Istri Sambung

Istri Sambung
IS275. Bahan ghibah


__ADS_3

Percuma aku memanas-manasinya dengan Canda juga, karena Aca tidak cemburu pada Canda. Ia tahu bahwa Canda sudah anyeb padaku, ia tahu juga jika kisah dan harapanku pada Canda sudah redam.


"S***e ya?" sindirku lirih pada istriku sendiri.


"Tak lah!" Ia memamerkan giginya.


"Far…. Sini dulu coba." Bos tambang memanggilku.


"Apa, Bang?" Aku mengambil dokumen yang letaknya paling atas.


Aku melihat-lihat isinya, kemudian duduk di sebelahnya.


"Ada betina di ruangan kau sama Dewi," bisiknya lirih.


Aku menoleh cepat dengan pandangan kaget. Perempuan? Siapa? Aku tidak memiliki cemceman saat Aca di Cirebon.


Aku meluruskan pandanganku pada Aca. Ia tengah memainkan ponselnya yang semalam tertinggal di rumah. Ia mulai merebahkan tubuhnya kembali dengan bermain ponsel.


"Aku tak punya betina lain, Bang," lirihku setelah beberapa menit terdiam.


"Ah, masa? Dia nanya kau, Far." Bang Givan menyenggol lenganku.


Kami berbisik-bisik sejak tadi.


"Betul, Bang. Tak ada perempuan lain." Aku memindahkan lembar dalam dokumen ini, untuk menjadi kesibukanku agar Aca tak curiga dengan obrolan bisik-bisik kami.


"Memang dia ngomong apa, Bang?" Akhirnya, aku penasaran juga.


Ia terkekeh kecil. Bang Givan merogoh ponselnya, ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal, ia hanya melihat galeri yang berisikan foto-foto anak-anaknya saja.


"Pak Ghifarnya mana, terus aku bilang kau lagi nemenin istrinya di rumah sakit. Dia kepo betul tuh tentang kau yang udah beristri. Katanya, kapan sih menikah. Kok tak dengar ada pestanya, katanya juga. Nah, terus aku jawab, sana tanyakan sendiri."

__ADS_1


Aku curiga orang tersebut adalah Farida.


"Namanya siapa, Bang?" Aku langsung memastikannya.


"Rida kalau tak salah. Farida kah Firanda?" Bang Givan melirik padaku.


"Farida, Bang." Aku menyebutkan nama jelas perempuan tersebut.


"Nah itulah." Ia menjentikkan jarinya.


"Buat kau aja, Bang." Aku menoleh padanya dan menantikan jawabannya.


Bang Givan menoleh ke arahku. Ia malah tertawa renyah, membuat Aca kini memperhatikanku.


"Ada apa, Pa?" tanya istriku dengan memeluk bantal.


"Tak ada apa-apa. Gurau aja." Aku membauri tawa bang Givan, agar Aca tidak semakin curiga.


"Kok malah ketawa lah!" Aku memukul lengannya pelan.


Ucapannya suka berliku-liku, tidak langsung pada intinya saja. Mungkin ini, yang sering kali membuat Canda melontarkan pertanyaan pada suaminya apakah suaminya mencintainya.


"Kau kan kasian sama Canda. Yang menarik banyak pun, kau kasiannya sama Canda aja." Sebenarnya aku tahu yang sebenarnya, aku paham bahwa ia benar-benar mencintai mantan pacarku itu. Hanya saja, di dalam mulutnya terlalu banyak kosa kata.


"Hmm, kalau cuma kasian sih kusantuni aja udah. Ini sih aku kawini, aku nikmati bau kentutnya tiap hari, aku bantu dia urus anak-anaknya."


Sudah kubilang, ia terlalu berbelit-belit.


"Ya itu anak kau juga, makanya kau urus anak Canda. Anak Canda ya anak kau!" Aku memukul lengannya pelan dengan dokumen yang aku gulung.


Dokumen ini hanya perlu aku simak dan membubuhkan tanda ceklis, sebagai keterangan bahwa aku sudah membacanya. Tidak perlu tanda tangan, atau semacam stempel dari perusahaanku.

__ADS_1


"Tak paham ya udah lah. Perempuan cantik, belum tentu beriman juga. Perempuan alim, belum tentu minim dosa juga. Perempuan molek, belum tentu bersih juga. Mending yang pasti-pasti aja, yang udah pernah aku ajak susah bersama. Dari cantik, mungil bentuknya, sampai jelek, bau badan, terus sekarang udah cantik lagi, wangi biar pun tak mandi, malah berubah bentuk jadi gemoy." Garis bibirnya melengkung ke atas dengan memandang plafon kamar inap ini.


"Jadi ceritanya kau jatuh cinta setiap hari?" Aku terkekeh melihat ekspresinya.


Ia menoleh, senyumnya langsung pudar. "Tak, tak ada cinta tiap hari kalau rasanya pengen getok kepalanya, sayang tak tega aja. Ngalahin anak bungsu tingkah absurdnya. Izin ke warung beli minyak goreng, balik bawa gula pasir dan teh. Apa tak kek anak-anak, yang lupa tujuan ke warung?"


Itu sih, hanya sifat minus Canda yang coba diresapi olehnya. Ingin marah, ia sudah tahu bagaimana istrinya. Ingin bersabar, rupanya stok kesabarannya sudah habis. Jadi, ia hanya bisa mengikuti bagaimana Canda agar ia hidup nyaman dengan kekurangan Canda.


"Aca lebih-lebih. Milih dompet di platform belanja online, yang dicekout malah celana untuk Kaf. Keknya, perempuan sifat minusnya mirip-mirip." Itu hanya satu contoh kecilnya saja.


Bang Givan tertawa lepas. "Eh, iya ya? Perempuan tuh aneh-aneh betul. Ada lagi tingkah Canda yang lain lagi. Minta anter ke minimarket, ngajak beli diapers Cani sama mie Korea aja katanya. Nyampe di sana, apa coba? Mie spesial, mie goreng, mie cup, mie sehat, mie sakit, dipilihnya semua. Belum lagi cemilan untuk Cani, kek dari merek makanan bayi itu nah. Ciki buat sendirinya, belum yogurt dan lain sebagainya. Sesat ini perempuan, jauh dari tujuan awal."


Aku tertawa keras di sini. Aku membayangkan, jika posisiku seperti itu lalu aku hanya membawa uang pas saja. Ah, bisa mati konyol aku di depan kasir. Belajar dari ceritanya ah, besok-besok Aca mengajakku keluar rumah. Aku harus membawa banyak uang cash, tidak melupakan kartu debit, ATM, kredit juga. Mana tahu ada transaksi aneh-aneh di luar tujuan.


"Kalau bukan kodratnya mengawini perempuan, keknya laki-laki rasional itu banyak yang suka sesama gendernya deh. Tengok perempuan, kelakuannya, ya ampun, bikin sakit ulu hati, bikin bengek, anemia sesaat, darah tinggi dalam mendadak."


Tawaku semakin bertambah keras. Bang Givan jika tengah menggerutu, humornya lebih dapat dari seorang pelawak.


"Ada lagi, Bang. Rauzha dulu begini waktu masih kupacari. Kutawari makan di luar, ngerasa uang saku aku cukup. Aku bilang gini, mau makan apa? Dia jawab, terserah. Bingung dong aku? Aku langsung putuskan, ya udah bakso aja. Dia malah jawab, aku udah makan bakso kemarin sama temen-temen. Kubilang lagi, jadi mau makan apa? Dijawabnya lagi, terserah. Rasanya pengen kudorong dia ke got depan sekolah aja udah, sayang anak orang takut nangis. Nanti disangka aku perawani dia di sekolahan lagi."


Kini gilirannya yang terbahak mentertawakanku.


Percayalah, rekan. Hanya ketika sudah besar saja, aku bisa akur dengan kakakku ini. Dulu serumah, bertegur sapa saja enggan. Makanya aku lebih memberati tante Zuhra, karena sesak hati melihat kakakku yang terasa seperti musuh.


"Heh, kau pernah kan macarin Fira juga? Coba kek mana tingkah polah semasa hidupnya?" Ia menepuk pundakku dengan tawa yang mereda.


Fira masih hidup ya, hanya saja mulut bang Givan itu kadang-kadang melenceng.


"Halah, embuh! Sama aku, dia mintain barang terus. Tak tau kah dia, aku mesti nabung dulu biar bisa ajak dia jalan? Mesti aja tuh, Sabtu sore ngajak ke swalayan. Beli gitar aja, tak terkumpul-terkumpul. Udah nabung, ludes buat jalan sama dia. Gitu terus siklusnya sampai dua tahun. Tapi, misal dia masak atau ibunya masak banyak gitu. Dia selalu antar ke rumah, antar ke rumah panggung aku juga. Minusnya ini, kampret bener-bener kampret, duit terus, padahal tak aku apa-apakan." Aku kesal jika teringat bodohnya aku. Aku benar-benar seperti sapi perahnya, aku irit-irit jajan, rela menabung hanya untuknya, eh aku diduakan dengan kakakku sendiri.


Lihatlah, bang Givan malah begitu puas tertawa sampai keringatnya membasahi wajahnya.

__ADS_1


Seorang adik, adalah humor untuk kakaknya.


...****************...


__ADS_2