
"loh, kok sampai ngotot belain dia?"
jelaslah! aku suaminya.
"udah cepat! di mana kantor cabang untuk pendaftarannya?" aku yakin tidak akan ada habisnya jika berdebat dengan manusia novi.
"tak usah! udah malas aku!"
benar-benar ini perempuan!
"jangan sampai aku turunkan kau di tengah ladang ya, nov! kau ribut dari semalam minta diantarkan, sekarang malah mogok! mau kau apa sih sebenarnya? apa kau cari alasan aja biar bisa dekati aku malam tadi?"
"lurus! lurus!" ia menunjuk jalanan di depan kami, tanpa menyahuti ucapanku lebih dulu.
nyata sekali, kantor malah tutup karena hari minggu. aku sudah menanyakannya berulang kali, tapi ia selalu menjawab buka. sepertinya, jika tidak ada key di sini. ia mengajakku bermesraan di pojok jalan.
aku malah berprasangka seperti ini, karena semalam pun ia mengenakan gaun seksi.
alhasil, kami pulang tanpa hasil. aku pun hanya memberi key uang saja, karena kami tidak menemukan orang berjualan makanan anak-anak di sepanjang perjalanan kami. khususnya, yang key suka.
"udah, pa?" sapa istriku dengan mengusap rahangku.
aku tahu, mata novi melirik ke arah kami.
"belum, tutup. minta tolong ambilkan air dingin, ma." aku menghempaskan tubuhku di sofa tamu.
mengemudi itu lelah. mengemudi kendaraan dengan ditemani orang yang sulit diajak ngobrol itu, menambah jenuh dalam perjalanan saja.
"liatin ra itu, pa." aca berbalik lagi ke arah belakang, setelah menunjuk ra yang tengah bermain di teras.
apa yang ia mainkan? bedak bayi satu botol yang ia balurkan di atas lantai marmer. anteng dan dibiarkan saja. kakek neneknya pun tidak ribut, padahal mereka ada di bangku bawah pohon mangga. aku yakin, kakek nenek orang lain sudah heboh saja melihat cucunya seperti itu.
"papa, mama. ck…."
mataku mencilak, mendengar novi bertingkah seperti itu, dengan dagunya yang naik.
aku pernah meminta novi mengambilkan air putih setelah aku meminum rebusan jamu dari mamah yang rasanya pahit sekali, ia malah seperti tidak suka dengan perintah kecil itu. novi tidak suka diperintahkan barang sedikit saja. mulai dari saat itu, aku pertama dan terakhir kalinya meminta tolong padanya untuk mengambilkan sesuatu yang aku butuhkan.
"nih, pa. nasinya lagi diademin, bentar lagi aku siapkan makan." aca muncul dengan gelas dengan seni berembun.
"iya, makasih." aku langsung menikmati sejuknya air ini.
__ADS_1
air mineral saja, tidak mampu menyejukkan tenggorokanku yang kering karena habis berdebat dengan novi.
aca langsung ke depan, mengawasi ra dengan bermain ponsel. ia tidak melulu denganku, tidak mencurigakan.
"nahda mana?" tanyaku berseru.
"ikut sama ibu ke toko grosir." ia menjawab dengan menoleh ke arah jendela ruang tamu.
aku menaruh gelas kosong ini ke tengah meja, lalu aku menuju ke teras menghampirinya yang tengah mengawasi ra dan bermain ponsel itu. platform belanja online lah, yang selalu aku lihat ketika ia tengah bermain ponsel.
"kal, kaf mana?" aku duduk di sampingnya, dengan kaki menyentuh tanah.
kami duduk di lantai, di undagan tangga teras.
"di biyung dong. tadi biyung ke sini, terus pulangnya pada ikut." tiba-tiba ia bergeser lebih mepet denganku.
"baju couple, bisa request berapa baju anak. beli ya?" ia menyodorkan ponselnya.
aku terkekeh geli, dengan melirik ke wajahnya. "mau ke mana pakai baju couple?" pakaian itu seperti untuk ke kondangan.
sebuah gamis, kemeja panjang bercorak batik yang sama dengan gamis. juga setelan untuk anak-anak yang sama seperti baju ayah dan ibunya.
"iya ya?" ia malah ikut tertawa.
canda kecanduan scroll tiktok. novi kecanduan chatting dengan mantan. dengan aca yang kecanduan memilih produk belanja online. paket-paket miliknya pun datangnya ke rumah mamah, ke alamat rumah ini, karena ia sering keluyuran mengikuti anak-anak itu bermain. untungnya juga, ia sudah membayarkan dan juga mengerti untuk membeli untuk mamah juga. memang tidak sering, tapi ada saja produk yang ia beli untuk di rumah ini.
egonya ke barang-barang dan perabotan. maklum juga sih, karena ia tidak memiliki barang apapun di sini. saat datang, ia hanya membawa baju saja. barulah setelah itu, ia mencicil untuk membeli barang-barang yang ia butuhkan.
"kirim dua ratus, pa. mau beli dalaman aja. dalaman aku, anak-anak juga. dalaman papa masih layak tak?" ia mengetikan kata kunci lain.
"masih layak, dibelikan mamah waktu itu. dalaman mamah yang bagus tuh, ma. yang kek tali aja gitu, beli warna hitam atau merah." percayalah, matanya langsung melirikku.
aku terkekeh melihat ekspresinya.
"nyelip."
tawaku langsung pecah. begitu tidak nyaman ya rupanya dalaman yang seperti itu? tapi aku melihat di bali, malah kebanyakan mereka memakai yang seperti itu di pantai.
"yang penting punya dulu lah, satu gitu." aku hanya ingin melihatnya memakai yang seperti itu.
"begini kah?" kak aca menunjukkan layar ponselnya. gambar satu stel dalaman yang aku maksudkan terpampang jelas, dengan warna merah menyala pasti terlihat begitu seksi karena warna kulitnya cukup cerah.
__ADS_1
aku mengiyakan. "itu satu stel, gaun malam satu juga. pengen yang warna putih deh, ma. bahan kek jaring gitu loh, tau kan?" aku menaik turunkan alisku.
"aku apa papa yang pakai sih? kok bahasanya pengen yang warna putih."
tawaku menggema kembali. begini-begini saja, aku terbahak-bahak.
"heh! donat kentang tuh!" seru papah dengan menunjuk seseorang di belakang kami.
benar saja, aku menyaksikan donat kentang yang amat besar ketika menoleh ke belakang. tubuh ra sudah berlumuran bedak bayi begitu rata.
"anak biyung, ampun deh." kak aca menghampiri ra.
"tolong bersihin lantainya, pa." aca mengajak ra ke sudut halaman yang terdapat kran air. ia menyiram tubuh ra, plus memandikannya ulang.
aku langsung menyapu bekas bedak tersebut, kemudian mengelapnya dengan kain basah. jika disiram air, pasti bedak itu malah menggumpal.
setelah itu, aku menghampiri orang tuaku yang tengah bersenda gurau di bawah pohon mangga. harmonisnya mereka, aku jadi iri.
"anterin novi ke mana pagi tadi tuh?" mamah memberi tempat untukku di antara dirinya dan suaminya.
"ke kota, daftar jadi seller katanya. minta modal awal sekitar sepuluh jutaan juga dia, padahal kata canda sok reseller aja tapi novi minta stok." ribetnya jadi seorang novi yang tidak mau dinasehati.
"mamah ngerasa tak yakin deh, far. kemarin suruh handle toko tika aja, malah katanya hitungannya tak dapat untung. jadi bingung tuh. mending novi suruh reseller aja dulu, biar tak merugi."
oh, novi kemarin menghandle toko tika.
"basicnya kerja dia tuh, suruh ke kantor lagi aja sih, far," usul papah.
"udah, tapi dia mau tetap ceo. sedangkan, ceo udah dipegang ria. bisa pun, ya posisi lain. hrd contohnya, tapi dia tak mau." aku pernah menawarkan pekerjaan ini padanya.
"coba dituruti aja dulu jadi seller belanja online, tapi jangan stok pakaian. dia resellernya dulu aja, nanti mamah yang ngomong."
menurutku, untuk belajar berjualan ya memang lebih baik jadi reseller dulu saja.
"iya, takut meruginya tuh. sekalipun canda keluarga, tapi tak bisa balik barang yang udah dibeli. rugi untuk canda, karena pasti stok balikan dari novi itu ya stok lama."
entah yang jadi candanya sih memikirkan tidak. ada yang hutang pun, ia tidak berani menagih.
"Pa, yang begini kah?" aca tersenyum lebar dengan menggenggam ponselnya. ra pun sudah terlihat cantik dan rapi di sampingnya.
hufttt….
__ADS_1
pa katanya? di depan orang tua?
...****************...