
"Kami pulang duluan ya, Far?" Aku mengantar Canda, bang Givan dan juga Ra di bandara.
"Iya, Kakak Ipar." Aku tersenyum lebar.
Ada suaminya di sini. Mau tidak mau, aku menyebutnya kakak ipar.
"Kabarin Abang aja." Bang Givan repot menggendong anaknya itu.
Karena jika tidak digendong, Ra akan berlarian ke mana-mana.
"Oke, Bang." Aku membantu menyusun barang bawaannya.
Tidak butuh waktu lama, aku segera pergi setelah pesawat yang membawa mereka sudah lepas landas. Aku memiliki banyak janji hari ini, salah satunya bertemu dengan Fira kembali.
Fira memiliki penginapan di sini, aku diminta bang Givan untuk menggandeng usaha Fira. Bukan hanya satu penginapan yang bekerja sama denganku.
Bimbingan bang Givan, semoga tidak malah merugi.
Drtttt……
Aku langsung menerima panggilan telepon tersebut, karena masih tersambung dengan headset bluetooth.
"Ya hallo." ucapku cepat, aku tengah mengemudikan kendaraan di sini.
"Papa…. Ini Kaf. Papa kapan pulang?" Bungsuku ternyata yang menghubungiku.
"Kaf ada di mana ini?" Aku tidak tahu siapa yang menelpon. Aku menerima langsung, tanpa melihat siapa yang menghubungiku.
"Di teras rumah. Tapi aku lagi sama kakek Adi Riyana."
Aku tegelak, mendengar anakku menyebutkan nama panjang kakeknya.
"Heh, Kakek aja!" suara tegas itu adalah papahku.
"Iya, iya." grasak-grusuk terdengar dari sana, "Papa kapan pulang sih?" lanjut suara Kaf itu.
"Nanti pulang kok. Gimana memang, Kaf? Tante Cantik di mana?"
__ADS_1
Setiap kali aku menghubungi Novi. Pasti saja kedua anakku berada di dekatnya. Tidak pagi, siang, sore, ataupun malam. Mereka selalu ada bersama di rumah.
"Tante di dalam rumah. Papa, aku sama kak Kal itu tak boleh main. Hmmm…" Kaf seperti ragu-ragu dalam berbicara, "Kakek, aku boleh adu domba tak?" Kaf berbicara pada kakeknya.
"Biar nanti Papa pulang, Kakek yang ngomong. Kaf say hay aja, tanya kabar Papa." suara papahku, yang terdengar cukup jelas.
Sepertinya, papah mengontrol Kaf yang menghubungiku ini. Tapi, tadi apa kata Kaf? Adu domba? Dia mengerti apa tentang adu domba? Dasar, anak-anak ini membuat pikiran bercabang dua saja. Tapi aku yakin, di sana pasti ada kejadian.
"Kenapa tak boleh main? Biasanya kan main sama ke pondok biyung kan? Main juga ke dato, ke ibu, ke Hadi kan?" ini adalah beberapa tempat yang biasanya anakku singgahi untuk waktu bermainnya.
Pondok biyung adalah rumah anak-anak Canda. Karena terlalu lama, jika menyebut rumah anak-anak Canda satu persatu.
"Tante Cantik marah, Pa." suara Kaf menurun sedih.
"Murka dia sama anak kau." tambah papah yang bisa kudengar.
Ya ampun, ada masalah apa di sana?
Sebulan kami bersama dan berlalu dengan baik-baik saja. Novi yang patuh, meski tidak mendapat nafkah batin dariku. Masakannya memang belum mahir, tapi aku pun turun tangan membantunya memasak. Nasi yang kadang jadi bubur, itu bukan masalah besar untukku.
Mengurus anak-anak pun, Novi sudah aku arahkan sebaik mungkin. Meski saat akan tidur, anak-anak tetap mencariku. Tapi aku bisa melihat, bahwa anak-anak sudah mulai bergantung pada Novi.
"Sih Kaf bisa main?" memang bukan hal aneh. Apalagi jelas Kaf memiliki kaki dan tangan yang normal. Ia bisa berjalan dan berlari semaunya.
"Mamah kau ada di dalam. Udah dua hari anak-anak tuh tak nampak di mata, jadilah mamah kau ke sini. Namanya ibu tiri kan? Pikiran mamah kau, takut cucunya dimasak atau ada hal yang tak diinginkan terjadi di rumah kau. Ini Papah di luar, sama Kaf. Baru denger sedikit permasalahannya, biar nanti Papah dengar lengkapnya dari mamah kau."
Sepertinya ini masalah serius.
"Nanti aku cepat pulang, kalau memang udah selesai Pah. Ini lagi kebut pertemuan, nyari kesepakatan di beberapa pemilik penginapan. Kemarin sama pihak penerbangan, terus pengelola tempat wisata. Udah banyak kesepakatan, armada pun dioplos Pah. Yang jelek, kita jual. Hasilnya, buat menambahkan kenyamanan interiornya." ini pun atas saran bos tambang.
Entah itu aku bisa apa.
"Ya, selesaikan aja dulu. Tenang aja, mamah kau ikut andil di sini. Anak-anak kau pasti aman."
Ya, aku pikir pun pasti aman. Tapi ada masalah apa? Karena aku memang tidak menyukai, jika Novi terlalu mengekang sampai anak-anak tidak diperbolehkan untuk main di luar. Biarkan anak-anak bermain di usia mereka, karena masa anak-anak tidak pernah terulang kembali.
Kecuali puber. Puber, ada giliran puber kedua.
__ADS_1
"Ya, Pah. Nitip anak-anak." aku harus semangat menyusun rencana, agar bisa cepat pulang.
"Iya, Far. Pasti kami jaga, kau tenang aja." suara papah begitu menenangkan.
"Nanti telpon aja ya, Pah? Aku lagi di jalan ini." Aku tetap fokus pada jalanan.
"Iya, ati-ati. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." sahutku kemudian.
Pertama-tama, aku menuju ke seseorang yang pertama kali membuat janji denganku semalam. Tidak banyak perbincangan, karena kebetulan sekali pihak mereka membutuhkan travel khusus untuk penginapan mereka. Sedangkan pihak mereka, tidak mampu menyediakannya sendiri.
Hingga jam makan siang, aku tengah menikmati santapan dengan Fira. Ini adalah resto miliknya, yang menyatu dengan villa berlantai yang cukup megah.
"Far…. Ini cobain. Kau biasanya lahap betul makan olahan pasta." Fira menyajikan sepiring makanan favoritku dulu.
"Aku takut dimarahin Kin, kalau makan pasta." aku menggosok kedua telapak tanganku dengan tersenyum lebar.
Cukup dingin, karena aku kehujanan dari parkiran sampai ke tempat ini. Mana tempat makan ini, berada di luar ruangan.
Fira tertawa geli, "Aku pun segan sama kau, sejak nikah sama Kin. Boro-boro say hay. Ngeliatin aja diliatin balik, mana seram betul melototnya."
Aku menerima piring tersebut, "Bagi dua, jangan aku semua. Aku tak mau terlalu banyak makan pasta. Trauma jerawat tumbuh, mana dulu banyak betul ya?" Aku melirik ke arah Fira yang sudah duduk di bangkunya.
Fira mengiyakan ucapanku tadi, "Iya, betul. Kau dulu kotor betul." Fira langsung memutar garpu di atas pasta yang ia berikan.
"Sekarang gimana aku?" Aku menunjukkan sisi kiri dan kanan wajahku.
Fira malah tergelak puas, "Lebih kurus, tapi tetap gagah juga kok. Badan kau ok betul, pas diurus Kin. Kharisma, auranya tuh, kek keluar pas diurus Kin." ucap Fira, dengan mengunyah makanan yang baru masuk ke mulutnya.
Aku ingin menceritakan sedikit tentang aku yang diurus Kin dulu. Wajahku itu, sampai sering di-facial sendiri olehnya. Sebulan sekali, Kin menotok wajahku dengan alat yang seperti pulpen. Ia mengatakan, untuk memperlancar peredaran darah.
Belum lagi lulur dan masker rutin, yang membuatku semakin nyaman diusap-usap olehnya.
"Ujannya tambah besar, Far. Nyiprat semua ini, anginnya juga astaghfirullah. Ayo ke dalam aja, ke kamar singgah aku." Fira melambaikan tangannya pada pelayan, kemudian ia meminta pelayan itu untuk membereskan makanan kita.
"Ayo, Far." Fira menarikku cepat.
__ADS_1
...****************...