
"Aku pun ngerasain yang Papah rasain," responku kemudian.
"Adegan dewasa yang bagaimana memang kalian?"
Nah, kan? Sudah kuduga, aku akan disudutkan.
"Ya ada sih, Pah. Cium-cium sedikit." Karena jika tidak disebutkan, pasti papah lebih menyudutkanku.
"Ditiru kok yang jelek-jeleknya, heran." Papah malah geleng-geleng kepala.
Baru segitu, Pah. Aku bahkan sempat berzina, tapi tidak mengatakannya di depan kalian.
"Jadi aku harus gimana sih, Pah?" Aku mengembalikan topik utama.
"Permasalahannya yang pertama. Pakdhe kau tak mau kakak adik jadi besan, takut bercerai malah jadi musuhan. Yang kedua, kau punya jejak nikah cerai dan kau yang ceraikan. Next kepikiran pakdhe kau juga, Kin punya sindrom itu karena sering dipukuli sama kau. Terus, pakdhe kau tau kau tak mau kerja kotor. Andaikan, kalau ekonomi kalau lagi di bawah. Khawatirnya pakdhe kau, kau tak bisa nafkahi Aca. Pakdhe kau tau, tentang kau yang mual bau peternakan, tak mau jadi kuli lah kasarnya."
Wah, jelas tahu. Kan aku dilempar ke Cirebon, di sana pun aku menjadi supir peternakan mamah. Beliau mendengar keluhanku dan rasa tidak nyamanku, karena bau yang tidak sedap itu.
"Ya gimana, Pah? Tiap orang kan beda-beda juga."
Tidak semua orang, memiliki penilaian positif tentang kita. Tidak semua sikap kita juga, dipandang bagus oleh semua orang.
"Jadi, ya kau harus bisa yakinkan tentang keraguan pakdhe kau soal hal itu. Kau harus kasih paham, bahwa Kin kena sindrom bukan karena sering kena pukul kau. Kasih bukti pakdhe kau, bahwa kau siap nafkahi Aca gimana keadaan pun keuangan kau." Papah mengusap-usap bahuku.
Aku menghela napasku. "Gimana coba caranya aku buktikan, kalau tak kukawini dulu anaknya?" Segala tentang nafkah itu, ya akan terlihat jika aku menjadi menantunya.
"Ya kau ke sana, Bodoh! Datang kau ke peternakan, pura-pura kek ngapain, bantu apa begitu." Papah sampai membuatku tersentak dengan tepukannya yang keras itu.
Ia seolah tengah membantuku yang tengah tersedak.
"Ya gimana coba. Aku ngapain di peternakan?" Aku melirik papahku sinis.
__ADS_1
"Wah kebetulan tuh Abang kau mau gelar usaha pupuk di sana, karena kata mamah kau di sana kotoran ternaknya numpuk. Kan peternakan mamah kau, pakdhe kau, almarhum nenek kakek kau, jaringannya udah ngalahin jaringannya Rozi. Rozi itu, yang ngajarin mamah kau peternakan dan dulunya bandar besarnya telur puyuh di sana."
Apa iya harus harus aku yang maju?
"Berarti kaca juga ikut aku ke Cirebon, Pah."
"Ya tak harus ikut, memang dia mau ngapain? Kan yang lagi cari nama itu kan kau, bukan si Aca. Bisa aja sih, abang kau yang maju untuk gelar usahanya. Tapi, pasti nanti abang kau yang makin terkenal hebatnya. Nanti malah abang kau yang bisa-bisa diminta jadi menantunya pakdhe kau lagi, mau kau?!" ancam papah yang langsung kugelengi.
"Ya udah, besok obrolkan sama abang kau. Kalau iya, kau minta arahan dari dia, terus kau minta abang kau pegang usaha kau yang di sini. Tukeran kerjaan lah begitu, mampu tak?"
Aku geleng-geleng, tapi segera kuganti dengan anggukan. Papah sampai hampir menepukku lagi, karena gerakan kepalaku yang tidak jelas ini.
"Ya udah, Papah masuk dulu. Kau tidurlah, biar esok kau lebih siap untuk berjuang."
Aku hanya mengangguk, membiarkan papah masuk sendiri ke dalam rumah. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa meminta restu saja, sampai sesulit ini perjuangan untuk membuktikannya? Lagi pun, aku ragu jika bergelut dengan limbah peternakan. Pasti aku bisa tidak makan dan mual-mual berhari-hari.
Kenapa juga ya kak Aca tidak boleh ikut? Kan kak Aca bisa membantuku di sana. Setidaknya, mengirimiku makan begitu. Kak Aca juga baiknya membuktikan, bahwa ia pun begitu cinta padaku.
[Tidur belum, Ma?] tulisku dalam pesan chat ini.
Aku tidak menunggu balasannya. Aku bergegas masuk, lalu mengunci pintu utama. Mamah, papah, bang Givan dan Canda pun sepertinya sudah masuk ke kandang masing-masing. Mereka tidak terlihat di mataku, ketika aku mengecek pintu dan jendela rumah ini.
Tak luput juga, aku menengok kamar anak-anakku dulu sebelum aku masuk ke kamarku. Kal dan Kaf yang mandiri, mereka tertidur dengan lampu temaram dan saling memeluk guling masing-masing.
Mereka sehat-sehat, dengan pertumbuhan yang cepat. Kal dan Kaf mulai tumbuh ke atas, pakaian mereka cepat sekali tidak terpakai. Tapi pakaian itu tidak mubazir, karena diwariskan ke sepupunya yang di bawah umur mereka.
Batuk pilek biasa, lalu mereka sembuh setelah meminum obat. Seperti itu saja, ketika mereka sakit. Didikan Canda dan pola asuh mamah, begitu terlihat pada diri anak-anakku. Mereka yang begitu agamis, dengan Kal yang mulai menutup auratnya. Tentu dengan disiplin dan bertanggung jawab juga, karena pola asuh tegas dari mamah. Semoga kak Aca nanti, bisa melanjutkan didikan Canda yang lebih menekankan agama. Juga bisa melanjutkan sikap disiplin dan bertanggung jawab, yang mamah terapkan pada Kal dan Kaf.
Aku membersihkan diri terlebih dahulu, mengganti pakaian dan kembali ke ranjang. Notifikasi berulang, menjadi pusat perhatianku sebelum merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
[Belum. Ada apa, Pa?]
__ADS_1
[Kena marah kah, Pa?]
[Canda sama Givan lapor kah, Pa?]
[Sekarang gimana situasinya, Pa?]
[Hallo, Pa. Kena hukum mak cek kah?]
[Aduh, aku khawatir di sini.]
Spam chat tersebut, menarik senyumku secara tidak langsung. Istriku mengkhawatirkan keadaanku di sini, ia rupanya takut aku dimarahi oleh orang tuaku.
[Abis bersih-bersih, Ma. Tak ada yang lapor kok, cuma tadi abis ngobrol aja. Papah saranin aku ke Cirebon, untuk gelar usaha pupuk milik bang Givan. Biar bang Givan yang handle kerjaan aku di sini. Papah tadi ceritakan, tentang hal apa yang buat ayah kau tak terima aku. Mungkin dengan aku di sana, terus bangun usaha milik bang Givan, mana tau pakdhe paham tentang sifat gigih aku. Ya sebenarnya ragu, karena tak punya basic tentang usaha ini. Meski sekalipun diarahkan bang Givan, tetap aja aku kebingungan nanti. Karena mengarahkan itu, tidak sejelas mencontohkan.] Balasanku cukup panjang, lalu segera kukirim padanya.
[Duh, gimana? Bisa tak nanti?] Kak Aca mengirimkan balasan seperti mengkhawatirkan kemampuanku.
Jangankan orang lain, aku pun ragu sebenarnya.
[Ya tak tau, diizinkan tak memang? Kita LDR dulu. Apa mau ikut pulang ke Cirebon?]
Setelah membalas, aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur yang awet ini. Entah kapan rusaknya, karena sampai berganti pemilik ranjang pun tetap tidak kempes juga kasurnya. Ranjangnya pun tetap kokoh, bahkan tidak keropos atau patah sedikitpun.
[Duh, gimana ya? Diizinkan apa tak ya? Masa kita LDR lagi? Bareng-bareng di rumah pun, rasa LDR karena tak pernah seranjang. Kalau diizinkan, Papa bakal mampu tak? Aku ikut pun, Ra gimana?]
Ia ragu mengizinkanku.
[Ya coba nanti besok aku ngobrol sama bang Givan dulu. Jadi, diizinkan apa tak?] Aku menanyakan ulang.
[Eummm…….
...****************...
__ADS_1