
Sandra kembali kembali bekerja dan di sela istirahatnya ia membaca diary Sabrina kembali, rasa penasaran itu Membuatnya tak sabar untuk melanjutkan bacanya. Namu kali kali ini Sandra berbalik merasa kasihan dengan Brian.
Diary✍️
Keputusan berat yang harus ku ambil, aku menyerahkan kesucian ku kepada kekasih ku Raka, aku tak menyesali semua yang kulakukan, karena semua atas dasar cinta, Mungkin aku akan menikah dengan pria itu tapi tak kan membuat ku berpisah dengan Raka.❤️RAKA
🌻aku tak menyesali keputusan ku🌻
"Apa yang kau lakukan Sabrina, kenapa kamu mengambil keputusan seperti itu, apakah Yolanda anak kandung Brian atau Raka? tidak-tidak ini tidak mungkin, Yolan pasti anak Brian, ya pasti anak Brian."Sandra menebak-nebak sendiri.
"Ah. Kenapa aku jadi rindu Yolan, dia sedang apa ya sekarang?"Sandra membayangkan wajah Yolan yang imut, walaupun hanya sebentar Sandra masih ingat dengan gadis cantik nan lucu itu.
Sandra pun terpaksa menghubungi Brian, karena tak punya nomor telpon rumah Brian.
"Halo sayang, ada apa menghubungi ku?" tanya Brian yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Maaf mengganggu, apa aku bisa bicara dengan Yolan, aku rindu padanya?" tanya Sandra malu-malu.
"Maaf sekali sayang, tapi aku sudah pergi ke kantor, dan Yolan sedang sekolah, kamu tahu kan ini jam berapa, apa kamu baru bangun dari tidur siang?" tanya Brian yang membuat malu Sandra.
Sandra pun melihat jam di dinding, ternyata jam sebelas siang. "Maafkan aku pak, aku gak melihat jam, kalau begitu...." belum selesai Sandra bicara, Sandra merasakan mual- mual karena mencium aroma wangi parfum orang yang lalu lalang.
Sandra bergegas pergi ke toilet dengan membawa ponsel dan meletakkannya dimeja. Sandra tak menyadari bahwa Brian masih terhubung.
"Sabrina sayang, kamu kenapa sayang, apa kamu sakit" tanya Brian namun tak mendapat jawaban dari Sandra.
Brian mulai kuatir, tentang keadaan Sandra.
"Sayang aku akan menemui mu, aku kuatir tentang keadaan mu." Brian langsung mematikan ponselnya dan segera meninggalkan kantor namun sayang Sandra tak mendengar ucapan Brian.
Setelah merasa mendingan, Sandra pun bersandar di dinding toilet.
"Sabrina, waktu kamu hamil Yolan apa kamu merasakan hal yang sama seperti aku." Sandra seolah-olah berbicara dengan Sabrina.
Sandra yang terlalu lelah, Sandra pun memutuskan izin untuk pulang lebih awal dan ia pun segera pulang ke kost untuk istirahat.
Sandra langsung merebahkan tubuhnya saat sampai kost dan akhirnya ia tertidur. Entah berapa lama Sandra tertidur tanpa menyadari Brian ada di samping nya.
Saat terbangun Sandra mendapati Brian yang ada disampingnya "Pak Brian!" ucap Sandra pertama kali saat kaget tiba-tiba Brian muncul dihadapan nya.
"Kapan bapak kesini, kok bisa masuk." tanya Sandra yang masih bingung.
"Aku kuatir, tadi di telpon kamu muntah-muntah, makanya aku bilang kalau aku akan menemui mu." Jelas Brian.
"Jadi tadi bapak mendengar saya sedang muntah-muntah di toilet hotel?" tanya Sandra yang masih tak percaya.
__ADS_1
"Terus bagaimana bapak bisa masuk, bukannya pintunya masih saya kunci?"
"Yakin pintunya dikunci, kamu itu tinggal sendirian. Jangan ceroboh, dicek dulu sebelum tidur, pintunya tadi gak terkunci, makanya aku bisa masuk." jelas Brian dan Sandra hanya bisa menggaruk kepala.
"Ayo siap-siap!" titah Brian.
"Kemana?" tanya Sandra.
"Memeriksakan kandungan mu, biar aku tahu kalau ibu dan bayinya sehat. "Ayo cepat jangan buang waktu."
Brian pun membawa Sandra, mengunjungi dokter Obgyn untuk periksa. Dan syukur kandungan Sandra baik-baik saja.
"Bapak dengar kan. Aku dan anakmu baik-baik saja, tidak ada yang perlu di kuatirkan."
"Iya aku dengar. Sekarang temani aku ke hotel. Kita istirahat saja di sana. di tempat kostnya terlalu sempit dan tidak nyaman.
Dalam perjalanan Sandra tanpa malu, mengatakan jika dia sangat lapar dan langsung meminta sesuatu pada Brian tanpa bisa direm.
"Pak, bisa kah bapak membelikan saya ayam panggang, asam manis seafood, sop iga, dan salad buah tapi harus bapak sendiri yang beliin."
"Sayang, kamu yakin mau makan semuanya, bukannya melarang tapi itu semua makanan berat."
"Gak tahu pak, tapi pengen, Seperti bayinya yang mau makan itu semua."
"Baiklah, Aku akan mengantarkan kamu sekarang ke hotel dulu dan tunggu aku di kamar dan jangan kemana-mana, aku mau pergi carikan apa yang kamu mau." Sesampainya di hotel Brian pun segera menurunkan Sandra dan langsung pergi.
Namun Weni teman kerja Sandra melihat dan langsung menanyai Sandra.
"Hai San, Kok balik lagi? bukanya kamu tadi izin pulang," tanya weni.
"Ada barang yang ketinggalan, jadi aku kembali untuk mengambilnya" jawab ragu-ragu Sandra takut Weni mencurigai.
"Oh...dengan siapa tadi kamu diantar, dengan cowok ya?"
"Bukan, emang kamu gak kenal orang yang ada di mobil?"
"Mana aku tahu, melihat wajahnya aja gak" jawab Weni, membuat Sandra lega gak tahu bahwa itu Brian.
"Aku pergi dulu ya, mau ngambil barangnya, oya hati-hati bos besar mau datang."
"Maksudmu pak Brian?" tanya Weni dan Sandra pun mengangguk dan pergi.
Sandra pun dengan hati-hati agar tak ketahuan saat masuk ke kamar Brian.
Setelah masuk Sandra pun merasa lega, sambil menunggu Brian Sandra memilih duduk santai menghadap jendela kamar yang langsung menyajikan pemandangan kota.
__ADS_1
Brian sudah sampai di lobby dan disambut Sakti yang sudah tahu akan kedatangan atasannya.
"Selamat datang pak."Sapa sakti pada Brian yang sedang membawa beberapa bungkus makanan.
"Siang, Sakti tolong ini nanti antarkan ke kamar, saya akan tinggal disini selama beberapa hari."
"Kenapa bapak membeli makanan diluar, apa makanan di hotel kurang enak?" tanya Sakti yang heran.
"Kenapa banyak tanya, ini untuk istriku dan aku minta makanan itu segera diantar." titah Brian.
"Istri bapak ada disini?" Sakti kaget.
"Iya, apa kalian tidak menyambutnya?" tanya Brian dan sakti hanya menggelengkan kepala.
"Cepat antarkan makanannya segera, mungkin istriku sudah menunggu" Perintah Brian dan langsung pergi kedalam lift.
Sakti pun memerintahkan Weni untuk menyiapkan makanan yang di bawa Brian dan memintanya segera mengantarnya.
"Weni, antarkan makanan ini ke kamar pak Brian, dan satu lagi, cari tahu siapa istri pak Brian aku takut dia menyamar waktu masuk kesini, sampai tidak ada yang tahu kedatangannya, takutnya dia sedang mengawasi kinerja hotel." perintah Sakti yang menjadi was-was.
"Baik pak, akan saya coba selidiki."
"Jangan buat kesalahan"
Sakti pun pergi begitupun Weni pergi ke dapur hotel.
Brian masuk kamar tanpa disadari Sandra.
" Kenapa melamun disitu." ucap Brian sambil melepas jas dan beberapa kancing kemejanya.
"Bapak sudah datang, Maaf saya gak menyadari nya."
Brian langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, karena lelah seharian di jalan.
"Sayang marilah" panggil Brian dan memintanya untuk merebahkan tubuhnya di samping Brian dan Sandra pun mengerutkan dahinya namun ia tetap menurut. Entah kenapa perintah Brian tak pernah bisa menolaknya.
"Ada apa pak?" tanya Sandra yang sudah mulai menerima kehadiran Brian sebagai ayah dari janin yang dikandungnya, setelah membaca diary Sabrina membuatnya sadar.
"Aku ingin, merasakan bayiku." Sandra pun membiarkan Brian mengusap perutnya,
"Sayang, terimakasih kamu sudah memberikan kesempatan buat ku untuk ikut menjaganya, apa aku ingat waktu kamu hamil Yolan, kamu tak pernah mengizinkanku menyentuh perutmu, bahkan tak bisa merasakan kehadiran Yolan. Kamu selalu beralasan tak mau dekat-dekat denganku karena selalu mual jika mencium bau tubuhku, kau tahu itu sangat menyakitkan ku." Sandra pun hanya mendengarkan keluhan suami Sabrina. Dan ia pun menerima jika dirinya dianggap sebagai Sabrina, walaupun tak tau alasannya.
"Sayang, apa sekarang apa kau tak mual, saat mencium aroma tubuhku?"
"Sekarang, Aku sangat menikmati aroma tubuh bapak." Dengan malu-malu Sandra menyembunyikan wajahnya di dada Brian.
__ADS_1
"Benarkah, aku bahagia sekali mendengarnya." ucap Brian sambil mengusap rambut Sandra yang kini ada di pelukannya.
To Be Continued ☺️☺️