Istri Sambung

Istri Sambung
IS181. Ingin mengantar


__ADS_3

"Nov, kita udah selesai. Biar aku antar kau ke rumah Giska yang udah kosong, karena aku mau nempatin rumah aku lagi." Aku datang dengan niat baikku pada Novi.


"Apa aku udah orang lain?" Novi duduk tertunduk di teras rumahku.


"Kau masih keponakan mamah, silaturahmi jangan putus. Minta maaflah ke beliau, Nov." Tali pernikahan kami yang bercerai berai, bukan tali persaudaraan kami.


"Aku takut dimarahin, Bang. Sorot mata mamah udah tak biasa, aku takut ucapan beliau nyakitin hati aku, terus dengan tidak tau malunya aku malah benci." Novi malah memeluk lututnya sendiri.


"Yang penting udah minta maaf. Aku juga bakal jamin makanan kau kok, sampai kau mampu cari makan sendiri. Penghasilan dari kedai warisan orang tua kau kan, masih masuk ke Bank. Nanti akhir tahun diurus, biar bisa kau kendalikan sendiri. Barangkali mau buka usaha, dengan modal dari situ." Tidak banyak juga, aku hanya memberinya lima juta sebulan untuk kepentingan perutnya.


Menurut mamah sih itu lebih, karena Novi hanya makan sendiri. Ingin lepas begitu saja, aku tidak tega karena ia sebatang kara.


Novi menggelengkan kepalanya. "Biar diurus papah aja deh, aku takut khilaf megang uang banyak tuh." Novi memandangku sekilas.


Kantung matanya terlihat bengkak.


"Ya udah gih prepare, aku antar ke rumah Giska. Tinggal tempati aja, tak usah mikir uang sewa. Air tanah, tak pakai ledeng. Tapi pakai pompa air, jadi listrik mungkin agak berasa. Aman juga kok di sana, karena banyak tetangga dan dekat keluarga Zuhdi juga." Aman dari perampok maksudku.


Memang sebelumnya pun, tidak pernah ada kasus perampokan juga sih. Hanya saja aku khawatir, karena ia tinggal seorang diri. Berbeda dengan kak Aca, yang memiliki dua teman yang super. Nahda yang sensitif bunyi-bunyian meski matanya terpejam, atau Ra yang pukulan tangannya terasa kencang. Kak Aca memiliki bodyguard kecil yang pandai mengadu.


Novi mengangguk. "Aku prepare dulu, nanti aku ke rumah buat minta maaf ke mamah papah. Kau pulang dulu aja, aku butuh waktu lama."


"Oke. Aku ada di rumah juga kok." Aku memakai kembali sandalku dan meninggalkan Novi sendiri.


Rumah Ghavi terasa hidup, karena anak-anak sudah berani beraktivitas di luar rumah. Namun, masih di dalam pagar. Aku mengerti kenapa Tika tidak mengajarkan dunia luar pada anak-anak, karena ia keteteran menghandle anak-anak seorang diri.


Tetapi sekarang, anak-anaknya sudah berani bermain di dalam pagar rumah mereka. Mungkin beberapa bulan lagi, Aksa dan kembar berani pulang-pulang sekolah sendiri.


Ya, memang setakut itu mereka. Mereka belum berani pulang pergi ke sekolah sendiri. Chandra sudah berani mengayomi adik-adiknya, Aksa masih ingin dikawal saja.


Apalagi sudah terbiasa apa-apa dengan Tika, anak-anaknya tidak bisa dipaksa untuk mendadak menjadi mandiri. Berbeda dengan anak-anak bang Givan, termasuk anak-anakku. Mereka bahkan sudah sering dipukul dengan ranting kecil oleh kakeknya, karena bermain ke dalam kebun kopi yang terlalu jauh, atau mencari ikan di saluran irigasi.


Dulu aku dan saudara-saudaraku yang lain yang dipukul dengan ranting, sekarang giliran anak-anakku. Alhamdulillah, orang tuaku masih sehat wal'afiat untuk membantu mendidik cucu-cucunya.

__ADS_1


"Pa…. Dari mana?"


Aku celingukan.


"Eh, Rere cantik. Dari rumah, mau ke nenek. Sini main." Aku melambaikan tangan pada anak perempuan yang berada di teras Riyana Studio. Ia pasti ikut bekerja bersama ayahnya.


"Bentar, bilang ayah." Rere berlari masuk ke dalam Riyana Studio.


Aku berbelok ke tempat tersebut, berniat menunggu Rere yang ingin ikut bermain ke rumah mamah.


"Eh, Cendol. Ngapain kau?" Malah aku melihat kakak iparku yang duduk di ruang tamu studio ini.


"Mau ngajak ngebakso kak Anisa." Kak Anisa ini adalah satu-satunya teman Canda. Temannya hanya satu, itupun jarang berkunjung karena kak Anisa the real ibu rumah tangga dengan dua anaknya.


"Nitip, bungkus ya?" Aku merogoh dompetku.


"Iya aku mau juga, Far."


Hei, bukannya ia yang akan pergi makan bakso? Kenapa ia malah menengadahkan tangannya padaku?


"Iya, aku minta uangnya." Ia cengengesan.


"Kurang tak?" Aku memperhatikannya dan selembar uang tersebut bergantian.


Ada tidak pada ipar seperti ini? Kakak iparnya agak-agak seperti Canda ini. Aku tahu ia tidak kekurangan uang, tapi memang ingin meminta gratis dariku. Yang begininya, yang menjaga kami tetap dekat tanpa sekat.


"Lagi lah, buat ibu mertua aku." Canda geli sendiri kala mengatakan hal itu.


Alhasil, aku memberikan tiga lembar uang merah karena Canda menghitung kepala. Setelah itu, ia pergi dengan menitipkan anaknya padaku.


Bisa-bisanya?


Ya, aku pun heran. Tahu begini, tak kutunggu Rere di depan studio. Kini aku kembali ke rumah mamah, dengan menggendong Cani dan Rere yang memegangi ujung bajuku. Canda pergi berjalan kaki dengan kak Anisa yang menggendong anaknya yang seumuran Cani juga.

__ADS_1


Ceysa dan Rere seumuran, Cani dan Ja'far pun seumuran. Bedanya, Canda memiliki Ra sebelum Cani, sedangkan kak Anisa tidak memiliki anak juga seumuran Ra. Canda cukup subur, meski jejaknya KB suntik.


"Katanya mau antar Novi?" tanya mamah yang baru keluar dari dalam rumah.


"Iya, lagi prepare. Aku malah dititipi anak sama Canda, Mah." Aku mencium pipi Cani yang berada di gendonganku ini.


"Sini, Cantik." Mamah mengajak Rere masuk dalam rumah.


Rere langsung mencium tangan mamah, kemudian ia mengikuti tangan mamah yang menggenggam tangannya. Anak siapapun, meski ia orang lain. Akan dianggap kerabat, bahkan keluarga sendiri jika ada timbal balik yang baik pada anggota keluarga.


"Ceysa mana, Nek?" Rere seumuran Ceysa, wajar ia mencari teman sebayanya.


"Ada di belakang, lagi main sama Hadi."


Sedangkan aku, langsung mengajak Cani untuk bermain-main di atas ranjang mamah. Biarkan saja ada kakek Cani yang sedang mendengkur, aku masih suka mengganggu papah yang tengah pulas tidur siang.


Usianya sudah satu setengah tahun, tapi Cani belum bisa berjalan. Dari usia Cani enam bulan, aku sudah ribut akan cerai. Sampai akhirnya, Cani satu tahun setengah aku baru resmi menduda.


"Ke…." Cani merangkak mendekati kakeknya yang tengah mendengkur itu.


"Hmm, sama Papa tuh." Papah malah memunggungi cucunya.


"Ke…." Cani menepuk-nepuk punggung kakeknya, dengan aku membiarkannya saja.


Gemasnya, ingin aku cubiti anak ini. Sayangnya, nanti malah ibunya yang akan menangis.


"Rese betul sih kau, Far! Papah baru merem tuh!" Suara lantang papah langsung keluar.


Aku yang dimarahi, Cani yang malah menangis. Aku tertawa lepas di sini, aku geli sendiri melihat papah akhirnya bangun dan menggendong Cani.


Kini, giliran aku yang akan membuat pulau di bantal beliau. Menunggu Novi cukup lama, biar aku tertidur dulu sementara waktu.


...****************...

__ADS_1


Santai lagi 🙈


__ADS_2