
"Mak Cek minta dokumen kau, biar kalau ayah kau iyakan, Mak Cek langsung daftarkan kalian untuk menikah di KUA. Kau pasti kami muliakan, Ca. Tak perlu terlalu merendah, Mak Cek paham ingin kau. Mak Cek bukannya mau mempersulit. Sekali lagi, Mak Cek benar tak ada pikiran ke situ. Mak Cek bakal atur jadwal, untuk langsung lamar kau di Cirebon, di ayah kau. Nanti, kalau Mak Cek dan Pak Cek pergi. Tolong urus Kal dan Kaf, jaga mereka dan asuh mereka. Jadwal mereka ada di dekat tangga, dari mereka bangun tidur sampai tidur lagi. Jangan kasih mereka HP Kin di siang hari, atau di waktu yang tak tertulis di situ. Kau tenang aja." Mamah tersenyum lebar, lalu mendekat kembali tubuh Aca dengan begitu hangat.
Mamah tidak jadi mengamuk dan memaki semua orang. Malah, hal ini terjadi di luar perkiraan dan bayanganku. Ditambah lagi, mamah langsung menurunkan restunya di sini. Mamah langsung mengizinkan kami menikah, bahkan langsung dibawa resmi.
"Kalau masih tak diizinkan ayah gimana, Mak Cek?" Pelukan mereka sudah terlepas. Aku melihat pandangan istriku penuh harap, dengan menyentuh kedua lengan mamah.
"Siri kan mau kau?"
Aca langsung mengangguk tanpa pertimbangan. Ya mungkin, karena memang kami sudah melakukannya.
"Ya udah, nanti Mak Cek usahakan." Mamah mengusap-usap bahu Aca. Kemudian, dua wanita yang terpenting dalam hidupku itu masuk ke dalam rumah dengan saling merangkul.
"Huuuu…. Buaya air payau!" ledek papah dengan wajah menyebalkan.
Apa katanya?
"Kenapa air payau?" Jenis buaya muara air payau ini.
"Tak berani di darat, karena biasanya di muara tinggi daratannya. Beraninya, kalau korbannya nyemplung ke dalam air aja. Barulah langsung memangsa, beringas kalau korbannya masuk ke wilayah kekuasaannya. Kek menyerahkan diri dengan cintanya, pasrah di ranjang. Ya itu jenis-jenis perempuan, yang bakal kau jadikan korban."
Oh begitu? Aku jadi geli sendiri. Aku disamakan dengan jenis buaya muara, lalu apa dengan papah? Bang Givan juga? Buaya air tawar dan buaya air asin begitu?
"Tak begitu juga kali, Pah." Aku terkekeh dengan merangkul panutanku ini.
Kami melangkah beriringan menuju ke dalam rumah.
"Terus bagaimana? Perempuannya bilang sendiri, kalau dia yang minta kau tetap di kamar sama dia. Dia butuh kau, dia butuh digituin sama kau. Betul loh, seumur-umur Papah keknya tak pernah dapat perempuan minta stay di kamarnya. Terakhir, mamah kau ini. Dia kunci kamar Papah dari luar, terus kuncinya diumpetin dia. Jadi kan Papah tak bisa masuk ke kamarnya. Mau tak mau, ya Papah tidur di kamarnya bareng."
Loh? Kok mamah memiliki kemiripan lagi dengan Aca?
"Terus digituin juga kan? Papah pun sama lah!" Aku melepaskan rangkulanku. Kemudian, aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Lurusnya pinggang ini, nyaman dan empuknya sofa mahal ini. Ini adalah sofa baru, karena sofa lama yang penuh dengan sejarah dijual oleh mantan istri bang Givan. Si Nadya, yang pernah menikah siri dengan bang Givan.
"Tak lah, harga diri mamah kau tinggi. Dia berani c*mbu aja, tapi selalu nolak diajak begituan. Beda sama perempuan kau." Kalimat terakhir itu, papah menurunkan suaranya.
Hmm, begitu ya?
"Kok bisa?" Aku sudah menguap lebar.
Mengantuknya.
"Bisa, karena nangis. Papah tak bisa, kalau perempuannya udah nangis. Berani di awal aja mamah kau ini, dibalas ya nangis."
Ah, rasanya tidak benar juga. Mungkin, karena mamah tidak suka dipaksa. Terbukti jika ada yang membuat masalah dengannya. Dibalas dengan orang yang bersangkutan, mamah malah semakin menggila.
"Papahnya tak enak berarti."
Aku langsung tertawa lepas. Karena ekspresi papah begitu menggelikan. Matanya melebar, terheran-heran bercampur kaget.
"Karena jadi istrinya kali. Kek Canda gitu kan? Mau nolak, ya udah suaminya juga. Dosa nanti dia."
Brakkkkkhhhhh……
Aku langsung terkesiap mendengar bantingan barang tersebut. Saat aku menoleh ke arah benda terpental, terlihat kursi plastik tergeletak dengan bentuk yang tidak utuh lagi. Kursi plastik itu langsung rusak.
Jika dilihat dari arah benda itu meluncur, sepertinya bantingan tersebut datang dari kamar bang Givan dan Canda yang berada di rumah ini. Yang membuatku curiga bahwa pelakunya adalah bang Givan adalah, karena papah tertawa lepas.
"Ehh, Bang. Kau dengar kah?" Aku terkekeh geli.
"Sana kau pergi kejar b***!!!!"
Wow. Itu adalah salah satu kata-kata kasar, yang jika di bahasa Aceh, banyak yang menggunakan kalimat marah itu.
__ADS_1
"Oke siap, Bang." Aku hanya asal menyahuti saja, agar ia tidak semakin marah.
Sepertinya, bang Givan mendengar ucapanku karena pintu kamarnya tidak tertutup. Ditambah lagi, ruang keluarga ini berhadapan dengan pintu kamarnya. Membuat suaraku, mungkin terdengar lepas di dalam kamar sana.
Lihatlah, tawa papah masih berlanjut saja. Ia sepertinya senang, jika anak-anaknya berdebat dalam gurauan seperti ini.
"Pah, aku rehat dulu ya?" Aku bangkit dari sofa ini.
Papah mengangguk. "Di kamar kah aja, biar tak terganggu karena anak-anak mainan." Papah menyalakan televisi dengan romote.
Aku memilih untuk beristirahat sejenak, dengan jendela balkon yang terbuka lebar. Aku lebih suka dengan angin alami, ketimbang dengan pendingin ruangan.
Kesibukanku bekerja, di mulai di hari Senin ini. Aku tidak suka, dengan kehadiran Novi di tengah kesibukan bekerja. Pekerjaannya tidak ada urusan langsung denganku. Pekerjaannya, hanya untuk mengurus pekerja yang masuk atau keluar, ataupun pekerja yang berhalangan hadir. Tidak ada istilah meminta tanda tanganku dalam pekerjaannya.
"Senang ya mau nikah? Berarti jelas, siapa dong di pernikahan kita yang salah?" Ia memainkan bolpoinku di atas meja kerjaku.
"Oh, ya? Makasih juga ya aduannya? Dengan aduan kau, aku mau segera dinikahkan." Aku mencoba santai, dengan menarik topik yang mungkin membuat Novi kebakaran jenggot.
"Aduan apa? Aku tak pernah ngadu." Alisnya naik sebelah, kemudian ia berjalan mendekat ke arah kursiku.
"Iya sih tak pernah ngadu, tapi mamah aku yang terlampau cerdas aja."
Aku baru mengetahui, ternyata Novi selalu mengunggah kesenangan kami saat liburan bersama kemarin. Hingga dalam salah satu video, aku mendapati video yang merekam tentang kami yang masuk ke kamar masing-masing secara bersamaan.
Dengan jelas dalam video yang diambil dari jarak yang tidak dekat itu, aku membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Aca dan anak-anak untuk masuk. Barulah aku yang masuk ke dalam kamar hotel, kemudian menutup pintunya dari dalam.
Memang itu bukan aduan. Tapi apa coba niatnya seperti itu? Kan jelas, orang-orang jadi pada tahu bahwa aku satu kamar dengan janda yang dikenal sebagai pengasuh anak bang Givan.
"Oh ya??? Abang pun terlampau bodoh, karena…..
...****************...
__ADS_1