalnya aku bongkar belanjaan bulanan kemarin di rumah mamah." Aca menjawab dengan langkah yang terhenti di jalan.


Heh? Begini ya? Perempuan bisa sembuh, jika dijanjikan atau diajak belanja ternyata.


"Eh, bisa begitu ya?" Aku terkekeh geli dengan perasaan heranku.


"Ayo pergi belanja sekarang. Kan aku udah ada di luar juga, sekalian mancing Papa keluar kantor dengan alasan kotak makan siang ini."

__ADS_1


Oh, ya ampun. Aku sampai terbahak-bahak seketika dengan memegangi perutku.


"Jangan ketawa." Aca tertawa malu dengan membingkai wajahku.


"Ya udah ayo kita makan siang di luar. Terus belanja bulanan." Aku tak ingin menyia-nyiakan dandanan Aca. Bisa lebih bad mood nanti dia, jika dandanannya tidak dipamerkan untuk berjalan-jalan.


Aca menoleh ke belakang, tepatnya di mana Farida yang masih berdiri di depan meja Dewi dengan memperhatikan kami.


"Asal kau tau juga. Sekalipun aku siri, aku tetap diutamakannya. Berapa lama kau tunggu suami orang untuk mau pergi makan siang dengan kau? Semudah itu loh ajakan suami aku keluar untuk istri sirinya ini." Aca menunjuk dadanya sendiri.


Aku merangkul Aca, sengaja menahan Aca untuk tidak berlari ke arah Farida kembali dengan melayangkan sabuk variasi yang belum digunakan kembali itu. Bisa-bisa, kulit Farida akan bertubrukan dengan sabuk itu seketika.


Aku melihat Farida mengusap air matanya. Wajahnya berekspresi seolah menangis tertahan, dengan masih memperhatikan kami yang berada di ambang pintu.


"Marwah perempuan di jaga di provinsi kita ini, jangan sampai kau rusak marwah kau sendiri! Kau mahal Farida, kau berharga dan bernilai di tangan laki-laki terhormat dan bisa memuliakan kau. Jangan memaksa suami orang, untuk bisa memberi kemuliaan pada kau. Berteman dan meminta bantuan pada suami orang itu ada batasnya. Jadilah perempuan yang terhormat, kasian ayah kau yang lagi sakit itu. Dia masih mengemban tanggung jawab atas kau, juga dosa-dosa yang kau nashabkan ke ayah kau." Aca bertutur keras, tetapi terdengar bernada lembut.


"Aku minta maaf, Kak." Suaranya bergetar, dengan telapak tangan yang terpasang di depan dadanya.


Wow sekali. Apa aku harus ikut memeluk mereka? Tapi jangan sebaiknya, karena istriku galak.


"Kita saling memaafkan ya, Kak. Maaf aku kalau sama ego aku, karena tutur kata Pak Ghifar yang selalu lembut kek ayah aku," ujar Farida, dengan mengusap punggung Aca.


Semoga bayiku tidak terjepit karena pelukan itu. Aku saja ragu-ragu untuk memeluknya erat, karena khawatir anakku terjepit di dalam perut sana.


Jika perempuan terpikat dengan tutur lembutku, apa aku harus bertutur kasar? Tapi, aku sudah terbiasa dari kecil bertutur lembut. Karena mamah selalu meninggikan suaranya lebih kencang, setiap aku meninggikan suaraku. Aku menghindari keributan dan amarah mamah, dengan membiasakan mulutku bertutur lembut. Semata-mata, tutur lembut ini aku tunjukkan untuk ibuku. Tapi, perempuan lain malah terpikat karena ini.


"Iya, aku pun minta maaf. Aku cuma berharap, semoga kau bisa tau caranya memberikan cinta kau ke laki-laki yang tepat. Normal kau suka dengan lawan jenis, tapi kesalahan kau menaruhnya pada suami orang."


Pelukan mereka sudah terlepas, dengan Aca yang kembali memandang wajah Farida. Mata mereka sama-sama merah karena air mata.


"Iya, Kak." Farida memandangku. "Aku minta maaf juga pada Pak Ghifar. Maaf, udah mengganggu kesehariannya belakangan ini. Setelah ini, semoga kita bisa profesional dalam bisnis ini. Aku percaya dengan produk kopi dari produksi Pak Ghifar," lanjutnya dengan seuntai senyum manisnya.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Iya, terima kasih."


Alhamdulillah, jaringan bisnis dan kerjasama aman. Dengan, Farida yang menyadari kekeliruan tempatnya menaruh rasa. Semoga benar setelah ini, kamu hanya terikat hubungan kerjasama secara profesional saja.


"Ayo, Pa."


Ratuku, takdirku. Rupanya, ia benar ingin berbelanja.


"Kami tinggal dulu ya? Kalau ada yang perlu disampaikan, bisa ke Dewi atau Ria aja." Aku melirik ke Dewi. Ia langsung mengangguk cepat dan tersenyum pada Farida.


Aku jadi geli sendiri mengingat ekspresi Dewi tadi. Ia bingung, terkaget-kaget dan panik berbaur jadi satu. Tangan kanannya bang Givan ini, ia anti laki-laki meski sebenarnya ia suka dengan laki-laki. Ia terbiasa mandiri, sehingga seolah tidak membutuhkan peranan laki-laki dalam hidupnya. Mungkin di kisah lainnya, ia mendapat ending dalam ceritanya sendiri.


"Iya, Pak." Farida mengusap wajahnya dan memperisaikan kami pergi dengan gerakan tangannya yang sopan.


"Mari…." Aca menggandengku pergi.


"Di rantang, bawa apa ini?" tanyaku ketika melangkah keluar dari kantor.


"Tak enak, cuma telor ceplok aja. Aku udah nitip beli lauk pauk sama Canda, dia pergi nungguin suaminya aja yang nganter. Sampai anak-anak pulang sekolah, akhirnya sih chickennya tante Shasha lagi."


Jangan-jangan istriku tertular malas masak seperti Cendol.


"Masak sarapan tuh, Ma. Sekalian aja untuk makan siang gitu, barulah sore kita cari lauk, atau kalau mau masak lagi ya tak apa." Ini adalah sistem Kin mengatur makanan kami.


"Aku bosan misal menu sarapan, menu makan siang dan malam itu sama. Udah deh, Pa. Terserah aku aja." Pemaksaan berselimut manja.


"Iya terserah, cuma saran aja. Biar tak banyak capeknya tuh. Kan ngurus anak, plus lagi hamil juga. Sekarang, anak-anak sama siapa?" Aku teringat dengan Nahda dan Ra yang begitu lengket dengannya.


"Sama mamah Dinda. Udah tidur semua mereka, jadi aku izin pergi nemuin Papa."


Intinya dia menagih janjiku untuk belanja bulanan. Aku hanya bisa terkekeh, dengan menggiringnya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2