Istri Sambung

Istri Sambung
IS261. Menunggu fajar menyerang


__ADS_3

Astaghfirullah, gel pelumas dicarinya. Untuk apa? Bahkan, kami tidak sekamar.


Rasanya aku ingin menggigit lemak yang berkumpul di pipinya saja. Aku stress, karena penuh dengan harapan yang tidak dapat kuraih.


"Nanti aja coba, Ma." Untungnya, gel itu tidak terletak di dekat kasir. Melainkan, di satu jejeran rak bersama pomade dan minyak wangi khusus pria.


"Buat jaga-jaga, Pa. Nanti aku minta biar Papa satu kamar sama aku." Senyumnya begitu merekah.


Hufttt….


"Ya udah deh." Aku pasrah saja.


Ia rindu dengan suaminya, wajar. Aku pun demikian, hanya saja aku bisa menahan diri.


Hanya itu yang ia beli, tanpa pembelian lainnya. Padahal, aku sudah memintanya untuk membeli es krim atau ciki-cikian.


Setelah membayar, aku kabur lebih dulu. Aku malu, karena kasirnya terus memperhatikan kami. Mereka kira, kami bukan suami istri kah?


Sesampainya di rumah pun, Aca senantiasa memeluk lenganku layaknya Canda pada suaminya. Ya ampun, ternyata rasanya sesesak ini. Tidak masalah jika beberapa menit, tapi ini sampai datang satu jam kemudian.


Anak-anak bermain anteng, papah tidur pulas di sofa panjang. Mamah masak bersama budhe. Benar-benar konsep yang sempurna dan terkendali.


Hingga sore tiba, koperku dipindahkan ke kamarnya Aca. Semalam pindah ke rumah pakdhe Afan, sekarang pakdhe Arif. Perdana, aku tinggal di rumah mertua.


Untungnya, ada anak-anakku yang menemaniku di rumah ini. Membuatku tidak begitu canggung di sini.


"Yang wafat itu siapa, Di?"


Kami semua sedang duduk di teras rumah, menunggu mobil travel yang datang menjemput mamah dan papah. Sedangkan aku, aku ditinggal di sini. Aku akan datang tanggal empatnya saja katanya.


"Yang wafat itu Edi, orang tuanya Novi, mantan istrinya Ghifar. Kalau ini, Edo. Yang nikah sama orang Kalimantan terus istrinya wafat itu. Dia menduda sampai sekarang, anaknya satu dan udah nikah tapi belum punya cucu. Ada lagi adik perempuan aku, ada dua, Zulfa sama Zuhra. Zulfa di Aceh, Zuhra juga di Aceh." Papah tengah menjelaskan susunan saudaranya.


"Acara tahlilan ibu kamu ini, di rumah Edo gitu?" tanya pakdhe kembali.


Papah mengangguk. "Iya, tahun lalu di rumah aku. Katanya rolling, biar kebagian semua." Papah mengisyaratkan tangannya yang berputar ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


Tak lama, datang mobil travel langganan Aca katanya. Aku langsung membantu mamah dan papah memasukkan kopernya, lalu aku mencium tangan kedua orang tuaku itu. Aku pun mengambil ciuman tambahan di pipi kiri dan kanan mamah, tidak dengan papah.


Doakan anakmu ini selamat dari terjangan buaya betina ini. Ia sudah terlihat amat kelaparan, dengan sorot yang penuh harap. Entah bagaimana nanti praktek di lapangannya.


"Masuk yuk? Banyak nyamuk," ajak Aca pada anak-anak.


Aca menggiring anak-anak ke kamar. Ada kasur tambahan, yang katanya untuk tempat tidurku. Kasur yang berada di dekat tembok itu adalah kasur angin, aku harap kasur tersebut tidak meletus saat mendapat guncangan dari ibu hamil ini.


Aku memilih untuk tetap di ruang tamu, dengan mengecek emailku menggunakan laptop. Untungnya, tidak ada dokumen yang menggunakan materai. Jadi, aku hanya membubuhkan tanda tangan sesuai ajaran Ria.


"Tidur, Far. Udah jam sembilan." Budhe mengunci pintu utama ini.


Masih belum terlalu malam, tapi pakdhe Arif sudah mendengkur. Wajah mengantuk budhe pun, sudah kentara sekali.


"Iya, Budhe. Tanggung, kerjaan sedikit lagi." Aku tengah menyimak isi dokumen saja.


"Oh, ya udah. Nanti lampunya dimatikan aja ya?" Budhe menunjuk saklar lampu.


Aku mengangguk. "Iya, Budhe." Kebiasaan di rumahku dan di rumah mamah pun selalu mematikan lampu yang tidak digunakan ketika malam hari.


Aku mengambil ponsel tersebut, kemudian mencolokkannya dengan kabel charger. Aku pun melakukan hal yang sama untuk laptopku dan ponselku juga. Kemudian, aku merebahkan tubuhku di kasur angin ini. Lurusnya pinggang ini, setelah duduk lama dalam posisi sedikit bungkuk.


Malam ini ketiduran, tapi aku tidak yakin dengan esok pagi. Yang jelas-jelas, serangan fajar datang menyerang siapa saja orang dewasa yang hormonnya tengah tinggi-tingginya.


Nyata.


Kejadian juga, ibu hamil ini mengganggu tidurku di jam empat pagi ini. Ia sudah mengusel dan mendengus aromaku, padahal jelas aku belum mandi pagi ini.


"Udah subuh kau?" Aku mendengar suara orang mengaji dari pengeras suara.


"Bukan, biasa di sini ada yang dzikir sebelum subuh. Sengaja buat bangunin orang-orang, makanya pakai toa." Ia sudah menahan wajahku agar tetap menghadapnya.


"Papa dibangunin dari jam tigaan, tak ada pergerakan. Aku udah mandi, udah tahajud."


Istriku tahajud?

__ADS_1


"Kecapean keknya." Aku mencoba tersenyum dengan melebarkan pandanganku.


Sepatnya mata ini.


"Tuh, belum diapa-apakan udah kecapean. Mak cek udah WA, sampai jam satu malam katanya." Tangannya terus mengusap-usap rahangku.


"Pipis, sikat gigi dulu ya?"


Ia langsung melepaskanku, dengan pesan jangan lama-lama katanya.


Aku juga rindu, tapi aku tidak leluasa karena kamar kami bersebelahan dengan orang tua. Belum lagi, tiga anak kami tidur bersama.


Bunyi mainan air saja, pasti mengundang penasaran orang. Apalagi ditambah dengan suara kulit bertabrakan dan juga suara khas dari Aca.


Aku akan bernegosiasi dengannya, untuk melakukannya dalam perjalanan menuju ke Jakarta saja. Alias, kami akan singgah di hotel.


"Ma, masih ngantuk nih." Aku berbaring kembali di sampingnya.


Bau harumnya menyegarkan, ditambah dengan cuaca dingin yang menambah rasa agar tidak menolak hidangan yang tersedia. Tidur di rumah mertua saja, sudah perdana untukku. Apalagi ini, bersebelahan kamar plus ada anak-anak juga. Bagaimana jika mereka mengerti dan anak-anak terbangun?


Pernah berkunjung di rumah abi Haris bersama Kin pun, kami menempati rumah baru mamah yang berada di perumahan mewah yang sama dengan milik abi Haris. Saat berkunjung ke Banjarmasin bersama Kin pun, kami tidur di hotel.


"Anaknya tak pernah diusap-usap." Aca menghadap plafon kamar, dengan tanganku yang ditempatkan di atas perutnya.


Memang perutnya tidak terlalu besar, tapi cukup keras. Seperti ketika Kin mengandung empat bulan sepertinya.


"Sehat ya, Sayang. Maklumi Mama yang belum bisa lepas rokok. Kita sama-sama berjuang ya, Nak?" Aku menyangga tubuhku dengan siku, lalu mengajak perutnya untuk berbicara.


Gerakan lembut aku dapatkan. Senyumku langsung merekah, kebanggaan untuk kami sendiri ketika pasangan kami bisa hamil karena perbuatan kami. Aku senang, mendapat respon dari bayiku.


"Adek mau ditengok Papa tak?"


Ada pula ibu yang menawari anaknya dalam kandungan untuk ditengok ayahnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, ketika ia mulai memperlihatkan perutnya dan meloloskan bajunya perlahan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2