Istri Sambung

Istri Sambung
IS108. Di luar dugaan


__ADS_3

Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung melemparkan sebuah bantal ke arahnya.


Emosiku memuncak sudah, saat melihat Novi tengah berbaring miring dan nampak jelas wajah laki-laki di dalam layar ponselnya.


Novi terlihat kalap, ia langsung melepaskan headset yang menulikan telinganya. Kemudian ia bangkit dan menghadap ke arahku.


"BEGINI KAU?!" Aku berjalan mendekat ke arahnya.


"Abang, aku…. Aku…." Novi mundur selangkah.


Aku langsung mengambil ponselnya, yang masih menampilkan seorang laki-laki yang terlihat bingung.


Itu adalah wajah Nando lagi.


Tanganku gemetaran, aku tidak bisa memaki atau mengeluarkan sepatah katapun. Aku amat kecewa padanya, aku merasa tidak dihormati dan tidak dianggap.


Rasa dingin menjalar dari ujung kaki, tetapi mataku terasa begitu panas. Aku memandang wajahnya yang ketakutan dan menunduk lemah.


"Nov…. Kau tak apa?" Suara laki-laki sialan dari ponsel yang aku genggam ini.


Brakh…..


Aku melemparkan ponsel ini ke tembok, dengan sekuat tenagaku.


Novi menoleh ke arah ponselnya yang sudah pecah tak berbentuk. Lalu, ia kembali menoleh ke arahku lagi.


"Ya ampun, Bang." Ia terlihat tak percaya dengan tindakanku.


Lidahku begitu keluh untuk mengeluarkan semua ucapan yang sulit aku gambarkan. Sesakit ini dipermainkan oleh wanita, yang notabene adalah istriku sendiri.


Dulu aku merasakan dipermainkan oleh Fira, kini terulang kembali. Namun, rasanya jauh begitu sakit.


Prang…..


Aku lampiaskan ketidakmampuanku berucap, pada jendela yang paling dekat dengan tempatku berdiri. Aku memejamkan mataku, dengan nafas yang terasa semakin sesak.


"Bang…. Aku minta maaf." Aku tak menghiraukan isakan itu.


Aku menarik nafas panjang, lalu mengulanginya beberapa kali. Aku tidak yakin melanjutkan hubungan dengan Novi, karena baru seperti ini saja ia berani menghubungi mantannya meski kemarin malam ia sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi.


Ucapannya tidak bisa dipegang.


Aku mendengar derap langkah cepat, diikuti dengan bantingan pintu.


"Ada apa ini?" Suara panik itu bersumber dari arah belakang tubuhku.


"Far? Nov?" Aku mendapatkan usapan lembut di punggungku.


"Kau kenapa?" Papah berdiri di sampingku.


Aku hanya diam, dengan merasakan terpaan angin dari jendela yang hancur itu. Aku sudah buntu, untuk menyikapi ini semua.

__ADS_1


Aku harus meminta bantuan pada siapa? Aku merasa, aku tidak mampu menghadapi semua ini.


"Tenangkan diri kau." Papah menepuk bahuku.


"Ajak ke bawah, Dek. Kasih dia air putih, terus cek tangannya." Papah berjalan ke arah lain.


"Nov, pindahlah ke kamar anak-anak. Anginnya kencang." Perintah turun dengan suara tegas.


"Far…. Ayo ikut Papah." Aku merasa lenganku ditarik.


Mamah masih mematung di tempat. Beliau menggaruk kepalanya yang belum sempat mengenakan hijab itu.


Aku terhuyung ke arah tarikan tangan tersebut. Lalu, pundakku dirangkul oleh Papah. Aku dibawa pergi dari kamar ini.


"Nov, kau tak apa?" Aku mendengar suara mamah lamat-lamat, saat aku sudah menjauh.


Harus dari mana, untuk meluruskan Novi? Ia seperti tengah membuat keadaan, seolah aku yang bersalah padanya. Namun, di belakangku ia melakukan pengkhianatan di luar dugaan.


Sekalipun Kin cemburuan hebat, ia sering menciptakan suasana tidak nyaman sama seperti Novi. Tapi, ia tidak pernah menghubungi temannya apalagi mantan kekasihnya. Ia merasa cemburu saat aku hanya bertegur sapa dengan lawan jenis, ia pun seolah paham jika aku tersakiti bila ia melakukan hal yang serupa.


Kenapa perempuan yang menjadi istriku, memiliki tindakan di luar dugaan semua? Kin yang melampiaskan kekesalannya pada tubuhku. Dengan Novi yang melampiaskan kekesalannya, dengan curhat pada mantan pacarnya.


Sebenarnya apa mau Novi ini?


Ia tidak mau pisah denganku, tapi ia bersikap tidak selayaknya seorang istri yang baik.


Apa aku terlalu menuntut?


Aku pun tidak begitu keterlaluan dalam menyikapi Canda. Apalagi, aku cukup tenang karena tadi berbincang dengannya. Ya, aku hanya ingin memastikan keadaannya.


Aku ingin rumah tanggaku baik-baik saja, dengan Novi yang bisa diatur dan diajak berbicara baik-baik. Jika di awal saja, ia sudah ketahuan seperti ini. Bagaimana kedepannya dengan kami?


Apa setiap ada permasalahan, Novi akan curhat dan lari dengan laki-laki lain? Aku teringat ucapan bang Givan, akan alasan ia tidak pernah mengajak Fira kembali. Yaitu, karena Fira pernah menduakannya dalam waktu yang lama. Perempuan yang sudah pernah berselingkuh menurutnya sudah fatal, karena akan terulang kembali.


Apa Novi akan demikian juga?


"Minum nih, Far." Papah menempelkan gelas kaca ke bibirku.


Aku membuka mulutku, kemudian meminum air putih tersebut secukupnya.


"Ghifar kenapa, Pak cek?" Kak Aca berjalan ke arahku, diikuti dengan anaknya yang mengekori dengan membawa ponsel yang mengeluarkan suara anak kecil bernyanyi.


"Coba senterin, Ca." Pintu papah, dengan duduk di sampingku.


Kak Aca mengambil ponsel yang dimainkan anaknya, "Pinjam dulu ya?"


Lalu tangan kananku menjadi sorotan perhatian papah dan kak Aca. Papah membolak-balikan telapak tanganku, dengan menyentuh permukaannya.


"Luka aja itu, Pak cek. Tapi gak ada belingnya," ucap kak Aca yang berjongkok di depanku.


"Coba kau ambilkan antiseptik sama kapas."

__ADS_1


Aku hanya diam, ketika papah tengah mengobatiku.


Aku masih sulit untuk berbicara. Karena aku yakin, ketika mulutku dipaksa berucap atau menjelaskan. Pasti, mataku begitu cengeng. Aku tak mau menangisi perempuan yang tidak menghargaiku seperti itu. Air mataku terlalu mahal, meski hanya sebagai pelampiasan kekesalanku saja.


"Maem agi yuk?"


Aku melirik anak perempuan yang tetap memakai jilbab mungilnya itu. Setiap saat aku melihat Nahda, ia selalu berhijab. Tapi tadi aku melihat ibunya tanpa hijab.


"Yuk. Nahda masih lapar ya?" Kak Aca menggandeng anaknya, kemudian kembali ke kamarnya.


Setidaknya, nasi itu tidak mubazir.


"Kau kenapa sih, Far?" Papah mengusap-usap punggungku.


Aku hanya menggeleng, hatiku masih tidak baik-baik saja dan mulutku tidak mampu berucap.


"Marah tuh jangan kek gini, bisa serangan jantung." Papah masih mengusap-usap punggungku.


Aku masih diam, dengan mengatur nafasku. Berharap, emosiku segera reda dengan sendirinya.


"Bang…."


Namun, suara itu kembali membuat rahangku mengencang.


Apa lagi maunya?


"Sini, Nov." Mamah menarik Novi untuk duduk di sofa yang paling dekat denganku.


Tetapi, Novi malah melakukan tindakan di luar dugaanku kembali. Ia malah bersimpuh di hadapanku, dengan memegangi lututku.


"Bang, aku minta maaf." Novi menarik tangan kananku yang memiliki sedikit luka, lalu ia menciumnya.


Aku paling tidak bisa seperti ini. Apalagi ada mamah dan papah juga di sini.


"Bang, aku ngaku salah. Aku minta maaf, maafin aku, Bang." Air matanya membuat perih luka goresku.


"Liat dia, Far." Bisik papah, dengan mengusap punggungku kembali.


Aku bukanlah laki-laki tega. Namun, aku merasa aku akan terus ditindas dan disepelekan oleh Novi jika aku melihat matanya dan tidak tega untuk menolak permintaan maafnya.


"Bang, aku akui aku salah. Abang jangan diam aja begitu, Abang ngomong."


Aku hanya meliriknya sekilas, kemudian membuang wajahku ke arah lain. Aku tidak tega, melihat air matanya yang mengucur deras itu.


Tapi, bukannya sudah aku peringkatkan ia kemarin malam? Namun, kenapa ia malah mengulanginya dan bahkan lebih parah?


Ia melakukan panggilan video sampai dini hari, dengan kepala tanpa menggunakan hijab. Aku tak bisa membayangkan, apa saja yang menjadi obrolan mereka.


"Bang, tolong maafin aku…. Aku janji, aku…."


Aku memangkas ucapannya, "Kemarin pun kau udah janji, Nov. Tapi,...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2