
"Mulai dari Kal di sini. Uang aku ini ilang terus, itu pun selalu pecahan yang besar. Pikir aku, ada tuyul makhluk halus gitu loh. Tapi, uang tabungan anak-anak yang mereka simpan di buku tabungan mereka setiap hari sebesar dua ribu pun hilang. Keknya tak masuk di akal gitu, masa iya tuyul ambil uang dua ribu? Anak-anak yang kelupaan naruh uang mereka pun, selalu merasa kehilangan uang. Key kan apalagi nih ya kan? Dia kan paling besar dan paling bijak pakai uang jajannya, dia pun merasa demikian juga. Dia ngerasa belum jajan, tapi uangnya tak ada." Canda menjeda kalimatnya, "Uang di dompet mas Givan pun hilang. Dia kan biasa taruh dompet di atas kulkas yang ada di ruang keluarga, yang isinya makanan anak-anak dan kue-kue lainnya. Nah, nominalnya selalu berkurang. Meski aku tak punya uang juga, aku tak mungkin ambil di dompetnya tanpa izin. Pasti aku minta dulu dan izin dulu, setiap mau nyomot uang di dompet mas Givan. Nah mulailah itu mas Givan mau cek CCTV. CCTV rumah kan, tak setiap sudut kek rumah kau, hanya ada beberapa aja. Kagetlah kami itu, Far. Pas tahu bahwa Kal yang ambil dan mindahin ke tas sekolahnya sendiri. Masa dia main, aku sama mas Givan cek tuh tasnya. Sebelum aku tembusin ke Kal, aku tuh kepo dulu gitu kan? Total uang yang ada di tasnya itu, sekitar dua jutaan. Kaget dong aku, buat apa gitu kan uangnya?" ekspresi wajah Canda berubah-ubah.
Dari ceritanya, ini seperti benar-benar terjadi. Tapi aku tidak boleh langsung percaya saja.
"Terus gimana?" tanyaku kemudian.
"Ya terus kemarin, aku tanyalah dia. Karena cek CCTV kembali tuh, Kal masih aja begitu. Aku kasih paham dia, aku nasehati dia. Aku kasih tau hukuman untuk orang yang berani mengambil milik orang lain gitu, aku kasih penjabaran agama tentang hukuman orang-orang seperti itu di akhirat nanti. Dia nangis di situ, dia ngaku juga kalau dia begitu."
Canda tidak mungkin mengarang, tapi aku ragu bahwa Kal melakukan hal itu.
"Kau nasehati gimana?" aku menantikan lanjutan ceritanya.
"Ya aku kasih penjabaran yang mudah dipahami juga. Aku tanya juga alasan dia. Aku bilang gini, kalau ambil uang orang itu namanya pencuri, nanti tangannya dipotong loh. Tak boleh kek gitu, kan Kal anak baik kata aku. Nanti bisa masuk neraka, ketemu sama penjahat di sana. Kalau di dunia pun, Kal bisa masuk penjara dan ketemu orang jahat juga. Terus aku tanyakan alasannya. Katanya karena memang mau pegang uang aja. Kocak betul tak sih, Far? Ambisinya cuma pengen megang uang aja. Karena jujur ya, aku sama mas Givan berpikir bahwa kau pelit ke anak. Terlalu menjatah anak begitu ketat, bukannya mereka prihatin dan bisa atur keuangan, tapi mereka malah membentuk sebagai seorang anak yang banyak menggerutu di hati. Belum lagi karena perut mereka lapar, ingin ini dan itu, tapi uang jatahnya udah habis, jadi muncul lah otak kriminalnya." Canda seolah menuduhku.
"Aku ceritakan sedikit ya? Betul tak nih aku pelit. Aku ini pagi nih, kasih Kal sepuluh ribu untuk uang saku sekolah. Uang saku Kaf tujuh ribu. Pulang sekolah, aku minta mereka minta uang ke neneknya kalau memang habis. Mamah pun selalu kasih, tanpa susah dan alasan ini itu. Kasih aja tuh mamah, setiap anak-anak minta uang. Aku pulang makan siang pun, aku kasih mereka sepuluh ribu lagi. Masa iya kurang sih, Canda? Aku pikir, jajan anak berapa sih? Tak mungkin juga kan, sekali jajan ciki di warung mereka beli satu renteng terus dihabiskan sekali hap?" aku menceritakan tentang pembagian uang anak-anak.
Canda terlihat berpikir, "Padahal banyakan Kal deh keknya. Anak aku sekolah, uang sakunya tuh empat ribu. Ya memang pengasuhnya juga kami kasih pegangan, barangkali anak-anak jajannya banyak. Anak-anak mungkin ada tiga kali sehari, atau lima kali sehari untuk minta uang ke aku buat jajan. Aku pun diminta kasih dua ribu aja sama mas Givan. Kalau mereka sekali jajan lebih dari dua ribu, ya dibayarin dulu sama pengasuhnya. Pokoknya, setiap hari itu aku kasih para pengasuh pegangan uang buat jajan anak-anak. Karena barangkali dua ribu yang mereka sering minta itu kurang untuk sekali jajan."
Aku berpikir, sepertinya bukan masalah jumlah uang.
"Karena apa ya berarti? Aku selalu kasih kalau anak minta. Aku tak ribut kek Kin yang selalu bilang, jangan jajan aja, uangnya ditabung, atau bilang tadi kan udah jajan. Aku main kasih-kasih aja." aku mulai berpikir di sini.
Benarkah?
__ADS_1
Benarkah?
Benarkah?
Aku jadi ingin membuktikan sendiri. Karena uang di dompetku tidak pernah berkurang tidak jelas. Tidak pernah hilang tiba-tiba seperti itu.
"Yey…. Udah selesai, boleh pulang." Key muncul dari dalam rumah Chandra, dengan memeluk bukunya.
"Udah bisa, Kak?" tanya Canda pada anak suaminya itu.
"Udah dong, Biyung. Aku dikasih uang juga sama ayah." Key berjalan ke arah ibu sambungnya itu, lalu mencium tangannya.
Kemudian, anak itu beralih mencium tanganku. Anak mereka sopan-sopan, juga paham bertegur sapa dengan ramah. Aku tidak mengerti, kenapa mereka bisa seperti itu? Padahal mereka lebih banyak waktu bersama pengasuhnya, ketimbang orang tuanya? Apa didikan pengasuh, atau karena orang tua mereka yang begitu disiplin dan ketat? Tapi jika dilihat, pengasuh mereka hanya menjaga dan membantu mereka beraktivitas. Masalah didikan, bang Givan dan Canda yang sering gembar-gambor. Aku sering mendengar suara mereka yang berteriak merdu sampai terdengar ke rumahku.
Pikirku, menjadi orang tua galak seperti bang Givan. Akan membuat anak-anak segan untuk bercerita apapun pada orang tuanya. Tapi ternyata, rupanya didikan yang tidak keras juga membentuk mereka menjadi pribadi yang kurang baik.
"Ya, Biyung. Biyung juga bobo ya? Jangan capek-capek." Key mengecup pipi kanan Canda.
Kapan Kal bisa seperti itu pada Novi? Karena maupun Canda atau Novi, mereka pun berstatus sebagai ibu sambung juga.
Setelahnya, anak-anak yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, yang di dalam rumahnya sudah ada pengasuh yang menunggu.
"Ra!!!!" suara bentakan itu, membuat jantungku bergemuruh juga.
__ADS_1
Aduh, bagaimana rasanya anak itu yang dibentak lepas oleh ayahnya. Aku yang sudah dewasa pun, menegang kaku mendengar bentakan itu.
Namun, malah gelak tawa anak yang bernamakan Ra itu terdengar jelas.
Anak itu berlari ke arah gerbang yang tertutup rapat.
"Terserah Ra aja udah, Yayah udah capek. Yayah mau bobo sama Biyung aja, tak mau bobo sama Ra." bang Givan berjalan ke arah kami.
"Yayah….." anak itu berseru lepas, dengan berlari ke arah kami semua.
Ternyata, bang Givan pandai bermain drama kolosal anak-anak juga.
"Tak mau sama Ra." bang Givan duduk menengahi kami, dengan merangkul istrinya.
Asem memang kakakku ini. Ia terkadang memasang betul, agar aku panas hati karena tidak bisa bermesraan bersama istri.
"Yayah Ipan….. Yayah La." anak itu menyempil di antara orang tuanya.
"Ra tak nurut sama Yayah." mas Givan mendorong pelan tubuh gembul anak itu, agar sedikit menjauh.
"Yayah….." anak itu menangis kejar, dengan menghentak kakinya ke lantai.
Drama berlanjut, karena Ra malah bergelayut di leher ayahnya.
__ADS_1
Jadi kapan aku bisa berbicara dengan ayahnya Ra itu?
...****************...