Istri Sambung

Istri Sambung
IS45. Berdiskusi


__ADS_3

"Bukan kau. Tapi, Novi. Dia sama kek Kin, ibunya mengandung sebelum nikah."


Aku hanya mampu terdiam. Ternyata, orang terdekat orang tuaku memiliki nasab ibunya semua. Bahkan, keturunan saudaraku pun ada yang memiliki keturunan dengan nasab ikut ibu. Bukan lain karena kejadian ini.


Semoga, aku dan keturunanku. Tidak melakukan dosa dan kesalahan yang sama.


"Terus gimana?" aku serba bingung di sini.


"Ya nanti besok, Novi kita kasih tau. Silahkan menikah, tapi dengan prosesi yang kek gitu. Biar seumur hidup, dia tak dihitung berzina. Karena kita salah menikahkannya." benar kata mamah. Ini bertujuan baik untuk kehidupan orang bersangkutan.


"Berarti Mamah restuin?"


Mamah mengangguk, "Iya, restuin. Sana kerja, jangan malas. Modal nikah itu besar, meski cuma syukuran aja." mamah menepuk pundakku.


"Iya, Mah." mahar saja dulu sampai lima puluh juta.


Aku harus banyak berdiskusi dengan Novi. Agar setelah hari pernikahan, aku tidak keteteran untuk biaya makan saja.


~


Esok harinya.


Di minggu pagi ini, aku tengah didekap oleh Novi di depan orang tuaku. Jelas, aku malu sekali. Masalahnya, Novi belum menjadi istriku.


Ia tengah menangis lepas, saat mamah mengatakan bahwa dirinya dikandung sebelum adanya pernikahan. Mungkin, ia merasa malu dan shock.


Namun, jika tidak diterangkan seperti ini. Novi terus-terusan bertanya, kenapa prosesi akad nikahnya harus private?


"Tenang, Nov. Kita pasti jaga rahasia itu, kau tak bakal malu." aku menenangkannya kembali.


"Ini alasan Pak wa ngelarang kau sedemikian rupa. Karena tak mau kau ngandung sebelum pernikahan lagi." ucap papah, yang sedari tadi memperhatikan Novi.


Ia begitu buruk. Menangis meraung, dengan air mata dan air hidung yang tumpah ke bajuku.


Apa ia tidak khawatir aku ilfeel kah?


"Kau udah tau kan alasannya?" tanya mamah dengan mengambil air mineral kemasan gelas.


Novi mengangguk samar, ia mengintip keadaan sekitar dengan mata yang basah.


"Ya udah, nih minum. Tenangin diri kau dulu." mamah menyodorkan air mineral kemasan gelas itu.


Aku menerimanya, kemudian memberikan pada Novi.


Kami terdiam, dengan pikiran masing-masing. Sengaja menunggu, agar keadaan Novi lebih baik untuk diajak berbicara.


"Kau minta mahar berapa dan dalam bentuk apa, Nov?" aku memperhatikan wajahnya dari samping.

__ADS_1


Wajahnya masih begitu merah. Hanya saja, nafasnya sudah teratur untuk bisa diajak berbicara kembali.


"Seperangkat alat sholat aja, Far. Aku tak minta muluk-muluk. Aku cukup tau diri. Begini pun, aku terima kasih, karena udah mau nutupin aib aku." ia menjawab, hanya sambil menatap tangannya saja.


"Alat sholat sebaiknya tidak digunakan untuk mahar, Nov. Karena tanggung jawab Ghifar, begitu berat nanti. Misal kau atau Ghifar, berhalangan untuk sholat karena suatu hal. Alat sholat, sebaiknya digunakan untuk pelengkap hantaran aja. Udah sholat ini sebagai kewajiban kita, ditambah lagi dijadikan sebagai mahar. Jadi ya, gimana gitu loh." jawab papahku, si teungku haji ini.


"Aku tak mau menuntut. Aku tau diri." Novi menggeleng lemah, dengan arah pandangan yang masih saja ke bawah.


"Tapi kau harus nuntut xx mau apa. Masalah aku bisa nurutin tak, ya kita cari kesepakatan lagi." sahutku kemudian.


Novi melirikku, lalu ia memandang mamah dan papah bergantian. Aku merasa, Novi seperti memiliki keraguan yang besar perihal maharnya.


"Pantas tak, kalau aku minta seperangkat perhiasan?" ia menoleh ke arahku.


"Pantas aja lah. Memang tak pantasnya gimana?" jawabku kemudian.


Papah mengadu telapak tangannya sekali, "Kau mampu tak, Far?" tanya beliau padaku.


Aku mengangguk, "Mampu, Pah. Memang beratnya berapa, Nov?" aku kembali memandang Novi.


Novi mengedikan bahunya, "Terserah kau aja, Far." sahutnya begitu lirih.


"Ya udah. Sepakat ya mahar seperangkat perhiasan?" tukas mamah cepat.


Aku mengangguk bersamaan dengan Novi, "Ya, Mah." sahutku kemudian.


Pikirku, lebih cepat akan lebih baik. Toh, akadnya pun private. Sejujurnya, aku ingin resepsi mewah. Aku ingin merasakannya. Namun, kendala dengan keuangan.


"Minggu depan tak apa, Mah." aku sengaja tidak mengutarakan, bahwa aku ingin resepsi.


Karena pasti mamah membantu biayanya, jika aku terus terang kekurangan biaya. Aku malu, jika menikah dengan biaya orang tua. Aku yang kawin, orang tuaku yang mengeluarkan uang banyak. Rasanya, itu hanya menguntungkanku saja.


Aku tidak mengaku miskin, penghasilanku lumayan. Tapi masalahnya, pemilik saham tertinggi perusahaanku, dipegang oleh kakakku. Tetap dia, yang mendapat untung besar. Meski aku bekerja dengan rajin setiap hari.


Novi menoleh ke arahku, "Secepat itu, Far?"


Lah, bukannya ia yang meminta cepat?


"Tahun depan tak apa." aku hanya bergurau.


"Ih, jangan lah. Tahun depan, aku mau udah punya anak."


Kalian tahu, bagaimana perasaanku mendengar penuturannya?


Aku merasa bodoh. Saat orang tuaku tertawa malu, karena calon istriku sudah bermimpikan untuk menambah cucu untuk orang tuaku.


"Bisalah. Kin dulu sebulan langsung positif. Dulu kan dia ngerokok tuh, panik sendiri karena belum lepas rokok. Tapi ya gitu, tetap sih ngerokok, karena tak bisa lepas gitu aja. Seumur-umur, Pak wa baru liat perempuan hamil merokok. Untungnya, Kal tak kenapa-kenapa." cerita papah, tidak mampu mencairkan suasana hancur di hatiku.

__ADS_1


Bagaimana cara aku mengatakan pada Novi, di malam pertama kami?


Bagaimana, caranya Novi mau menerima keadaanku?


Apa mungkin, Novi akan tetap mau menjadi ibu sambung anak-anakku, saat mengetahui bahwa dirinya tidak diuntungkan di sini?


Ya karena Novi menginginkan anak, dari pernikahannya denganku. Sedangkan, aku sendiri tidak percaya bisa memberinya anak.


Novi bukan dokter, yang paham titik rangsang seorang laki-laki yang se*sualnya bermasalah. Novi tidak mungkin bisa membangunkan pusakaku, seperti Kinasya.


Dulu, saat aku sudah sembuh pun. Nyatanya, itu sering kambuh. Maksudnya, ya kadang aku tidak bisa e*e*si juga. Namun, Kin tetap bisa membangunkannya.


Aku percaya, penyakit ini paten. Karena, saat aku dulu mencoba dengan mantan kekasihku pun. Aku tidak bereaksi sama sekali. Padahal, aku sembuh jika bersama Kinasya.


"Iya, Pak wa. Aku pengen langsung punya anak, tak KB lagi. Laki-laki atau perempuan, sama aja. Yang penting, anak aku sehat." senyum Novi terukir indah.


Inikah impian setiap perempuan yang telat menikah?


Aku jadi pusing sendiri di sini.


"Bisa ya, Far?"


Aku langsung meluruskan pandanganku pada mamah. Mereka tertawa geli, dengan aku yang hanya bisa tertawa getir.


Aku ragu. Tapi aku tetap memiliki cara, agar Novi bisa hamil. Hanya saja, aku takut ia kecewa dengan saran dariku nanti.


"Mau resepsi yang kek gimana nih, Nov? Bisa resepsi, tapi tak bisa banyak saksi pas akad gitu." tanya papah kemudian.


"Nikah KUA aja, Pak wa. Terus, syukuran di rumah sama foto studio sama Ghifar dan anak-anak aja. Aku tak perlu ada resepsi, yang penting ada foto yang buat dipajang."


Aku sampai tertawa geli, mendengar ucapan Novi. Ada-ada saja dia ini.


"Buat dipamerin ke teman yang ngejek ya?" ujar mamah dengan tawa.


Gilanya lagi, Novi malah mengangguk.


"Nanti kan, nih aku dapat duda. Tinggal nambahin jumlah anak aja. Anak aku udah banyak, pas udah tak produktif hamil lagi." Novi menunjukkan layar ponselnya, seolah ia tengah pamer ke temannya tentang sebuah foto.


Mamah dan papah tertawa lepas, "Bisa tuh. Jadi kek Canda sama Givan nih. Canda bawa anak, Givan bawa anak juga. Cuma rasanya kek tak punya anak. Keteteran, karena Candanya dodol ngatur kehamilan." ungkap papah dengan menarik penghalang terbesarnya kemarin.


Ya, bang Givan pernah jadi penghalang rumah tangga untuk ibu dan ayah sambungnya itu. Ia lebih ridho mamah menjanda saja, ketimbang rukun kembali dengan papah.


"Ok, Pak wa minta KTP, KK sama akte kelahiran kau. Sini Pak wa daftarkan hari ini juga." papah bangkit dari duduknya, "Kau pun ambil KK terbaru kau, KTP sama akte kelahiran." papah menepuk bahuku, kemudian beliau jalan ke arah teras rumah.


...****************...


Yey, jadi penasaran gimana pas malam pertama.

__ADS_1


__ADS_2