Istri Sambung

Istri Sambung
IS266. Motor pembalap


__ADS_3

"Eh, Roza." Aku membalas senyumannya.


Pandangannya begitu menelisik wajah Aca. Aku tahu Aca berubah, tapi tidak harus dipandang dengan begitu seksama juga. Aku tersinggung, melihat orang lain memandang Aca seperti itu. Meski, ia adalah seorang perempuan juga.


"Aku duluan." Rauzha kembali memandangku dengan tersenyum ramah.


"Iya." Aku mengangguk dan menggandeng Aca untuk masuk.


Ra anteng dengan bergandengan tangan dengan Aca.


"Assalamualaikum…." Aku mengucap salam, agar ketua RT sadar akan kehadiranku.


"Wa'alaikum salam. Eh, Bang Ghifar. Silahkan duduk." Ia menyambut kami dengan ramah.


Aku dan Aca duduk berdampingan. Tidak cuma Aca yang menjelaskan, aku pun menceritakannya juga. Bukti selembar surat itu, langsung dicopy oleh ketua RT untuk dijadikan arsip.


Setelahnya, kami langsung pulang ke rumah. Tidak lupa dengan menjemput anak-anakku di pondok biyung. Tidak ketinggalan juga, Ra yang kini langsung meminta untuk tidur dengan Aca.


Terkendali.


Aca sudah lelap, ia cenderung gampang tertidur. Anak-anak pun sudah pulas dalam satu kamar, meski berbeda tempat tidur. Anak-anak belum mau tidur sendiri, Aca pun tidak memaksanya.


Kini, aku yang belum bisa tidur di pukul sembilan malam ini. Ke mana ya? Rumah orang tuaku sepi, kosong juga sepertinya. Ah, mungkin ke Riyana Studio saja, aku ingin membahas perihal rencana pemotretan kami nanti.


Namun, motor besar ala pembalap. Ada di dalam halaman rumah mamah. Siapa ya? Di antara kami, setelah berkeluarga kami mengganti semua motor kami dengan motor matic. Tidak luput dengan papah juga, karena motor matic bisa digunakan para wanita juga.


"Keluyuran kau! Tumben."


Ah, ayah banyak anak itu keluar di malam hari seperti ini juga ternyata.


"Iya, Bang. Mau ke mana?" Aku masih berdiam diri di tempatku.


"Beli ketoprak, Cendol kelaparan."


Oh, ternyata ia dalam tugas.


"Bang." Aku menahan bahunya, ketika ia akan melewatiku.


Langkahnya terhenti. "Apa? Mau nitip kah?"


Jelas aku menggeleng.


"Rumah mamah ditempati siapa ya?" Aku tidak langsung menunjukkan motor tersebut.


"Novi. Dia sering papasan sama aku, lagi bonceng motor sama laki-laki. Jadi aku minta dia pulang ke rumah mamah aja, biar bisa aku kontrol gitu. Di rumah Giska terlalu jauh, aku tak bisa tiap hari cek dia di rumah."


Apa Novi membawa laki-laki ke rumah?

__ADS_1


"Itu…." Telunjukku terangkat dan mengarah ke halaman rumah mamah. "Motor siapa ya?" Pagar rumah tertutup sempurna, jadi kesannya ia bukanlah seorang tamu yang datang.


"Loh?" Bang Givan malah terlihat terkejut.


Ia tak berkata apapun, tapi langkahnya langsung terayun masuk ke halaman rumah mamah. Pagar tertutup sempurna, tapi tidak dipasang kode. Jadi, kami hanya perlu menggesernya ke samping.


Aku mengikutinya, dengan perbedaan lima langkah di belakangnya. Langkah bang Givan cukup cepat, aku tertinggal dan tidak berniat mengejar juga.


Brak…..


Ruang tamu kosong.


"Ke mana mereka?!" Napas beratnya sudah terdengar.


Jangan sampai baku hantam, Ya Allah. Bisa ada jenazah orang lain nanti di rumah penuh kenangan ini.


Bang Givan dan aku pun tidak menyerukan nama Novi. Aku tidak melakukan hal yang tak ia lakukan, karena pikirku mereka pasti langsung berbenah ketika sedang melakukan sesuatu.


Aku bersiap menutup mata, ketika suara pintu kamar atas dekat tangga langsung didorong oleh bang Givan.


Ah, nyata.


Grasak-grusuk langsung terdengar.


"Bang Givan…." Aku bisa mendengar suara panik Novi.


Bang Givan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia diam dan mengarahkan pandangannya ke arah ranjang. Aku melangkah masuk, barulah terlihat jika setengah tubuh Novi sudah tidak mengenakan pakaian.


Tidak ada perintah apapun. Bang Givan hanya diam, dengan masih membuka matanya lebar-lebar.


"Tempati rumah Cani!"


Mungkin ada sekitar sepuluh menit, bang Givan baru memberikan perintah.


"Tapi, Bang." Novi sudah berada di hadapan bang Givan.


"Berbenah sekarang!" Ketegasannya mengarah pada Novi.


"Bang Ghifar…." Novi menoleh ke arahku dengan wajah memelas.


Dia mabuk laki-laki itu.


"Ghifar udah beristri dan kalian berjarak. Nurut perintah aku, atau kau ikut keluarga dari ibu kau?!"


"Ya, Bang." Novi berjalan tertunduk menuju ke arah lemari.


"Kalau kau serius, besok sore Saya tunggu di rumah pagar putih." Bang Givan menunjuk rumahnya.

__ADS_1


"Bang, Saya bisa jelaskan baik-baik." Laki-laki itu muncul dan sudah berpakaian lengkap, berikut dengan jaket kulitnya juga.


"Iya, Saya tunggu penjelasan kau besok sore pukul empat." Bang Givan bisa berbicara baik-baik juga.


"Ya, Bang." Laki-laki tersebut pun tertunduk diam.


"Kau bisa pergi." Bang Givan mengusut laki-laki tersebut.


Laki-laki itu menoleh ke arah Novi. Mereka berkomunikasi secara berpandangan, kemudian laki-lakinya langsung melangkah pergi.


"Nov, jangan sampai punya anak di luar nikah!" Bang Givan langsung berbalik, setelah mengatakan hal itu.


Aku pun langsung mengambil opsi untuk pergi meninggalkan Novi, daripada di dalam rumah dengan mantan istri. Yang ada, nanti aku yang kena fitnah.


Tetapi, tubuhku tertahan dengan pelukan dari belakang. Ini tidak sopan. Sebisa mungkin, aku tidak mencampuri urusannya, tapi ia masih berani saja berkontak fisik denganku seperti ini.


"Awas, Nov." Aku berusaha melepaskan tangannya yang berada di depan perutku.


"Bang, aku sendirian. Abang tak kasian kah sama hidup aku?" Ia terisak.


Aku tidak bisa, jika perempuan sudah menangis seperti ini.


"Pakai kerudung kau, kita ngobrol di studio. Aku punya tujuan di sana dan lebih baik pun kita ngobrol di sana yang jelas banyak orang." Pelukannya terlepas, kemudian aku memutar tubuhku menghadapnya.


"GHIFAR!!!"


Bos tambang memelototiku dari bawah tangga.


"Iya, Bang." Aku langsung menoleh ke arah Novi. "Aku tunggu di teras." Aku langsung menuruni tangga.


Sudah beristri pun, di marahi sana-sini tetap saja sering terjadi. Aku seperti adik kecil untuk bos tambang itu, aku pun seperti anak kecil untuk kedua orang tuaku.


"Rumah tangga kau baru adem. Mau kah jadi duda, dengan anak tanpa akta kelahiran?!" Amarahnya lepas di telingaku.


Sialnya aku yang berada di sampingnya.


"Tak, Bang. Novi bilang aku sendirian, dia kan tak sendirian, di sini kan keluarganya." Aku meliriknya sekilas.


Langkah kaki kami terhenti di teras rumah.


"Sebenarnya kasian sama dia tuh. Tapi gimana, kita punya kehidupan dan tanggung jawab sendiri. Aku tak bisa awasin dia terus, aku harus kerja, belum anak istri yang harus aku perhatikan juga. Kau tau sendiri, orang tua kita masih ikut andil di kehidupan kita. Kalau Novi orangnya kek Aca, deketin mamah, curhat, cerita, dia itu tak bakal ngerasa sendirian. Cuma, dia ini orangnya tertutup. Mamah pun tak tau masalahnya Novi, kalau Novi tak cerita dan minta solusi." Amarahnya sangat kentara terlihat.


"Memang rumah anak kau tak terpakai?" Yang kami bicarakan adalah bangunan baru yang berada di sebelah rumah Chandra.


"Aca ikut kau, Cani masih ASI. Mungkin Cani bakal dapat pengasuh, kalau udah lepas ASI." Bang Givan menoleh ke dalam rumah.


"Nov!!! Cepat! Mau dikunci pintunya!" serunya kemudian.

__ADS_1


"Jadi, rencananya gimana?" Aku duduk di lantai dan menapak tanah.


...****************...


__ADS_2