Istri Sambung

Istri Sambung
IS142. Kepalan tangan melayang


__ADS_3

"Ya Allah, Novia." Aku panik dan berlari cepat ke arahnya, setelah mengetahui ternyata bunyi-bunyian itu dari ruang dokumen.


"Far…. Kau ada di sini?" Bang Ken seperti melihat setan.


Aku tak meladeninya.


Aku lebih memilih fokus, pada pelipis istriku yang berlumuran darah. Aku langsung menarik tubuhnya yang bersandar pada rak kaca itu.


Pelipisnya terbentur dan membuat rak kaca itu pecah. Belum lagi luka menganga dengan aliran merah yang mengalir deras.


"Nov, kau kenapa?" tanyaku dengan mengusap cairan itu yang menutupi matanya.


"Bang…." Novi terisak, dengan menyembunyikan wajahnya di dadaku.


Aku melihat sekelilingku.


Kerudung Novi yang tergeletak di lantai, sofa yang tidak sesuai posisi semula, meja kayu yang jatuh menyamping, dengan ikat pinggang laki-laki yang tergolek.


Apa ini kejadian yang sama, yang pernah Canda alami?


Aku menatap marah pada bang Ken, dengan tanganku mencoba menahan rembesan darah yang terus mengalir deras.


Lihatlah dirinya! Ia hanya diam, dengan tatapan bingung. Apa ini menunjukkan, bahwa dirinya bersalah?


Tiba-tiba, ingatanku saat di rumah subsidi milik mamah terlintas kembali. Seluruh ujung jariku begitu dingin, dengan gemetar yang menjalar.


Hancur


Itulah yang terlihat, saat aku berhasil membuka pintu yang tak dikunci tersebut. Kaca meja yang terpecah belah. Novel karya mamah, yang berhamburan tak beraturan. Sofa yang tak tertata rapi, juga bantal sofa yang berserakan kini terlihat jelas di ingatanku.


Isakan memilukan terdengar begitu membuatku hancur. Bibirku bergetar hebat, aku berusaha menahan tangisku. Saat langkah kakiku menuju ke sumber suara, aku mendapat tepukan kecil di bahuku.


"Abi buka kasus, buat kau. Atas nama Abi, untuk kau dan masa depan kau," ungkap abi Haris, dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Lututku lemas, saat melihat Canda dengan wajah bermandikan darah juga pakaian yang tak Canda kenakan lagi.


Kini, aku merasakan lagi di posisi itu.


Aku jatuh tersungkur, karena berat tubuhku tak bisa aku topang dengan kakiku lagi. Kelemahanku berkumpul menjadi satu, melemahkan otak dan fisikku dengan kejadian tak terduga yang terulang kembali.


"Far… heh, Ghifar…" panggil anaknya abi Haris berulang, saat mataku terpejam dan lunglai di menimpa tubuh Novi.


~


"Papa…. Papa ehat?"


Anak siapa ini?


Kenyamananku terusik, dengan tepukan ringan di pipiku.


Brughhhhh…. Brug, prang….

__ADS_1


Nyawaku berkumpul kembali, teringat akan kejadian sebelum rasa nyaman ini datang.


"Novia…!" pekikku lepas, mendengar pecahan beling yang berulang itu.


"Hei, Far…. Far…." Mamah langsung berjalan ke arahku.


Aku mengedarkan pandanganku. Aku berada di ruang penghubung antara ruang tamu dan ruangan yang menuju tangga. Aku menundukkan kepalaku, kemudian melihat karpet yang familiar di mataku.


Aku pingsan, kemudian direbahkan di atas karpet.


Kemeja kerjaku sudah raib. Aku hanya mengenakan celana hitam, tanpa ikat pinggang juga. Bau minyak aromaterapi, berpusat dari tubuhku.


"Ra ganggu Papa bobo itu, Nek!" adu anak bungsuku, yang ternyata ada di sebelah kiriku. Sedangkan anak perempuan yang menjadi tersangka membangunku, ada di sebelah kananku.


"Minum dulu, Far." Mamah menyodorkan segelas air di depan mulutku.


Aku meneguknya beberapa kali. "Novi mana, Mah?" Hanya nama itu yang menjadi beban pikiranku sekarang.


"Di kamar tamu, lagi sama Ken."


Silalan!


Nama itu lagi!


Aku langsung bangkit dan berjalan, dengan kepala yang masih kliengan. Bahkan, pandanganku kabur dan membuatku menabrak sofa ruang tamu.


"Pelan, Bang. Sakit."


"Novia!!!" Aku berseru, semampu jangkauan suaraku.


Aku marah bercampur aduk, karena tidak tahu pasti semua kejadian ini.


Brakh…..


Ada bang Ken yang duduk di tepian ranjang, dengan kak Aca yang mengarahkan senter ke arah kepala Novi.


"Tahan, Nov." Bang Ken seperti menarik benang di bagian pelipis Novi.


"Novi, kau tak apa?" Aku berjalan mendekat ke arahnya.


Lelehan air mata Novi, membuatku semakin yakin bahwa bang Ken menyakiti Novi. Pasti, ia memaksakan kehendaknya pada Novi.


Aku langsung menarik lengan bajunya. Dengan demikian adanya, satu layangan kepalan tangan, aku daratkan ke wajahnya.


"Ghifar!!!" pekik kak Aca.


"Bang…. Abang…." Novi menyerukan namaku.


"Mak Cek…. Pak Cek…. Ghifar berantem!!!" teriak kak Aca, karena aku bukan sekali saja melayangkannya pada bang Ken.


"Far…. Far!!! Kau apa-apaan sih!"

__ADS_1


Tangan kananku yang sudah berada di atas awan, dicekal oleh seseorang yang datang dari belakang.


Aku menoleh ke belakang, kemudian menghempaskan tanganku yang dicekal olehnya.


"Kau tak tau apa-apa!" Aku kembali membelakangi Zuhdi, suami dari Giska.


"Aku memang tak tau. Tapi kau coba tengok! Di pelipis istri kau masih ada benang begitu!" Zuhdi mendorong punggungku.


"Udah, udah! Tak apa." Bang Ken memegangi area wajahnya, kemudian hendak kembali untuk menyentuh wajah Novi kembali.


"Jaga ya tangan kau, Bang!!!" Aku hendak menepis tangan bang Ken dari wajah Novi.


Namun, tubuhku dicekal oleh Zuhdi. Dengan tenaga ekstra yang datang membelenggu kembali, papahku.


"Novi lagi diobati, Far. Kau tenanglah dulu." Tubuhku ditarik, sampai keluar dari kamar tamu yang berada di rumahku ini.


"Mah! Jangan tutup pintunya! Jangan tutup pintunya!" Aku mencoba melepaskan cekalan tangan dua orang laki-laki ini.


"Kau bisa tenang tak, Far?!" Berakhir dengan leherku yang dikunci oleh siku dalam tangan papah.


"Istri kau lagi diobati dulu! Sabar!!!" Kedua tanganku pun dikunci oleh tangan kiri papah.


"Pah! Papah tak tau ceritanya!" Bodohnya aku malah memalukan diriku dengan menangis di depan keluarga.


"Ya makanya kau tenang dulu!" Papah tetap menahan leherku dan kedua tanganku.


"Novia…." Aku memanggil nama istriku lagi.


Keluargaku, seolah-olah memberi kesempatan bang Ken untuk memakan Novi.


"Ada Aca, ada mamah juga di dalam. Kau tenang." Zuhdi melebarkan pintu kamar tamu tersebut.


Terlihat bang Ken masih beraktivitas di area pelipis Novi. Dengan senter yang masih menjadi penerangan utama, dengan mamah yang berdiri di belakang tubuh anak angkatnya itu.


Apa seperti itu buasnya laki-laki?


Bang Ken sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, tetapi menikamku dari belakang. Padahal ia selalu ada, saat Canda mengalami keadaan buruk karena bang Givan. Ia pun menemaniku berjuang, untuk melupakan tentang Canda dan hal buruk yang menimpa Canda. Ia pun satu-satunya orang, yang terus memberiku nasehat untuk ikhlas menerima Canda menjadi kakak iparku.


Tapi kenapa, ia yang kini membuatku trauma berkepanjangan dengan permasalahan yang sama?


Bukankah ia sendiri, yang tahu bagaimana terpuruknya diriku?


Bukannya ia sendiri, yang paham akan bagaimana hancurnya aku atas ulah kakakku sendiri?


Tapi kenapa, ia juga yang kini bertindak seperti kakakku untuk menghancurkan wanitaku dan kebahagiaanku?


Aku melihat dari jauh, dirinya yang membenahi kotak kecil dan keluar dari kamar tamu tersebut.


Ia sengaja membuat Novi luka, lalu ia sendiri yang mengobatinya. Agar seluruh keluarga tidak memiliki kecurigaan padanya.


"Far…. Abang bisa jelaskan." tampangnya sudah disetel sok bijak di sini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2