Istri Sambung

Istri Sambung
IS116. Ke pasar


__ADS_3

Apalagi, umumnya para perempuan menginginkan anak perempuan juga. Agar bisa ia dandani seperti yang mereka inginkan. Memakai aksesoris, atau pakaian yang lucu menurut mereka.


"Biar aku ada yang jagain. Karena anak perempuan, pasti cinta pertamanya ayahnya. Kalau anak laki-laki, cinta pertamanya ibunya. Mungkin aku pantas, karena tak bisa dapat cinta dari Abang. Tapi aku cukup pantas bukan? Dapat cinta dari anak laki-lakiku?" Pandangannya begitu menyedihkan, tetapi garis bibirnya tertarik ke atas.


Aku tidak menyangka, ternyata seperti ini alasannya.


Aku meraup wajahnya. "Jangan suka buang-buang omongan! Segini cintanya, masih aja dibilang tak cinta." ucapku kemudian.


Novi tertawa sumbang. "Aku ingat gimana Ra, begitu mabok ayahnya. Dunianya itu yayah, keknya tak bisa hidup tanpa Yayah. Aku belajar dari situ, Bang. Ternyata begitu ya anak perempuan? Ayah itu nomor satu untuknya, meski ibunya yang mengASIhinya." Pandangan Novi terlihat kosong.


Tapi tidak juga, kedua anakku pro. Mereka dekat denganku, maupun dengan Kin.


"Kal biasa aja sih, gimana anaknya juga. Kaf juga biasa aja, tak melulu mamanya." Aku merasa hanya Ra yang seperti itu. Banyak anak-anak yang aku amati pun, yang terlihat lebay pada ayahnya hanya Ra saja.


"Tak, itu ada konsepnya, Bang. Abang aja buktinya lebih sayang mamah kan ketimbang papah?"


Aku berpikir di sini. Rasanya memang iya juga, tapi anak-anakku tidak demikian.


Aku manggut-manggut, kemudian memperhatikan wajah Novi dari samping. Novi merapikan rambutnya sendiri, membuatku malah fokus pada cincin Kin yang berada di jarinya.


Aku menggenggam tangannya yang tersemat cincin Kin di jemarinya. Kemudian, aku meloloskan cincin itu.


"Aku bawa ke toko emas ya?" Aku memutar-mutar cincin mungil seribu sejarah ini.


"Mau dijual?" Novi pun memperhatikan cincin yang tengah menjadi fokusku.


"Tak diubah tulisannya, dicuci juga biar nampak lebih kinclong." Khawatir ini akan menciptakan keributan lain, jika dibiarkan masih memiliki huruf K.


"Memang betul ini cincin nikahnya Kin?" tanyanya kemudian.


Aku mengangguk, aku menceritakan semuanya tentang tragedi pencurian itu. Aku pun menceritakan secara detail, bagaimana cincin itu tidak ditemukan.


Novi menyimak dan sesekali menganggukkan kepalanya. Ekspresinya berubah-ubah, dahinya pun mengkerut terlihat keheranan.


"Ya udah deh. Sekarang kah?"


"Tak, nanti aja mamah. Sekarang katanya mau dibuat hamil dulu. Kita coba di sini." Aku bangkit, kemudian mengunci pintu utama ini.


Matanya terbuka lebar. Novi terlihat sedikit seram, jika mengekspresikan kekagetannya.


"Di ruang tamu, Bang?" Segala bertanya lagi, padahal tadi aku mengatakan dengan jelas.


"Iya, Nov. Aku tak suka kalau selalu di ranjang, kurang deg-degan." Memang agak lain fantasiku.


Novi melongo saja. Ia seperti begitu terheran-heran, mendengar apa yang keluar dari mulutku.


"Kenapa tak sekalian di ruangan terbuka? Di ladang, di depan jendela, di balkon." Novi terlihat nyolot.


Aku tertawa lepas. Aku tidak sebegitu gilanya juga menuntaskan fantasi.


"Tak, di ruang tamu aja tak apa. Belajar di atas ya, Nov?" Aku membingkai wajahnya dan menyatukan dahi kami.


"Aku minta anak, tak dilakuin siang-siang begini juga kali. Serba bingung kalau sama Bang Ghifar tuh, agak lain dari anak teungku haji yang lain." Novi cenderung menggerutu, dengan menggelengkan kepalanya.


Aku makin geli tertawa.


"Aku tau beres tuh, Nov. Kau bisa tak?" Aku duduk kembali di sampingnya.


"Gimana sih tau beres itu?"


Ah, aku punya ide.

__ADS_1


"Aku ambil HP dulu ya? Kita nonton film dewasa dulu, biar aku ingin, biar kau pun tau cari mainnya." Aku langsung berlari ke lantai dua untuk mengambil ponsel.


Aku adalah jenis manusia, yang menggunakan ponsel ketika ada perlunya saja. Aku hampir tidak pernah mengantongi ponsel, ketika berada di rumah.


Aku mengantongi gel pelumas, juga pergi ke ruang tamu kembali dengan menggenggam ponsel. Masih baru gel pelumas ini, karena aku belum berhasil on fire kembali.


"Bang, serius? Apa tak risih, nonton film dewasa dulu?" Novi menyatukan alisnya, dengan wajah cemberut.


Ah, dia belum tahu saja.


"Belajar, biar tau. Nanti gantian, kapan-kapan kan kau yang tau beres." Tapi dulu aku jarang melakukannya, Kin lebih suka mengendalikanku di bawahnya.


Gila sekali memang perempuanku yang satu itu. Ia suka menyiksa fisik, juga ke hal ken*k*atan sekalipun. Ia suka sekali, jika aku sudah memohon dan meracau tak jelas.


Aku mulai memutar salah satu video yang menampilkan perempuan yang begitu agresif. Mungkin aku lain, dari laki-laki yang ada. Aku lebih suka tahu beres, juga perempuanku yang lebih aktif. Tapi sewaktu-waktu pun, aku sering kebalikannya.


"Gimana, Nov?" Aku meliriknya dengan senyum lebar.


Aku sudah minat, ditambah lagi mendengar suara perempuan dalam video tersebut.


"Aku keknya tak berbakat begitu deh? Apa aku boleh sharing ke ipar lain?" Bola matanya berputar ragu.


"Ya gimana ya? Asal jangan detail, minta saran aja gitu. Ke ipar yang perempuan juga, ke Giska juga itu tak apa. Minta saran, jangan cerita aku begini suami aku begitu. Tak boleh ya?" Karena ada adabnya untuk sharing masalah rumah tangga pun.


"Iya deh." Novi bangkit dan hendak melangkah.


Mau ke mana dia?


Aku langsung menarik tangannya. "Mau pergi?" tanyaku cepat.


Novi memutar lehernya, kemudian ia mengangguk. "Iya, Bang. Katanya boleh sharing," tukasnya enteng.


"Ya tak sekarang juga dong. Itu bisa nanti, sekarang ladenin dulu suaminya." Aku menarik tangannya, kemudian membawanya ke atas pangkuanku.


Aku menarik bagian dress depannya yang begitu pendek itu. Hingga bungkus wadahnya langsung terlihat.


"Ya ampun! Rusak pakaian aku, Bang!"


Aku malah tergelak puas, mendengar Novi malah memikirkan pakaiannya. Belum tahu saja ia, berapa banyak kancing kemejaku terbang atau kaosku yang disobek paksa. Belum tahu juga ia, berapa banyak daster Kin yang berubah menjadi lap, karena aku menyobeknya sesering mungkin.


"Nanti beli lagi deh." Aku mencoba menciptakan mood bagus untuknya.


"Rusak satu, beli dua ya?" tawar Novi dengan mengacungkan dua jarinya.


Aku mengangguk menyetujui. "Iya oke. Tapi coba yang kek di video tuh ya?" Aku pun memberikan syarat padanya.


Novi mengangguk, "Iya sini aku coba." Novi bangkit dan langsung menyerang pengait celanaku.


Nah, begitu kan enak.


Aku membiarkannya berusaha sekeras mungkin. Meski hasil akhirnya, tetap Novi yang bisa keluar. Tidak dengan aku, tidak juga untuk Black Mamba.


Apa iya harus bertengkar hebat dulu?


Tapi tadi pun aku cukup kesal.


Awal bulan nanti, aku akan mencoba distimulasi oleh Novi di depan dokter. Maksudnya, dokter akan mengajarkan pada Novi. Agak gila memang, aku pun baru tahu prosesnya semalu itu.


Namun, dokter pun berkata agar ia tahu bagaimana responku. Agar ia bisa mendiagnosis dengan jelas, karena menurut pemeriksaan kesehatan aku normal saja. Agak sulit memang mengobati kesulitan e****i lini.


Aku berpikir ingin ke tabib saja. Karena konon katanya, lebih manjur daripada dokter. Itu pun entah juga, karena aku belum pernah mencobanya. Tapi jika setelah tiga bulan berobat ke dokter, aku tetap tidak ada perubahan. Aku akan lari ke tabib saja, ataupun pijat syaraf yang dikhususkan untuk laki-laki yang lemah sepertiku.

__ADS_1


~


"Ati-ati, Bang. Ati-ati, Kakak Ipar." Aku sekeluarga mengantar bang Givan, Canda dan anaknya hanya sebatas pagar rumah saja.


Sedangkan mereka, diantar oleh Ghavi. Kasihan sekali saudaraku yang satu itu, ia kini berada di titik terendahnya. Semoga kabar tentang istri lain Ghavi, tidak pernah terkuak, agar ia dan Tika tidak pernah ribut selain masalah ekonomi.


Ra tentu saja diungsikan sementara. Ia tidak boleh tahu, bahwa ayahnya pergi. Karena ia akan mengamuk hebat, jika tahu kebenaran itu.


"Khawatir sama Candanya, belum empat puluh hari. Givan tuh buru-buru aja, kek kerjaan tak ada yang handle aja." Papah geleng-geleng kepala, melihat mobil yang mengantar mereka itu semakin menjauh.


"Memang kenapa, Pah? Canda udah nampak kuat juga, tak kek waktu lahiran Ra." Aku memperhatikan anak-anak yang repot dengan sepatunya.


Ini bukan hari libur, anak-anak sibuk bersekolah. Aku pun, sebentar lagi akan berangkat kerja.


"Takut dipakai Givan, minimal kan dua bulan itu. Khawatir Candanya kenapa-kenapa." Sebegitu sayangnya papah pada menantunya itu.


"Keknya bang Givan pun tak bisa maksa. Dia paham istrinya punya trauma, tak bisa dipaksakan gitu." Bang Givan pernah menceritakan ini padaku.


Papah hanya manggut-manggut. Kemudian beliau melangkah pergi, dengan menggandeng anak Giska yang paling kecil.


Rumah mamah dan papah sarangnya cucu-cucunya, ketika orang tua anak tersebut tengah sibuk. Mereka pasti akan dititipkan di sini, entah dalam waktu yang lama atau sebentar.


Padahal aku ingin mengobrol perihal pusaka. Aku ingin tahu perihal sepak terjang tabib, karena bisa jadi aku akan melirik pengobatan tersebut.


Eh, tapi aku juga akan berangkat kerja. Biar nanti setelah pulang bekerja saja.


"Bang, anter ke pasar dong." Novi merengek manja, ketika aku kembali ke rumah.


Masih ada waktu satu jam setengah, karena sekarang baru setengah tujuh. Aku berangkat kerja, pukul delapan pagi.


"Oke deh, jangan lama ya?"


Aku berbelok ke arah garasi rumah.


Tidak banyak yang Novi beli, hanya beberapa olahan laut dalam jumlah yang tidak begitu banyak. Aku pun menyodorkan uang padanya, karena barangkali kurang. Aku tahu, sea food lebih mahal harganya ketimbang daging ayam atau sejenisnya.


"Makasih ya, Bu?" ucap Novi setelah membayar barang yang ia dapatkan.


"Sama-sama, Dek. Sama-sama," sahut pedagang begitu ramah.


Saat aku berbalik, malah kehadiran orang tidak terduga muncul di depanku. Rauzha ada di hadapanku, dengan tersenyum begitu manis.


"Belanja?" sapa Rauzha pada Novi.


Novi mengangguk. "Iya." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


"Udah isi belum?" Rauzha menurutku sok akrab, padahal menurutku ia tidak mengenal Novi.


Rauzha hanya kenal denganku.


"Isi apa ya?" Novi menolehku yang pasang badan di belakangnya.


Aku mengedikan bahu. Lebih baik pura-pura tidak mengerti, daripada salah paham nanti.


"Maksudku, udah hamil belum? Gitu." Rauzha memperjelas dengan menunjukkan giginya.


Novi memandangku kembali, urat wajahnya terlihat kurang suka dengan pertanyaan itu. Pastilah ia tersinggung. Ia menginginkan hal itu juga, tapi aku tak bisa menghamilinya.


Apa opsi untuk membuatnya hamil dengan cara lain, harus kuambil juga?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2