
"Aku bilang, suruh nurut sama kau. Laki-laki suka perempuan yang nurut, kek mas Givan." Canda terlihat gelisah pada posisinya.
"Terus kau bilang apalagi?" Aku sering menoleh ke arahnya.
Kasihan sekali, Canda begitu pucat.
"Ya dia nanya, Ghifar gimana waktu kejadian khilaf itu katanya. Terus ceritanya tuh janjian apa gimana, kok bisa ada di Oyo katanya." Canda memegangi lenganku.
Aku segera menoleh, melihatnya menarik nafas cukup dalam.
"Sakit perutnya, aku mau…." Disusul dengan bau sayuran busuk yang semerbak.
Ingin tertawa, tapi hanya aku sendiri yang menikmati baunya. Ingin menangis prihatin, tapi terlalu berlebihan. Masa hanya dikentutin saja menangis.
"Mau BAB kah?" Tanyaku lembut pada orang hamil ini.
Novi yang istriku saja, aku belum tahu bau kentutnya.
"Kram, Far." Canda merengek, dengan semakin kuat memegangi tanganku.
Ya Allah, Canda.
"Aku mesti gimana, Canda? Aduh, kau bikin panik aja." Aku menepikan kendaraanku.
Setelahnya, aku memfokuskan perhatianku pada Canda. Keringat sebesar biji jagung, mulai keluar dari dahi dan pelipisnya. Bibirnya semakin pucat, ditambah lagi Canda pun menggigit bibirnya.
Aku stress sendiri, melihatnya seperti ini. Aku bingung, aku harus bagaimana.
"Udah lah, Canda. Lepas ini kau jangan hamil-hamil lagi. Aku tak tega liat kondisi kau yang kek gini, Canda." Aku mengusap-usap perutnya yang berubah seperti batu itu.
Kin juga pernah seperti ini, tapi ia bisa menanganinya sendiri. Ia tidak membuatku panik seperti Canda.
"Lepasin sabuk pengamannya, Far. Aku mau miring kiri." Canda terus mengatur nafasnya.
Aku menuruti apa yang ia katakan. Sekarang Canda duduk dengan membelakangiku, kemudian aku diminta untuk mengusap-usap pinggangnya.
Yang membuatku merasa kurang ajar padanya adalah, karena kini aku bereaksi. Aku merasa adanya perkembangan di dalam celanaku, meski belum keras.
Ya ampun, Black Mamba! Kakak iparku tengah kesakitan, ia malah bangun dan merenggangkan ototnya.
"HP aku bunyi, Far." Canda mengacak-acak tasnya yang ia peluk.
"Udah biarin dulu! Nyamanin dulu aja perut kau, Canda!" ujarku, karena melihatnya malah bermain ponsel.
"Novi ini, Far. Dia Videocall." Sialnya lagi, Canda langsung mengarahkan ponselnya di depan kami.
Nampak jelas di depan mataku Novi yang tersenyum terpaksa, karena melihat posisiku yang salah seperti ini. Posisi ini terlalu intim, untuk kakak ipar dan adik ipar.
"Aku kram perut. Udah payah betul, tak sampai-sampai ke rumah sakit juga." Canda berbicara dengan Novi.
__ADS_1
Aku tidak tahu, harus menimpali apa. Karena memang, awalnya pun aku sudah merasa bersalah karena membatalkan janji.
"Ya ampun, Kakak Ipar. Awalnya gimana sih? Apa perlu aku kasih tau mamah? Tadi aku liat mamah lagi ngobrol sama ibu, pas aku pulang dari nganter Kaf." Novi terlihat menyamarkan sesuatu dari caranya berinteraksi ini.
"Nanti aja kalau ada kabar tak enak dari dokternya, ya semoga sih baik-baik aja." Kamera ponsel tidak bisa menangkap posisi kami begitu jelas.
Yang terlihat, hanya aku yang begitu dekat dengan bahu yang terus bergerak karena gerakan mengusap ini. Pasti Novi berpikir, bahwa aku tengah mengurut milikku.
"Itu…. Ghifar lagi ngapain?" Suaranya terdengar ragu-ragu.
Kamera Canda sedikit turun, lebih tepatnya diarahkan ke arah pergerakan tanganku.
"Lagi usap-usap pinggang. Nampak tak?" Jelas Canda singkat.
Aku tidak tahu ingin menambahkan penjelasan apa.
"Semoga tak ada apa-apa ya, Kakak Ipar?" Ungkap Novi kemudian.
"Ya, aku matikan dulu ya? Aku mau jalan-jalan sedikit di luar, biar ototnya tak begitu kaku begini." Canda membenahi lagi posisi duduknya.
"Biar aku bukakan pintunya, Canda. Biar aku bantu kau turun." Aku berinisiatif keluar lebih dulu dari dalam mobil.
Canda tidak hamil saja lemah. Ditambah lagi, ia mengandung dan memiliki banyak keluhan seperti ini. Aku tidak mengerti, kenapa bang Givan membuat Canda hamil lagi. Aku tahu suami istri pasti berhubungan se*s, tapi kan banyak cara untuk menunda kehamilan.
Saat aku membukakan pintu untuknya, Canda tengah menyimpan ponselnya di tasnya kembali. Kemudian, aku membantu kakinya untuk menapak di tanah. Karena mobilku cukup tinggi, dengan Canda yang berpostur pendek.
"Kau duduklah dulu, Far. Aku jalan-jalan sedikit, buat ngendorin otot." Canda mulai melangkah pelan-pelan.
"Butuh pegangan tak? Kau mampu kah jalan sendiri?" Aku tidak keberatan, untuk dijadikan alat berpegangannya.
"Aku kuat kok. Aku pasti minta tolong, kalau aku udah tak tahan." Canda berbalik badan dan melangkah ke arah belakang.
Aku memilih untuk duduk di kursi Canda tadi, dengan pintu yang tetap terbuka. Aku memperhatikannya yang bolak-balik beberapa kali, dengan mengusap-usap perutnya dan mulutnya yang melafalkan sesuatu. Mungkin ia tengah membaca ayat Al-Qur'an, atau doa tertentu.
"Aku belikan minum ya? Kau butuh apa aja?" Tanyaku kemudian.
"Mie ayam pun tak apa, Far." Ia tersenyum manis.
Dasar, Cendol!
"Minum aja dulu ya? Pulang dari dokter, baru beli makanan. Biar kau cepat dicek dulu gitu." Ini murni alasannya, bukan karena aku tidak mau membelikannya mie ayam.
Canda mengangguk, "Minta yang dingin ya, Far? Itu tuh, kedainya dekat." Canda menunjuk tempat di depan mobilku.
Aku mengangguk, kemudian melangkah ke arah warung tersebut. Sekalipun kepergok bang Givan, aku yakin dia mengerti bagaimana kondisi istrinya.
Namun, saat aku berjongkok untuk mengambil air dingin di susunan bawah rak lemari pendingin ini. Aku masih merasakan sedikit kekakuan di dalam celanaku.
Ternyata, Black Mamba masih bereaksi saja. Teringat akan kejadian beberapa tahun silam itu, memang tidak keras tapi posisi itu cukup lama. Black Mamba tidak langsung tidur, meski kegiatan dewasa dengan Canda sudah selesai.
__ADS_1
Setelah membayar, aku menghampiri Canda kembali. Ia masih bolak-balik saja, dengan sesekali bertolak pinggang. Pasti nikmat sekali yang Canda rasakan sekarang.
"Ini, Canda." Aku membukakan tutup botol ini untuknya.
Canda menerima, kemudian langsung meneguknya. Kemudian, ia memberikan kembali padaku.
"Aku pengen steril aja setelah ini." Nafasnya terlihat ngos-ngosan.
"Tapi tak boleh sama mas Givan." Wajahnya langsung cemberut.
"Alasannya apa?" Aku duduk kembali di kursi yang Canda duduki, dengan meneguk air mineral dari botol yang sama.
Aku tidak jijik padanya, meski ia bekas suaminya. Entah aku berada di level mana dengannya.
"Aku masih muda, dia udah tua. Khawatir malang mutusin rumah tangga, aku masih bisa hamil dengan suami baruku." Ternyata pemikiran bang Givan sama dengan pemikiran papah.
"Kemarin kau KB apa? Kenapa bisa hamil lagi? Aku kaget, pas baru keluar rumah tau kau udah mengandung lagi." Aku bangkit dari dudukku, kemudian mempersilahkan Canda untuk duduk.
Canda mengambil air mineral yang tadi aku cicipi, "Suntik tiga bulan. Tak pernah haid sama sekali, terus berhenti lah karena pengen haid. Mirip cerita Giska lah, tapi aku itu hendak pasang KB implan. Kalau Giska kan, ganti ke suntik satu bulan tuh." Kemudian Canda meminum air mineral itu.
Aku tidak mengerti, kenapa perempuan orang lain mudah hamil. Saat Kin keguguran adiknya Kaf, setelah itu dia tidak hamil-hamil lagi. Padahal, Kin menerapkan hidup sehat dan cara-cara untuk menyuburkan kandungan.
"Yuk berangkat lagi, Far. Aku udah mendingan nih." Canda tersenyum padaku.
Ya, aku bisa melihatnya sedikit lebih baik. Bibirnya tidak sepucat tadi.
Sepanik ini, jika sudah menyangkut dengan keadaan Canda. Saat dulu ada Kin pun, aku sering sekali mengantar Canda ke dokter kandungan dan ke rumah sakit.
Meski akhirnya, sikap Kin sedikit berbeda saat aku pulang. Tapi tetap, aku tidak kapok untuk membantu Canda.
Seperti itulah perempuan. Kadang mereka yang menyuruh dan mengizinkan, tapi mereka sendiri juga yang marah karena tindakanku.
Aku memutar dan kembali masuk untuk mengemudikan kendaraan. Canda tengah mengutak-atik ponselnya, saat aku hendak menjalankan kendaraan.
Hingga tak butuh waktu lama, aku kini menemaninya masuk ke ruangan dokter. Ini pun, dulu sering aku lakukan. Saat Canda mengandung Ra.
Tapi aku lebih memilih menunggu di meja dokter, ketimbang menemaninya masuk untuk USG. Aku masih mencoba membentengi diriku, dengan menggunakan batasan yang aku anggap tepat.
"Gimana, Dok?" tanyaku, setelah dokter muncul dari ruang USG.
Sedangkan, Canda masih berada di dalam sana dengan asisten dokter.
Aku was-was di sini. Karena, wajah dokter tersebut terlihat tegang tanpa senyum.
Jangan-jangan, aku telat menolongnya?
"Ibu Canda….
...****************...
__ADS_1