
"Tak pernah jajan kan?"
"Tak pernah," jawabku dengan merapikan rambutnya. Jangan tanyakan ke mana hijabnya, bahkan sprei pun sudah tidak beraturan lagi.
Ilmu naluri saja, kak Aca rupanya rindu dengan sosok laki-laki. Kami belum terlalu jauh, tapi kami sudah cukup lama saling mencium bau keringat masing-masing.
"Kak…." Aku mendongak dan bersandar tanpa pergerakan pada kepala ranjang ini.
Pembicaraan awalnya hanya ingin tahu rupa ketika keras saja, tapi sekarang sudah masuk ke indra pengecapnya. Buntut akhir dari ini semua, karena lelehan darah mimisanku yang membuatnya paham, bahwa aku tidak kuasa menahan keminatanku.
"Lepas ini kita pulang." Kak Aca mengangkat kepalanya sebentar, kemudian ia berada di sana lagi.
Rasanya tidak cukup adil. Aku tidak menuntut berhubungan suami istri juga, tapi aku tahu ia pun tidak baik-baik saja sekarang.
"Gantian nanti." Aku memperhatikannya yang tengah bekerja.
"Tak usah, aku haid."
Benarkah?
"Aku tak percaya kalau tak tengok sendiri." Aku mencoba menjadi dirinya yang pemaksa seperti tadi.
Ia beristirahat sejenak, dengan memandang wajahku. Ia terlihat berpikir, aku curiga ia tengah mencari alasan untuk berbohong lagi.
"Kenapa?" Aku tersenyum dengan mengusap keringatnya.
Tangannya masih bergerak. Namun, ia bangkit dan duduk berhadapan denganku.
"Aku tak mau hubungan badan."
Tuh kan? Ia tengah mencari alasan tadi. Dalih tengah haid, tentu hanya akal-akalannya saja.
"Aku tak minta." Tapi jika dikasih pun, aku tak menolak.
"Tapi gantian, aku cuma mau lihat," lanjutku dengan menarik rahangnya.
Aku belum selesai. Black Mamba masih bersombong diri di sana.
Kak Aca menurut, ia hanya menahanku sedikit. Tapi aku tetap melancarkannya, tanpa memaksanya.
Bau khasnya sudah menguar, tanda ia siap berjuang untuk dibuahi. Tapi aku paham, sebaiknya jangan. Daripada nanti aku memiliki anak tanpa nasabku dan tanpa jatah warisan dariku.
"Jangan didengus-dengus terus!" Kak Aca menjambak rambutku pelan.
Aku terkekeh, kemudian langsung menurunkan wajahku untuk mencicipi rasanya. Kegelisahan kak Aca terlihat bertambah parah, ia sudah berkabut gelap dengan menghantarkan hawa hangat.
Sembari mengerjai kak Aca, tangan kiriku beraktivitas sendiri untuk menjinakkan Black Mamba.
"Far, Ghifar…,"
Bahaya, ia mulai bersuara. Bisa-bisa aku semakin tidak bisa menahan diri. Mana kepala Black Mamba sudah berdenyut, ia sudah kepusingan di tengah-tengah sana.
__ADS_1
Bertambah lagi suaranya, kak Aca sudah seperti burung kicau. Masalah dosa, tolong jangan dihakimi. Kegiatan kami jangan dicontoh dan jangan dipraktekkan tanpa tali pernikahan.
"Ghifar!!!" Kak Aca mendorongku.
Aku tidak menjawabnya. Aku terus berusaha mendorong agar hilang sempurna, meski aku memahami bahwa kak Aca merasa keberatan dengan kegiatan ini.
Aku harus bisa buang luar.
Sudah pas. Aku menyatukan tangan kak Aca dengan hawa romantis yang tercipta, kemudian aku mengajaknya mengadu indra perasa kami. Ia meladeniku, bahkan di dalam sana pun merespon dengan ganjalan yang aku berikan.
Aku berzina untuk pertama kalinya.
Aku tak bisa menahan diriku, apalagi perempuannya sama mesumnya begini. Kak Aca pun nampak tidak keberatan dengan perlakuanku, meski di awal ia memberikan peringatan untuk tidak melakukan ini.
"Kau normal, Far! Kau ngerjain aku." Matanya begitu sayu.
"Kebetulan aja." Aku membenahi posisi yang sesuai.
Bagaimana rasanya? Dia hidup. Bukan kak Aca, tapi tempat untuk kenyamananku ini. Dia pandai berakrobat, pandai merespon, pandai dalam hal tarik tambang.
Aku jadi teringat rasanya Kin ketika ia ikut senam kegel.
Aku blingsatan.
Tidak begitu sulit untuk menerjangnya seperti Novi. Tidak ada drama berdarah-darah, maupun drama menangis juga.
"Far, kontrol!" Kak Aca menyentuh tanganku.
"Durasinya. Ini udah jam sebelas."
Mampus aku, orang rumah pasti curiga. Aku diberi waktu hanya sampai pukul sepuluh malam, tapi tidak terasa sudah lama terlewati juga.
"Masih lama kah siapnya?"
Jika seperti ini, terlihat bagus sekali.
"Lama kalau begini, aku harus di atas."
Wow, kesempatan sekali.
"Oke." Aku segera membalikkannya.
Hingga konsep untuk keluar di luar itu, malah menjadi berceceran. Aku jadi seperti anak SMA yang khawatir pacarku hamil, aku malah melamun ketika kami telah selesai.
"Ayo bersih-bersih." Kak Aca turun dari ranjang.
Ia menarik bed cover untuk menutupi tubuhnya. Otomatis, aku terekspos seketika.
"Nanti kalau hamil gimana?" Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Aku tak mau mempermalukan nama baik keluarga, karena imanku yang tipis ini. Masa anak teungku haji, kasusnya hamil di luar nikah.
__ADS_1
"Nanti cari apotek dulu."
Loh?
Kenapa aku malah berpikir jelek. Ya, aku berpikir kak Aca sering seperti ini. Jangan-jangan, ia pernah menggugurkan kandungan juga.
Hingga kami bersiap, lalu ke kamar sebelah untuk mengacak-acak kamar satu yang harusnya ditempati kak Aca. Setelah itu, kamu keluar dari hotel tersebut.
Pikirku masih semrawut, lebih-lebih aku berpikir bahwa kak Aca ini bukan perempuan baik-baik.
"Ke apotik beli apa, Kak?" Aku membukakan pintu mobil untuknya.
Kepala bawah plong, kepala atas yang mumet.
"Levonorgestrel. Tapi siap-siap aku harus nahan sakit perut super pas haid," jawabnya, ketika aku baru masuk ke dalam mobil.
"Kalau bikin sakit, ya tak usah." Pasti ada efek samping lain dari penggunaan obat itu.
"Masa aku hamil enam bulan dulu baru dinikahin? Kan kita nikahnya enam bulan lagi."
Jadi ini dalam misi kak Aca ingin segera aku nikahi? Kenapa aku malah berpikiran jelek?
"Sering kah begini?" Tentang pil itu dan tentang rencana menikah nanti, aku berpikir ia sering meminum pil itu sejak muda, atau bahkan setelah menjanda ini.
"Jangan bikin bad mood, Far. Kan aku udah bilang di awal, jangan. Tapi kau tanpa minta persetujuan, main lanjut aja. Udah selesai, kau tanya aku sering. Maksud kau gimana sih? Kau berpikir aku cewek gampangan? Padahal di awal aku udah ada bilang, kaunya yang tanpa izin. Kau yang salah di sini, bukan aku!" Berbicaranya sedikit keras dan beritme cepat.
Ya sudah, aku bersalah di sini.
"Maaf, Kak." Aku mengusap punggung tangannya.
Sifat aslinya ternyata galak.
"Ke apotik dulu tuh." Kak Aca menunjuk ke apotik yang beroperasi selama dua puluh empat jam.
"Tak sampai enam bulan kok, mungkin tiga bulanan lagi aku nikahi. Cocok kan sama punya aku?" Karena persyaratan awalnya intiku harus lurus.
"Ya masa aku hamil tiga bulan dulu?"
Iya juga sih, tapi aku tak mau terburu-buru. Sudah berhubungan intim, bukan berarti aku sudah mantap padanya.
"Ya udah deh, iya ke apotik dulu." Ia adalah perempuan yang keras kepala.
Masa iya aku harus mengalah terus? Tapi masuk akal juga sih pemikirannya.
"Sama minta uangnya juga."
Aku hanya mengangguk.
"Ehh, kita alasan apa ke pak cek?" Tiba-tiba ia langsung panik dengan memukul lenganku.
"Masa iya mau jujur?" Aku menggosok hidungku.
__ADS_1
...****************...