
"Pa, aku tuh cinta betul sama Papa. Harus gimana aku ini?" Aca memelukku dengan hangat.
Aku membingkai wajahnya, kemudian menciumi seluruh wajahnya. Aku tahu ia cinta padaku, meski Aca tak mengatakannya. Aku tahu Aca menyayangiku, dengan kasihnya yang begitu tulus mengurusku dan anak-anakku.
"I love you, my wife, my destiny." Aku mendaratkan kecupan lama di dahinya.
Aca malah terisak, ia seperti takut kehilanganku. Padahal tanpa ia meminta, aku akan mengusahakan dan mempertahankannya.
"Nanti aku minta pendapat bang Givan, misal aku putus kerjasama dengan pihak Farida. Kalau menurut Ria, ya tak boleh. Tapi barangkali bang Givan punya pendapat lain." Karena menurutku memutus hubungan kerjasama dengan Farida adalah cara menghindar paling benar.
"Minta pak cek juga untuk pakai jalur cepat aja urus peresmian kita. Aku tak mau diceraikan sama Papa, aku tak mau pisah, aku tak mau dengan mudahnya Papa talak aku."
Aku baru tahu, ternyata Aca sebucin ini. Aku baru tahu, ternyata Aca benar-benar takut aku buang. Dengan segala sifat keras kepalanya, ia memiliki ketakutan tersendiri untuk kehilangan diriku.
"Tak, tenang aja." Aku mengusap-usap punggungnya mencoba membuatnya tenang dan nyaman.
Aca jangan sampai stress dengan masalah Farida dan egoku ini, ia tengah mengandung anakku. Aku tidak ingin, kandungannya menjadi beresiko untuk dirinya sendiri. Aku berharap, keduanya sehat dan stabil. Entah ibu atau anaknya.
"Perempuannya pintar, Pa. Papa juga pasti tergoda sama dia."
Yap, aku yakin akan tergoda. Tapi aku kan menghindar, sebisa mungkin pun aku tidak meladeninya.
"Iya, aku tau. Jangan nangis dong, Sayang." Aku tersenyum manis dan mengusap air matanya.
"Papa bilang aku harus gimana?" Aca menarik kaos di bagian dadaku.
"Tak ada yang perlu dirubah, Ma. Gimana apanya maksudnya? Mama udah paling betul kok." Aku pun mengusapi keringat yang membasahi pelipisnya.
Kacau sekali Aca hanya karena perempuan yang tidak aku ladeni itu. Sebesar ini perasaannya padaku. Aku merasa ia mencintai orangnya, bukan ekonominya.
"Apa Papa bereaksi dekat dia? Apa Papa n**** sama dia?"
Masalah n****, rasa tertarik laki-laki pada lawan jenisnya. Pastilah diselimuti dengan n****.
"Tak, n**** ke Mama aja." Aku memamerkan gigiku.
"Papa bilang ke dia, biar dia tak hubungi Papa lagi dan datangi Papa lagi." Aca menyodorkan ponselku.
"Hei, Cantik. Masalahnya, nanti akan berpengaruh pada bisnis. Makanya besok aku mau bahas sama bang Givan, tentang hubungan kerjasama antara aku dan ayahnya Farida ini. Syukur-syukur, tidak menimbulkan rugi. Kalau memang aman untuk tidak melakukan kerjasama lagi, ya aku langsung blokir nomor teleponnya. Masalah dia datang, nanti aku usaha lebih keras untuk hindari dia."
__ADS_1
Aca terlihat seperti memikirkan penjelasanku. Kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, dengan pelukan yang semakin mengerat.
"Aku takut ditinggalkan, aku tak mau ditinggalkan."
Apa ia masih belum tenang juga? Aku sudah mengatakan jika aku akan tetap bersamanya.
Aku memilih menahan rahangnya untuk menghadap wajahku, setelahnya aku mengincar bibirnya. Hanya kecupan kecil, tanpa lumayan n****. Aku tak mau ia malah ilfeel, apalagi sampai mengira jika aku bern**** tidak tahu keadaannya yang tengah sedih.
"Papa pulang ya setiap kali bern**** ke Farida, atau ke perempuan lain." Aca membelai pipiku dan memperhatikan wajahku dengan intens.
Apalagi, yang ada di pikirannya? Kenapa tiba-tiba ia seperti rela menjadi tempat pelampiasan?
"Kok gitu sih?" Aku sedikit merosot dan menyandarkan kepalaku pada sandaran sofa.
"Daripada Papa selingkuh. Aku tak mau Papa selingkuh."
Intinya, Aca takut didepak, Aca takut aku menikmati perempuan lain, Aca takut aku membagi rasaku pada yang lain. Tapi, harusnya pun ia tahu bahwa aku tak semurah itu. Aku pasti bisa menjaga statusku dan menjaga diriku untuk istriku.
"Tenang, tak bakal." Aku mencium bibirnya sekilas kembali.
"Jangan pernah sampai berpikir untuk ninggalin aku." Aca menyatukan dahi kami.
"Aku malah langsung berpikir untuk ninggalin Farida kan tadi? Mama tuh kedudukannya istri, sedangkan Farida perempuan lain. Mama tetap bakal menang." Aku mengajaknya beradu mulut dalam arti sebenarnya.
Terlepas sejenak.
"Tapi kan aku siri." Aca langsung murung.
Ya semoga dari hubungan yang akan kami lakukan ini, membuat Aca sedikit merasa tenang. Sulit sekali rasanya membawa pikirannya untuk tetap berpikir baik, di tengah gempuran hormon kehamilannya. Dengan hamil saja, aku merasa pola pikir Aca seperti orang lain. Bukan seperti Aca yang aku kenal, meski ada kemiripan.
"Ummmmh…." Aku mendapat serangan darinya.
Kegiatan ini adalah kesukaannya. Ia mungkin bisa menjadi sedikit tenang setelahnya.
Aku mencoba mengimbanginya, mengimbangi gerakannya yang sedikit pelan tapi dari wajahnya seperti amat menikmati. Satu kekhawatiranku saat ini. Aku takut ART naik, lalu menyaksikan kegiatan ini secara sembunyi-sembunyi.
"Pa, I love you." Aca mengincar bibirku.
"I love you to." Aku merasa hubungan ini lebih romantis dari sebelumnya.
__ADS_1
Di tengah keadaan istriku begitu amat mencintaiku, apa egoku belum mengerti juga nantinya? Meskipun aku sudah mengatakan berulang kali, bahwa aku tetap akan mempertahankannya. Tapi ada sedikit ketakutan untukku, tentang aku yang kalah dari egoku.
Aku khawatir di posisi aku kesal dengan Aca, Farida lebih berani mencoba menghipnotisku. Sudah pasti, aku akan kena juga. Aku teringat ranjang Oyo dengan Canda. Hal itu terjadi, karena posisiku yang kesal dengan Kin. Padahal Canda tidak membujukku, tidak mengatakan kata-kata manis. Tapi aku yang begitu menginginkan dirinya dengan segala egoku.
"Aku ambil sarung dulu." Aca memakai dress longgarnya tiba-tiba.
"Di mana simpan?" Aku tak mungkin menunggu di sini dengan keadaan tanpa pakaian.
"Di meja rias aku, di walk in closet." Ia bangkit dan membenahi rambutnya.
Aku meraih celanaku. "Ya udah main di sana aja, pintu pengunjung dari kamar nanti dikunci. Takut anak-anak tiba-tiba masuk nanti, atau di antara mereka ada yang mau pipis." Karena jika ke kamar mandi kamar, ya melewati ruangan itu dulu.
"Yuk…."
Aku mengangguk dan mempercepat gerakanku. Sulitnya berjalan dengan ganjalan yang tengah berdiri tegak seperti ini.
Kami sudah seperti pemain bintang film dewasa, yang melakukan hal tersebut di depan kaca besar. Belum lagi Aca yang ekspresif sekali, karena menurutnya rasanya begitu gila.
Ya iyalah, seperti diparut menurutku. Seolah seperti kaktus yang memiliki duri banyak, hanya saja ini lembut. Jadi, pasti tidak melukai bagian dalamnya.
"Gimana rasanya?" Aca mengusap dadaku.
Bagaimana ya? Sedikit tidak ada rasa. Tapi biarlah, aku akan berbohong saja.
"Enak." Aku tersenyum manis.
"Aku tau dari ekspresi Papa, kek biasa aja." Ia menahan daguku saat aku hampir mengincar bibirnya kembali.
"Aku tak biasa pakai sarung." Aku yakin Aca mengerti maksudku.
"Ya udah dilepas aja, Pa." Aca menurunkan kakinya dari meja rias ini, kemudian membantuku untuk melepaskan pelindung yang membuatnya meringis keenakan itu.
Sayangnya, tidak menguntungkan untuk pihak laki-laki.
"Kita mulai lagi."
Ajakannya selalu bisa membuatku bersemangat.
...****************...
__ADS_1