Istri Sambung

Istri Sambung
IS82. Pelepasan


__ADS_3

"Sakit tak hidungnya, Bang?" Novi memperhatikan wajahku.


Aku mencoba merasakan sensasi di hidungku. Biasanya kepalaku mulai pening dan dahiku sakit, tapi kali ini tidak.


"Tak, aku coba rileks. Sok lagi, pelan aja." Aku selalu tersenyum lebar, agar Novi paham bahwa aku senang di sini.


"Tak ada perubahan, Bang. Aku harus gimana lagi?" Novi membuka melepaskan kembali.


Aku hanya diam, dengan memperhatikannya. Aku pun tidak mengerti, kenapa tidak ada pergerakan? Padahal aku sudah memiliki minat. Apalagi jelas, dress malam Novi sudah tidak rapi.


"Ininya, Nov. Terus, ini loh." Aku menunjuk tempat yang dimaksud.


Aku sebenarnya malu mengatakannya.


Namun, Novi tidak memiliki inisiatif. Diberi tahu seperti itu, Novi hanya tahu begitu terus menerus.


Mengembang saja, tidak. Aku tidak mengerti, kenapa saat bersama Canda dulu bisa berkembang dan tidak mimisan. Memang tidak bisa keras, tapi cukup menampakkan wujud aslinya. Tidak tidur saja seperti ini.


"Bang, aku udah capek." Novi meninggalkan kegiatannya.


Aku mengangguk, kemudian membantunya untuk bangun dari posisinya. Aku tidak mungkin memaksanya, karena itu pasti setengah hati dilakukannya.


"Sini." Aku menepuk sofa ini.


Kini, giliranku yang bekerja. Ia begitu cantik, menarik dan wangi. Tapi, aku seperti kena sawan. Warisan turun temurun ini tidak bergeser sedikitpun, seperti melihat hal yang sudah biasa. Contohnya, seperti tengah melihat istri kita berganti pakaian. Ya biasa saja seperti itu, tidak ada rasa kalap melihat hidangan.


Sepertinya, keadaanku benar-benar parah sekarang. Tapi aku tetap mengerjakan tugasku, membuat Novi bersuara merdu dan menyebut namaku. Aku bisa paham bagaimana perasaannya. Ia sudah berada di atas awan, tetapi tidak bisa terbang dan terjun dengan aman.


Aku harus bisa membuatnya merasakan, meski tanpa adanya aduan apapun. Aku yakin, aku bisa. Karena sebelum menikah dulu, aku pernah membuat Kin demikian.


"Bang…. Kalau ini aja gimana?" Novi menyentuh tanganku yang berada di bagian perut bawahnya.

__ADS_1


Aku tidak menjawab. Aku pun enggan memilih jalan itu.


Aku berasumsi, bahwa Novi sekarang sudah amat kegilaan. Aku pun tidak berniat untuk mencoba dengan apapun, karena warisan turunan yang lebih berhak dan pantas


"Coba rileks, Nov." Aku mendekatkan kembali wajahku.


Aku pernah melakukan ini pada Kin, Kin pun bisa mendapatkan tujuannya tanpa diadu dengan apapun. Aku yakin, aku bisa juga melakukannya pada Novi. Hanya perlu skill indra pengecapku saja di sini, agar Novi bisa mendapatkan rasa yang mungkin tak pernah ia rasakan dulu.


Berulang kali namaku disebut dari kerongkongannya. Suaranya sampai terdengar parau dan juga begitu lepas. Aku paham, Novi sudah tidak kuasa menahan rasa geli itu.


Permohonan ampunnya, Novi nobatkan beberapa kali. Hingga terakhir, namaku diteriakinya dengan suara yang bergetar.


Istri perawanku merasakan sedikit yang namanya surga dunia. Aku bersyukur, setidaknya aku cukup berguna untuknya.


Aku menyeka bagian kumisku, kemudian menyetarakan tubuhku sejajar dengannya. Netra Novi terpejam rapat, dengan sisa-sisa nafas yang begitu lelah seperti habis berlari cepat.


Aku menyungging senyum di depan wajahnya, dengan menghapus keringat yang membasahi beberapa warna di wajah Novi. Matanya terbuka, dengan air mata yang tertampung di pelupuk matanya.


"Abang…. Ini enak betul. Aku minta yang rutin, sehari sekali." Novi mengalungkan tangannya ke leherku.


Dasar, perawan!


"Insya Allah ya? Aku tak bisa janjikan itu, tapi aku usahakan." Aku tidak bermaksud untuk tidak memenuhi keinginannya.


Hanya saja, aku pun ingin juga mendapatkan pelepasan seperti yang ia inginkan.


"Bisa bangun tak? Ayo cuci dulu, terus kita istirahat di kamar. Kau di kasur, sama anak-anak. Biar aku di ujung ranjang, di kaki anak-anak." Setidaknya, yang penting kita tetap tidur bersama.


"Bisa jalan, tapi pengen digendong." Suaranya amat manja.


Aku melepaskan tangannya dari leherku. Kemudian aku bangkit dan memunguti beberapa pakaianku yang tergolek.

__ADS_1


"Pakailah dulu pakaian kau, nanti aku gendong." Aku akan berusaha memenuhi, selagi aku mampu melakukannya.


Tak butuh waktu lama, kami pindah ke ranjang bersama anak-anak yang mendengkur halus. Mereka tidak terganggu, dengan aktivitas malam ayahnya dan ibu sambungnya ternyata.


~


Pagi harinya, aku hanya memperhatikan Novi yang terus memberi perintah pada Kal. Beberapa kali Kal pun memandang wajahku, ia memberi isyarat padaku tentang rasa yang tidak nyaman untuknya itu.


Tentu aku hanya pura-pura tidak mengerti saja, aku menikmati pagiku seolah menutup mata melihat aktivitas anakku yang hendak bersekolah ini.


"Panggil mama, Kak. Kemarin tak ada Papa, Kak Kal sama Adek Kaf manggilnya mama." Novi berbicara dengan menyediakan sarapan untuk kami.


Ada nasi, air putih satu teko beling. Ada juga teh manis untukku, yang disediakan di depan mataku. Lalu lauk pauk berupa ikan mas goreng dan juga sambal. Novi pun masih masak, ia tengah menumis bayam untuk anak-anak.


Aku yakin uangnya sudah tidak cukup. Apalagi, uang belanjanya kemarin sering diambil oleh Kal. Saat sebulan kemarin kami bersama pun, uang tiga juta yang aku berikan di tanggal satu hanya cukup sampai tanggal tujuh belas. Saat itu pun, ia selalu mengadu uangnya sering hilang dan tidak cocok dengan pengeluarannya setiap hari.


Contohnya, ia merasa berbelanja dan memberi uang saku anak-anak dengan total tujuh puluh lima ribu. Tapi kenyataannya, pengeluarannya hari itu lebih dari seratus ribu. Jadi, tidak pas dengan perhitungannya sendiri.


Itu hanya untuk memberi sayur, lauk pauk dan saku anak-anak. Tidak dengan beras, bumbu dapur, minyak dan sebagainya. Kami berbelanja bulanan, yang menghabiskan dana sebesar tiga juta lagi. Itu pun sudah menyetok beberapa daging frozen, juga daging olahan untuk anak-anak.


Belum listrik yang sebulan sampai dua juta, ditambah kebutuhan lain dan dadakan yang di luar perkiraan. Pengeluaran tetap saja besar, sebelum atau setelah aku menikah. Tapi tak apa, aku bersyukur karena bisa memenuhinya.


"Ini kan ada durinya." Kaf memandang ikan sebesar telapak tanganku itu dengan wajah cemberut.


"Kalau mama Kin, pasti ikannya dipresto dulu." Kal pun cemberut saja di sini.


Aku pun pernah memberitahukan pada Novi, tentang ikan yang harus dipresto dulu. Tapi kembali lagi, setiap orang itu berbeda-beda. Lagi pun, Novi belum pandai memasak. Aku memakluminya.


"Nanti Mama bantu pisahkan durinya ya? Masih jam enam lebih juga kok, santai aja sarapannya." Novi tersenyum, dengan berjalan kembali ke arah meja makan berbentuk meja bar ini.


Aku hanya diam, dengan memperhatikan interaksi mereka. Karena saat aku bersuara, ataupun berpihak pada salah satunya. Pasti adanya kecewa, lalu mengira bahwa aku berat ke salah satu pihak saja.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk….


...****************...


__ADS_2